
Akhirnya kami sampai di depan akademi dan untungnya tidak ada yang melihat kedatangan kami. Mungkin aku bisa bernapas lega karena itu.
"Kuro, tunggu dulu."
Sosok anggun itu mulai mendekatiku, entah karena angin yang membawanya atau penciumanku yang tajam. Aku bisa mencium aroma rambutnya yang enak.
"Hmm ... apa?"
"Ini jimat keberuntungan ....”
Tubuhnya mulai condong ke depan tepat sekali berada di hadapanku. Setelah itu rasa lembut yang menyenangkan menempel di pipiku—ya, ia mencium pipiku. Dengan wajah bahagia itu, kini sosoknya mulai menjauh sambil melambaikan tangan.
"Dasar, ya sudahlah. Mau bagaimana lagi, sifatnya memang tidak pernah berubah."
Setelah itu aku pun masuk ke dalam Akademi Magistra. Saat aku berjalan melewati lorongnya, seluruh murid melihatku dengan tatapan jijik.
Apakah reputasiku sebagai guru sejelek ini?
Pertama-tama aku harus masuk ke ruang kepala sekolah terlebih dahulu untuk membawa map kerjaku. Tanpa map kerjaku, aku tidak di perkenankan untuk mengajar.
Tidak lama kemudian aku sampai di depan pintu ruangan kepala sekolah.
"Aku harus menyiapkan mental terlebih dahulu untuk masuk ke dalamruangan nenek sialan ini," gumamku kecut.
"Anoo ... "
"Silahkan masuk."
Sebelum aku mengetuk pintu, sebuah suara telah memanggilku untuk masuk. Sepertinya dia telah mengetahui aku berada di sini. Dengan santai aku membuka pintu itu hingga sesuatu yang sangat tak terduga melesat di sebelah kananku.
"Hahaha ... sayang tapi kau meleset, dasar nenek beruban. Kau pikir bisa mengenaiku dengan pisau mintulmu itu ... huh?!"
Ternyata yang melesat itu adalah sebuah pisau tangan. Jika saja refleksku telat satu detik, mungkin pisau itu telah terpajang di kepalaku. Untungnya aku berhasil menghindar dan kini pisau itu menancap pada pintu di belakangku.
"Ara ... hampir saja, jika pisau itu mengenaimu Kuro~ Mungkin aku berhasil mengalahkan sang Black God Slayer dalam sekali serang," ucapnya remeh.
"Heiii ... dasar nenek sialan, kau mencoba membunuh lelaki yang kau rekrut sendiri. Apa maksudnya ini!?" sahutku kemudian melepaskan pisau kecil itu lalu melemparkannya kembali ke arahnya dengan cepat.
"Tidak, hanya sebuah pemanasan dan latihan fisik sederhana sebelum kau mulai melatih para murid di akademi ini, Kuro~" balasnya kemudian menangkap pisau itu dengan hanya jari telunjuk dan tengahnya saja dengan cara di apit di tengah-tengahnya., "kau tahukan akademi ini sangat membutuhkan pengajar yang sangat ahli dalam salah satu bidang ataupun lebih?"
"Latihan fisik? Kau menyebut serangan cepat itu sebagai latihan! Dasar nenek beruban," sahutku kemudian menghela napas panjang." Tentu saja aku tahu, sebab dari itu kau merekrutku kan? Apa kau tahu reputasiku
dulu?"
"Aku tidak mempermasalahkannya sama sekali, lagi pula kau sangat ahli dalam berbagai bidang. Keterampilan berpedang, sihir, olahraga, seni bela diri, dan lain-lain"
"Bawalah ini bersamamu, dan juga jangan lupa pakai ini. Kau sangat gagah dengan pakaian itu, Kuro~"
Senyumnya barusan terkesan seperti mengejekku dan entah mengapa aku menyesal karena telah datang ke sini.
"Hoo ... seperti itukah? Kalau begitu terima kasih atas pujianmu," sahutku dengan memasang senyum palsu..
"Ohhh ... Fear~, seperti biasanya kau begitu manis hari ini"
"Dan satu lagi jangan panggil aku Kuro–ehh ... Fear?"
Aku kaget ketika nenek sialan itu menyebutkan nama Fear dengan wajah yang berbunga-bunga. Setelah itu mengangkatnya seperti cucuknya sendiri. Kemudian memutar-mutarkannya bagai biang lala.
"J-jadi selama ini saat aku berjalan di lorong kau tidak masuk ke dalam pedangku, Fear?" tanyaku khawatir dengan keringat dingin yang menetes-netes.
