
Sebelum kecerita utama kita intro dulu~
Hai semua! Nama gue ReIN dan terima kasih karena telah memberikan gue kesempatan untuk menemani malam jomblo loe! Jika kalian menyukai cerita ini maka berikan jempol ke atas dan jika tidak cukup vote lalu sebarkan cerita ini. Jangan lupa berikan komentar dan tips agar sang Author tetap semangat update ceritanya!
.
.
.
Meskipun samar, tapi aku bisa mendengar suara sesuatu yang bergerak, dan kasar. Ada juga sensasi hangat yang menimpa kepalaku, begitu pun tubuhku yang sepertinya diselimuti.
Mataku terbuka perlahan-lahan. Cahaya cerah menembus kelopak dan berhasil membangunkanku, yah... belum sepenuhnya. Terlebih aku bisa melihat beberapa cahaya yang berkedip-kedip di depan mataku.
“H-huh?”
Entah mengapa bulu kudukku langsung merinding karena kini tepat di depan wajahku terdapat dua buah sosok yang menatapku begitu intens. Ludah kuteguk dan batin berulang kali menyadarkanku bahwa ini bukanlah sebuah mimpi.
Tatapan itu.. ya, ada empat buah mata yang kini melihatku seakan-akan aku adalah sesuatu yang aneh. Karena dari tadi mata itu berkaca-kaca.
Apakah mereka ketakutan melihatku?
Tidak lama setelah itu aku bisa mendengar hembusan napas lega dan raut wajah hangat yang tidak asing.
“F-Fear?... lalu s-siapa kau? ”
"Akhirnya kau bangun juga," sahutnya sambil mengelus rambutku.
"Dan aku adalah Selina, istri barumu yang cantik. Jangan seperti itu, sayang. Kau membuatku sedikit malu," timpal perempuan berambut pirang dengan mata biru seperti batu Sapphire yang cantik.
"Lalu di sini adalah seorang lelaki yang ingin membalas kebaikanmu," lanjut lelaki berambut putih bermata merah seperti darah kental.
Pada awalnya aku bingung, apakah sejak awal aku memang memiliki dua istri? Seingatku aku hanya memiliki satu istri.
Sejak kapan aku memiliki dua orang istri? Bukankah aku hanya memiliki Fear seorang. Lalu laki-laki itu?
“Dasar...," ucap perempuan bernama Selia sambil menyambar lengan kananku. Kemudian ia meletakannya persis seperti tangan kiriku. Ekspresi yang di tunjukannya juga sangat manis dan membuatku nyaman.
Eh ... ehhhhhh?!!!
"T-tunggu dulu sebentar, Oz?! Apa yang kau lakukan di sini?! Dan siapa
kau?!"
Ketika kesadaranku mulai pulih, entah bagaimana aku bisa berakhir di dalam sebuah gerobak kuda terbuka dengan tiga orang.
Pertama adalah Fear, istriku, ya... kami memang terikat oleh sebuah janji yang suci sehingga menjadikannya sebagai istriku, tapi... Oz? Mengapa ia ada di sini? Apakah ia akan membunuhku dan juga Fear.
Tapi tunggu dulu sebentar, bukankah tadi ia berkata akan membalas budi... ya? Jadi? Aku sama sekali tidak mengerti, sebenarnya apa yang terjadi ketika aku tidak sadarkan diri?
Lalu siapa perempuan cantik berambut pirang ini, wajahnya tampak memelas dan begitu cantik. Tadi ia juga menyebutkan bahwa ia adalah istriku?
Aku benar-benar kaget mendengar pernyataannya. Lagi pula sejak kapan aku menukar janji dengannya... tunggu sebentar, jangan-jangan itu terjadi ketika aku tidak sadarkan diri...
Aku pun menghela napas dan mengutuk diriku yang menjadi bejat ini. Kuharap aku tidak melakukan sesuatu yang bodoh saat itu. Ya, aku hanya bisa berharap dan berharap hal itu tidak terjadi.
"Reiss? Apa kau baik-baik saja?" tanya Fear sambil menekan kedua pipiku.
"S-sudah berapa hari aku tidak sadarkan diri?" tanyaku gugup karena tidak mengerti dengan situasi saat ini.
"Tuan muda sudah dua hari tidak sadarkan diri"
"T-tuan muda? A-aku?"
__ADS_1
Saat itu aku hanya bisa terenyak beberapa saat sebelum bisa menangkap arti kata sesungguhnya dari mulut pria yang dulu hampir saja membunuhku.
