
Mengapa aku membawa mereka ke sini?
Mungkin itulah pertanyaan yang akan mereka tanyakan. Tentu saja jawaban paling simpel yang akan aku berikan adalah sebagai rileksasi.
"Lalu, sekarang apa yang akan kita lakukan di sini, Instruktur?" tanya Loki.
"Aku akan membuka wadah Mana kalian yang selama ini masih terpendam di dalam tubuh kalian sendiri"
"Wadah ... mana?"
Shiena dan juga Mai tampaknya masih bingung dengan apa yang baru saja aku katakan. Tetapi, selain mereka berdua selebihnya tampak mengerti dengan hal itu.
"Baiklah, aku akan menjelaskannya. Tubuh kita terbagi menjadi lima buah wadah mana. Pertama dan yang paling umum adalah raga, kalian pasti telah mengetahuinya dengan jelas. Tepatnya berada di pusaran perut kita."
Aku pun mengangkat dua jari, lalu menunjuk kepala.
"Kedua ... terletak di kepala, tepatnya pada saraf-saraf yang menghubungkan seluruh anggota tubuh kita pada otak. Di mana semua informasi akan tersalurkan dan menjadi padu di bagian ini. Jika kalian bisa meningkatkan Mana kalian pada tahap ini, kalian akan bisa melakukan hal yang sama seperti Hiro lakukan saat di kelas tadi," jelasku dengan cukup ringan.
Setelah itu aku mengangkat jari manis, dilanjut dengan kelingking, dan bersamaan jempol akhirnya menjadi lima jari.
"Lalu, yang ketiga berada di tangan kanan-kiri kalian, keempat berada di kedua kaki, dan yang terakhir berada tepat di jantung kalian," jelasku dengan cukup pelan, "sebelum kalian dapat membuka semua wadah tersebut, kalian harus arus mana di kepala yaitu wadah kedua. Jika kalian bisa maka dengan sendirinya bahkan tanpa harus latihan kalian bisa mendapatkan satu wadah lagi," lanjutku.
Aku pun menoleh melihat Hiro yang tampaknya fokus terhadap penjelasanku.
"Akan aku contohkan, Hiro kemari."
Ia pun langsung menghampiriku tanpa banyak bertanya. Di tangannya terdapat sebuah buku bersampul cokelat yang ia genggam.
"Simpan dulu bukumu, saat ini kita berimplementasi dan bukan pelafalan"
"Baiklah, instruktur."
Hiro pun meletakan bukunya di bawah, kemudian kembali menghadap tepat ke arahku.
"Sekarang lihat ke arah sana dan gunakan sihir tingkat dua menggunakan elemen angin. Kau mengerti?"
Ia pun mengangguk mantap, "Lalu apa yang harus saya lakukan dengan sihir kali ini, instruktur?"
"Usahakan agar kau dapat menahannya selama dua menit, apa kau bisa?"
"Hmm ... hmm."
Kedua tangannya mulai ia ulurkan tepat ke arah tengah-tengah padang rumput.
"Tornado ...."
Sebuah pusaran angin yang kecil berputar dalam diam di tengah-tengah sana. Hiro tampaknya berhasil dan sepertinya ia dapat mengendalikannya dengan sempurna.
"Bagus sekali, Hiro," pujiku, "sekarang perhatikan penjelasanku kali ini.
Untuk sesaat aku melihat sebuah senyuman kecil di wajah Hiro. Sementara yang lain mulai mendekat, Fear dengan seenaknya duduk di atas bahuku sambil menikmati permennya.
"Mana menguat dan terkumpul di sini," ucapku kemudian menunjuk perut Hiro, "kemudian saat kalian menggunakannya untuk menghasilkan sebuah sihir, Mana itu akan naik ke atas menuju kepala kita," lanjutku sambil menunjuk kepala.
Setelah itu aku pun menghela napas dan memperhatikan murid-muridku untuk beberapa saat.