"Ouu ... itu betul sekali, aku kan sedang makan permen ini. Mana mungkin aku masuk ke dalam pedangmu, Kuro~ ... hehehehe ... lagi, putar aku lagi," balasnya dengan polos lalu berubah menjadi riang karena sedang berada di langit-langit.
"Fear~, kau begitu imut sekali. Kenapa kau harus berpasangan dengan Kuro yang garang ini?" tanyanya sinis.
"Aha ... ahahahah, tamat sudah gelarku yang bersih ini. Setelah di juluki kesatria gagal, sekarang aku akan di juluki sebagai lelaki penyuka perempuan cilik alias Pedofil," ucapku depresi lalu tertunduk merenung.
Fear yang melihatku kemudian meminta Aresya untuk menurunkannya. Lalu ia berjalan menghampiriku yang sedang merenung.
"Mwm ... nyamnyam ... ada apa Kuro? Kenapa jadi murung? Seharusnya kau bangga jika mendapatkan julukan itu. Bukankah itu berarti kau menyukaiku lebih dari apapun ...," ucapnya dengan wajah polos, kemudian menepuk pundakku dengan tangan kecilnya yang rapuh. Setelah itu memberikan tatapan tajam seakan-akan 'Banggalah' dan akhirnya kembali fokus untuk memakan permen lagi.
Dengan batin yang kurasa seperti ditusuk oleh duri kecil, rasanya perih juga. Aku pun mengambil map kerjaku dan juga sebuah gelang berwarna biru-hitam. Setelah itu keluar dari ruangan kepala sekolah.
"Kalau begitu aku pergi dulu – hikss ... hikss"
"Semangatlah Kuro~, Fear~" ucap Aresya sambil melambai-lambaikan tangannya.
Aku pun sekali lagi berjalan di lorong akademi ini. Kiri dan kanannya berwarna putih ke abuan seperti marmer yang telah terkikis. Ada beberapa lukisan dengan gambar pedang dan juga perisai.
Terkadang di sela-sela antara itu terdapat sebuah pilar hitam yang kokoh sebagai penyangga akademi ini. Sinar matahari dapat menembus akademi ini kemudian memantulkan sinar hangatnya melalui atap-atap.
Di pinggir kanannya terdapat sebuah taman hijau yang indah, di beberapa sudut terlihat sebuah bangku kayu yang cukup kokoh dan juga simpel. Ada sebuah pohon raksasa di sudut kanan dekat gerbang.
Menjuntaikan akar-akar gantungnya. Daun-daunnya yang hijau membawa sebuah kesegaran dan juga membantu menghidupkan akademi ini. Akademi Magistra, 45% adalah bangunan dan 55% sisanya adalah lahan hijau yang sangat menyegarkan mata.
Terdapat beberapa ruangan seperti Gym, kolam renang indoor, lapangan luas sebagai tempat olah raga, tempat latihan memanah dan sebuah gedung serba guna.
Tidak lama setelah itu aku tiba di sebuah persimpangan, lorong kanan menghubungkan lantai satu dan dua, sedangkan ke kiri adalah terusan dari lorong sebelumnya.
Sepertinya kelas tempatku mengajar berada di lorong sebelah kiri, di lantai pertama. Aku pun membuka map kerjaku untuk berjaga-jaga.
“Sepertinya aku mendapatkan kelas yang bermasalah ... kah?”
Aku juga cukup tahu tentang kondisi akademi ini. Seperti pembagian kelas yang merata antara kelas bangsawan, kesatria, dan juga orang biasa. Hal ini sepertinya dilakukan agar tidak ada kecemburuan di antara para murid, sehingga mereka semua di anggap setara di akademi ini.
__ADS_1
"Fear, apa kau yakin ingin ikut bersamaku?"
"Ouu ... tentu saja, lagi pula aku belum menghabiskan permenku. Baru seperempatnya"
"Huhhhh ... sepertinya aku harus melakukannya atau tidak sama sekali."
Setelah memantapkan niat dan mengambil napas dalam-dalam, akhirnya aku memasukikelas dengan wajah yang terkesan malas.
Seperti yang telah aku duga, kelas ini rata alias semua kelas golongan ada di sini. Dari mulai bangsawan, kesatria, bahkan orang biasa. Sialnya entah mengapa ada Reya di kelas ini dan seseorang yang tampaknya populer di kalangan siswa.
Mereka berdua di kerumuni oleh hampir setengah murid yang berada di dalamruangan itu. Mereka semua menggunakan kemeja berwarna biru cerah dengan dasi putih bergaris di tengah-tengahnya.