Sementara itu ia terlihat tenang seperti tidak merasa bersalah atau apapun. Mungkin ini hanya perasaanku saja, tapi apakah sifatnya bisa bersahabat seperti ini?
Lalu entah dari mana aku bisa merasakan sensasi lembut nan nyaman yang bahkan tidak bisa aku prediksi sama sekali.
"Sayang, itu sudah sewajarnya jika kau tidak mengingat sumpah kita. Karena kau waktu itu tidak sadarkan diri dan pada saat itu aku mencuri kecupan dari bibirmu dengan diam-diam," jelasnya sambil membelai daguku.
Bulu kudukku seketika merinding.
A-a-apa diam-diam?
"Fear ...?"
Fear hanya dapat menghembuskan napas dengan raut wajah yang sedikit kecewa.
"Dia adalah Selina Ein Serfha, seorang putri bumi. Orang yang telah menyembuhkan semua lukamu waktu kau tidak sadarkan diri," jelasnya pasrah.
Perempuan yang di sebutkannya itu kini memiringkan kepalanya ke arahku lalu tersenyum manis.
"Mulai saat ini jaga aku baik-baik Reiss sayangku," ucapnya sambil memelukku dari samping.
"He ... ? Hehhhhhhhh?!!!"
Dan saat itu pikiranku terbayang siksaan setiap harinya yang di berikan oleh tubuh kedua perempuan yang kini berstatus sebagai istriku. Tapi, dengan cepat segera kuenyahkan. Untungnya aku dalam keadaan utuh.
Dengan pakaian yang lengkap serta celana yang tidak hancur. Kemeja putih berlengan pendek lah yang menjadi bajuku kini, namun di kedua tanganku masih di ikat dengan perban putih.
“O-ok, baiklah. Aku mengerti, meski tidak sepenuhnya paham. Lagi pula tempat apa ini?" tanyaku tiba-tiba.
Selina mulai duduk seperti biasa dengan bersimpuh sama halnya dengan Fear.
"Kita berada di selatan Benua Althesia. Saat ini kita sedang melewati kebun jeruk," jawab Oz ringan.
Mungkin itu benar, karena saat ini banyak sekali pepohonan yang memiliki buah oranye. Udara segar dan langit cerah. Di saat Fear sedang bersenandung pelan, aku hanya bisa tidur di pangkuannya. Dari sini aku bisa melihat
bagaimana penampilan Selina dengan jelas.
Dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dapat kuakui parasnya sebanding dengan Fear. Memesona dan penuh kebaikan, itulah yang aku lihat dari sorot mata tulusnya.
Sepertinya ada yang menumpahkan darah tidak jauh dari sini.
"Pembantaian...," gumamku pelan.
Oz mulai melirik ke arahku. Untuk sesaat aku merasa tidak yakin dengan firasat ini, tapi aku harus memastikannya dengan kedua mataku sendiri.
Tidak ada pilihan lain.
Aku pun segera turun dari gerobak, meski kondisi tubuhku telah pulih... itulah yang Fear katakan. Tapi, aku harus kembali membiasakannya secepat mungkin. Sementara itu baik Fear dan Selina langsung mengikutiku dari belakang.
Bahkan Oz melakukan hal yang sama. Mereka berdua bertanya-tanya kepadaku apa yang baru saja terjadi, tetapi aku hanya terdiam. Aku tahu Oz juga pasti menyadarinya ketika melihat raut wajahku.
Karena hanya ialah yang melirikku ketika aku menggumamkan sesuatu.
"Apa yang sedang terjadi? Tidak biasanya kau seperti ini, Reiss."
Sepertinya Fear mengkhawatirkanku, tetapi aku tidak bisa berhenti begitusaja. Biar waktu dan tempat yang menjawabnya.
Raut wajahku semakin menegang ketika melihat kepulan asap, kecepatan lariku cukup cepat dan akhirnya aku tiba di tempat itu. Banyak sekali mayat yang tergeletak berlinang darah, tempat yang kini aku datangi adalah sebuah desayang cukup luas.
Ketiga kawan seperjalananku juga tampaknya terkejut ketika melihatnya. Kini kami berempat berada di lereng bukit di mana asal kepulan asap itu berasal.
Tepat di bawahku sebuah mayat tergeletak dengan wajah yang hancur.
"Apa kalian akan tetap ikut bersamaku?" tanyaku spontan.
Wajah mereka bertiga tampak cukup rumit untuk di tebak. Tapi, orang pertama yang berkata iya adalah Fear kemudian di susul dengan anggukan Oz dan belaian dari Selina.