“Jika kalian mengerti dan paham apa yang akan kalian keluarkan maka perintah dari saraf pusat yang terselubung oleh Mana dan akan mengalir menuju tempat keluarnya, contohnya," ucapku menunjuk tangan kanan Hiro, "ke sini,
tetapi kebanyakan orang tidak mengetahui jika wadah kedua dan ketiga mereka belum terbuka sehingga Mana yang mengalir menjadi tersendat bahkan sama sekali tidak ada"
"Hiro, kau boleh beristirahat sekarang."
"Baiklah, instruktur"
"Sambil aku menjelaskan tentang ini, kalian boleh duduk untuk sementara waktu."
Setelah itu mereka pun duduk dengan santai. Murid-murid perempuan saling berbincang-bincang sedangkan untuk yang laki-laki mereka ada yang terlentang bahkan ada yang tertidur, benar-benar jiwa bebas.
Reya, Mai, Shiena, Loki dan Hiro tidak seperti mereka. Mereka berlima duduk dengan santai namun perhatian mereka tertuju dengan fokus ke arahku. Sepertinya mereka sangat tertarik dengan tema pelajaranku kali ini.
Walaupun saat pertama kali mencobanya, mereka terkesan memasang wajah yang membosankan dan terkesan tak peduli. Dasar anak-anak, apa yang mereka suka pasti langsung fokus.
"Hmm ... sepertinya kalian menikmati sekali ya"
"Tentu saja. Jarang-jarang instruktur Akademi Magistra mengajak kami ke padang rumput seperti ini. Sisa instruktur lain pasti di lapangan atau tidak di gedung pelatihan," Jelas salah satu murid.
"Hmm ... jadi seperti itu ya?"
"Instruktur ..."
Reya tiba-tiba memanggilku, sepertinya ia akan bertanya juga.
"Ini mungkin sedikit pribadi tapi saya masih penasaran dengan julukan— "
“Hmm?” aku pun menoleh sambil memberikan tatapan mengerikan, “ada apa, Reya?”
“A-ahh ... tidak jadi”
“Yakin?”
Ia pun langsung menggeleng cepat.
“Cepat bangun dan segera berbaris ... jika tidak, hukuman kalian adalah lari mengelilingi padang rumput ini,” ucapku santai.
Mereka semua bergidik dan langsung mulai berdiri, murid-murid yang sedang ketiduran pun langsung terbangun dan berdiri dengan tegap.
"Nahh ... sekarang rapi kan. Lalu, mengapa kalian menggigil?" tanyaku memasang wajah tak berdosa.
Entah mengapa aku seperti mengetahui apa isi pikiran mereka, hehehe.
"Sekarang aku akan bertanya. Jika kalian menyukai warna biru silakan
berbaris di sebelah kiri dan merah berbaris di sebelah kanan," ucapku, “aku
akan menjelaskan artinya. Jika yang memilih biru berarti lebih condong untuk
__ADS_1
menjadi seorang penyihir sedangkan yang memilih merah lebih condong untuk
menjadi seorang kesatria. Dua buah warna ini saling lah bertolak belakang namun
jika kalian bisa menguasainya maka kalian akan menjadi seorang kesatria sihir
sesungguhnya."
Sepertinya mereka telah selesai
berbaris, saatnya untuk memberikan penjelasan.
"Mengapa aku memilih warna ini? Karena ini sama seperti Mana kalian. Biru artinya air, memiliki sifat tenang, fokus yang tinggi, tidak pernah merasa terganggu dalam situasi yang terdesak sekalipun dan juga dapat mengontrol emosi. Maka dari itu warna ini sangat ’lah cocok dengan tipe penyihir," jelasku sambil mengangkat jari telunjuk, "merah artinya api, memiliki sifat yang membara, beremosi, penuh semangat dan pantang menyerah. Sifat ini sangat cocok dengan tipe kesatria yang melampiaskan kemampuannya dalam mengibaskan sebuah senjata."
