Sword Anthem

Sword Anthem
Chapter 39 - Kekacauan Bagian II


__ADS_3

Sebelum kecerita utama kita intro dulu~


Hai semua! Nama gue ReIN dan terima kasih karena telah memberikan gue kesempatan untuk menemani malam jomblo loe! Jika kalian menyukai cerita ini maka berikan jempol ke atas dan jika tidak cukup vote lalu sebarkan cerita ini. Jangan lupa berikan komentar dan tips agar sang Author tetap semangat update ceritanya!


 


.


.


.


 


Rena yang sedang kegirangan karena berhasil membawa makanan favorit Aresya mulai memikirkan pujian seperti yang akan ia dapatkan dari wanita panutannya itu. Tetapi, ketika ia tiba di tepat di depan gerbang aula. Sekumpulan makhluk hijau menghalangi jalannya.


Mereka adalah pasukan Goblin dan Troll. Masing-masing dari mereka bersenjata dan tentunya mengenakan pakaian tempur yang hampir lengkap.


Alis Rena pun terangkat sedikit sembari menggigiti giginya sendiri, matanya memejam sesaat lalu kembali terbuka. Setelah itu ia meletakan makanan dalam kantung tidak jauh darinya sembari melindunginya dengan sihir angin.


“Sepertinya ada sesuatu yang terjadi,” ucapnya sambil mengeratkan kepalan tangannya.


Di sisi yang lain orang-orang yang kini berada di aula sedang berjuang mengalahkan pasukan kesatria tengkorak dan beberapa makhluk hitam panggilan Elder Lich.


“Jangan biarkan mereka keluar dari aula ini!” ucap Fiana lantang.


“Baik!”


Para murid dari Akademi Swordia pun membalasnya dengan kompak. Weis dan Nheil menjaga pintu utara sedangkan Reina dan Satella menjaga pintu selatan.


Masing-masing dari mereka mulai mengeluarkan sebuah kristal biru-keunguan dan langsung menghancurkannya. Setelah itu mereka menancapkan pedang pada tangan sambil berteriak dengan nada yang sama.


“Soencille!”


Seketika itu juga sebuah kain cahaya mulai menyebar sekaligus melapisi setiap tempat dengan kemilaunya.


“Menarik,” gumam Selina.


“Sudah lama aku tidak melawan makhluk seperti ini,” ucap Oz sambil mengeluarkan pedangnya dari sarung. “Kalian cepat bantu mereka!”


Oz pun memberi arahan kepada para Kesatria Legiun untuk membantu empar orang yang sedang mengeluarkan lapisan cahaya pelindung—Weis, Nheil, Satella, dan Reina.


Menanggapi hal itu semua Kesatria Legiun menangguk serempak dan segera memberi bantuan. Baik Lily, Sightmund, dan Hiro membantu Weis dan Nheil di pintu selatan sedangkan Mea, Grey, dan Shiren membantu Satella dan Reina di pintu selatan.


Dua sisanya adalah Velia serta Reya membantu panitia lainnya mengalahkan para kesatria tulang dan juga makhluk hitam.


Kini sang Elder Lich akan berhadapan dengan Oz, Selina, serta Aresya. Tetapi, makhluk dunia lain itu mengambil langkah pertama dengan menembakkan beberapa rantai hitam korosif berhawa dingin ke arah mereka bertiga.


Dengan refleks yang cepat Aresya langsung membatalkan serangan itu dan Oz melepaskan kuda-kudanya, segera meluncur bagai burung pemangsa yang cepat. Teknik kakinya melesat cepat berpadu dengan sebuah ayunan pedang yang menimbulkan getaran angin hebat.


Namun serangannya itu malah menghancurkan empat makhluk hitam yang di panggil oleh sang Elder Lich sebelum Oz menyadarinya. Selina pun menjentikkan jarinya dan membuat sebuah lingkaran sihir tepat di bawah kaki sang makhluk dunia kematian itu.


