Sword Anthem

Sword Anthem
Chapter 25 - Janji dan Kesetiaan


__ADS_3

Apakah aku masih memiliki anggota keluarga setelah dua tahun ini? dan bukankah ia adalah seorang malaikat jatuh? Mengapa ia mengaku menjadi pamanku?


Berambut kuning keemasan dengan dua buah mata biru langit yang sedikit menyala. Wajahnya sangat memesona seperti seorang malaikat, tapi sayap putih indah yang membentang dari punggungnya berwarna abu-abu.


Untuk beberapa saat otakku seperti mengeluarkan asap, entah, tapi perasaan ini sama sekali tidak membuatku gembira ataupun senang. Faktanya akulah orang yang membunuh seluruh anggota kerajaan tidak bisa dibantah.


"Ada apa ... ah, kau pasti bingung ya?" tanyanya ringan.


"Begitulah...." Kemudian aku pun duduk di lantai kotor itu sambil terus kebingungan.


“Sepertinya kau sama sekali tidak kaget, ya? Hahaha.”


Aku hanya membuang napas kecil, setelah itu menoleh ke arahnya, "Lalu mengapa paman bisa berada di sini?"


"Tentu saja anginlah yang membawaku kesini"


"Jangan bercanda"


"Baiklah... baiklah, dahulu Ayahmu pernah memberitahukannya kepadaku tentang hal ini. Ia berkata 'suatu saat


anakku akan pergi ke tempat itu, jadi jika aku sudah tidak ada jagalah dia untukku Lucifer' –kurang lebih seperti itu"


"Hehhhh ... "


"Jangan berkat heehh saja, ayahmu itu sangat andal dalam melihat masa depan. Bukan berarti dia adalah seorang lelaki yang aneh, hanya saja dia sangat menyayangimu, Reiss. Hebatnya lagi meski ia telah tiada, hingga saat ini lelaki itu masih mengkhawatirkanmu, ahhh... maaf, aku kelepasan"


"Tidak apa-apa, lagi pula itu semua salahku"


"Bukan, itu bukanlah salahmu"


"Lalu siapa? Omega? Huh..."


"Itu juga bukan, jika kau mengira bahwa Omega lah yang bersalah atas kematian keluarga serta pengkhianatan sahabat terbaikmu. Maka kau salah besar, Reiss"


"B-bagaimana kau mengetahuinya?"


Ia memang pamanku, tetapi mengapa ia bisa tahu tentang pengkhianatan itu?


"Kau bingung?"


Kepalaku langsung memiring seketika, lalu ia menunjuk tepat ke arah kedua mataku, " Matamulah yang telah memberitahukan semuanya, Reiss"


"T-tetapi bagaimana ca—“


"Penglihatan Sejati ..., aku dapat melihat dengan jelas ke dalam matamu itu. Hanya saja dalam beberapa hal ada peristiwa yang tidak bisa aku lihat,"potongnya cepat.


Ini benar-benar luar biasa! Mengetahui ingatanku hanya dengan menatap saja.


Sementara Fear masih belum mengucapkan satu kata pun yang dapat menjelaskan dirinya kepadaku.


"Hahaha ... tentu saja, kau pasti akan kaget mendengarnya. Baiklah tadi pamanmu ini akan memberitahukan semuanya, tetapi kau ingin dari bagian yang mana?"


"Kalau begitu ... apa itu Omega? Aku heran mengapa semua penduduk didesa ini mengagungkannya? Lalu mengapa harus... keluargaku?"


"Omega ya ... baiklah," sahutnya. "Omega itu sebenarnya bukan dewa ataupun malaikat seperti kita. Ia juga bukan iblis ataupun sesuatu yang begitu mengerikan. Ia adalah eksistensi yang tercipta akibat rasa pengetahuan


manusia yang tidak terbatas... tidak hanya pada manusia tetapi sama halnya seperti kita."


Ia pun mengambil napas sambil memainkan jari telunjuk kanannya.


