Sword Anthem

Sword Anthem
Chapter 28 - Pertarungan Keyakinan


__ADS_3

Sebelum kecerita utama kita intro dulu~


Hai semua! Nama gue ReIN dan terima kasih karena telah memberikan gue kesempatan untuk menemani malam jomblo loe! Jika kalian menyukai cerita ini maka berikan jempol ke atas dan jika tidak cukup vote lalu sebarkan cerita ini. Jangan lupa berikan komentar dan tips agar sang Author tetap semangat update ceritanya!


.


.


.


 


 


 


"Hmm?"


"Ahh... tidak, tidak. Apa yang dilakukan seorang wanita cantik di malam hari seperti ini?" tanyanya.


"Maaf jika saya mengganggumu, tuan," sahut Fear. "Saya di sini ingin memetik Bunga Lili Malam ini," lanjutnya.


"Ahhh... seperti itukah."


Fear yang waktu itu tidak mengetahui siapa lelaki itu terus saja berbincang dengannya tanpa khawatir. Tapi, di balik itu semua ia tidak tahu bahwa lelaki yang menjadi lawan bicaranya adalah Sang Pembantai Penyihir.


***


"Ternyata sudah malam. Aku harus segera kembali ke penginapan untuk makan malam, mungkin Fear saat ini sedang menungguku di sana," ucapku sambil menatap langit.


Kini di jalanan yang aku tapaki ini, orang-orang membawa meja-meja kotak yang cukup besar. Mereka lalu menaruh barang-barang yang akan mereka jual dengan harga murah.


Sepertinya akan ada bazar, mungkin Fear akan menyukainya.


Semua barang yang ada mereka tawarkan sangat cocok dengan seleranya Fear. Setelah aku mendapatkan barang yang aku inginkan, aku pun segera bergegas menuju ke penginapan.


Begitu aku tiba, Bibi Emma pun langsung menyambutku, “Hmm? Apakah Anda tidakbersama istri Anda, tuan?" tanyanya ramah.


"Apa istriku belum pulang?"


"Iya, istri Anda belum datang kesini. Mungkin ia masih berada di luar," jawabnya. "Kalau begitu tunggu sebentar saya akan menyiapkan makan malam untuk kalian berdua," lanjutnya kemudian pergi ke dapur.


Fear?!!


Sepertinya ia belum pulang dari toko bunga itu. Tetapi, selarut ini? Sebenarnya apa yang ia lihat di sana. Firasatku tidak enak, aku harus segera pergi ke toko bunga itu.


Suara entakkan sepatu yang bergema di jalanan bebatuan pada malam hari terdengar samar di kerumunan orang-orang yang telah menikmati sebuah bazar. Di dalam setiap langkahku ini, hatiku tidak henti-hentinya berdetak cepat mengkhawatirkan Fear.


Apa yang sekarang kau lakukan, Fear?


***


"Nona, apa kau yakin berada di luar kota selarut ini?" tanyanya dengan nada halus.


"Tidak, aku masih ingin berada di sini menikmati indahnya taman Bunga Lili Malam ini," balas Fear dengan tenang.


Kini ia sedang berjongkok sambil melihat-lihat sekumpulan bunga lili. Hamparan yang di selimuti oleh bunga-bunga tersebut membuat Fear terpesona. Dalam heningnya itu angin berhembus cukup kencang.


Helaian setiap kuncupnya berterbangan, seirama dengan rambut cokelat panjang Fear yang terbawa oleh alirannya. Daun-daun bunga itu kini seperti hiasan pada rambutnya yang anggun.


Dengan dua buah mata coklat tuanya yang sekarang bersinar sangat senang sekali, wajahnya pun ikut tersenyum bahagia.


"Sekali lagi akan saya katakan, apa kau tidak takut sendirian di sini?" tanyanya memastikan.


"Tidak, lagi pula ada Anda, tuan baik hati," sahut Fear dengan ringan.


"Baik hati? Aku?"


"Ya. Saya bisa melihat dari balik mata itu," ucap Fear. "Walaupun terkesan menyeramkan karena berwarna merah darah, tetapi dari lubuk hati Anda, sebuah kebaikan tersimpan begitu dalam."


Fear pun bangkit lalu menghadap lelaki berambut putih itu.


"Ini mungkin tidak seberapa, tapi ambilah ini. Mungkin akan terlihat cocok dengan warna rambutmu," ucap Fear sambil tersenyum kecil.


Lelaki itu mengambilnya dengan tangan kanan, kemudian ia mengangkatnya tepat ke atas wajahnya.


"Baik? Haha ... hahahahaha, kau bilang aku baik? Kau sungguh lucu sekali, kau tahu dari mana aku ini orang baik? Ini membuatku frustasi."