Bersinar cepat dan hancur. Lingkaran sihir itu meledakkan beratus-ratus cabang pohon tajam secara bertubi-tubi.


“Rasakan serangan alam suci ini,” ucapnya sambil mengambil jarak dengan lengan yang terangkat ke atas, “Quarzt!”


Ketika sang Elder Lich itu terpukul oleh sihir sebelumnya, kini ia harus di hantam oleh sebuah pilar cahaya putih yang bersinar terang.


Makhluk kematian itu pun menjerit, tapi tidak lama kemudian dari sebelahnya muncul sebuah sabit hitam dengan pinggiran lengan tulang yang langsung membelah pilar itu menjadi dua bagian.


Sang Elder Lich pun bangkit dan langsung berteriak. Nadanya yang melengking itu membangunkan para kesatria tulang yang hancur dan membentuknya ulang menjadi kesatria kematian dengan perlengkapan tempur yang lengkap; zirah, perisai, pedang, dan helm hitam bertanduk.


“I-ini tidak mungkin... kan?”


Baik mereka yang dari Akademi Swordia maupun Magistra tidak percaya dengan semua itu. Padahal belum lama para kesatria tulang telah berhasil ditumpas, tapi siapa yang akan menyangka bahwa mereka kembali dibangkitkan dengan kekuatan baru.


Awalnya mereka terenyak beberapa saat melihat kejadian cepat itu berlalu didepan mata mereka. Tapi, berkat sebuah teriakan keras dari kemampuan milik Reya kesadaran mereka pun kembali lagi.


“Jangan diam!” teriak Reya sambil menghantamkan ujung perisai miliknya ke lantai.


Oz pun memejamkan matanya sekejap sambil tersenyum tipis, “Seperti yang diharapkan dari muridku,” ucapnya halus.


“Itu baru semangat!” tutur Aresya sembari memainkan sihirnya yang melesat cepat ke arah sang kesatria kematian.


Atmosfer yang sebelumnya menegang kembali seperti semula—penuh semangat, antusias, dan percaya diri. Semua itu berkat Reya yang sama sekali tak gentar dengan bangkitnya kembali para kesatria tulang.


Sementara Oz, Selina, dan Aresya masih menghadapi sang makhluk kematian. Fear dan Velia saling bekerja sama untuk mengalahkan pasukan kesatria kematian.


Fear menggunakan kemampuannya untuk membantu meningkatkan fleksibelitas, refleksitas, dan juga mengurangi rasa lelah pada Velia. Mereka berdua layaknya sebuah partner yang tidak bisa dipisahkan, saling melengkapi satu sama lain.

__ADS_1


“Apakah kau baik-baik saja, Velia?”


“Tenang saja. Hal ini belum seberapa dibandingkan kelasnya Instruktur Oz dan Selina,” sahutnya sambil menebas salah satu makhluk hitam di samping kirinya.


“Aku juga akan berusaha sekuat mungkin agar kau tidak terluka. Jadi serahkan saja padaku!”


“Hahaha. Baiklah, aku akan sedikit merepotkanmu, Fear.”


Setelah itu mereka kembali bekerja sama saling bahu-membahu mengalahkan para kesatria kematian satu-persatu. Tebasan demi tebasan yang cepat melesat bagai tarian penuh makna, setiap serangannya mengeluarkan aura kemerahan yang langsung menumbangkan beberapa kesatria kematian.


Namun, tidak semua serangan itu berhasil sepenuhnya. Terkadang ada yang terpental akibat benturan sesama pedang, ada juga yang tertahan akibat hantaman perisai hitam. Sayangnya hal itu tidak semudah apa yang ia harapkan.


Fear juga tidak diam saja di belakang pundak Velia. Ia melancarkan beberapa sihir kejutan berupa ledakan udara yang menerbangkan makhluk hitam hingga hancur lebur.


Tidak lama kemudian sang Elder Lich pun berhasil ditumpas. Kondisi Oz, Selina, dan Aresya juga tidak terlalu mengkhawatirkan. Tidak hingga sebuah suara raungan keluar dari lubang hitam raksasa di langit-langit aula yang


menjatuhkan berbagai monster.