Berjubah hitam dengan sebuah lambang pada sisi kiri lengannya. Dengan gambar sebuah bunga mawar biru dan dua buah Rappier yang saling bersilang untuk perempuan sedangkan untuk laki-laki adalah dua buah pedang.
Pada bagian kanannya terdapat sebuah angka satu berwarna putih cerah. Tidak hanya pada jubah hitamnya bahkan pada saku kemeja birunya terdapat sebuah gambar mawar biru dengan sebuah tulisan 'Magistra' pada bawahnya.
Sepertinya hari ini akan berat untukku.
Aku pun kemudian perlahan berjalan ke arah meja yang berada di tengah ruangan, tepatnya berada di depan sebuah papan tulis yang sangat besar dan juga luas. Tempat ini seperti arena pertandingan, di buat setengah melingkar dengan bangku dan kursi yang terbuat dari Kayu Almite.
Kayu Almite, batang kayu yang kokoh karena di lapisi oleh Air Manadite dan juga di beri beberapa sihir agar dapat menetralisirkan berbagai macam sihir.
"Ehmmm ...."
Mereka semua cukup kaget karena kehadiranku dan mulai kembali pada tempat duduknya masing-masing. Sepertinya Reya bernapas lega karena terselamatkan olehku. Sedangkan teman sebelahnya tampak sedikit termenung.
"Hmm ... perkenalkan nama saya adalah Kurokami Rei, dan mulai saat ini saya adalah wali kelas kalian," ucapku dengan cukup lantang. "Kalian bisa memanggilku sebagai instruktur ataupun Instruktur Kuro."
Meskipun terlihat hening, tapi aku masih bisa mendengar bisikan dan umpatan cukup jelas dari sini. Seperti 'bukankah dia si ksatria gagal itu ya?, mengapa pecundang itu menjadi wali kelas kita?, apakah kepala sekolah gila karena mempekerjakannya sebagai guru?'.
Seperti itulah, walaupun menyakitkan tetapi apa boleh buat. Aku harus mengajar di sini karena ancaman nenek sialan itu.
"Baiklah, sekarang kita akan mengenal apa itu Mana? Tetapi sebelum itu silakan tentukan ketua kelas terlebih
dahulu."
Mereka semua serentak langsung menunjuk salah satu perempuan. Ia cukup gugup dan juga kikuk menurutku, berambut oranye panjang, ia berkaca mata dengan dua buah mata biru cyan yang cukup indah.
Kulitnya putih dan juga bibirnya yang merah muda menambah daya tariknya. Sepertinya dia D-cup, jika di lihat dari kemejanya yang cukup menonjol. Tapi apakah dia benar-benar kikuk dengan raut wajah seperti itu?
Hmm ... ini namanya penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan. Huhh ... tak apalah, agar lebih cepat.
"Baiklah, sudah di putuskan. Silakan memperkenalkan diri"
"H-h-hmm ... n-n-nama s-saya Mai, Mai Grels"
"Kalau begitu Mai, apa kau tahu apa Mana itu?"
"E-hmm ... Mana adalah energi yang terkumpul dalam sebuah wadah yang kita sebut sebagai raga. Terkadang Mananya juga bisa dengan sendirinya berpindah tempat seperti pada anggota tubuh kita yang lain"
"T-terima kasih i-instruktur"
"Penjelasan Mai cukup bagus dan mudah untuk dimengerti. Saya akan menjelaskannya secara rinci dan juga sedikit panjang. Mana adalah kumpulan energi yang terbuat dari Stamina dan terkadang membutuhkan tingkat fokus yang cukup agar dapat menyalurkannya dengan bebas. Mana juga biasanya tersimpan pada salah satu bagian tubuh kita, contohnya adalah bagian inti jantung, kepala, perut dan tangan ataupun kaki kita." Jelasku.
"Instruktur! ...."
Salah satu murid berdiri kemudian mengacungkan tangannya.
Ughh ... Reya.
"Gadis kecil yang sedang memakan permen itu siapa?" tanyanya.
"Huhh ... pasti akan ada yang menanyakannya juga. Akan aku tegaskan dia bukanlah anakku, tepatnya gadis kecil ini adalah roh kontraktorku."
Dan seketika seluruh murid terdiam namun berbuah menjadi antusias. Tetapi, ada beberapa yang tampaknya kesal.
"Jika seperti itu kita akan langsung untuk mencoba menyalurkannya ke dalam sihir dasar."
Aku pun mengambil sebuah kayu balok dari balik meja kemudian meletakkannya di atas.