Kini raut wajahnya mulai menegang dengan dua buah mata yang menyiratkan hawa kematian. Bunga yang ia pegang tepat di tangan kanannya mulai ia masukan ke dalam mulutnya... mengunyahnya, lalu menelannya mentah-mentah.


Dan tiba-tiba saja sebuah sayatan meluncur tepat ke arah Fear dengan cepat... slashhh!!!


Fear yang tidak mengantisipasinya terjatuh dengan keras dan terlempar jauh dengan luka pada lengan kirinya. Darah pun menetes membasahi lengan gaun. Ia tidak menduga akan ada sebuah serangan yang di luncurkan ke arahnya.

__ADS_1


Terutama itu dari seorang lelaki yang kini berada di hadapannya. Lelaki itu kemudian mengelap pedangnya yang perak dengan tangannya sendiri, kemudian sisa darah yang menempel pada tangannya ia guratkan pada wajahnya sendiri.


"Jangan pernah kau sebut kata 'BAIK' di hadapanku dasar penyihir TERKUTUK!" ucapnya lantang dan sebuah senyum yang arogan tergurat di wajahnya yang kini terhias oleh darah.


Fear tidak percaya apa yang ia katakan, penyihir? Apa maksudnya itu? Ia sama sekali tidak tahu apa-apa tentang itu.


"Dengarkan aku baik-baik... aku adalah Oz si Pembantai Penyihir," ucapnya dingin.


Selagi Fear menahan rasa sakit di lengan kirinya, wajahnya pun mulai ikut menegang ketika mendengar nama itu. Apalagi orang yang dirumorkan sebagai Pembantai Penyihir kini tepat berada di hadapannya.


***


Kini aku telah sampai di toko bunga, toko yang tadi siang di kunjungi oleh Fear. Tetapi, setelah aku masuk ke dalamnya, di sana tidak ada siapa-siapa selain seorang perempuan yang cukup ramah yang mulai menyambutku.


"Selamat datang di toko bunga kami, apakah ada yang saya bisa bantu?" tanyanya.


"Apakah Anda melihat istri saya?" ucapku tergesa-gesa sambil mendeskripsikan penampilannya.


"Ahhh... nona yang tadi siang ya? Saya ingat, ia sungguh cantik. Apakah Anda suaminya?"


"Iya, betul... lalu apakah Anda mengetahui ia pergi ke mana?"


"Saya kurang yakin, tetapi jika tidak salah ingat, istri Anda ingin memetik Bunga Lili Malam karena persediaan di toko kami habis"


“Di mana tempat itu?!”


“Ada sebuah taman bukit kecil di sebelah selatan kota ini, Anda bisa menemukannya di sana. Tapi, saya sarankan untuk pergi ke sana bersama seseorang. Karena desas-desusnya Sang Pembantai Penyihir suka datang ke sana untuk melihat Bunga Lili Malam yang mekar," jelasnya khawatir.


"Terima kasih atas informasinya, kalau begitu saya pesan bunga mawar biru itu saja. Tolong kirim ke penginapan ini ya, ini uangnya," ucapku lalu menjelaskan penginapan yang aku bicarakan tadi.


Setelah itu aku pun langsung berlari menuju keluar kota dengan tergesa-gesa. Suara derapan langkah kaki dengan hembusan napas yang tidak teratur. Mengeluarkan uap yang melayang di sekitar mulutku.


Jika penjagaannya cukup ketat bagaimana aku akan keluar dari kota ini?


***


"Kau harus mengerti bagaimana desaku di hancurkan oleh para penyihir, aku akan membalasnya dengan kedua tanganku ini," ketus Oz lalu mengangkat pedangnya.


Fear pun berusaha mencoba untuk bangkit, tetapi kakinya masih gemetar. Pundaknya sedikit kaku dan alhasil ia menjadi seperti patung yang tiba-tiba saja di sentak akan hancur.


"Jangan coba-coba lari dariku, dasar penyihir terkutuk!!!" ucap Oz dan ia pun berjalan menghampiri Fear yang berdiri dengan gemetar.


Fear mencoba untuk menggunakan sihirnya, tapi sayang itu semua tidak berguna. Apa yang sebenarnya terjadi?


Raut wajahnya menjadi pucat pasi dan tepat di depannya kini seorang pembunuh siap untuk menghabisinya.


"Kau kira akan bisa mengeluarkan sihir di hadapanku? Apa kau tidak tahu apa arti kata dari THE FOOL?" tanyanya remeh sambil menatap hina Fear.


" THE FOOL?! Jangan-jangan kau orang yang memiliki kekuatan Anti-Magi?!"


Fear yang seketika itu menyadari betapa bahayanya lelaki yang sedang berjalan ke arahnya hanya dapat menyeret kedua kakinya ke belakang dengan pelan.