Kini mereka pun kembali terkepung oleh sergapan monster. Sang makhluk kematian yang sebelumnya mereka telah kalahkan pun bangkit kembali seperti tidak terjadi apa-apa.


“Ini menyebalkan!” rutuk Selina sambil meremas kepalan tangannya.


“Sepertinya kita terjebak di tempat ini dengan monster yang baru, eh?”


Oz hanya menanggapinya dengan tawa remeh sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan, “Sialan...,” gumamnya pelan.


“Jadi kita harus bagaimana?” tanya Aresya, “melawan makhluk yang terus hidup kembali dari kematiannya akan sangat merepotkan”


“Aku tahu itu. Meskipun kita berhasil melenyapkannya dengan sihir kuno, tapi apakah setelah itu tempat ini akan baik-baik saja mengingat kekuatannya yang sangat dahsyat,” tutur Selina khawatir.


“Apa kau tidak bisa membuat dampaknya sekecil mungkin?”


“Itu akan membutuhkan waktu yang cukup lama, Oz. Kau mengerti, kan... maksudku?”


Oz pun mengangguk pelan, “Aresya, bantu aku untuk menjaga Selina selama beberapa saat”


“Baiklah....”


Sementara mereka berdua berusaha menjauhkan para makhluk kematian itu dariSelina. Sang putri bumi itu mengumpulkan aura positif di sekitar aula dan membawanya ke dalam jangkauan sihirnya.


Di sisi yang lain, sang Elder Lich sedang mengumpulkan energi negatif selagi para pasukannya membuat kerusakan.


Setelah itu ia melemparkannya ke langit. Bola energi hitam itu pun meledak menyemburkan kabut hitam yang membuat aula tampak seperti sebuah pemakaman suram.


“Sial! Ini miasma!” rutuk Oz. “Kalian semua cepat tutup hidung kalian!”


“K-kita sudah terlambat...,” timpal Aresya lalu jatuh terduduk.


“Tegarkan dirimu! Ingat kau itu adalah muridku, Aresya!” tegas Selina.


Saat ini dirinya sedang berusaha mengumpulkan energi positif. Tetapi, sayangnya semua itu dihalangi oleh miasma sang Elder Lich. Berkat miasma itu hampir seluruh orang di sana jatuh tertidur dengan kondisi yang lemah.


Layaknya boneka tanpa jiwa dan manusia tanpa kekuatan. Lemah tak berdaya.


“S-sial!”


Posisi Reya saat ini tidak terlalu jauh dengan Velia yang tampaknya benar-benar tidak sadarkan diri. Sedangkan Fear tepat berada di sampingnya, berusaha sekuat tenaga agar tetap terjaga.


Hanya Oz, Selina, dan Aresya lah yang masih berdiri dan tampaknya tidak terpengaruh oleh miasma tersebut.


“Sepertinya kita tidak ada pilihan lain selain benar-benar melenyapkan makhluk itu.”


Lelaki berambut putih itu pun melapisi pedangnya dengan sebuah sihir andalannya. Membuang napas dan kembali menghirupnya. Mencoba fokus dengan sebuah serangan cepat nan bersih.


Matanya yang tajam layaknya Burung Elang semakin menyipit hingga pada tahap pupilnya pun ikut menyempit dan pada saat itulah ia melepaskan serangannya.


Sebuah sayatan bersih itu berhasil membelah miasma dengan sapuan pedang berkecepatan tinggi. Bahkan membuat udara di sekitarnya bergetar dan meledak beberapa kali dalam satu ketukan.


“Arhgeinc...,” bisiknya halus.


Ketika miasma itu akan menghilang, sang Elder Lich pun menjerit. Semua pasukan kematian yang ia miliki pun sirna menjadi sekumpulan roh jahat yang kini berkumpul di atasnya.


