
Sebelum kecerita utama kita intro dulu~
Hai semua! Nama gue ReIN dan terima kasih karena telah memberikan gue kesempatan untuk menemani malam jomblo loe! Jika kalian menyukai cerita ini maka berikan jempol ke atas dan jika tidak cukup vote lalu sebarkan cerita ini. Jangan lupa berikan komentar dan tips agar sang Author tetap semangat update ceritanya!
.
.
.
Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah hari itu. Tapi, saat ini aku merasa tubuhku sedang mengambang, gelap... dan terus terombang-ambing dalam kebisuan ini. Setelah itu aku merasa jika tubuhku di tarik oleh sesuatu.
"Ahhh ... Master, apa kau sudah bangun."
Suara khas seorang anak-anak, riang, dan penuh dengan semangat. Suara itu tampaknya tidak asing bagiku, seperti pernah mendengarnya di suatu tempat hingga kedua mataku terbuka perlahan-lahan.
Dari mulai bentuk wajahnya, penampilan fisiknya, dan bagaimana ia memandangku... ternyata ia adalah....
"—Regalia?"
"Hehh. Sepertinya kau masih mengingatku, ya, Master. Bagaimana keadaanmu?" tanyanya khawatir.
"Berkat suaramu, aku sudah merasa baikkan. Lalu tempat ini?"
"Kau ini benar-benar makhluk ajaib, masih selamat setelah terkena luka fatal seperti itu. Sekarang kita berada di Jembatan Bintang Eleinte," tuturnya ringan sambil tersenyum lebar.
Anak lelaki yang berada di hadapanku ini memiliki rambut yang berbeda dan mata yang berbeda bahkan pakaiannya juga beda warna. Tetapi, ia adalah sebuah manifestasi senjata terkuat yang pernah di turunkan langit ke pada kerajaanku.
"Aku hanya akan memberitahukan ini kepadamu, Master ... waktumu sebentar lagi"
"Huh? Maksudmu?"
Dahiku terangkat setengah dan alisku pun ikut naik, mendengar kata seperti itu pasti bukan sebuah pertanda baik.
"Aku tidak tahu kapan waktunya tetapi makhluk itu telah mengirim utusannya untuk membunuhmu”
"Siapa yang kau maksud, Regalia?"
"Sang pembawa bencana, Omega," tuturnya dengan raut wajah yang serius.
Aku hanya bisa menelan ludah. Selain itu aku juga bisa merasakan keringat dingin melewati tenggorokanku.
"Jadi maksudmu dia akan datang untuk menghampiriku?!" tanyaku tidak percaya.
"Master, sebentar lagi kau akan merasakan rasa sakit di dadamu dan itu adalah tandanya. Selain itu aku hanya dapat membantumu di medan pertempuran... jika waktunya sudah tiba panggil salah satu namaku atau panggil diriku."
Ia pun berjalan menghampiriku. Wajahnya tersenyum lebar sambil meletakan telapak tangannya di dadaku.
"Semoga kita selamat," ucapnya ringan lalu melebur menjadi cahaya.
Aku tidak tahu apa yang terjadi dan juga apa maksudnya itu? Sepertinya aku harus bangun ...
***
Di hutan kesunyian itu dua orang perempuan yang cantik sedang berargumen. Mereka memiliki pendapat dan alasannya masing-masing mengapa mereka memilih lelaki yang kini terkapar tidak sadarkan diri itu.
"Jadi kau pikir aku tidak mengetahuinya?" tanya Fear kesal.
"Tentu, bahkan kau tidak akan pernah memahaminya sama sekali--“
Burung-burung meninggalkan pepohonan dengan gegabah. Sebuah aura yang sungguh kuat kini sedang mengarungi langit yang luas. Tiba-tiba saja Reiss yang kini terbaring itu berteriak sejadi-jadinya sambil meremas dadanya sendiri.
“ARGHHHHHHH!!!”
Selina dan Fear langsung melupakan argumen mereka dan akhirnya segera menghampiri Reiss yang sedang kesakitan.
"Apa yang terjadi, seharusnya pengobatanku berhasil?!"
Raut wajah Selina kini berubah menjadi pucat karena mengetahui pengobatannya gagal. Selain itu raut wajah Reiss yang begitu tersiksa membutnya semakin khawatir.
Namun untuk Fear ia cukup tenang di dalam situasi seperti ini. Ia sudah mengira hari ini akan terjadi karena para bangsa langit akan mengalami hal seperti ini jika mereka sedang di incar oleh sebuah kekuatan yang besar.