Setiap langkahnya sangat berarti, jika ia sampai tertahan maka nyawanya akan di pastikan menghilang.


"HAHAHAHA... kau rupanya mengerti juga, di hadapan mataku ini semua sihir akan menghilang. Kekuatan seperti itu hanya akan memberikan penderitaan bagi setiap orang yang memakainya."


Jarak mereka semakin mendekat hingga akhirnya Oz kini berdiri tepat di hadapannya. Tubuh Fear menggigil ketakutan selagi kedua matanya melebar tidak percaya.


Namun tiba-tiba saja Oz menendang tubuh rapuh itu dengan kerasnya hingga terhempas jauh dan berguling-guling di taman itu.


“Ahksss!!—“


"Ada apa? Kau sama sekali tidak berdaya di hadapanku ini. Dasar lemah kau sama sekali tidak berguna tanpa sihirmu itu," ucapnya lantang dan kini kedua buah matanya berubah total menjadi tatapan balas dendam.


"Hikss ... Reiss," gumam Fear lirih.


Sementara ia berharap suaminya datang, di saat yang sama juga Fear harus menahan rasa sakit yang setiap saat terbuka lebar. Seakan-akan luka itu terkunci dan terus bertumbuh.


Darah terus menetes dari luka itu, menyebabkan rasa sakit yang berkepanjangan. Tetapi,  Oz tidak peduli dan langsung melesatkan sebuah gelombang bulan sabit dari pedangnya.


Namun siapa sangka serangannya itu hancur dalam sekejap, meninggalkan sebuah tetes darah yang terus jatuh setiap saat.


"Hmph... sepertinya aku tepat waktu—“


Walaupun aku mengorbankan lengan kiriku sebagai perisai, setidaknya aku berhasil melindungi Fear tepat waktu.


"Apa?! Siapa kau?!!" celetuk Oz kaget.


Setelah itu aku memastikan kondisi Fear. Sama halnya seperti diriku, ia juga terluka. Aku bisa melihat lengan kirisnya mengeluarkan darah yang banyak, apalagi melihat wajahnya yang kesakitan... aku sama sekali tidak bisa


menahannya.


Ini... tidak bisa dimaafkan.

__ADS_1


"Kau tidak usah mengetahui siapa diriku," ucapku dingin.


Aku pun langsung merobek baju bagian bawahku, lalu melilitkannya pada lengan Fear. Setidaknya dengan ini akan memperlambat aliran darah.


Selain itu aku juga bisa melihat kedua katanya yang berkaca-kaca menatapku seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi, "Sayang....”


Dengan sentuhan yang lembut, kuelus kepalanya beberapa kali sambil memberikannya sebuah pelukan agar ia merasa tenang.


"Hooo ... jadi kau lelakinya, kau sungguh bodoh karena terpengaruh kecantikannya. Sadarlah, kau masih bisa mencari perempuan lain, tetapi bukan dirinya," ucapnya enteng.


Ketika mendengarnya, aku pun melepaskan pelukan, lalu mengambil langkah cepat menggunakan teknik kecepatan kaki sehingga tubuhku kini telah berada tepat di hadapan lelaki itu.


Lenganku telah mengambil aba-aba dan segera meluncurkan sebuah pukulan keras tepat mengenai wajahnya. Alhasil ia pun terhempas cukup jauh, tetapi ia bisa menahannya dengan cepat, dan langsung menyeimbangkan kembali tubuhnya.


"Jika kau tidak ingin terluka, maka kau seharusnya jangan berkata seperti itu," ucapku dingin.


Aku hanya bisa melihat sosoknya dengan perasaan amarah yang terpendam. Di sisi yang lain ia kini sedang tertawa terbahak-bahak seperti orang gila.


"AHAHAHAHAHA ... ayolah, kau tahu wanita itu adalah seorang penyihir terkutuk. Sepertinya kau tidak akan mereda jika tidak kuhabisi terlebih dahulu."


Ia pun kini bersiap dalam kuda-kudanya, pedangnya merendah dekat kedua kakinya. Tatapannya menajam dan sebuah aura yang sangat kuat keluar dari tubuhnya. Dan pada saat itu juga ia langsung menyerangku dengan cepat.


Sebuah garis lajur pedang melayang tepat di samping kepalaku. Tapi, aku langsung menendang lengannya, setelah itu kubalas dengan sebuah pukulan Hook yang meliuk tajam tepat ke arah telinganya.


Namun pukulanku dibalas juga oleh pukulan yang lebih kuat. Kami berdua saling beradu pukulan. Di sini mungkin akulah yang mengalami kesulitan karena lengan kiriku terluka.


