Sword Anthem

Sword Anthem
Chapter 15 - Awal Pertemuan


__ADS_3

Akademi Magistra


Di sebuah kelas Fear kali ini sedang menjelaskan tentang inti sihir tingkat lanjut. Ia begitu terbata-bata, tapi para murid memahaminya. Karena ketika ia berbicara cepat maka sesekali lidahnya pasti tergigit dan itu membuatnya tampak menggelikan.


"Mmm ... cukup sekian penjelasan dari aku, kalau begitu k-kalian boleh bubar," ucap Fear lalu turun dari meja guru.


"Haaaa ... Fear~ kau menggigit lidahmu lagi."


Tiba-tiba saja Selina muncul bersama dengan Oz. Walaupun seharusnya saat itu ia berada di ruang kesehatan dan bertugas sebagai pengurusnya. Tetapi, karena Fear yang membuatnya menjadi selalu bolos hanya untuk melihatnya.


Dari pandangannya, Fear adalah seekor kucing yang lucu. Kebiasaannya inilah yang dapat dengan mudah bersahabat dengan Fay.


"Hiii ... S-Selina apa yang kau lakukan di sini?" celetuk Fear dengan histeris. Suaranya berubah menjadi seperti kucing dan terkadang boneka rusak. Seisi kelas langsung ikut berbinar-binar ketika melihat reaksinya itu.


"Tenang saja, aku hanya akan memberikan surat itu kepadamu," ucap Selina. "Ada sebuah cap yang tidak memperbolehkan aku membukanya, jadi aku langsung mengantarnya ke sini. Aku mendapatkannya dari Rena ketika kami berpapasan," lanjutnya lalu menyerahkan surat itu kepada Fear.


Pada awalnya Fear ketakutan, tapi secara perlahan ia mengambilnya. Ia pun dengan cepat mengambil agar tidak masuk ke dalam perangkap Selina, lalu lengan mungilnya membuka kop surat dan membaca isinya.


Isi dari surat itu adalah sebuah permen dengan ukuran yang cukup besar. Selina heran dengan isi surat itu, tapi Oz yang melihat reaksi wajah Fear sama sekali tidak keheranan. Karena saat ini gadis roh kecil itu menitikan air mata.


Seisi kelas kaget melihatnya, apakah mereka membuat Fear menangis ataukah isi surat itu yang membuatnya menangis. Kemudian Oz maju sedikit membelakangi Selina.


"Fear... apakah dia baik-baik saja?" tanya Oz.


"Hmmmm ... d-dia b-aik-baik saja," jawab Fear terpotong-potong. Wajahnya memerah, tapi bukan karena sedih tapi sebaliknya yaitu terharu.


Ia tahu hanya satu orang yang selalu memberinya permen dengan ukuran yang sama. Dan itu adalah orang yang selalu ia tunggu pulang—Kuro. Lelaki yang telah meninggalkannya selama satu tahun.


Namun dengan surat ini datang tepat ke dalam pelukannya. Fear merasakan kehangatan yang telah lama ia lupakan dan sekarang perasaan itu kembali mengingatnya. Bagaimana rasanya elusan, bagaimana ia tertawa karena tingkah lakunya atau bagaimana ia di permainkan dan lelaki itu menertawakannya.


Sementara ia mengenang surat itu, semua orang di sana kebingungan, tapi tidak untuk Oz yang tenang.


Setelah itu ia memakan permen itu sambil berlinang air mata.


"Kuro....”


***


Kerajaan Astarte, Akademi Swordia


Seorang lelaki berambut hitam yang gelap sedang menggenggam sebatang kapur pada lengan kanannya. Ia kini berada di dalam sebuah ruangan yang terdapat sekitar 12 orang di dalamnya.


"Baiklah sekian penjelasan dariku," ucapku lalu meletakan buku-buku di atas meja. "Ada satu hal yang ingin kutanyakan kepada kalian."


"Mengapa kalian instruktur berada di kelasku, apakah kalian menelantarkan kelas kalian? Lagi?... huh," ucapku pasrah.


"Ahh ... Instruktur Kuro, saya di sini karena ingin menjadi murid Anda, apakah tidak boleh?" sahut seorang perempuan bergaun merah dengan balutan tali hitam serta pin bunga katarsis violet yang menghiasi bagian kiri kepalanya.