__ADS_1
Dan tiba-tiba saja sebuah bayangan raksasa menutupi seisi area yang kini di tempati oleh mereka bertiga. Fear kaget dan ia telat untuk mengeluarkan sihirpelindung.
Sebuah telapak tangan raksasa muncul dan menghantam danau di samping mereka hingga membuatnya kering.
Namun tanpa di duga oleh siapapun sebuah tebasan yang mengalir berhasil menetralisirkan serangan berskala besar itu hanya dalam satu kali serangan.
"Sebaiknya kalian bawa tuan muda ke tempat yang aman," tutur lelaki berambut putih dengan terburu-buru. Untung saja aku tepat waktu."
Melihat sosok lelaki yang baru saja menyelamatkan mereka, Fear terbujur kaku dengan mata yang melebat tak percaya.
"Oz?! Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Fear kaget.
"Tentu saja membalas budi, aku di sini untuk mengabdi kepada tuan muda. Untuk sekarang lupakan itu," tuturnya dan segera menghampiri Reiss.
Ia kemudian menggendongnya di punggung miliknya, "Sebaiknya kita mencari tempat yang aman," lanjutnya sambil berlari menjauhi tempat itu.
Fear yang tampaknya ragu mulai yakin dan ia pun mengikuti Oz. Sementara Selina masih kaget dan tidak bisa bergerak, tapi Fear langsung menarik tangan kanannya.
"Jika kau memang mencintainya seperti diriku, jangan pernah mati di hadapannya," tutur Fear dengan tegas.
Kehadiran lengan itu bukanlah sebuah makhluk biasa. Ketika mereka menatap langit, sesosok makhluk yang luar biasa besarnya hingga menyentuh awan berdiri tegap dengan raut wajah yang tidak terlihat.
"I-itu adalah Titan, mengapa makhluk itu berada di sini. Seharusnya mereka di kurung di gua kekosongan oleh para dewa," ucap Selina tidak percaya.
"Sekarang giliranku yang mengatakan hal yang sama seperti apa yang pernah kau katakan kepadaku," ucap Fear." Kau sama sekali tidak mengerti apa-apa tentang Reiss," lanjut Fear sambil berlari.
Kehadiran raksasa itu membuat Oz yang menggendong Reiss sedikit kesulitan untuk berlari. Namun ia tidak boleh menyerah karena lelaki yang ia gendong di belakangnya adalah tuan barunya.
"Mengapa kau menyelamatkan kami, Oz," tanya Fear.
"Itu karena kalian tidak, tepatnya tuan muda disini telah menyelamatkanku dan memberiku sebuah kesempatan," sahutnya.
"Kesempatan?"
"Ya, kesempatan untuk bertemu dengan anggota terakhir keluargaku yang telah lama menghilang. Tidak hanya itu saja bahkan ia menyadarkanku bahwa balas dendam itu bukan hal yang baik dengan menghajarku," jelasnya.
"Clan kami selalu menjunjung tinggi kehidupan. Kami akan bersumpah setia kepada siapapun yang memberikan kesempatan kedua kepada kami," lanjutnya. "Tetapi, sekarang kau tidak perlu khawatir lagi, aku berada di pihakmu."
Mereka terus berlari menghindari sosok raksasa itu. Hamparan hutan yang terlalu luas membuat mereka cukup terdesak karena ukuran tubuh raksasa itu. Ia hanya cukup menghempaskan mereka dengan mengangkat kaki besarnya lalu menjatuhkannya tepat di atas mereka.
Namun karena lengannya baru saja di tebas oleh Oz, ia cukup kesakitan dan pergerakannya terhenti. Tepat di depan sana cahaya mulai terlihat, rupanya itu adalah ujung hutan ini yang menyambungkannya dengan sebuah padang rumput yang luas.
Titan itu pun berbalik memutar dan langsung saja meratakan hutan kesunyian menjadi setengah bagian. Entah dari mana sosoknya tiba-tiba saja datang di hutan kesunyian, apakah ini kehendak Omega yang menjadikannya tidak bersuara ketika ia datang.
Kini Titan itu pun berjalan, kaki dengan ukuran yang bukan main itu kini terangkat dan mulai jatuh di sekitar hutan. Beberapa cipratan darah menodai kaki raksasanya itu. Burung-burung berterbangan untuk mencari perlindungan.
Namun tangannya terkibas dan melibas sekumpulan burung-burung itu menjadi daging lunak, kemudian jatuh ke permukaan tanah dengan darah yang menyembur.