Mereka semua terlihat lebih antusias sekarang. Tampaknya mereka tidak ada yang salah memilih tipenya, tapi untuk Mai sepertinya ia kesulitan karena ia lebih memilih merah ketimbang biru, sedangkan yang lain sepertinya tidak ada masalah.
"Baiklah, sekarang aku akan memulai pelatihan khusus ini. Tetapi pertama-tama angkat tangan kalian," ucapku sambil menjentikkan jari.
Setelah itu mereka semua serentak mengangkat tangannya dan betapa kagetnya ketika mereka melihat bahwa di tangan mereka telah terdapat sebuah tanda berbentuk api kecil yang pudar.
"Sebelumnya, tolong ingat ini baik-baik. Rahasiakan ini selain dari teman-teman kalian di kelas ini, karena I-Rune adalah teknik yang aku sendiri kembangkan. Jadi aku hanya ingin murid yang ada di kelas ini saja yang bisa melakukannya," jelasku dengan sungging kecil, "jika kalian melanggar maka I-Rune ini akan menghilang dan aku tidak akan mengajarkannya lagi kepada kalian, mengerti?" tanyaku tegas.
Mereka awalnya ketakutan dengan penjelasanku ini, tetapi dengan wajah yang mulai siap akan konsekuensi mereka menjadi tenang kembali.
"Baiklah, sepertinya kalian sudah tenang. Kalau begitu akan aku jelaskan sistem latihan ini. Untuk yang memilih warna merah, ikuti gerakan ini."
Dengan cepat aku pun keluarkan sebuah pisau kecil dari pinggang kananku. Tersembunyi di balik jubah merahku. Angin berhembus menanggalkan dedaunan yang menari-nari di langit yang luas ini. Hembusan yang dingin dan suasana yang sangat pas lah yang membuatku menjadikan tempat ini sebagai tempat latihan.
Para penonton setia yang bertugas untuk memeriahkan ini tampak riang dan melambai-lambai bahkan menari. Mereka adalah rumput hijau yang sangat banyak, merekalah yang akan menjadi saksi murid-muridku tumbuh menjadi seorang kesatria sihir suatu saat.
Beberapa helai daun mulai meluncur di atas kami, dengan cepat aku tusukan pisau kecil itu, dan sekitar lima buah daun masuk dalam pisauku.
"Seperti ini, tetapi karena ini adalah pengalaman pertama kalian ... cukup dua helai saja," ucapku kemudian tersenyum kecil, "walaupun aku mendapatkan lima sebagai permulaan, kalian hanya memerlukan dua helai daun”
"I-instruktur apakah itu sedikit berlebihan? Dengan kondisi berangin seperti ini?" tanya Reya.
"Begini, cita-cita kalian kan menjadi seorang kesatria, masa cuman kayak gini saja tidak bisa?" ucapku dengan tawa kecil, “jangan goyah, kuatkan tekad, aku yakin kalian pasti bisa melakukannya.
Ternyata dengan sedikit api kecil tampaknya mereka mulai bersemangat.
"Tunggu sebentar ... waktu kalian sampai matahari terbenam, jika kalian tidak bisa juga maka aku akan memberikan tugas tambahan"
"Apa?!! T-t-tapi instruktur—“
"Jangan mengeluh, mengeluh hanya untuk mereka yang tidak berani mencoba hal yang baru. Berlatihlah, "potongku.
Setelah itu aku segera berbalik dan langsung menghadap murid-murid yang memilih warna biru.
"Sedangkan untuk kalian yang memilih biru, sekarang duduklah. Lalu lakukan meditasi sambil membayangkan ketakutan kalian sendiri. Jika kalian bisa melampaui apa yang kalian takuti maka tanda yang berada di lengan kalian akan menyala berwarna biru. Itu artinya kalian lolos dan sama halnya untuk kalian, seperti biasa ... waktu kalian juga sampai matahari terbena,."