Semakin lama semua roh jahat itu membentuk sebuah pusaran awan hitam mirip seperti miasma sebelumnya. Di saat yang sama sang Elder Lich mulai mengeluarkan suara serak yang menggema layaknya seseorang yang sedang membaca mantra.


Begitu sebuah lingkaran sihir muncul, Aresya, dan Selina pun tak tinggal diam. Mereka berdua langsung mengeluarkan sihir pembatal, tetapi sayangnya usaha mereka sia-sia karena terganggu oleh sebuah jeritan roh tepat di hadapan mereka.


Perlahan-lahan semua roh jahat itu pun masuk ke dalam tubuh sang Elder Lich. Bentuk sebelumnya yang menyerupai kerangka tubuh manusia penuh tulang dan tengkorak utuh itu kini terbalut oleh susunan otot dan kulit kusam.


Ukurannya membesar, bahkan melebihi tinggi tubuh Oz yang pada umumnya dapat dikatakan seperti menara. Sementara itu perawakannya menyerupai Gigant yang dikatakan makhluk raksasa dengan kulit berwarna hijau zamrud.

__ADS_1


Tekanan yang diberikan oleh Elder Lich itu kian bertambah dan membuat Oz ragu untuk menyerangnya. Tetapi, lelaki berambut putih dengan tatapan setajam mata pisau itu langsung menerjang dengan dibarengi oleh sebuah sayatan rapi.


Namun serangannya berhasil dihentikan oleh makhluk itu. Mata pisau pedang milik Oz itu kini hanya menyentuh ujung jari telunjuk sang Elder Lich.


“Berhati-hatilah, Oz! Saat ini makhluk yang kita lawan adalah sesosok Warlord!” ucap Selina lantang.


Melihat serangan kawannya itu dihentikan dengan mudahnya, Selina langsung mengeluarkan belenggu rantai cahaya dari tujuh buah lingkaran sihir kuning di sekitar sang Warlord.


Setiap rantai mulai meliliti tubuh besarnya dengan cepat. Membuatnya terdiam beberapa saat hingga menghancurkannya kembali hanya dengan menggunakan kekuatan kasarnya.


Pada dasarnya sesosok Warlord memiliki kekuatan fisik yang sangat besar. Apalagi jika perubahan itu diawali dari Elder Lich yang memiliki afinitas kekuatan sihir yang tinggi. Menjadikan evolusi makhluk kematian satu ini berada di tingkat yang melebihi Oz dan Selina.


Oz pun melompat mundur atau lebih tepatnya terpukul ke belakang dengan pukulan kuat dari sang Warlord yang diimbuhi oleh kekuatan sihir.


“Arghh!!—“


“Oz!”


“Kak Oz!”


Baik Selina dan Aresya tidak tinggal diam saja. Mereka juga langsung menyerang sang makhluk kematian itu tanpa ragu-ragu lagi demi menjauhkannya dari Oz. Tetapi, semua serangan mereka layaknya remah-remah yang berjatuhan—tak mempan sama sekali.


Sang makhluk kematian itu terus berjalan mendekati Oz. Begitu tiba tepat di hadapannya, ia pun mengangkat lelaki itu dengan satu tangannya yang berotot.


Matanya mengeluarkan cahaya merah menyengat dengan wajah setengah tengkorak dan binatang buas. Kini ia menatapi mangsa yang tepat berada di depan wajahnya, dengan seksama, dan penuh perhatian.


Hingga akhirnya ia pun menggeram dan akan melahap kepala Oz. Tiba-tiba saja sebuah pedang cahaya muncul dan menghunjamnya bertubi-tubi dari belakang.


“Oz! Eh—“


Tanpa ada yang menduga hal itu, sebuah suara tepuk tangan terdengar berulang kali dengan ketukan yang sama. Langkah ringan, tapi mengentak lantai hingga menimbulkan suara ketukan.


Tidak ada yang tahu siapa sosok itu dan tidak ada yang menyangka bahwa sosoknya akan muncul di sana.