"Sekarang cobalah untuk menyalurkan Mana ke dalam sihir mudah untuk dapat menghancurkannya"
Semua murid kemudian berkumpul di depan, kecuali dua orang. Seorang lelaki
dan yang satunya seorang perempuan.
"Ada apa? Apakah sebegitu membosankannya pelajaranku bagi kalian?"
"Kau adalah kesatria gagal, untuk apa kau mengajar di sini?"
"Perkenalkan dulu namamu, baru setelah itu berpendapat"
"Namaku Loki Minaghyr, apakah kau tidak malu mendapatkan julukan seperti itu terlebih lagi kau menjadi seorang guru. Dasar tidak tahu malu!" ucapnya ketus dengan nada sarkasme.
"Bukannya aku mau, tapi aku dipaksa oleh seseorang. Jadi cepat turun ke sini, dan untuk—“
"Panggil aku putri Shiena Khizwart, dasar rakyat jelata!"
Aku pun bersiul, ternyata perkataan mereka benar-benar pedas.
"Whoaaa ... apakah kau seperti itu memanggil instrukturmu, Shiena?" Sahutku santai, "lalu kalau begitu cobalah hancurkan kayu kotak itu dengan sihir tingkat pertama," lanjutku dengan senyum kecil
"Baiklah, agar kau menyadari posisimu rakyat jelata. Fufufufu."
__ADS_1
Ahhh ... tipe seorang putri konglomerat adalah yang paling tidak kusukai.
"Kita akan gunakan Lightning untuk menghancurkan kayu kotak itu, apa kalian paham?"
Semua mengangguk dan sepertinya akan menarik sekarang.
"Bagaimana jika Nona Shiena dan juga Tuan Loki untuk mencobanya pertama?" ucapku sambil memprovokasi. "Tetapi dengar dulu—“
"Tchhh ... hal ini sangatlah mudah, minggir."
Saat itu Loki mulai merapalkan sebuah rune singkat dengan cepat. Sebuah suara sambaran terdengar dari telapak tangan milik Loki, kemudian menyambar kayu kotak itu tetapi –
"Apa!? Mustahil, lenyap?! Sihirku lenyap?!"
"Makannya dengarkan penjelasanku terlebih dahulu, huhhh ... balok kayu itu adalah Almite. Jadi kalian tahu kan? Semua sihir tidak akan mempan sama sekali"
"Instruktur itu tidak mungkin untuk kita lakukan, jika kayu itu adalah Almite sama saja bohong jika melancarkan sihir kepadanya," ucap salah satu murid.
Tampaknya Loki terlihat sedikit kesal dan ia mulai memanas. "Awas, biar kucoba sekali lagi. Kali ini kayu itu pasti akan hancur dengan sihirku!" ucapnya dengan emosi yang membara.
Ia merapalkan Rune yang sama namun hasilnya nihil, sama seperti percobaannya yang pertama.
"Sial!" Rutuknya sambil meninju lantai.
"Fufufufu ... dasar rakyat jelata, masa hanya menghancurkan benda kecil seperti itu saja tidak bisa. Kalau begitu saatnya giliranku sang putri sendiri yang akan melakukannya."
Tuan putri penuh kebanggaan itu mengejek Loki seperti tidak masalah sama sekali, ia pun melangkah dengan elegan sama seperti gaya bicaranya yang khas namun menyakitkan.
Sambil mengulurkan tangannya seperti ingin meraih sesuatu, mulutnya bergerak mengucap rune yang hampir sama.
Sebuah suara menggelegar dengan girang dan langsung menyambar balok Kayu Almite itu dengan hebat. Tetapi, hasil yang di dapatkan hanya sebatas tanda bakar yang kecil pada bagian tengahnya.
Namun semua murid terkagum-kagum dengan sihir itu, karena Kayu Almite adalah kayu anti-magi. Kayu yang menangkal semua kekuatan sihir, namun sihir yang baru saja di lakukan oleh Shiena berhasil menorehkan sebuah tanda bakar pada tengah-tengahnya.
Loki yang melihat itu hanya terpaku dan merasa dirinya lebih lemah dari pada perempuan bernama Shiena itu.
"Hmm ... bagus juga, kau bisa memberikan dampak kecil pada kayu kotak Almite itu. Kuakui kau cukup hebat juga, Shiena," Ucapku sedikit salut.
"Fufufu ... sudah jelas bukan, aku adalah seorang putri," balasnya sambil tertawa sombong.
"Apakah ada yang ingin mencoba lagi?"
Semua murid terdiam karena merasa tidak sanggup untuk melakukannya.