Sambil menunggu mereka berlatih, aku pun mencari tempat yang cocok untuk berteduh. Untungnya aku berhasil menemukan sebuah pohon rindang di antara luasnya padang rumput ini.
Aku pun langsung menuju ke sana dengan sedikit cepat. Berjalan namun sambil menghayati setiap kali hembusan angin membelai wajah dan juga leher bagian bawahku. Rasanya sangat menyejukkan dan juga tenteram.
Tidak lama aku pun sampai dan dengan cepat langsung menyandarkan tubuhku ini. Aku lihat mereka berjuang dengan keras. Murid yang memilih warna biru seperti Reya, Loki dan juga Mai tampak kesusahan juga rupanya.
Loki berada tidak jauh dari tempat Reya berada dan ia juga tampaknya kesusahan. Setiap kali ada kesempatan yang ia lakukan adalah menusuk kedua daun yang melayang dengan pelan. Namun hasilnya kedua daun itu terbelah menjadi dua.
Sesekali ia menginjak-nginjak daun itu dengan kesal dan ia mencoba lagi, lagi, lagi dan lagi. Namun hasilnya sama dan ia tampak bermeditasi, setelah beberapa saat kemudian ia bangkit lagi lalu mencobanya lagi.
Tapi hasil yang ia dapat sama. Dan ia juga berjalan-jalan entah ke mana. Sepertinya ia sedang mencari angin dan tidak lama kemudian ia kembali. Sekarang ia mencobanya lagi, aku lihat ia hampir saja mendapatkannya.
Sayangnya ia terlalu emosi sehingga ketenangan yang dibutuhkan untukmengatasinya menjadi terguncang dan hasilnya adalah nol. Kini beralih menuju Mai tampaknya gugup, yang aku lihat ia bukannya menusuk daun tapi malahmembelahnya menjadi dua.
Waduhhh ... apakah dia mendengarkan penjelasanku atau tidak sih?
Terkadang ia juga sesekali terjatuh atau bahkan terpeleset. Aku bahkan sama sekali tidak merasakan adanya air ataupun embun di antara rerumputan hijau ini. Apakah ia sebegitu kikuknya hingga terpeleset di rerumputan yang bahkan tidak licin ini?
Beralih menuju murid-murid yang lainnya. Mereka sama seperti Loki, terkadang membelah dua dedaunan itu ataupun menjadikannya serpihan yang menghilang tertiup oleh angin. Bahkan ada beberapa murid wanita yang menjadikannya seperti mainan untuk pisau kecilnya.
Huhhh ... aku benar-benar tidak percaya ini.
Lalu aku menoleh bagian yang memilih warna biru. Beberapa ada yang bergidik dan terkadang berteriak ketakutan karena menghadapi ketakutan mereka. Aku juga melihat Hiro dapat mengatasinya dengan mudah walaupun—
"Ahhhhh ...."
Ia berteriak dan kemudian lari terkacir-kacir. Wajahnya pucat, aku penasaran apa yang ia lihat dalam benaknya itu. Tetapi hal itu sangat lah tidak sopan karena itu adalah privasi masing-masing. Jika aku mengintip, maka itu namanya penyalahgunaan kekuatan.
Setelah Hiro aku akan menengok Shiena, seperti namanya seorang putri. Sikapnya sih memang tenang, tapi lain cerita dengan pangkal paha hingga kakinyayang bergetar hebat. Hahahaha ... aku jadi semakin penasaran dengan isi kepala mereka.
Apakah mereka melihat hantu? Sosok yang menakutkan? Badut? Kucing? Hewan aneh? Hewan melata? Atau karena berusaha mengintip perempuan yang sedang mandi lalu ketahuan dan akhirnya di hujat?
Hahahaha ... aku hanya bisa tertawa terpingkal-pingkal membayangkan hal itu. Dan tidak lama setelah itu aku pun tertidur. Fear juga sepertinya sama denganku, saat ini ia sedang berbaring di lengan kananku.