Setelah itu kami berempat segera meluncur dari atas lereng bukit ini menuju desa itu. Menyelusuri jalan sempit di mana ladang gandum dan tanaman padi berada. Sepertinya ini adalah musim panen, tapi sayangnya desa mereka diserang.
Namun pemikiran itu segera aku enyahkan.
__ADS_1
"Jangan menahan diri kalian sendiri," tegasku lalu melompat acak ke dalam desa dan langsung menyusuri setiap tempat.
Oz tersenyum kegirangan dan ia mengeluarkan pedangnya dengan cepat. Dengan sebilah pedang perak miliknya ia begitu terlihat senang. Dingin yang perhatian namun menyimpan sifat sadis yang sangat ekstrem.
Selina dan Fear hanya dapat tersenyum kecil lalu segera ikut bergabung denganku. Mereka berdua berpencar dan masing-masing mengeluarkan sihir yang berbeda. Selina dengan sihir radar dan serangannya yang beruntun.
Sedangkan Fear dengan sihir pengekang dan sihir penyembuh yang teramat cepat. Di dalam kerusuhan itu Oz sangat menikmati setiap kali ia menebas musuhnya, suara teriakan yang melengking pertanda bahwa tebasannya itu sangat hebat sekali.
Darah bertabur layaknya remah-remah yang sengaja di jatuhkan seorang nenek tua di bangku taman. Begitu memadati jalanan yang kini aku tapaki dan sebuah serangan tiba-tiba melesat ke arah kepalaku berada.
Namun aku dapat menghindarinya dengan menunduk cepat, sebuah kapak rupanya yang melayang sambil berputar-putar. Kini pandanganku teralihkan oleh dua makhluk berwarna hijau pucat yang cukup berisi dan juga cukup berotot.
Merek adalah Ogre dan juga Troll berukuran sedang. Ogre dengan senjata kayunya yang cukup besar dan Troll sedang dengan pisau kecil cepatnya. Troll itu langsung menerjangku dengan sebuah sayatan menyamping yang cepat.
Aku melompat menghindari itu dan sebuah hantaman kayu menyambutku setelah aku berhasil menghindari serangan Troll itu. Karena aku baru saja sembuh, sebenarnya aku tidak ingin memaksakan diri.
Sebuah gerakan berputar yang cepat, menyamping dan kini serangan Ogre besar itu meleset. Hanya menghancurkan tanah tempat mendarat tempat senjatanya itu, memanfaatkan jeda itu aku pun menendang gendang telinga kanannya dengan keras.
Ia tersentak dan akhirnya jatuh, lalu secara cepat aku bergerak mendekatinya. Sang makhluk buruk rupa itu melayangkan sebuah jab dengan senjata tajam yang melesat tepat ke arah wajahku lagi. Aku melompat mundur menghindari itu dan langsung menendang perutnya dengan tumit kaki kananku.
Tubuhnya merendah, sekaligus menjatuhkan senjatanya. Tidak memberikannya napas, aku pun langsung melompat untuk membelakanginya, dan mengakhirnya dengan sebuah serangan fatal.
Berkat sebuah tendangan hebat pada bagian sisi kepalanya. Alhasil kepala sang Troll itu berputar cepat. Tidak lama setelah itu darah pun keluar secara perlahan-lahan dari hidung dan mulutnya.
Sementara senjatanya yang tergeletak kuambil dan langsung meluncur ke arah kawannya yang besar. Melesat cepat dan menghancurkan musuh bagai ledakan atom yang luar biasa. Hunjaman pedang kecil yang aku ambil dari Troll mati itu kini telah bersarang di dada sang Ogre.
Matanya memerah tampak seperti marah. Ia pun langsung menyabitkan kayu raksasanya itu ke arahku. Sekali lagi aku menunduk untuk menghindari itu, tetapi serangan pisau kecilku belum dapat membuatnya tumbang seutuhnya.
Jadi aku pun melompat cepat dan melayangkan tendangan berputar untuk memperdalam pisau kecil yang kini bersarang di dadanya. Sebuah cipratan darah keluar dari mulutnya yang hijau masam, ia tertunduk, dan akhirnya mati bergelimang darah dari dada dan juga mulutnya.
Sebuah suara isak tangis terdengar dari rumah kumuh di depan sana. Aku segera berlari untuk memeriksanya, begitu kuhancurkan pintunya. Aku bisa melihat dengan jelas terdapat tiga orang anak kecil yang sedang duduk memeluki lutunya dengan gemetar.
Tepat di depan mereka ada seekor makhluk yang membawa sebuah sabit raksasa. Sebelum ia menyabitkan benda itu ke arah mereka, aku pun menendang kakinya hingga ia melayang seperkian detik.
