
Sebelum kecerita utama kita intro dulu~
Hai semua! Nama gue ReIN dan terima kasih karena telah memberikan gue kesempatan untuk menemani malam jomblo loe! Jika kalian menyukai cerita ini maka berikan jempol ke atas dan jika tidak cukup vote lalu sebarkan cerita ini. Jangan lupa berikan komentar dan tips agar sang Author tetap semangat update ceritanya!
.
.
.
"Sepertinya kita mendapat sedikit bantuan," gumam Rena.
"Kalau seperti itu serahkan saja kepadaku, Instruktur Rena," ucapnya percaya diri.
"Baiklah, berikan kemampuan terbaikmu di sini, Satella."
Rena pun memasang beberapa pelindung sihir di sekitar mereka. Kali ini keduanya tidak sendirian, terdapat Erina yang menjaga bagian samping kanan, sedangkan Kyle dan Shiren menjaga samping kiri mereka.
Berkat suara dentaman di langit itu hampir semua dari orang-orang yang berhasil selamat dari serangan Ghantus kini menyebar dan membuat kelompok untuk menghentikan serangan dari para makhluk hitam.
Salah satunya adalah kelompok Rena. Saat ini Satella sedang mempersiapkan panggilannya untuk menciptakan sihir berskala luas. Julukannya sebagai Diva bukanlah tanpa alasan, karena itulah keahliannya—sebuah sihir pendukung yang sangat merdu.
Posisi mereka berada di sebuah jalanan lebar dengan bangunan yang saling berhadapan. Terlihat utuh tanpa ada kerusakan apapun. Selain itu mereka juga mendapatkan imunitas dari gelombang sihir sebelumnya yang Selina keluarkan..
Setelah semua siap, Satella pun langsung mengeluarkan pedang uniknya. Menancapkannya ke tanah, lalu dari ujung gagang muncul sebuah kristal ungu dengan relik melingkar di sekitarnya.
"Tolong beri aku waktu sekitar tiga menit, aku akan berusaha untuk menyatukan tingkat resonansinya," tutur Satella sambil menyentuh dadanya dengan lembut menggunakan ujung jari tangan kanan.
Mereka pun mengangguk kecil setelah mendengarnya. Wajah manisnya berpadu dengan matanya yang indah mulai bersiap-siap mengeluarkan sebuah pesona. Bibirnya yang merah muda mulai menarik napas dalam-dalam.
Lengan kanannya mulai terangkat dengan pelan dan akhirnya bibirnya yang kecil nan manis itu terbuka, “ini adalah penampilan pertamaku di tempat seperti ini, tolong bantulah aku... semuanya”
“Baik!”
Setelah itu lantunan suara yang merdu keluar dengan jernih. Mengalir tenang di antara miasma di sekeliling mereka dan memancarkan gelombang merah muda yang lembut di langit.
Layaknya aliran sungai yang tenang, terus mengalir, dan meluas. Menuju tempat yang jauh nan asing, menggapai semuanya dari sela-sela terkecil hingga ke tempat yang tidak pernah di jamah.
Gelombang suara indah nan merdu itu berhasil menyelimuti seluruh Kerajaan Astarte dalam waktu yang cepat.
Kyle hanya termenung mendengarnya, sementara Erina tertawa menyaksikan salah satu murid didiknya itu. Rena tersenyum tipis dan Shiren memejamkan matanya sambil menghayati sentuhan dari lagu yang di bawakan oleh Satella.
Namun tiba-tiba saja sekumpulan Hound muncul. Dengan tubuh yang terbakar, moncong penuh darah, dan matanya yang memiliki cahaya gelap itu mulai melolong.
Mereka pun berlari sambil menembakkan bola-bola api kehijauan yang terus menghantam perisai sihir milik Rena. Terus dan terus hingga akhirnya perisai itu mulai retak sedikit demi sedikit.
"Tenanglah, hal ini sudah biasa," tutur Erina tiba-tiba dengan santai. “Itulah sifat yang di bawa oleh makhluk seperti mereka.”
"Pantas saja perisai sihirku bisa di buat retak seperti itu," sahut Rena.
Lalu perisai paling terluar hancur berkeping-keping. Para Hound pun menggong-gong seperti telah mendapatkan kemenangan dan juga santapan baru mereka.
Walaupun jumlah mereka tidak terlalu banyak, tetapi Kyle yang baru pertama kali melihatnya memperlihatkan raut penuh tekad sambil mengeraskan genggaman pada bilah pedangnya.