Tidak lama kemudian sebuah suara membangunkanku—
“Instruktur ... cepat bangun atau Anda ingin bermalam di sini?"
"Huhh?"
Aku pun terbangun dengan setetes iler yang menggantel di bagian sisi kiri bibirku dan seketika aku mendengar suara yang tampaknya sangat-sangat aku kenal.
"Hahahahaa ... instruktur awas air liurmu jatuh"
Itu adalah suara riak tawa dari seluruh muridku. Rupanya mereka belum pulang sama sekali, langit juga tampaknya mulai menggelap dan sang surya hampir benar-benar menghilang di barat sana.
Sang rembulan putih pun mulai bangkit dan siap menerangi permukaan bumi ini dengan sinarnya yang indah. Tak lupa pasukan bintang yang mengawalnya dengan ketat bahkan memberikan sebuah mahkota pada sang rembulan.
"Wahahaha ... maafkan instruktur kalian ini, aku ketiduran karena terlalu nyaman," ucapku sambil tertawa kecil.
Fear masih tidur lalu aku mula membangunkannya, permen di tangan kanannya telah habis. Apakah ia memakannya selagi ia tertidur? Sungguh nih gadis kecil bikin tertawa saja.
"Jadi bagaimana apakah kalian berhasil dengan latihan yang aku berikan?"
"Sepertinya kami gagal, kami akan melakukannya lain hari instruktur."
__ADS_1
Aku hanya tersenyum kecil dengan bangga kepada mereka.
"Tidak, kalian semua berhasil," ucapku lembut dengan senyum yang mengembang dengan lebar.
"Apa? Tapi kami bahkan tidak berhasil menusuk dua buah daun sekaligus," celetuk Reya.
"Iya, bahkan kami yang ketakutan dengan meditasi kami hanya bisa menjerit-jerit bahkan berlari ketakutan," timpal Shiena.
Mereka semua merenung dan kepala mereka menunduk tanda akan ketidaksanggupan terhadap latihan yang aku berikan.
"Kalian tidak harus benar-benar menghadapi ketakutan atau bahkan berhasil menusuk dua buah daun sekaligus. Lihatlah kristal pada gelang kalian, mereka bersinar redup bukan?"
Dengan cepat mereka semua melihat gelang pada lengan mereka masing-masing. Dan kedua buah mata mereka melebar lalu mendongakkan wajahnya ke arahku.
"Jika cahaya itu berhasil kalian dapatkan artinya berhasil, jika kalian ingin cahaya itu lebih bersinar dengan terang maka seringlah latihan. Kenapa tanda itu bersinar? Karena apa yang aku harapkan bukanlah hasil melainkan proses," ucapku hangat, "tidak ada seorang guru yang membutuhkan hasil, namun hasil yang di dapatkan itu adalah kecurangan. Tapi kami lebih berharap kepada proses, kalian mengikuti latihan ini dengan setulus hati itulah bukti yang aku perlukan."
Setelah itu aku pun menatap bulan di atas sana.
"Ingat, kekuatan itu bukan tiba-tiba saja datang. Melainkan melalui proses dan latihan bahkan mengorbankan sesuatu yang penting untuk di tukar dengan kekuatan itu sendiri. Dahulu instruktur kalian ini pernah mengalami itu
semua jadi bersabarlah karena yang kalian butuh kan bukanlah kekuatan melainkan keteguhan," jelasku dengan tersenyum hangat.
Mereka semua terdiam, tetapi tak lama kemudian terharu mendengarkan perkataanku. Mata mereka berkaca-kaca lalu ada yang tertunduk lemas bahkan terkulai lemas lalu berbaring.
"Maka dari itu aku ucapkan selamat, jalan sebagai kesatria sihir terbuka dengan lebar untuk kalian," ucapku sambil menyakukan tangan, "kalau begitu cepat segera berbaris menurut warna kalian masing-masing, biru di kiri dan merah di kanan," tuturku sigap.
