
Sebelum kecerita utama kita intro dulu~
Hai semua! Nama gue ReIN dan terima kasih karena telah memberikan gue kesempatan untuk menemani malam jomblo loe! Jika kalian menyukai cerita ini maka berikan jempol ke atas dan jika tidak cukup vote lalu sebarkan cerita ini. Jangan lupa berikan komentar dan tips agar sang Author tetap semangat update ceritanya!
.
.
.
Di sisi yang lain Oz masih berusaha menenangkan Selina yang histeris. Ia juga tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Suara itu sangat tidak asing bagi dirinya dan juga Selina.
Kini mereka berdua mengambil kursi di dekat sebuah jembatan penghubung bagian selatan kerajaan dan juga bagian barat kerajaan. Di sana mereka berdua benar-benar harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini bukanlah sebuah ilusi ataupun mimpi.
Sebenarnya mereka tahu hal itu tidak mungkin mengingat kejadian tragis saat itu. Baik mereka atau seseorang yang memiliki hubungan dengannya tidak akan menyangka bahwa suara itu muncul.
Mengingat itu Oz mulai meyakinkan dirinya jika memang benar bahwa tuan mudanya masih hidup, maka dengan keyakinan itu ia pun mengepalkan tangannya.
“Akhirnya Anda kembali...,” gumamnya.
Setelah itu ia pun menoleh ke arah Selina yang sedang berusaha menenangkan dirinya sendiri.
"Kau bisa mendengarnya, ‘kan?"
“Ya," sahutnya dengan wajah berseri. "Lagi pula sudah berapa ratus tahun kita tidak mendengar suara siulan daun seperti itu
"Ini semakin menjadi misterius. Tapi, apakah akan terjadi sesuatu pada kerajaan ini?" Oz bangkit dan berbalik untuk melihat kerumunan orang-orang berlalu lalang dari atas jembatan batu.
"Jika memang pesan itu di tujukan kepada kita berdua—mungkin juga tidak," ucap Selina ia pun mengayunkan kedua kakinya ke depan dan ke belakang.
"Tetapi, pikirkan ini... bahaya apa yang sedang mengintai kerajaan ini? Aku bahkan tidak merasakan sesuatu yang aneh," tutur Oz sambil mengawasi sekeliling.
"Tampaknya untuk saat ini kita tidak perlu khawatir tentang hal itu, Oz. Mengingat Iris dan Aresya berada di sini juga" sahut Selina ringan.
"Selina... semua kemungkinan itu pasti ada," ucap Oz lalu kembali memerhatikan sekelilingnya.
"Yah mungkin saja sih, tapi kini ia sedang berada di mana—“
AAAAAAAAaaaAAaaAaA!!!!!!
Belum sempat Selina menyelesaikan perkataannya, sebuah teriakan terdengar tepat di bawah jembatan yang kini mereka tempati. Suara itu berasal dari seorang nenek tua yang barangnya di curi. Oz siap beraksi dengan pedang
brutalnya.
Namun pencuri itu terlebih dahulu di halau oleh seorang lelaki tampan yang memiliki rambut sewarna dengannya. Rambut putih, pakaian biru padam dengan rompi putih.
Menggunakan celana panjang putih dan tampaknya ia sedang bersiaga untuk mencegah pencuri itu lolos. Sebuah kilauan terlihat dari balik sarung pedangnya, pada saat itu juga hanya dalam satu kedipan mata.
Pencuri itu tumbang tanpa mengeluarkan darah. Ia tampaknya pingsan karena terkena serangan dari lelaki berambut putih yang baru saja menghadangnya. Lalu barang curiannya itu ia kembalikan pada pemiliknya.
Sang nenek senang dan ia tersenyum akan rasa haru karena barangnya di selamatkan oleh seorang lelaki tampan berambut putih. Kini lelaki itu kembali berjalan menelusuri jalanan setapak yang sempat ia hentikan tadi.
Orang-orang di sekitarnya memberi tepuk tangan kepadanya. Ia pun menghentikan langkahnya, lalu ia pun membungkuk ke segala arah sambil memegang belakang kepalanya. Tampaknya orang itu sangat ramah.
Kini ia kembali berjalan dan akhirnya menghilang dari pengamatan Selina dan Oz.
"Heii, Oz... tampaknya—“
Namun begitu Selina mengengok, raut Oz menjadi pucat dengan mata yang melebar, dan mulut gemetar.
"Sebenarnya siapa dia?" gumam Oz pelan.