"Lebih jelasnya seperti sebuah keinginan, tetapi akibat perang kuno yang terjadi penciptaannya seperti bertujuan untuk mengakhiri kehidupan ini. Contohnya saja jika ada hewan peliharaan yang sangat patuh dan baik kepadamu tiba-tiba saja menjadi sangat tidak bersahabat bahkan meninggalkanmu," lanjutnya.


"Diterlantarkan ... ?"


"Ya, diabaikan, diterlantarkan, tidak dianggap bahwa eksistensinya begitu penting, hanya sebagai pemuas rasa keingintahuan. Bahkan semua makhluk hidup yang ada hanya menganggapnya seperti sebuah kerikil. Apakah kau tidakberpikir bahwa Omega ini hanya sebuah mitos atau dongeng saja, Reiss?"


"Aku tidak terlalu mengetahuinya, hanya saja ketika umurku sudah dewasa Kakakku memberitahukannya dengan wajah yang pucat," sahutku.


"Seperti itu? Tampaknya Ray sudah mengetahui segalanya. Omega adalah sebuah senjata penghancur masal jika dapat aku katakan, diciptakan untuk mengakhiri perang kuno beribu-ribu tahun lamanya. Saat itu pamanmu ini jauh dari kata pemimpin, pamanmu ini mendapatkan bimbingan ayahmu. Sehingga bisa seperti ini,” jelasnya dengan santai, “Omega yang dapat aku katakan tentangnya adalah senjata penghancur masal yang memiliki kepribadian, perasaan dan juga kekuatan yang luar biasa. Lebih singkatnya, senjata yang memiliki hati."


Setelah itu ia menatapku seperti melihat jauh ke dalam batinku.


"Namun karena seiring kerakusan manusia, rasa keingintahuan para malaikat, dan ketamakan para iblis menjadikannya sesuatu yang mengerikan. Dan orang yang berhasil menguburnya serta menyegelnya adalah ayahmu, Reiss," tuturnya.


"Ayahku? Tetapi mengapa ia mengorbankan nyawanya jika ia bisa kembali menyegelnya?" tanyaku penasaran.


"Itu karena senjata yang telah berhasil menyegel Omega itu telah berada di dalam tubuhmu. Apakah kau tidak pernah berpikir untuk menggunakan seseorang yang kau cintai sebagai sebuah alat, apalagi jika itu adalah keluargamu, Reiss?"


Sekarang aku mengerti. Ayah, Ibu, Kakak maafkan aku karena tidak pernah menyadari semua ini.


"Satu hal lagi, kenapa orang tuamu tidak dapat melakukannya lagi. Karena hal yang perlu di korbankan untuk menggunakan kekuatan itu adalah hidupmu, senjata itu akan menguras seluruh energi kehidupanmu dari mulai umur, fisik, tenaga, stamina bahkan jantungmu. Ayahmu, adalah raja yang sangat bijaksana mengetahui hal seperti itu tetapi ia masih mau mengorbankan setengah umur hidupnya untuk melakukan hal mengerikan seperti itu," jelasnya. "Reiss, apakah kau tahu sekarang kita berada di mana?"


"Ehh ... hmmm, sebuah kuil biasa?"


"Kurang tepat. Ini adalah peninggalan perang kuno, Kuil Kebenaran. Perintah terakhir Ayahmu kepadaku adalah untuk menerjemahkan semua Rune kuno ini agar suatu saat memberitahukannya kepadamu,” ucapnya sambil membuang napas, “dan luar biasanya lagi aku perlu waktu 100 tahun untuk melakukannya. Ini  benar-benar Rune murni dan tidak ada campur tangan pihak manapun. Dengarkan dan pahamilah ini Reiss, mungkin suatu saat kau akan membutuhkannya."


Apa yang dikatakan oleh pamanku mungkin akan benar-benar membuka pintu terkunci yang berada di dalam kepalaku.