Mereka pun langsung berbaris rapi, jika aku perhitungkan jumlah murid di sini sekitar 44 orang. Dengan jumlah yang seimbang, 22 orang perempuan dan 22 orang laki-laki.
"Sekarang pejamkan mata kalian lalu bayangkan wajah instruktur kalian yang tampan ini ... hehehe," ucapku sambil tertawa usil.
Sebagian mereka ada yang terkena jebakanku dan alhasil tertawa kecil,sebagiannya lagi hanya tersenyum lebar.
"Baiklah sekarang pejamkan mata kalian, lalu setelah itu bayangkan tubuh kalian sendiri."
Mereka pun akhirnya memejamkan mata mereka, suasana menjadi hening. Aku memberikan tanda kepada Fear. Ia mengerti lalu mengangkat tangannya yang mungil tinggi-tinggi, sebuah lingkaran sihir tercipta berwarna merah scarlet yang gelap.
Dan sebuah cahaya keluar dari balik lingkaran cahaya itu lalu merayap di setiap tubuh murid-muridku. Setelah cukup lalu aku memberikan sebuah jentikkan jari.
"Sekarang kalian boleh membuka mata kalian, aku sudah membuka wadah Mana kedua dan ketiga kalian sehingga kemampuan kalian telah meningkat."
Mereka semua berteriak dengan kegirangan ada yang mengangkat salah satu temannya lalu melemparkannya ke atas berulang kali sambil mengucapkan 'horeiii ... horeii'.
Bahkan ada sebagian murid laki-laki yang berteriak kearahku –
"Instruktur kami menyayangimu!!"
"Maaf aku bukan penyuka sesama jenis, tapi jika artinya berbeda dengan pendapatku maka aku juga menyayangi kalian semua."
Hiro tampak seperti menari-nari kegirangan sendiri. Reya hanya menatap langit sambil mengepalkan tangan kanannya lalu mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Loki hanya terdiam namun raut wajahnya sangat senang sekali.
Shiena hanya menatapku dengan pandangan tertarik sekaligus suka. Mai hampir sama dengannya, tetapi ia sedikit meneteskan air mata lalu mengepalkan kedua tangannya lalu memegang dadanya.
"Sepertinya kalian sangat senang sekali. Agar kesenangan ini berlanjut aku akan menjelaskannya sedikit. Untuk yang memilih warna merah, aku telah meningkatkan refleksifitas, daya tahan tubuh, kelincahan, daya tanggap yang
cepat dan juga kekuatan," jelasku, "sedangkan untuk yang biru, aku telah meningkatkan jumlah mana pada tubuh kalian, kekuatan kontrol yang lebih tinggi, kekuatan daya pikir, ketahanan tubuh dan juga menyusupkan beberapa
elemen Air Manadite pada tubuh kalian. Itu artinya kalian memiliki tubuh yang sama dengan fungsi Kayu Almite yaitu menetralisirkan serangan sihir atau imunitas, tetapi ... hanya pada satu elemen, dan elemen itu adalah ketakutan kalian sendiri. Jika kalian takut akan kegelapan maka kalian tidak mempan jika di serang oleh elemen tersebut. Seperti itulah ... maka dari itu kelas ini aku bubarkan dan semoga kalian tidur pulas di kamar kalian masing-masing."
Wajah mereka sepertinya tampak lebih kegirangan kali ini namun sepertinya mereka kelelahan dan oleh karena itu aku memutuskan untuk membubarkan kelas ini. Walaupun itu hal yang wajar karena hari telah gelap.
Mereka pun akhirnya kembali ke kerajaan sambil berbincang-bincang tentang pelatihan tadi. Namun aku memiliki perasaan aneh tentang ini, aku masih penasaran dari mana Orc itu berasal? Mengapa bisa tiba-tiba berada di tengah lapangan akademi Magistra yang terlindungi oleh sihir pelindung tingkat tiga?