Ia juga mengenakan sepatu kulit cokelat overknee dan sebuah sarung tangan hitam berlambang pedang dengan kelopak bunga—Erina Blaze. Ia adalah salah seorang instruktur di akademi ini yang dijuluki sebagai Giant Slayer karena berhasil mengalahkan seekor Titan hanya dengan seorang diri.


Setidaknya aku bisa bernapas lega karena kali ini ia menggunakan tambahan perban di bagian dadanya. Saat aku pertama kali bertemu dengannya, ia sama sekali tidak menggunakan dalaman, dan itu membuatku berlapang dada.


Mengapa ada seorang instruktur yang memiliki tingkah laku masa bodo terhadap penampilannya, apalagi perempuan.


"He .. hehehe. Aku sedang mengamati calon suamiku...."


Perempuan yang tertawa tadi dan berhasil membuat bulu kudukku berdiri adalah Beatrice Ordelia. Perempuan yang menyandang si putih sadis, karena kepribadiannya yang tidak mengenal ampun terhadap musuh yang ia lawan.


Berambut putih keabuan panjang dengan satu ikatan yang menggantung di belakangnya. Kebiasaannya yang suka menguntit dan berburu laki-laki di malam hari untuk dipersekusi adalah sesuatu yang tidak boleh diabaikan.


Karena penampilannya yang mengundang birahi dan juga tindakan tidak senonoh bagi pria nakallah yang memudahkannya untuk menangkap pria tidak senonoh di kerajaan ini. Tapi, aku mengakui bahwa penampilannya lebih wah ketimbang Aresya, apalagi bentuk tubuhnya itu.


Itu karena ia memiliki darah keturunan setengah Elf dan peri air. Karena itulah sumber keindahannya dan juga kecantikan dirinya, sebelas dua belas hampir mirip seperti Selina dan juga dia—


Hahh... di mana aku bisa menemukanmu... Fear.


Walaupun seperti itu, ia adalah seorang instruktur yang menyayangi murid-muridnya tanpa pamrih. Hingga saat ini aku masih bingung mengapa ia mengincarku?


“Kalian yakin ingin merasakan sentuhan dinginku?”


Dengan kecepatan suara mereka pun langsung menghilang dengan sangat cepat. Ya, itulah peranku selain menjadi instruktur sementara. Yaitu sebagai pengontrol mereka, walaupun keduanya memiliki kemampuan yang luar biasa.


Namun sifatnya itu yang membuat mereka sangatlah susah untuk di atur. Bahkan untuk kepala sekolahnya sendiri, mereka seperti anak kecil saja. Setelah itu, Nheil, Wes, Reina, Satella dan Fiana keluar dari kelas dan pergi entah ke mana.


Tanpa adanya mereka aku langsung melompat dari jendela, mendarat dengan aman di halaman belakang lalu segera pergi menjalankan misi.


"Aku harap Fear menyukai hadiah yang ku berikan untuknya," gumamku lalu akupun segera menghilang dari akademi Swordia.


***

__ADS_1


Tidak lama setelah itu aku langsung pergi ke luar Kerajaan Astarte dan segera menuju Lembah Mour. Di mana misi ini adalah untuk menginvestigasi reruntuhan dan sekaligus mencari keberadaan bayangan hitam.


Hal yang mengganggu pikiranku adalah setelah aku mengunjungi kediaman Tuan Hughes. Jika bayangan yang ia jelaskan benar-benar ada lembah ini, maka kemungkinan besar aku akan berpapasan dengan si pelahap pedang itu.


Tak kusia-siakan waktu yang berharga ini, aku langsung berlari lalu melompat-lomapt di dahan-dahan pohon hutan luar kerajaan. Dahan demi dahan ku lompati dengan lincah, meninggalkan dedaunan yang gugur jatuh ke tanah.


Langit yang biru dan juga awan yang putih menemaniku serta mengawasiku dari atas sana. Selama misi investigasi ini berlangsung aku tidak ingin ada orang yang terlibat dengan si pelahap pedang ataupun mendengar kabar bahwa ia muncul di salah satu tempat.