Aku juga tidak tahu mengapa ia menyerang Fear. Mengapa ia dijuluki sebagai Sang Pembantai Penyihir, mengapa ia begitu fokus untuk membunuh penyihir, dan mengapa ia harus menargetkan Fear?


Setahuku mereka tidak pernah bertemu satu sama lain, bahkan aku tahu Fear tidak akan melakukan sesuatu yang buruk jika melihat bagaimana sifat aslinya.


Entah mengapa perutku sakit, hingga aku sadar jika ternyata ada sebuah luka sayatan yang membentang cukup lebar di sana. Walaupun ini sangat perih, tetapi setidaknya luka ini tidak terlalu dalam.


"Hahahah... sepertinya kita sudah tahu siapa yang akan menang—“


"Hmm! Sepertinya i-itu belum bisa di putuskan," potongku sambil tersenyum kecil.


"Huhhh? ... ahksss!!—“


Semburat darah keluar dari mulutnya mengotori taman ini dengan darah-darah segar yang baru saja keluar dari dua orang lelaki yang sedang bertarung mati-matian.


Dan sebuah serangan yang tidak terduga melesat ke arahku tanpa kusadari, itu seperti ilusi dan tidak bisa aku tahan.


"Selamat tinggal, kawan—“


"Tidak semudah itu....”


Sebenarnya aku telah berada di belakangnya ketika ia dengan cepat mengayunkan pedang. Atau lebih tepatnya, aku bergerak sangat cepat sehingga ia tidak menyadariku sama sekali.


"Aku berada di sini," bisikku dingin.


Ketika ia kaget mendengar suaraku, aku pun langsung memberikannya sebuah tendangan layang yang keras tepat di bagian belakang kepalanya. Alhasil ia pun melayang sangat jauh hingga akhirnya wajahnya jatuh menghantam sebuah gundukan pasir keras sekali.


Namun dengan cepat ia kembali bangkit seakan-akan seranganku bukanlah apa-apa.


"Keluar kau dasar pengecut," ucap Oz lantang, dan ia pun bangkit kembali.


“Melihat bagaimana istriku terluka. Tampaknya kau bisa menetralkan sihir, kita lihat apakah kau bisa menetralkan kemampuanku?/”


Hanya dalam beberapa detik itu aku melesatkan pukulan kuat nan cepat yang bahkan ia sendiri tidak bisa menahannya. Perut, pinggang, wajah, punggung lengan... semua itu aku serang secara bertubi-tubi tanpa memberikannya napas sedikit pun.


Ketika tubuhnya goyah, aku pun mengambil momentum itu untuk menendang kakinya. Tubuhnya pun langsung runtuh ke samping kiri dan di saat yang sama kaki kananku telah terangkat tinggi untuk melancarkan serangan terakhir.


Kukerahkan semua tenagaku pada tendangan ini. ketika kepalanya terbentur keras, aku pun membenturkannya lagi atau lebih tepatnya mengubur kepalanya jauh ke dalam tanah dengan tendangan menukik ini.


Pada akhirnya ia pun tidak sadarkan diri selagi kepalanya terkubur sangat dalam ke dalam tanah.


"Hanya karena penyihir bukan berarti istriku juga bisa kau serang seenaknya—arghh.”


Lagi-lagi darah keluar dari mulutku, tapi aku menahannya dengan telapak tangan kananku. Luka pada tangan kiriku pun terbilang parah, karena itu adalah luka robek yang sangat besar akibat sayatan pedang miliknya.


Tanpa memandang luka-luka itu aku berjalan menghampiri Fear yang masih terbujur lemas melihatku penuh luka. Setelah aku sampai, aku langsung memeluknya kembali.


Dan aku pun di sambut dengan hangat olehnya, sebuah tetes-tetes air mata keluar dari kedua matanya." Maafkan aku, Reiss ... hikss hiksss," tangisnya sambil tersedu-sedu.


Aku pun membelai rambutnya yang halus dengan tangan kananku, "S-sudahlah semua telah berakhir. Apapun yang terjadi aku akan selalu berada di sampingmu,Fear," sahutku lembut.


Ia masih memelukku dengan sangat erat, seakan-akan tidak ingin melepaskannya.


“Dasar kau ini, sudah jangan menangis. Aku baik-baik saja kok," ucapku dengan nada ringan.


Tanpa menimpali ucapanku, Fear yang masih menangis terus saja tidak henti-hentinya meremas tubuhku dengan badan halus miliknya.


Aku masih bisa merasakan kehangatan tubuhnya. Tapi, saat ini aku sangat mengantuk sekali. Mataku begitu berat untuk terus kubuka, hingga akhirnya semuanya menjadi gelap.

__ADS_1


Dan aku masih bisa mendengar ia memanggil namaku dengan penuh kasih sayang sebelum semuanya benar-benar gelap.


__ADS_2