"Sepertinya ini bukan berita baik," celetuk Oz tiba-tiba, raut wajahnya yang tadi tenang menjadi suram ketika melihat kekuatan mentah dari Titan itu.
"Apa yang harus kita lakukan," tanya Selina.
Tampaknya ia telah tenang dan Fear cukup lega dengan itu.
"Kita akan mengeluarkan sihir dengan kekuatan yang cukup besar untuk menyerang raksasa itu," saran Fear.
Selina mengangguk tanda akan ia setuju, "Kalau begitu....”
Mereka berdua pun melancarkan sebuah sihir masing-masing dengan skala besar yang akan di tunjukkan kepada raksasa itu. Fear mengangkat kedua tangannya, bibirnya bergerak membaca beberapa baris Rune yang cukup rumit.
Sebuah lingkaran cahaya keluar dari kedua tangannya seperti elevator. Naik dari pundak hingga ke tangan atasnya. Kemudian lingkaran sihir itu terbang ke langit, awan-awan menjadi cukup gelap dan angin berdesis kencang.
Sementara Selina membaca Rune dengan kecepatan standar. Tangan kirinya terkibas kemudian menyentuh tongkat sihirnya yang suci. Kristal biru itu menyala dengan terang di tangannya.
Setelah itu tangan kanannya mengangkat tongkat miliknya, menurunkannya kembali lalu mengusapnya dengan tangan kiri yang telah kembali. Dua buah lingkaran sihir hijau muncul seketika.
Ketika beberapa daun merambat di sekitar pinggir lingkaran itu, ia pun mengecup kristal pada tongkatnya dengan lembut.
“Sigenh! Nero Dies Archenta!” teriak Fear lantang.
Dalam waktu sekejap itu ribuan tombak cahaya melesat bagai pilar penghakiman dan langsung menghunjam sang Titan dengan ganas. Perlahan-lahan kulit sang Titan terkelupas menanggalkan kulit kering yang terbakar hebat.
Sedangkan sihir Selina menembakkan sebuah plasma raksasa. Walaupun untuk sesaat sang Titan mencoba menahannya selagi berusaha keluar dari situasi terjepit itu, ia tetap terpukul mundur, dan plasma itu langsung meledak hebat membuat sebuah pilar tinggi hingga menembus awan.
Udara bergetar dan bumi bergemuruh, gelombang hebat menyebar dan suara dentuman hebat bergejolak beberapa kali membuat keempat orang yang kini menatapi fenomena hebat itu sedikit kewalahan karena efek setelahnya.
__ADS_1
Sayangnya mereka tidak dapat bertahan dan terlempar ke belakang. Mengerahkan kekuatan, akhirnya mereka dapat bangkit kembali.
Fear yang melihat sang Titan cukup terkejut karena hanya lengan kanannya saja lah yang terputus akibat serangan dahsyat tersebut.
Kini Titan itu melangkah kembali mendekati mereka bertiga. Sayangnya mana yang dimiliki Fear dan juga Selina cukup terkuras akibat serangan dahsyat sebelumnya.
Saat ini yang mereka bisa lakukan adalah sihir sederhana karena persediaan mana yang terbatas.
Di sisi yang lain tubuh Reiss terbujur kaku tepat di belakang Oz, tak berdaya. Tetapi, sang Titan tidak berdiam diri saja dan langsung mengeluarkan pukulan berat layaknya sebuah meteor jatuh.
Berkat serangan itu mereka kembali terpukul mundur dengan luka yang sangat parah. Oz tak berdaya dengan lengan kirinya yang patah, Selina tak bisa bangkit karena rasa takut yang sangat berlebihan hingga membuatnya gemetaran. Sedangkan Fear tak bisa bangun karena sebuah luka sayatan membentang dari pinggul kiri hingga ke ujung kaki.
Kondisi mereka sangat mengenaskan bahkan terbilang tidak ada harapan sama sekali.
Tidak lama kemudian lengan kiri sang Titan kembali terangkat seperti mengucap kalimat perpisahan.
WHOARGGGGGG!!
Namun, siapa sangka makhluk besar itu terjungkir dan jatuh dengan hebat. Seakan-akan ada sebuah kekuatan tak terlihat yang berhasil memukulnya mundur dengan telak.
Kini sesosok laki-laki tengah berdiri di hadapan mereka bertiga. Penampilannyaterbilang berantakan dengan kondisi yang aneh. Sorot matanya mati, tapikekuatan jiwanya terbakar hebat.