"Tenang saja, biar aku yang akan membereskannya," tutur Erina ringan.
"Kalau begitu aku akan membantumu, Instruktur Erina," ucap Shiren, ia pun langsung mengulurkan kedua tangannya ke arah Erina.
Di buka kedua telapak tangannya itu lalu membaca beberapa Rune yang singkat dan juga dalam. Lalu sebuah gumpalan bola muncul di depan kedua telapak tangannya—berwarna putih dan kuning.
Pada awalnya Erina meragu tentang bantuan Shiren, apakah ia membantunya untuk memusnahkan ratusan Hound itu. Ia tidak mau murid-murid dari akademi lain hingga terluka ataupun terbunuh pada pertempuran maut kali ini.
Tetapi ketika melihat Shiren mengeluarkan sihir pendukung, Erina tersenyum kecil. Tampaknya sihir ini akan membantunya tanpa memberikan luka pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Gumpalan bola cahaya itu lalu masuk ke dalam pedang Erina. Melapisi dan memberikan imbuhan bagi kekuatan pedangnya.
"Hmm... tampaknya ini akan semakin menarik," gumam Erina.
"Tidak secepat itu, Shiren," ucap Kyle sambil mempersiapkan sihirnya juga.
Di saat yang bersamaan itu juga, Satella telah selesai dengan sihir areanya.
Sebuah lingkaran sihir muncul di atas tubuh Erina. Lingkaran sihir itu berwarna merah hitam, lalu secara perlahan turun hingga menghilang saat menyentuh tanah. Erina dapat merasakan kekuatan yang mengalir dari sihir yang di keluarkan oleh Kyle.
Rena tersenyum kecil ketika melihat murid-murid didikannya itu menjadi seorang penyihir yang bermanfaat.
"Datanglah kepadaku, anjing manis."
Erina pun mengeluarkan pedang dari balik punggungnya yang terlapisi oleh perban putih. Setelah itu menancapkannya ke tanah. Tetapi, para Hound tidak diam saja, mereka langsung melompat ke arah Erina sambil memperlihatkan rahang penuh darah.
"Tidak secepat itu... Ground Blaze!!"
Tanah mulai bergetar menampakkan sepercik api yang tipis. Kemudian tanah-tanah mulai hancur menjadi serpihan tajam yang membuat para Hound kesakitan. Tidak lama setelah itu amukan magma memunculkan dirinya dari
permukaan tanah yang telah hancur itu.
Magma itu membentuk sebuah semburan-semburan yang dahsyat. Meledak-ledak dan melelehkan ratusan Hond itu dalam sekejap. Menghancurkan tubuh busuk mereka menjadi lelehan masam yang larut dalam gumpalan magma yang masih bergejolak.
Ratusan Hound itu kini telah musnah dan menghilang dari sekeliling mereka. Kyle dan Shiren tidak menyangka sihir pendukung mereka begitu dahsyat hingga mudah sekali untuk memusnahkan mereka dalam sekejap mata.
Sementara Rena tidak percaya dengan baru saja apa yang ia lihat sendiri. Tetapi, setelah itu ia tersenyum lebar, rupanya murid-muridnya itu sudah tumbuh menjadi seseorang yang luar biasa.
"Hmmm ... sihir seranganku tampaknya menjadi lebih ganas dan mematikan berkat kalian berdua, kuucapkan terima kasih atas bantuannya," tutur Erina pelan sambil tersenyum kecil.
Kyle hanya tersenyum puas sedangkan Shiren langsung merona. Tidak lama setelah itu perisau sihir pun hancur dan semua magma yang membanjiri jalanan mulai membeku.
Jalan di sekitar mereka kini rata oleh debu-debu yang beterbangan, sementara semua bangunan di sekitar mereka telah kandas. Tidak ada lagi bahkan mereka semua telah terlupakan oleh Rena dan yang lainnya.
"Apa yang kulihat ini nyata?"
Rena tampak tegang melihat sosoknya yang sangat menakutkan. Iblis tingkat atas, dengan empat buah sayap yang membentang lebar. Bulu-bulu hitamnya berguguran namun kembali tumbuh di saat yang sama.
Sosoknya benar-benar membuat kelima orang itu masuk ke dalam mode serius. Benar-benar serius... karena sosok itu cukup besar. Tubuhnya hitam itu di penuhi oleh aura pekat di sekujur tubuhnya.