[Siapa yang berani akan kekuatan luar biasa ini berhak mengakhiri kekelannya. Dengan sebilah pedang cahaya yang turun dari langit dan memutus kesengsaraan. Dia—dia yang di sebut sebagai hari penghakiman terkubur di dalam masa lalu yang kelam]


[Tanpa menyadari akan kehadirannya yang akan bangkit. Para makhluk yang menyebut dirinya sendiri berakal hanya dapat berpasrah diri di hadapannya. Kekuatannya yang dapat membelah kehidupan ini dengan mudahnya]


[Masih menunggu waktu yang tepat untuk dapat bangkit. Segeralah—segeralah hancurkan kebinasaan itu menjadi serpihan yang tidak berguna. Bebaskan para jiwa dari sangkar sang pelahap kehidupan itu]


[Dia –dia yang menyebut dirinya sendiri senjata yang memiliki akal. Tidak akan mampu berdiri di hadapan cahaya pembebas. Cepat –cepat waktu tidak akan menunggu, segeralah bangkitkan sang harapan surya]

__ADS_1


[Jika telat maka cahaya akan tertelan ke dalam kegelapan yang kekal. Matahari menjadi hitam dan bulan akan hancur seketika. Udara akan berubah menjadi racun yang dapat membinasakan seluruh peradaban]


[Mereka –mereka semua akan terjerat ke dalam duri penyiksaan yang sangat pedih. Cabutlah ... cabutlah pedang itu dari tanah kematian. Di mana semua bisa menjadi kenyataan]


[Sayap biru dan besarnya akan melumatkan apa saja yang berani menghalanginya. Dentaman suara lengkingnya dapat meluluh lantahkan setiap makhluk hidup menjadi gumpalan darah. Mereka yang menginginkan kehadirannya haruslah mengorbankan satu kehidupan setiap harinya]


[Mereka yang telah menjadi tumbal akan merasakan kebahagiaan dan menjadi sang pelayan kematian. Tiada lain adalah makhluk tak berjiwa yang memiliki akal. Habisilah mereka sebelum merengut kebahagiaan yang tersisa]


[Habislah –habisilah –habisilah]


[Ohhh ... wahai Regalia yang sang pemutus takdir kejam ini. Segeralah bangkit dan hancurkan mimpi buruk ini dengan palu penyucianmu. Cahaya yang silau dan dapat memberikan kehidupan tanpa rasa khawatir yang nyata]


[Sang pembawa kehancuran yang hancur akan terlahir kembali menjadi bunga kebinasaan. Cabutlah akar dari bunga itu di kehidupanmu, wahai sang pembawa harapan. Pedang lagu akan menari menghancurkan semua itu menjadi ilusi]


[Sang pedang lagu akan menempuh perjalanan yang panjang hingga waktu yang menentukan semua itu akan tiba. Membawanya pada hamparan berbagai kehidupan. Mengarungi jembatan bintang yang indah dan juga menyilaukan]


[Kami—kami 100.000 jiwa kenangan yang telah menjadi tumbal sangat menantikan kedatangan sang pedang lagu. Berhati-hatilah terhadap tanda-tanda kebangkitannya. Munculnya sang pelahap pedang kegelapan]


[Ia akan merebut segala kebahagiaan dari semua makhluk yang tersisa. Kami—kami mohon segeralah hancurkan semua itu]


"Bagaimana? Itulah yang hanya paman dapat terjemahkan menjadi sebuah pesan," jelasnya lalu bangkit. Setelah itu ia berjalan pelan ke arahku. "Apa kau tahu, Reiss? Sekarang kita berada di mana?" Ia terus berjalan hingga


tepat berada di hadapanku.


"A-aku tidak tahu..."


"Mungkin itu memang benar karena sebelumnya kau tidak sadarkan diri. Hei, Nona Fear sampai kapan kau akan memeluk keponakanku?" tuturnya sambil berjongkok.


Fear masih tidak bisa melontarkan sepatah kata apapun. Ia masih memendam wajahnya di tubuhku. Sambil memelukku erat-erat. "Hahhh... sepertinya ini akan cukup menyulitkan." Lucifer hanya mendesah kemudian kembali berdiri.