Tepat di tangan kanannya sebilah pedang cahaya bersinar redup dan akhirnyahancur sebelum sepasang sayap indah merekah lebar dari punggung lebarnya.
"Reiss...,” gumam Fear tidak percaya.
Tidak ada yang menyangka jika sosok lelaki yang sebelumnya terbujur kaku itu kini tengah berdiri tegak, kepalanya mendongak menatap langit.
Ia mulai mengangkat lengan kanannya, seperti menarik sesuatu dari kehampaan udara. Reiss menahannya beberapa saat sebelum tangan kirinya mengepal erat lalu menariknya dengan keras.
Sebuah gelombang kejut yang sungguh dahsyat kini melesat ke arah sang Titan. Ketika makhluk itu ingin kembali bangkit, berkat gelombang hebat itu sosokbesarnya kembali menghantam tanah dengan sangat keras.
Setelah itu ia mengucap sesuatu dengan jeda yang cukup singkat....
[Brann, Vann, Bakken, Vind]
[Harmoni Ned Naturen]
[Med Spyd Rettferdighet]
[Jeg Straffe Deg For A Være Skyldig]
Suara itu seperti menggema di langit-langit. Membuat waktu seperti melambat dan bulir-bulir cahaya keluar dari dalam tanah. Kemudian bulir-bulir cahaya itu merapat ke sekitar tubuhnya.
Itu adalah empat buah Rune yang mengandung makna dalam tentang dunia.
Sebuah lingkaran cahaya mungil berputar di telapak tangannya. Semakin besar dan besar hingga akhirnya memadat dan pecah membentuk tombak perak transparan. Ukurannya ikut membesar karena menyerap bulir-bulir cahaya.
Namun ketika ukurannya itu sudah hampir bisa menutup langit, tiba-tiba saja menyusut menjadi bentuk tombak pada biasanya. Baik Selina, Oz, bahkan Fear sendiri termenung melihatnya.
Mereka sama sekali tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat dengan kedua mata mereka sendiri.
Ketika Reiss ingin mengambil ancang-ancang untuk melemparkannya, sepasang sayap pada punggungnya hancur, dan bulu-bulu indahnya menyebar di sekitar tombak pada telapak tangannya.
[Vigurnt!]
Ia pun langsung melemparnya dengan sangat kuat, melesat membelah langit, permukaan tanah pun ikut hancur karena di terjangnya, bebatuan terangkat dan membentuk ratusan pilar yang kemudian hancur berkeping-keping menjadi serpihan batu biasa.
Gelombang udara yang sangat dahsyat menjadi daya kejut luar biasa yang mampu meratakan apapun dalam radius 700 meter. Tepat ketika Titan itu meliriknya, serangan milik Reiss itu kini berada tepat di depan matanya.
Sebuah ledakan penghakiman yang setimpal terjadi, layaknya sebuah ektoplasma yang memancarkan pilar cahaya biru menyala-nyala. Pilar cahaya biru itu menembus daratan dan juga langit, meruntuh kan sang Titan dalam sekali serang.
Kini Titan itu telah lenyap seutuhnya, meninggalkan seberkas cahaya yang kemudian menumbuhkan kembali hutan kesunyian yang telah ia hancurkan tadi.
[Vann Og Vinn]
[Gi Dem Healing]
Itulah yang Reiss ucapkan ketika ia berbalik melihat ketiga orang di belakangnya, yaitu... Oz, Selina, dan Fear. Kata-kata itu merupakan sebuah Rune penyembuh yang cukup efektif dan seketika itu pula sebuah dome muncul membuat semua luka pada tubuh ketiga orang itu menghilang secara perlahan-lahan.
"Reiss!..."
Selina dan Fear langsung menghambur ke arahnya, mereka berlari tergesa-gesa dengan raut khawatir. Sosok sang lelaki itu kini tersenyum tipis, walaupun matanya tidak menampakkan cahaya kehidupan.
Tepat ketika kedua perempuan itu ingin memeluknya, Reiss tiba-tiba saja jatuh berlutut ke depan. Pada akhirnya berhasil jatuh ke dalam pelukan mereka berdua. Sedangkan Oz yang masih terkejut kini kembali sadar dan mulai menghampiri mereka.
__ADS_1
Di tempat yang lain sosok Regalia yang tengah duduk dengan kaki terangkat satu tersenyum lebar.
“Itulah akibatnya jika berurusan denganku... Omega....”