Kedua matanya yang tadi tertutup kini terbuka dan menampakkan tatapan merah yang sangat menindas. Darah mengucur dari mata itu, wajahnya tidak terlihat begitu jelas karena menggunakan sebuah masker yang terbuat dari kulit hewan.
Memiliki dua buah tanduk dengan api yang menyala pada tengah-tengahnya. Kedua tangannya ia rentangkan kali ini, dari dalam tangannya itu muncul cakar-cakar tajam yang langsung meratakan tanah di sekitarnya.
Berwarna hitam gelap, kakinya yang besar seakan-akan seperti sebuah baja dengan berat lebih dari dua ton. Saat ia melangkah, tanah pun bergetar dan suara-suara tampak lebih berat, bahkan hingga meninggalkan bekas jejak kaki yang besar.
Pada awalnya mereka ragu untuk menyerangnya makhluk itu, tetapi setelah mengingat sihir pendukung milik Satella dan yang sebelumnya. Rasa percaya diri mereka kembali membaik.
Lalu iblis tingkat tinggi itu datang, ia berlari dan getaran begitu terasa mengguncang. Kyle langsung berlari ke arahnya sambil menghunuskan pedangnya.
Bersama dengan tebasannya itu ia yakin bisa melukai sang makhluk tingkat tinggi, tapi sayangnya makhluk itu berhasil menghindarinya. Melihat reaksi Kyle yang kaget, makhluk itu memanfaatkan momentum dan langsung menghantam perut sang Kesatria Legiun itu dengan sangat kuat, tetapi serangannya juga dapat ditahan hingga pada beberapa saat ia tidak bisa menahannya lagi, dan akhirnya terpental jauh.
Di saat itu Erina dan Shiren melancarkan sihir jarak jauh berupa gelombang api yang panas dan juga gelombang air yang tajam.
Sementara Satella yang mengkhawatirkan keadaan Kyle dan langsung memberikan sihir penyembuh kepadanya. Rena bergegas menuju arah iblis itu berada.
Dua buah gelombang sihir berhasil mengenai dada sang iblis hingga membuatnya terdorong ke belakang. Lalu datang Rena dengan sebuah tendangan menyamping yang sangat kuat sekali. Menghantam pinggir tubuhnya, di lanjutkan dengan tujuh buah lesatan dari pedang rampingnya yang super cepat.
Tujuh buah titik terkena telak dan mengeluarkan darah hitam lebam. Iblis itu tampak tidak merasakan kesakitan, tetapi hanya menyeringai. Rena yang merasakan aura kuatnya langsung mundur setelah menyelesaikan serangannya.
Namun ia terlambat karena iblis itu berhasil memukul dada Rena hingga terpental ke arah Erina. Darah keluar dari mulutnya, namun untungnya ia berhasil di tahan oleh dan tertangkap oleh Erina.
Shiren kaget dengan keadaan gurunya itu, ia pun langsung menghampirinya. "Apakah Anda masih bisa bertahan, Instruktur Rena?"
__ADS_1
"Ughkss—tenang saja, ini tidak seberapa... Shiren."
Napasnya memberat dan karena lengan kirinya patah mengharuskan dirinya hanya menggunakan lengan kanannya yang masih utuh.
Erina merasa kesal dengan keadaan kawannya itu, ia pun menitipkan Rena yang kini berada dalam penjagaannya kepada Shiren. Rena tidak keberatan dengan itu, tapi ia mencemaskan apa yang akan dilakukan oleh Erina.
Erina yang cenderung pemabuk biasanya memiliki kekuatan yang sangat brutal di bandingkan instruktur lainnya. Sekumpulan cahaya merah keluar dari dalam tanah dan kini merapat ke arahnya.
Dalam beberapa detik sekumpulan cahaya berubah menjadi percikan api kecil. tetapi, Iblis itu meregenerasi tubuhnya sendiri, luka akibat serangan sihir sebelumnya tampak sia-sia.
Erina mendecak kesal, dalam hitungan satu detik ketika ia menjentikkan jarinya. Percikan api kecil itu berubah menjadi bola-bola api raksasa karena sihir bantuan.
"Lenyaplah dalam amukan api ini... Wave of Blaze!!"
Ketika ia menghunuskan pedang miliknya secara menyamping. Kumpulan bola-bola api itu meledak dan menjadi ratusan gelombang tajam dengan elemen api yang sangat ganas yang melesat cepat ke arah sang iblis.