“Wah, wah, wah. Tampaknya aku telat... apakah pestanya sudah berakhir?” ucapnya hangat.


“A-aku sudah membawa bantuan... semuanya—eh?”


Di balik sosok Rena yang sedang kewalahan dan tidak tahu apa yang terjadi. Raut wajahnya pun menjadi pucat setelah melihat hampir semua orang yang ada di dalam aula jatuh tak berdaya.


Selain itu atmosfer yang berada di sana juga sangat tidak bersahabat. Ditambahkan banyaknya orang yang tergeletak, parahnya lagi adalah para murid Akademi Swordia yang telah mencapai batasnya.


Seluruh lapisan sihir cahaya pun hancur dan mereka jatuh tak sadarkan diri.


“Sebaiknya kau bantu mereka dulu, Rena”


“Baiklah....”


Rena pun langsung pergi memberi bantuan, sementara lelaki itu tetap terdiam, melihat Oz, dan Selina yang sedang kewalahan. Apalagi Aresya dengan wajah sembabnya yang tidak lama lagi akan menangis.


“Apa kalian merindukanku?” tanya Kuro dengan tawa kecil.


Sang Warlord pun kembali dengan teriakan abstraknya setelah berhasil memulihkan diri dan melempar tubuh Oz ke arah Selina. Makhluk itu pun tak segan-segan langsung berlari ke arah Kuro.


Dengan santainya pemuda itu mengeluarkan sebuah sarung pedang kemudian menamparkannya tepat ke arah wajah sang makhluk kematian begitu sosoknya tepat berada di hadapannya.


Suara tepisan yang nyaring dan serangan ringan itu entah mengapa bisa menghempaskan sosoknya yang besar.


“Bukan hanya kau saja yang bisa mengimbuhi senjata dengan sihir, buruk rupa,” tuturnya, “lagi pula kebiasaanmu masih belum berubah, ya... Selina.”


Ketika mendengar suara itu memanggil namanya, Selina pun tidak tahan dan langsung segera berlari menghampiri Kuro. Tetapi, lelaki itu menahannya sambil mengayunkan sarung pedang.


“Kita simpan acara reuni setelah ini... mengerti?”


Setelah itu Kuro langsung mengentakkan sarung pedangnya ke lantai, menciptakan jajaran ujung pedang yang berlapis-lapis membentuk gelombang kasar layaknya terkaman taring hiu.


Alhasil berkat serangannya itu, sang Warlord berhasil terkunci seutuhnya. Kini sosok besar itu seperti sebuah pajangan pada pameran lukisan. Baik lengan dan kakinya terkunci, tetapi tidak untuk bagian tubuh tengahnya.


Namun melihat itu Kuro langsung meluncur cepat. Kepalan tangannya bersiap meninju dan dengan cepat berhasil membuat bekas pada perut makhluk kematian itu.


BHOARGGG!!!


“Diamlah, jelek!” tukasnya dengan pukulan kedua yang keras hingga menimbulkan suara lantang, “sekarang giliranmu, Selina,” lanjutnya lalu melangkah mundur.


Ia pun mengerti dan segera kembali merapalkan beberapa Rune kuno. Satu lapis, dua lapis hingga sembilan lapis Rune muncul... mengambang membentuk sebuah pusaran bola cahaya.


Begitu ia melepaskannya. Pusaran bola itu langsung membuat tubuh sang makhluk kematian menyusut, menyusut, menyusut, hancur, dan akhirnya lenyap tak tersisa. Hanya meninggalkan beberapa butiran bola kegelapan kecil yang langsung pecah akibat sentilan jari Kuro.


Bersamaan pecahnya bola kegelapan kecil itu... sosok Kuro pun ikut menghilang dalam sekejap. Bahkan Selina tidak sempat memeluk dan bersandar pada punggung yang selama ini ia rindukan.

__ADS_1


“Kuro... k-kau masih hidup,” gumam Fear lalu tak sadarkan diri.


__ADS_2