"Reiss, dengar... aku tidak mempunyai banyak waktu lagi. Setelah ini aku akan kembali ke singgasanaku di Valhala. Ada satu hal yang harus aku pastikan sebelum aku pergi kesana"


"Lalu, apa itu?"


"Aku hanya akan mengatakan ini satu kali. Apa kau yakin mereka menolongmu tanpa menginginkan sesuatu? Itu saja yang harus kau ketahui dan yang terakhir adalah tempat kau berada sekarang adalah tanah kematian itu sendiri, Nethervile... hutan kabut kematian."


Setelah itu aku baru menyadari satu frase yang mengganjal dalam pesan itu –


Mereka yang telah menjadi tumbal akan merasakan kebahagiaan dan menjadi sang pelayan kematian. Tiada lain adalah makhluk tak berjiwa yang memiliki akal. Habisilah mereka sebelum merengut kebahagiaan yang tersisa.


Mungkinkah?


Burung-burung terbang menjauhi tempat ini. Sayap mereka mengepak cukup cepat dan lugas. Meninggalkan helai-helai bulu yang di tinggalkan. Sepi dan juga senyap, keadaan tempat ini berubah menjadi berbeda daripada sebelumnya.


"Kalau begitu aku akan pergi dulu, Reiss. Jagalah dirimu baik-baik."


Ia pun berubah menjadi pecahan bayangan dan akhirnya lenyap tertelan oleh tanah. Saking cepatnya bahkan mataku tidak bisa mengikutinya dan dari sanalah aku sadar akan satu hal. Yaitu suara entakkan kaki yang banyak dan juga suara-suara abstrak yang muncul dari luar kuil ini. Dengan kondisi Fear yang masih belum stabil, aku pun terpaksa membantunya berdiri.


Dengan langkah yang terpincang-pincang, kami berhasil keluar. Begitu mataku terbuka lebar, aku hanya bisa terhenyak beberapa saat mengetahui bahwa penduduk desa sedang berdiri mematung di seberang jembatan sana—senyap, memandangi kami tanpa berkata apapun.


AAPAAA!!??


"A-aku tidak bisa menyerahkannya kepada kalian, aku sangat mencintainya. W-walaupun aku harus mati sekalipun, aku tidak akan menyerahkannya kepada kalian," ucap Fera lantang dengan tubuh yang gemetaran.


"Heheheehehehehehee!"


Orang-orang desa itu tertawa terpingkal-pingkal dengan gigi yang bergemertak. Kemudian kepala mereka patah ke samping kiri maupun kanan. Meninggalkan lidah yang setengah busuk keluar dari mulut mereka.


“Apa kau pikir kami akan membiarkan itu, dasar wanita BUSUK!!”


Entah mengapa nada mereka menjadi serak kering. Hawa di sekitar mereka pun berubah secara drastis.


Mata mereka berubah menjadi merah menyala dan mengeluarkan tetesan-tetesan darah yang menyengat. Tubuh mereka menjadi rapuh dan berubah menjadi hijau tua yang dirayapi oleh belatung.


“Kau hanyalah wanita yang kami butuhkan agar kami bisa menyerahkan tumbal kepada sang Omega”


“Hanya sebatas itu saja, dan sisanya kau tidak BERGUNAAA!!”


“Dasar makhluk hidup rendahan, tak tahu diri, hahahaha”


“Matilah, matilah kau di sini bersama tumbal itu”


“Jangan harap kau bisa lari dari kami”


“Aku lapar”


“Darah, darah, daging”


“Khaaaaaaa!”


“LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR!


LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR!


LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR!


LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR!


LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR!


LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR! LAPAR!”


Mereka menggeram dengan suara yang cukup serak dan juga berat. Terkadang terkekeh-kekeh sendiri seperti boneka kayu pada sebuah dongeng. Lalu kabut di sekitar mereka memudar lalu perlahan menghilang begitu saja.