***
Di lain tempat lima orang berseragam penuh tiba di tempat itu. Mereka adalah Shiena, Shiren, Mea, Grey dan juga Nheil.
"Tampaknya masalah di sini telah selesai," ucap Mea.
"Apakah benar begitu?."
Shiren dan juga Shiena masih meragukan hal itu dan mereka pun mulai bertanya tentang teriakan tadi.
Sementara itu Nheil yang sangat aktif sekali tak bisa diam, ia terkadang melompat-lompat sendiri. Terkadang berlari-lari entah ke mana dan akhirnya kembali.
"Sepertinya kau senang sekali, Nheil," ucap Grey santai.
“Hihihi... tentu saja, aku sangat menantikan hari di mana aku menggunakan armband dan juga Festa ini," sahutnya sambil mengusap-ngusap hidungnya.
__ADS_1
"Dasar anak kecil," umpat Mea.
"Apa?!"
Nheil menyadari apa yang di umpatkan oleh Mea dan tidak lama setelah itu Shiren dan juga Shiena kembali di waktu yang tepat.
Di waktu yang tepat agar menghentikan pertengkaran Nheil dan juga Mea yang terkadang membuat mereka kerepotan.
"Jadi bagaimana tentang keterangan dari para saksi, Shiren,Shiena,?" tanya Grey sambil menarik kerah baju Nheil ke dekatnya.
"Lepaskan aku, Gre ... aku akan membuat perempuan ini mengerti bagaimana rasanya menjadi bebas ketimbang selalu di kurung di rumahnya," rutuk Nheil sambil meronta-ronta.
"Diamlah sebentar, Nheil," ucap Grey geram, "dan juga kau, Mea. Jangan menyulut api pertengkaran... itu tidak baik, bagaimana jika ketahuan Velia dan juga yang lainnya. Kau tahu kan bagaimana kondisi Velia sekarang," lanjut Grey tegas.
"Baiklah, aku tidak akan seperti itu lagi," sahut Mea sambil menundukkan kepala.
Nheil kini berwajah puas namun ia mendapatkan sebuah pukulan ringan dari Grey tepat di atas kepalanya.
"Kami hanya mengetahui bahwa seorang laki-laki berambut putih yang mencegah pencuri itu untuk kabur, tidak ada yang lebih ataupun mencurigakan," tutur Shiena.
"Hmm... jika kau bertemu dengannya aku akan berterima kasih kepadanya karena telah meringankan tugas kita," ucap Grey.
"Hahahaha... apa kalian mendengar suara indah itu?" tanya Shiren.
“Maksudmu suara seperti siulan itu, ya."
Tiba-tiba saja Mea ikut ke dalam perbincangan dengan semangat.
"Whoaaa... Mea, apakah ini benar-benar dirimu?" tanya Grey yang kaget karena melihat reaksi Mea yang begitu tiba-tiba menjadi semangat.
"Jangan mengejekku, kau ingat gelarku kan, Grey?" tanya Shiena.
"Tentu saja"
"Gelar yang di berikan Raja Regin kepadaku itu dapat membuatku dapat mendengar atau merasakan gelombang angin dengan tepat," tutur Mea.
"Hmm ... maksudmu?."
Shiena, Shiren dan Grey cukup kebingungan tetapi tampaknya Nheil paham dengan maksud itu dan sekarang ia berjalan menuju samping Grey.
"Itu artinya orang yang dapat mendengar Resonansi, tekanan, keseimbangan, ataupun sebuah pesan dari suara itu... semacam sinyal mungkin akan lebih tepat jika kubilang sebuah pesan," jelas Nheil dengan percaya diri.
"Hmm... aku akui walaupun kau kekanak-kanakan, Nheil ... kau pandai juga."
"Hehhh... dasar dada rata," ucap Nheil kemudian bersembunyi di balik Shiren.
"APA KATAMU?! AKU TIDAK MENDENGARNYA, COBA UCAPKAN SEKALI LAGI!!" ucap Mea dengan wajah seperti iblis, mata memerah dan beberapa urat terlihat jelas di wajahnya yang putih.
"Dada rata!"
Dan saat itulah Mea meledak-ledak, untungnya Shiren menggunakan sihir penenang untuk menenangkan Mea yang sepertinya terlihat marah.
Dua buah pukulan yang cukup keras mendarat di kepala Nheil dan juga Mea. Nheil oleh Shiena sedangkan Mea oleh Grey.