Setelah itu kuentak ulu hatinya menggunakan lutut kaki kanan. Bagai pisau bermata tajam yang tak terlihat, sikutku itu berhasil menjatuhkannya dengan efek mengejutkan, alhasil ia pun terjatuh hebat bersamaan dengan sabit raksasamiliknya.
Ia berusaha merangkak untuk menyelamatkan diri dan ia pun berhasil keluar dari rumah itu.
"Tunggu sebentar, aku akan membereskannya terlebih dahulu," ucapku ramah.
Kuambil sabit raksasa yang ia tinggalkan. Kemudian mengejarnya, sebelum benar-benar menghabisinya, pertama kuinjak betis kakinya dengan kuat.
Aku bisa mendengar suara teriakan yang menyakitkan keluar dari mulutnya, layaknya orang yang meminta pengampunan. Namun sayang sekali ia salah untuk meminta ampun kepadaku. Dengan kedua mataku yang kosong, satu ayunan dari sabit besar itu berhasil memenggal kepalanya dengan mulus.
Menggelinding meninggalkan jejak darah yang segar, kepala itu memperlihatkan raut histeris yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Tapi, agar tidak membuat ketiga anak tadi ketakutan, aku pun segera membakar kepala dan tubuhnya dengan sihir api.
Ketika semuanya telah hangus menjadi abu dan menghilang karena tertiup angin. Aku pun kembali menghampiri ketiga anak tersebut.
Pada awalnya mereka ragu untuk meraih tanganku, tetapi perempuan kecil berambut merah muda kusam yang cukup bersahabat menggapai tanganku dengan tangan mungilnya terlebih dahulu. Sepertinya ia adalah kakak mereka.
Tidak lama setelah itu kedua anak kecil lainnya ikut meraih tanganku. Aku bertanya-tanya kepadanya sambil menggandeng lengan kecilnya. Sedangkan dua lainnya meremas celana hitamku dengan sedikit gemetaran.
Dari informasi yang aku dapatkan dari mereka adalah; mereka merupakan anak yatim piatu yang belum di adopsi sama sekali. Anak kecil yang kini menggandeng tangan kananku adalah Irina, anak yang paling besar berumur 8 tahun.
Sedangkan yang meremas bajunya dan mengikutinya dari belakang adalah Regin berumur 6,5 tahun. Sedangkan yang menggenggam tangan kiriku adalah Aresya berumur 7,5 tahun. Setelah pertarungan itu selesai, sayangnya aku tidak bisa menyelamatkan penduduk desa yang lainnya.
Tetapi setidaknya aku berhasil menyelamatkan ketiga anak ini tepat waktu. Fear, Selina dan Oz telah menungguku tepat di tengah-tengah desa dan betapa kagetnya mereka melihatku membawa tiga orang anak yang terlihat gemetaran.
Aku mengusulkan untuk mengadopsi mereka, Fear dan Selina tidak setuju dengan itu tetapi Oz hanya mengangguk pelan tanpa penolakan dan ia pun setuju.
"Kalau begitu aku saja yang mengurus mereka bertiga dan untuk kalian berdua bisa meninggalkannya bersamaku."
Dengan sikap jahilku, aku menggoda mereka berdua dan bingo wajah mereka tampak kesal. Pada akhirnya mereka juga menerima mereka meskipun raut wajah keduanya tampak kesal. Aku juga meminta Fear dan Selina untuk menyembuhkan luka-luka mereka.
Terlihat maupun yang tidak terlihat, lalu kami semua pun kembali ke gerobak kuda di kebun jeruk yang telah Oz ikat sebelumnya.
Hari-hari berlalu dengan cepat, kami semakin akrab dan kami berempat pun melatih mereka dengan kemampuan sihir dan juga kemampuan bertarung. Irina dan Aresya mahir dalam bidang sihir serangan cepat dan terkoordinasi.
Sedangkan untuk Regin ia tidak andal dalam hal apapun tetapi ia adalah yang terbaik dalam menggunakan sihir berskala besar.
Tahun demi tahun telah berlalu, kami semua menghabiskan waktu berharga itu dengan tawa dan juga canda. Kami juga menemukan mutiara keabadian ketika mengeksplor sebuah gua stalaktit yang indah.
__ADS_1
Pada awalnya aku tidak mengerti tentang itu dan langsung saja aku menelannya, mereka semua juga meniruku dengan menelannya setelah itu dan tepat setelah itu mereka tersenyum kecil dengan wajah ceria. Mengetahui mereka akan selalu bersama denganku untuk selamanya.
Namun sebenarnya itu bukanlah apa yang aku lakukan....