Setelah beberapa saat, akhirnya aku sampai juga di Lembah Mour. Lembah inicukup dalam, ada sebuah jembatan batu yang cukup lebar di sebelah kanannya.


"Apakah itu Reruntuhan Armhade?."


Walaupun tempat itu masih sedikit jauh dari tempatku berdiri, tapi aku bisa melihat kekacauan di sana. puing-puing berserakan, ada bercak-bercak merah di setiap bagiannya, tulang-belulang, dan juga tengkorak hancur yang berserakan.


Begitu aku sampai di sana, ada sebuah patung bersayap hancur di bagian pinggir pintu masuknya. Pada bagian dadanya terdapat sebuah kristal biru terang berbentuk hexagon.


Bukan hanya pada patung ini saja, tetapi pada beberapa bagian dinding reruntuhan juga terlihat seperti itu. Hal yang paling menonjol adalah pada dinding paling jauh dari pintu masuk, ukuran kristal itu sungguh besar.


"Sepertinya itu Kristal Athea, tetapi mengapa di simpan di sana?"


Aku pun melangkah masuk ke dalam setelah memastikan bagian luar aman.


Di saat aku melangkahkan kakiku, tiba-tiba saja jembatan yang berada di belakangku hancur. Sedangkan diriku sendiri berada di tempat yang berbeda.


"Huh!? Mengapa ada tangga? Bukannya tadi hanya sebuah jembatan? Apakah aku di teleportasi ke tempat yang berbeda?" gumamku. "Sepertinya ini adalah ulah Kristal Athea."


Langit-langit bukanlah sebuah atap melainkan langit bebas yang cerah. Dinding yang terbuat dari bebatuan granit dan juga Kristal Ignium. Kristal itu transparan, tetapi setelah terkena pantulan warna langit, kristal ini menyesuaikan diri dengan warna di sekitarnya.


Dan fungsi kristal itu belum diketahui sama sekali. Sebuah rumor yang beredar bahwa Kristal Ignium hanya tumbuh di kastel langit dan nama kastel itu adalah Armhade.


"Jangan katakan ... bahwa rumor itu benar."


Untuk beberapa alasan aku harus mengumpulkan kepingan puzzle ini. Jika satu saja tidak ku temukan mungkin saja sesuatu yang buruk akan terjadi. Namun mengapa kastel langit seperti ini di sebut sebagai reruntuhan.


Sebenarnya siapa Tuan Hughes ini?


Yang terpenting sekarang aku harus mencari bayangan hitam itu berada. aku pun langsung menelusuri reruntuhan yang seharusnya dulu adalah sebuah kastel. Sepanjang tembok penuh dengan pesan.


Aku tidak terlalu paham dengan bentuk tulisan seperti ini. Hampir seperti bahasa yang sangat rumit, ada beberapa gambar yang menunjukkan cerita kastel ini. Aku lihat juga ada beberapa patung, berwarna putih namun sekarang mereka penuh dengan warna merah.


Hampir seperti darah. Patung-patung itu berbentuk potongan-potongan garis yang aneh. Lalu untuk lantainya sendiri sangat lah harum bahkan dengan darahyang kering dan mengeluarkan bau amis sekali pun tampaknya tidak berpengaruh.


Semakin dalam aku masuk, semakin pula misteri baru yang terungkap. Kastil ini sangatlah luas dan sepertinya bercabang-cabang. Namun entah karena kecerobohanku yang tersandung seseuatu aku pun jatuh dan masuk ke dalam sebuah retakan lubang besar.


Begitu aku sadar sebuah senandung menenangkanku. Ada sebuah rasa yang hangat yang sedari tadi mengelus kepalaku. Suaranya begitu lembut dan sangat nyaman. Aku pun membuka mataku—


"Aku tidak tahu siapa kau, tetapi untuk melakukan hal seperti ini untukku, terima kasih," ucapku.


"Ahhh ... yang mulia tidak usah berterima kasih kepadaku, tidak bukan yang mulia tetapi... sayang," sahutnya sambil tersenyum kecil.


Suaranya sangat lah halus, wajahnya yang cantik membuat jantungku berdegup kencang. Ia juga memiliki kulit yang lembut dan cerah. Ia menggunakan pakaian yang sangat rumit untuk perempuan seperti dirinya.