Saking brutalnya hingga menghantam setiap inci bagian tubuh dan setiap kali saling berbenturan, gelombang api tajam itu meledak seperti kembang api. Meletup-letup dan meledak-ledak, mengeluarkan sekumpulan api yang tidak ada ampunnya.
Kini kobaran api menyelubungi tubuh iblis itu dengan hebat. Dan di akhiri oleh ledakan sebuah bola api yang sangat dahsyat, seperti nuklir yang tiba-tiba saja meledak dengan tambahan daya mesiu yang banyak.
BHAMSSSS!!!!!
Tanah di sekitarnya langsung gosong seketika itu, meninggalkan pekarang abu yang sangat luas dan juga tak dapat di hapus. Erina merasa senang karena serangan yang baru saja ia lancarkan adalah sihir yang teramat berat untuk di gunakan.
Sekalipun dengan bantuan sihir pendukung, tetap saja ia tertunduk letih karena jumlah Mana yang ia gunakan sangat banyak. Di dalam hatinya Erina berteriak keras sekali karena berhasil menggunakan sihir brutal seperti itu.
Namun siapa sangka bahwa tanah bergetar ...
"S-sialan... siapa yang akan menyangkanya...."
Kini wajah Erina menciut, apakah hal itu mungkin? Apakah hal seperti ini nyata. Sosok bayangan muncul dari kobaran api yang belum padam itu, satu langkah kaki muncul dari dalamnya. Lalu mengentak tanah di luar kobaran api itu.
Shiren, Rena, dan Satella tidak menyangka bahwa serangan sedahsyat tidak mempan sama sekali.
Dalam kobaran api itu terlihat sebuah seringai lebar penuh aura kebencian. Seringai itu berhasil membuat bulu kuduk Erina merinding, tetapi ia menghiraukannya dan kembali menyerang dengan anggapan jika sang iblis tidak mempan terhadap sihir.
Tetapi serangan itu dapat di tahan hanya dengan satu sentuhan dari jari kelingkingnya. Iblis itu kembali tersenyum, Erina mulai gundah lalu tanpa berpikir panjang lagi ia kembali melakukan sebuah serangan.
Kaki kirinya bergerak cepat, sebuah tendangan lurus yang kuat. Tetapi tendangan itu berhasil di tahan, kini kaki kanannya di angkat. Posisi tubuh Erina terbalik, wajah mereka saling berhadapan.
Dan perutnya kini merasakan sebuah rasa sakit yang sangat luar biasa akibat satu pukulan berat. Bahkan sebuah suara patah terdengar dan Erina pun memuntahkan darah dari mulutnya.
“Bhuagksss!!—“
Ia berteriak kesakitan, setelah itu ia di lempar jauh sekali hingga membentur Kyle yang sedang di sembuhkan oleh Satella. Satella pun kaget ketika Kyle yang ia hendak ingin sembuhkan terhantam oleh tubuh Erina.
Walaupun lukanya sangat parah sekali, tetapi setidaknya tulang rusuknya tidak hancur. Iblis itu kembali berjalan dan menghampiri Shiren dan Rena berada. Entakkan demi entakkan kembali terdengar keras.
Kini iblis itu tepat berada di depan Rena yang masih mengalami luka dan Shiren yang tampaknya ketakutan. Wajahnya memucat akibat berhadapan dengan sosok berbahaya ini, namun Rena menenangkannya
Iblis itu kini kembali memperlihatkan seringai paling kejamnya bersamaan dengan darah yang menetes dari rentetan gigi serta rahangnya.
***
“Firasatku tidak tenak,” ucapku lalu menghampiri Regin.
"Apa Kakak benar-benar ingin melakukannya? Walaupun Mana kita telah di gandakan, tetap saja akan menguras setidaknya setengahnya bahkan dalam kasus yang langka akan habis tak tersisa. Ingin tetap melakukannya?" tanyanya sungguh-sungguh.
Tampaknya ia mengkhawatirkanku, tetapi itu tidak perlu mengingat kondisi saat ini sangat kritis. Aku pun mengangguk pelan.
"Seperti yang di harapkan dari mantan muridku, kalau begitu kita mulai sihir terlarang ini ...."
Regin hanya menatapku dengan tatapan ragu, tetapi tidak hingga ia mengeluarkan buku pedang sihirnya.
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu... kita mulai persiapannya,” sahutnya ringan.