Kabut itu menunjukkan orang-orang mati yang masih bisa berjalan terpincang-pincang.

__ADS_1


"Fear ... mungkinkah mereka adalah mayat hidup?"


Ia hanya dapat meremas bahuku dan lebih mengeratkan pelukannya. Kepalanya naik-turun dan bibir merah mudanya yang terlihat gemetar saling menggigit. "Seharusnya kau memberitahuku sejak awal," ucapku kemudian mengelusnya pelan-pelan.


Sekumpulan mayat hidup itu langsung berlari terpincang-pincang ke arahku sambil membuka mulutnya besar-besar. Tetapi-


"Nearlh!!...”


Sekumpulan cahaya berkeliaran di atas kepalaku lalu melesat ke arah mereka. Menciptakan tembok transparan yang dapat menyucikan apa saja, "Bantu aku, Fear," bisikku sambil menggenggam tangan kirinya, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi.


“ICURHSISTA!!”


Sebuah lingkaran sihir yang sangat lebar muncul di langit. Meniadakan segala kabut yang bersarang di hutan ini dan menjadikannya hutan biasa yang sangat hijau. Hujan butir-butir cahaya mulai turun dan melumatkan semua mayat hidup yang berada di hadapan kami berdua.


Mereka tergolong ke dalam kelas bawah yang berarti dengan sihir penyucian akan lebih cepat untuk memusnahkan mereka. Hanya dalam beberapa detik saja tubuh mereka langsung menjadi abu.


Dalam tumpukan abu yang membekas itu muncul beberapa cahaya biru, mengambang pelan, dan ketika mereka pecah. Tanah di sekitarnya tiba-tiba saja menumbuhkan rerumputan hijau dan bunga-bunga dengan beragam warna.


... Terima kasih.


Itulah yang mereka—roh katakan padaku. Tiba setelah itu tubuhku menjadi sangat lemas dan napasku juga memberat. Aku bisa merasakan setetes keringat meluncur di lingkar leherku.


"Apa kau tidak marah?" tanya Fear dengan sedikit gugup.


"Marah? Kau telah menyelamatkanku. Lagi pula akulah yang seharusnya meminta maaf karena tidak mengenalimu."


Wajahnya masih mengharapkan sesuatu, tapi aku tidak tahu apa yang ia harapkan dari lelaki aneh dan tidak berguna sepertiku. Untuk ini aku memberanikan diri mengecup keningnya.


“Kuharap ini cukup... dan satu lagi, rrr... “


“Rrr?”


Matanya mulai melebar dan kulihat pipinya langsung merona.


“Maukah kau menjadi pendamping hidupku?... t-t-tunggu sebentar, aku tahu ini tiba-tiba, tapi—“


"Ya, aku bersedia untuk selalu berada disisimu, suamiku."


Sepertinya aku mendengar suatu kalimat yang sangat luar biasa bahkan lebih dahsyat dari getokkan Kakakku. Kalimat ini seperti berhasil membuat jantungku berhenti berdetak selama beberapa detik.


Namun tiba-tiba muncul sebuah Golem keluar dari kuil itu. Ia sangatlah besar. Tanah bergemuruh seperti di guncang gempa bumi. Pepohonan roboh seperti batang yang tipis. Sebuah retakan keluar dari sela-sela tanah, lalu terbelah


menjadi lebar.


Menjatuhkan setiap komponen hutan seperti pohon, bebatuan, semak-semak dan juga air yang mengalir dari bawah jembatan pun jatuh. Golem itu sangat besar dan hampir menyentuh awan di langit.


Pada bagian kepalanya terdapat tulisan berupa Emeth. Tangannya mulai terangkat. Berkat itu hutan ini menjadi luluh lantah. Lalu ia hempaskan tepat ke arah kami berdua. Dengan kondisi tubuhku yang seperti ini, aku tidak bisa


menghentikannya.


"Lenyaplah ... kau makhluk kematian." Fear berdiri sambil mengulurkan tangan kanannya lalu membukan kepalannya.