Telinganya cukup panjang, seperti sebuah Elf. Rambutnya terurai ke bawah hingga menyentuh lantai berwarna cokelat. Dan di setiap sisi pakaiannyamenggunakan pita berwarna merah terang, ada sebuah mahkota kecil yang menempel di atas kepalanya.


"Kenapa kau memanggilku dengan ‘sayang’? Padahal kita baru pertama kali bertemu," ucapku memastikan.


"Itu sedikit membuatku sedih, sayang. Kita dulu selalu bersama, sepertinya hati dan juga ingatanmu masih terkunci oleh Pedang Regalia, ya?" tanyanya sambil terus mengelus kepalaku dengan tangannya yang lembut.


"Tunggu sebentar—“


"Jangan dulu bergerak. Sebaiknya kau terus seperti ini, aku akan menceritakannya jika kau memang tidak mengingatnya sama sekali."


Ia pun menekan kepalaku hingga menyentuh pahanya kembali.


"Pertama kau ingin aku menceritakannya dari mana?"


"Pedang Regalia?"


"Ohh ... tentu saja kau pasti akan menanyakan pedang itu terlebih dahulu," ucapnya. "Mungkin ini akan panjang jadi tolong nikmati pangkuanku untuk sementara waktu, sayang." Ia pun tersenyum hangat kepadaku.


"Nama—“


"Ah... aku tidak mempunyainya, karena bagian lain tubuhku terpisah," potongnya. "Jika tidak keberatan mengapa kau tidak memanggilku seperti biasa saja?"


"Seperti biasa?"


"Bahkan kau melupakannya juga... itu membuatku sedih," tuturnya. "Kalau begitu—“


Ia pun langsung mengecup dahiku dengan pelan setelah itu membelai pipiku dengan lembut.

__ADS_1


"Eh—s-sayang!?"


"Ya, itulah yang selalu kau sebut ketika memanggilku."


Entah mengapa sekilas dalam ingatan milikku ini tiba-tiba saja menunjukkan beberapa kilasan diriku di masa lalu dan anehnya semua perkataannya benar, bahwa jauh sebelum hari ini kami telah terikat oleh sebuah janji suci.


Janji yang hanya akan berakhir jika kami berdua mati ataupun terpisah karena sebuah pelanggaran.


"Jadi selama ini kau selalu menungguku di sini?" tanyaku tidak percaya.


"... Ya." Dan sebuah tetes air mata jatuh tepat mengenai pipi kananku. "Walaupun itu sangat berat, tetapi aku selalu menunggumu di sini sejak hari itu"


"Aku tidak percaya ini, betapa tidak bertanggung jawabnya diriku. Sepertinya aku harus menghajar diriku sendiri ... lalu bagaimana agar aku bisa menebusnya?"


"Kalau itu—“


Akhirnya kami berdua bangkit, setelah itu berjalan menuju arah pohon. "Aku dari tadi penasaran, sebenarnya kita berada di mana?"


"Ini adalah lantai terbawah dari Kastel Langit Armhade. Tepatnya ini adalah hutan kenangan," jelasnya lalu menggenggam tangan kananku dengan erat.


"Ehhh ... sebuah hutan di dalam kastel, sebenarnya seberapa luas tempat ini? Ugh—“


"Dan inilah yang harus kau lakukan untuk menebus kesalahanmu."


Tiba-tiba saja aku di tarik, lalu ia mendorongku ke arah sebuah pohon. Membaringkanku di batang pohonnya setelah itu menyandarkan tubuhnya di dadaku. "Nah, seperti ini yang aku mau, sayang"


"Hmm .. baiklah, lalu bisa kau ceritakan sekarang?"


"Tunggu satu lagi," ucapnya lalu menarik kedua tanganku, kemudian melingkarkannya tepat ke perut miliknya. "Akhirnya sudah juga, jika seperti ini aku tidak keberatan bila kita melakukannya setiap hari"


"Cukup rumit juga rupanya, lalu?"


"Baiklah, sekarang aku akan menceritakannya."


Aku bisa mendengar napasnya yang naik-turun seperti sedang mempersiapkan sesuatu.