Itu masih menjadi misteri bagiku, tapi jika itu menyangkut dengan kebangkitannya maka itu adalah hal yang mudah.
"Instruktur! Awass!!—“
Reya tampak kaget lalu menyentakku dengan mengatakan sesuatu yang tampaknyatidak asing kudengar juga. Aku dapat merasakan .ada sebuah kilatan petir yang datang ke arahku.
"INSTRUKTUR!! ... Kyaaaaaa!!!! ...."
Mereka semua tampak sangat kaget karena sebuah petir yang menyambar dan berhasil mengenai diriku. Murid perempuan berteriak dengan suara lengkingannya, sedangkan murid laki-laki meneriakiku dengan keras.
"Sepertinya mereka terlalu meremehkanku," ucapku dengan nada dingin.
Aku pun menangkap petir itu, setelah itu meremasnya hingga hancur. Suaranya yangmenggelegar dan sengatannya seperti gelitikan semut dikulitku.
Sementara itu semua muridku terbelalak bahkan ada yang terdiam tanpa suarasekalipun.
"Ini adalah pelajaran khusus untuk kalian semua, jika terjadi serangan mendadak seperti ini kalian harus tenang dan jangan panik. Jika kalian panik, maka musuh telah mendapatkan ritme kalian"
Lalu makhluk seperti apa yang beranimenyerangku di malam hari seperti ini?
Wajah murid-muridku tampaknya belum sepenuhnya tenang, mereka semua masih teridam seribu kata. Ketika aku berbalik, tampaknya ini semakin menjadi jelas.
"Rupanya parade pasukan iblis dan tampaknya jumlah mereka bukan main. Fear saatnya beraksi"
"Ouuu ... seperti yang Kuro katakan, aku sudah mengerti," balasnya sambil memberikan penghormatan bagai seorang kapten yang menghadap komandannya.
"Baiklah, kalau begitu tolong jaga mereka."
Setelah itu aku berjalan menuju pasukan iblis yang tidak main itu. Jumlahnya sangat lah banyak bahkan terbilang seperti sebuah pernyataan perang.
"Instruktur kami akan ikut membantu—“
"Tidak, tugas seorang murid adalah belajar dan berlatih. Sedangkan tugas seorang guru seperti diriku adalah membimbing serta melindungi murid-murid kesayangannya," ucapku sambil tersenyum kecil, kemudian kembali berjalan dengan pelan.
"Kuro ... akhirnya kau memutuskan untuk bertarung kembali demi mereka ya? Jika seperti ini maka tiga kondisi telah terpenuhi, menghancurkan, menyelamatkan lalu ... melindungi," ucap Fear pelan, "maju’lah aku
akan membantumu karena aku adalah roh kontraktormu, Kuro alias Reiss Veil D. Reizhart. Lelaki yang memegang gelar yang bahkan dapat menghancurkan dewa bahkan raja dunia bawah sekali pun," gumamnya pelan.
Perubahan sikap Fear secara tiba-tiba membuat murid-muridku jadi semakin yakin dengan tindakan yang aku ambil ini. Walaupun tubuhnya kecil dan terbilang loli yang sempurna tetapi dengan perubahan sikapnya yang menjadi seperti dewasa membuatnya menjadi lebih anggun.
Fear pun memasang sihir pelindung tingkat tiga di sekitar murid-muridku.Seperti yang di harapkan dari roh kontraktorku, kalau begitu sekarang adalah giliranku untuk menghadapi parade pasukan iblis itu.
Angin malam berhembus dengan liar, padang rumput yang tenang berubah menjadi suasana tegang. Aura hitam menghiasi langit di depanku. Dengan cukup rasa percaya diriku langkahkan kaki kananku untuk menghadapi mereka semua.
__ADS_1
"Sepertinya ini adalah awal dari perjalananku menuju dunia kegelapan."
Aku pun melepas segel pada pedang putihku lalu mengeluarkannya ... “Ascend ...,” bisikku halus.