"Sudah berapa kali aku mengingatkan kalian agar kalian bertengkar, atau kalian lebih ingin aku laporkan pada Instruktur Oz?"
Grey yang tampaknya sudah merasa kesal melayangkan sebuah ancaman. Wajah keduanya pun menjadi pucat mengetahui bahwa Instruktur Oz adalah orang baik, tetapi jika saja ada yang melakukan kesalahan ia akan berubah 180ᵒ menjadi seseorang yang menyeramkan.
Sedangkan Nheil walaupun baru bertemu satu kali di Astarte Festa ini, ia dapat merasakan bahwa Instruktur Oz yang dibicarakan Grey adalah orang yang berbahaya dan juga menyeramkan.
"Tentang suara siulan tadi, Mea... apa yang ingin kau sampaikan kepada kami?"
Kini Shiena yang bertanya dan memulai topik pembicaraan.
"Ah... tentang itu aku rasa suara siulan indah itu tidak seindah seperti yang kita pikirkan," sahutnya.
"Maksudmu?”
“Dengar, ya. Biasanya suara ataupun angin itu memiliki tingkat frequensinya masing-masing. Ada yang bisa di dengar oleh manusia saja ataupun binatang saja dan juga sejenisnya. Suara siulan sebagai contohnya," tuturnya, “tidak hanya itu saja, bahkan di dalam suara siulan itu terdapat sebuah pesan"
"Pesan?"
"Tetapi pesan itu seperti memberi kita peringatan," lanjut Mea.
"Peringatan?!"
Mereka pun sedikit kaget mendengar hal itu, tidak biasanya ada sebuah siulan yang membawa pesan peringatan.
"Aku tidak bisa mengetahui pesan itu, tetapi yang bisa ku beritahu kepada kalian hanya sebatas ini," ucap Mea sambil berdeham.
“Will'O Wisp," celetuk Shiren.
__ADS_1
"Will'O Wisp?"
"Sebuah sihir atau lebih tepatnya kemampuan berkomunikasi dengan roh melalui angin, hal seperti ini sangat jarang sekali. Bahkan aku saja baru pertama kali mendengarnya," tutur Shiren.
"Dari mana kau mengetahui hal seperti itu?" tanya Grey.
"Saat aku berbicara tentang para roh-roh bersama Lily ketika istirahat siang".
"Jika hal itu salah satu instruktur kami juga memiliki kemampuan seperti itu," ucap Nheil tiba-tiba.
Keempat orang lainnya kini mulai menatap Nheil dengan pandangan penasaran.
"Apa kau yakin, Nheil?" tanya Mea.
"Tentu saja, Instruktur Kuro... dia adalah instruktur favoritku," tuturnya dengan tersenyum lebar.
Namun yang di dapatkannya bukanlah sebuah gurauan, pujian ataupun pertanyaan. Melainkan empat buah wajah yang tiba-tiba berubah menjadi pucat dan tampak tidak percaya.
"Hei, hei ... bertahanlah kalian, ada apa dengan kalian?"
"Bisakah kau menyebutkan nama panjang dari Instruktur Kuro ini?" tanya Shiena.
"Tentu saja... Kurokami Rei, dia adalah instruktur yang paling aku hormati dan bahkan hampir satu akademi menghormatinya termasuk para instruktur lainnya juga," jawabnya santai.
"I-itu tidak mungkin kan, heiii... Nheil, katakan bagaimana penampilannya?"
Kali ini Shiena benar-benar pucat bahkan hampir dapat di katakan hampir pingsan.
"Apa kau yakin? Wajahmu sungguh pucat sekali, Shiena"
"Y-ya, aku yakin bahkan sepertinya Grey, Shiren dan Mea juga setuju denganku," tutur Shiena dengan gemetar, bibirnya seakan-akan ingin pecah oleh sebuah teriakan.
"B-baiklah jika kau memaksa, dia berambut hitam dengan tubuh yang tinggi. Bermata hitam dan memiliki pekerjaan sampingan sebagai pengumpul Kristal Athea di luar kerajaan," jelasnya khawatir. "Apa ini meyakinkan kalian? Lagi pula apakah di Akademi kalian ada instruktur yang memiliki nama dan penampilan yang sama dengan Instruktur Kuro?"
"Ya, tetapi dia sudah tidak ada lagi di dunia ini. Dan beruntungnya bagi Shiena, instruktur yang kau sebut itu adalah wali kelasnya dulu," ucap Grey.