Tangan Golem yang akan menghantam kami berdua pun terhenti oleh kekuatan milik Fear. Ia tertahan oleh sebuah kekuatan transparan yang keluar dari telapak tangan milik Fear. Seperti cahaya putih kebiruan.


Cahaya itu berkumpul seperti sebuah perisai. "Jangan kau pernah menyakiti suami tercintaku," ucap Fear dengan tegas.


Aku sangat ini menyimpan kata-kata itu dalam ingatanku selamanya, benar-benar seorang perempuan yang berani.


Setelah itu tangannya mulai terangkat kemudian ia menyentil tangan itu bagai benda yang sangat ringan. Golem itu pun terlempar hingga belasan meter ke belakang. Sekali lagi hutan di hancurkan oleh makhluk raksasa yang terlempar dengan mudahnya.


"Fear ... kau tidak akan bisa menghancurkannya dengan cara seperti itu. Lihat kalimat yang berada di kepalanya. Emeth adalah bahasa kuno yang artinya 'Hidup' selagi kalimat itu masih tergurat di atas kepalanya, mau sekeras apapun yang kau lakukan itu adalah hal yang percuma"


"Hapus huruf 'E' dari kalimat itu dan jadikan 'Meth' yang aritnya kematian," tukasku lantang.


Fear mengangguk dan ia mengeluarkan sebuah bola cahaya dari kedua kepalan tangan miliknya. "Terima kasih atas penjelasanmu, Reiss," sahutnya manis.


Setelah itu bola cahaya itu membesar lalu menembakkan belasan pedang cahaya yang sangat besar dan mengunci pergerakan sang Golem. Fear pun langsung berlari ke arahnya, ia melompat dan berlari di lengan kirinya.


Kemudian melompat ke atas dadanya dan diikuti oleh sebuah tendangan pada dagu. Alhasil Golem itu tumbang dan akhirnya jatuh. Tidak sampai di situ saja, Fear bahkan langsung berlari cepat ke arah kepalanya.


Saat ia sampai tepat di atas kepalanya, Fear melesatkan tendangan berputar yang cepat di udara. Tendangan itu berhasil menggores huruf E dalam kalimat Emeth di kepalanya. Lalu berubah menjadi Meth, golem itu pun hancur


berkeping-keping menjadi beberapa bongkahan batu yang berserakan.


Setelah itu Fear kembali dengan wajah yang berbunga-bunga dan langsung duduk di pangkuanku, "Dengan ini, aku Fear Relestya sang Putri Cahaya resmi menjadi pengantin Reiss Veil Drag Reizhart."


Ia pun langsung menciumku dengan lembut, kelembutan sensasi bibirnya sangathangat. Sentuhan kulit putih dan juga bersihnya benar-benar menyenangkan. Setelah menciumku ia langsung memendam kepalanya pada dada bidang milikku.


Pada jari manis lengan kiri kami sebuah Rune tercipta dan menghasilkan sebuah cincin perak yang indah. Cincin itu melekat begitu erat hampir tidak bisa di lepas. "Huhh ... kau sepertinya tidak membiarkanku istirahat ya, Fear?"


"Reiss...," ucapnya dengan lembut.


Aku hanya bisa menatapi kecantikan paras wajahnya dalam senyum yang diam. Setelah itu kupegang pinggulnya dengan tangan kiriku lalu mengelus pipi kanannya dengan tangan kananku.


" Semoga kita bisa selalu bersama selamanya," bisikku halus di telinga kanannya setelah itu menciumnya kembali perlahan-lahan.


 


.


.


.


Hai semua! Nama gue ReIN dan terima kasih karena telah memberikan gue kesempatan untuk menemani malam jomblo loe! Jika kalian menyukai cerita ini maka berikan jempol ke atas dan jika tidak cukup vote lalu sebarkan cerita ini. Jangan lupa berikan komentar dan tips agar sang Author tetap semangat update ceritanya!

__ADS_1


__ADS_2