"Saat ini kita berada di bawah reruntuhan Kastil Langit Armhade, dulu kastil ini adalah tempat para kami malaikat berdoa untuk memberikan ketenangan, kesejahteraan, kesehatan dan kemakmuran bagi manusia di bumi sana"


"Kami? Berarti kau juga? Dan jika kau menyebutkan bahwa aku adalah suamimu maka, itu berarti—“


"Iya, aku juga seorang malaikat. Tetapi kau bukan seorang malaikat," potongnya. "Kau adalah seorang pangeran langit, tepatnya pangeran kedua"


"Pangeran? Aku? Tidak ... tidak, itu tidak mungkin. Aku hanya manusia yang ter-reinkarnasi dan mana mungkin aku seorang pangeran langit," sanggahku.


"Pasti hal seperti ini akan sangat sulit untuk kau mengerti," ucapnya. "Karena hampir seluruh personil kerajaan termasuk para menteri di bunuh tanpa ampun olehmu, bahkan ayah dan juga kakakmu sendiri," tuturnya tiba-tiba.


"Aku? Membunuh seluruh keluargaku sendiri? Tetapi mengapa?"


"Aku sendiri tidak tahu, tapi hanya kaulah yang mengingatnya sendiri. Pengeran kedua, Reiss Veil Drag Reizhart, dan sekarang kau mengganti namamu. Ahh tidak... kau menghilangkan keberadaan Reiss dalam tubuhmu dan dirimu yang sekarang adalah Kuro, mantan Blackgod Slayer," jelasnya. “Karena tindakanmu itulah kau disebut pengkhianat"


"Jika itu terjadi maka—“


"Ya, saat itu menjadi kacau dan peperangan terjadi di antara rakyat dengan anggota kerajaan yang masih tersisa. Blackgod Slayer itu di dapat bukan karena kau mengalahkan pimpinan malaikat jatuh tetapi karena kau menghabisi


seluruh anggota kerajaan," lanjutnya. "Hanya itu yang aku tahu, saat dulu kau selalu menutupinya dariku."


Apakah aku sekejam itu?


"Aku tahu itu bukanlah kemauanmu yang sebenarnya. Karena aku tahu betul"


"Kau mendengarnya? Mungkin aku tidak seburuk apa yang aku pikirkan rupanya. Terima kasih....”


Wajah perempuan itu langsung memerah, matanya melebar dan tubuhnya bergetar. Ia membalikkan tubuhnya yang halus itu lalu segera memelukku erat-erat." ... terima kasih Kuro karena setidaknya kau mengingat namaku," ucapnya sambil memendamkan wajahnya di dadaku.


"Ya. Sekarang yang aku perlukan hanyalah mengembalikan ingatan lamaku."


Lalu aku pun memeluknya dengan penuh kehangatan. Ia menangis di dalam pelukanku sedangkan aku hanya terus memeluknya dengan tangan kiriku sementara tangan kananku mengelus kepalanya.


"Sepertinya waktuku tidak banyak... terima kasih, Kuro. Meski sebentar, tapi aku senang bisa bertemu lagi denganmu," ucapnya lembut setelah itu melepaskan pelukannya.


Aku tidak bisa bergerak sama sekali karena terkejut, tetapi ia dengan


pelannya melepaskanku, lalu menciumku dengan lembut.


Setelah itu ia pun melayang menjauhiku, butir-butir cahaya keluar dari dalam tubuhnya. Sangat mirip sekali dengan diriku saat berada di hutan dekat Taman Harlequin itu. Aku berusaha untuk menggapai tangan kanannya, tapi ia hanya tersenyum sambil terus menjauh.


"Terima kasih... sayang. Walaupun hanya sesaat tapi aku menikmatinya," ucapnya sambil terus memudar. “Sekali lagi terima kasih, aku harap kita bisa bertemu lagi suatu hari nanti."


Tidak lama setelah itu ia benar-benar menghilang. Hanya meninggalkan rasa sedih dan butiran cahaya yang menembus wajahku.

__ADS_1


"Jangan seenaknya mengucapkan selamat tinggal, Fear," gumamku lirih.


Pada saat itu aku tidak menyadari jika aku baru saja menitikan air mata.


__ADS_2