"Bahkan ia juga pernah melatih kami para Kesatria Legiun, tapi—“
"Itu sudah cukup, Mea," potong Shiena dengan mata yang berkaca-kaca.
Itu adalah kejadian masa lalu yang tragis. Mengorbankan dirinya sendiri untuk melindungi murid-muridnya. Mungkin dikatakan sebagai kerja magang, tapiitu juga merupakan salah satu dari tanggung jawabnya... melindungi murid-murid dengan sekuat tenaga.
"Bagaimana jika kita meminta Lily untuk memberitahu kita, Mea. Apakah kau bisa meniru siulan itu?" saran Shiren.
"Y-ya, aku bisa, tapi tidak semuanya," jawabnya sedikit gugup.
Setelah itu mereka setuju untuk pergi kembali ke Akademi Swordia di mana sebelumnya mereka juga telah meminta seluruh panitia untuk berkumpul. Bahkan kepala sekolah juga di minta oleh mereka untuk mendengar laporan ini.
Namun sebelumnya mereka meminta mereka agar bertindak seperti biasa. Semua itu di lakukan agar tidak menimbulkan keributan di Astarte Festa ini.
Di sisi yang lain Shiena terlihat pucat karena mendengar nama mantan wali kelasnya itu.
Ketika semua urusan mereka di sana telah selesai, kini mereka pun pergi menuju posnya di akademi.
Begitu mereka sampai di sana, baik itu dari Akademi Magistra maupun Swordia langsung menghampiri mereka setelah melihat kondisi Shiena yang tidak biasa. Di dalam ruangan itu tidak terlalu banyak, hanya terdapat beberapa panitia yang berasal dari dua akademi tersebut. Sisanya masih berpatroli dan memeriksa keadaan sekitar.
Akhirnya Grey mewakilkan mereka dan memberikan penjelasan sesingkat dan sejelas mungkin yang ia bisa.
Namun tidak lama kemudian Oz dan Selina juga tiba di sana. Melihat keadaan di sana, Selina merasa deja vu karena menemukan kondisi Shiena yang hampir sana seperti Oz.
Karena info yang di harus di beritahukan sangat penting, Nheil dan juga Shiren menjelaskan keadaan kepada semua panitia di sana. Mereka juga meminta bantuan kepada Mea untuk menirukan suara siulan itu dan juga meminta bantuan terhadap Lily yang akan menerjemahkan artinya.
Setelah selesai mereka cukup tercengang dengan penyampaian Lily yang begitu nyata ... 'Berhati-hatilah sesuatu yang buruk akan datang', begitulah jelasnya ketika telah selesai menerjemahkan arti dari siulan itu.
Namun tidak di duga bahwa ucapannya itu menjadi sebuah kenyataan. Karena sebuah lingkaran sihir muncul tepat di tengah-tengah aula itu, berwarna hitam gelap dengan aura kematian yang begitu jelas terlihat.
Lalu muncul sesuatu yang tidak mereka bayangkan, berbentuk tulang dengan jubah hitam yang robek. Menggunakan mahkota emas dengan berlian merah yang terpasang di tengahnya. Ia menggunakan sebuah tongkat perak yang berlumuran darah.
Tingginya bukanlah main, jika mereka memperkirakannya. Tingginya mencapai 3 meter. Sangat tinggi sekali, inilah sang pembawa pesan kematian dari alam bawah.
"Elder... Lich?!"
Melihat itu semua orang pun masuk dalam keadaan siaga. Baik itu panitia, instruktur, ataupun mereka yang berada di sana tanpa terkecuali.
Tiba-tiba saja seseorang melesatkan sebuah sihir cahaya dengan cepat. Sebuah inisiasi yang mengejutkan banyak orang... ia adalah Selina.
Tanpa diragukan sama sekali ia memiliki refleks yang sangat cepat dan terlihat tidak ragu-ragu menyerang makhluk itu dengan sihir cahayanya. Sihir yang membentuk sebuah bola-bola cahaya dan menyerbunya secara beruntun tanpa jeda.
Sang Elder Lich pun terpukul mundur. Tapi, ia langsung menjerit mengeluarkan belasan lingkaran sihir di lantai. Berwarna kehitaman dengan beberapa rantai yang keluar dari dalamnya menciptakan puluhan kesatria tengkorak.
Ketika Elder Lich itu mengangkat tangannya. Puluhan kesatria tengkorak pun mulai bergerak menyerang semua orang dengan pedang karat mereka.
__ADS_1
“Bersiaplah!” ucap Selina lantang.