"Kalau begitu—“
"Tunggu aku ingin mencobanya"
Tiba-tiba saja seorang anak laki-laki melangkah mendekat, jika tidak salah ia adalah orang yang tadi di sebelah Reya.
"Namaku adalah Hiro, Hiro Einher. Izinkan saya melakukannya Instruktur Kuro," ucapnya antusias.
"Baiklah, kalau begitu."
Aku dapat melihat kobaran api semangat dari dalam kedua buah kelopak matanya. Sepertinya ia akan melakukan sesuatu yang berbeda, bahkan Reya tersenyum. Sepertinya dugaanku kali ini juga benar, ia adalah salah satu Kesatria Legion.
Hiro mulai melafalkan Rune-nya dengan cepat dan juga singkat.
Sebuah kilatan petir berwarna merah menggelegar dengan sangat dahsyat, kilatan petir merah itu membuat semua murid terdiam dan wajah mereka menjadi kaget. Bahkan Shiena pun tertunduk lemas ketika melihat kekuatan sihir yang di lakukan oleh Hiro.
Dan kilatan petir itu berhasil membuat sebuah lubang pada balok Kayu Almite itu cukup sedang. Tak kukira kekuatannya sebesar ini terdapat pada anak sekecil ini. Dunia ini benar-benar penuh misteri.
"Hmm ... bagus sekali Hiro, tetapi ...," ucapku lalu memukul pelan kepalanya. "Bukankah sudah aku bilang agar hanya menggunakan sihir dasar saja, bukan? Kau memang handal tetapi kau tidak memperhatikan apa yang aku
jelaskan"
"Ughhh ... maafkan aku Instruktur Kuro," Balas Hiro kemudian ia mundur
"Sebelumnya, aku akan mengatakannya lagi. Kali ini hanya perlu mengeluarkan Mana yang sedikit kemudian alirkan ke dalam sihir tingkat pertama yaitu Lightning. Apa yang Hiro lakukan tadi adalah sihir tingkat ketiga yaitu Calamity Lightning. Kalian bisa membedakan daya ledak dan juga kekuatannya," jelasku dengan pelan.
"Mai ... maju"
"A-aku? Ta-tapi Instruktur ...
"Maju dulu," ucapku ramah." Sekarang bayangkan bahwa Kayu Almite itu biasa seperti kayu yang lainnya, jangan pernah berpikir bahwa kayu itu mengandung anti-magi. Tanamkan pada Manamu sebuah gambaran berupa kayu itu akan berlubang, kemudian lepaskan sedikit Mana lalu alirkan melewati lenganmu. Kau mengerti?"
"B-baiklah ...."
Mai pun akhirnya mengikuti kata-kata nasihat yang ku berikan. Ia terdiam karena fokus kemudian melafalkan Rune sihir, dan akhirnya sebuah petir biru menyambar kotak kayu itu tetapi –
"Pasti hasilnya sama sepertiku, mana mun – APA?!"
Loki yang semula berpikir petir yang di keluarkan Mai akan sama seperti miliknya, namun ternyata petir itu berhasil melubangi Kayu Almite itu dengan sempurna. Walaupun tidak sebesar milik Hiro.
"Bagaimana? Kalian bisa melihatnya kan ... inilah yang di namakan I-Rune. Imajination Rune, Rune ini dapat membantu meningkatkan sihir kalian ke tahap selanjutnya, sehingga sihir tingkat pertama kalian ber-evolusi ke tahap selanjutnya. Dan baru saja teman kalian berhasil melakukannya, Mai kau boleh kembali ke tempatmu," ucapku sambil tersenyum kecil.
Sekilas Mai tersipu malu namun ia segera pergi kebelakang para murid.
"Kali ini akan aku contohkan I-Rune yang sangat mudah dan juga memiliki kekuatan yang berbeda, namun hanya dalam sekali lafalan Rune. Perhatikan baik-baik ...,”jelasku tenang, “Lightningg ... !!” lanjutku dengan sebuah bisikan.
Aku pun mengulurkan tanganku dengan cepat, sebuah petir biru yang menyala-nyala dengan ganas langsung menyambar kayu kotak itu berada. Suaranya tidak menggelegar dan lebih terdengar seperti raungan.
Alhasil balok kayu itu hancur berkeping-keping dengan hebat. Bahkan mejanya atas mejanya pun langsung berlubang dan meninggalkan bekas kehitaman yang pekat. Kuharap ini tidak melanggar peraturan akademi ... hehehe.
__ADS_1
"Bagaimana? Apakah kalian masih berpikir ini membosankan?"