
Sebelum kecerita utama kita intro dulu~
Hai semua! Nama gue ReIN dan terima kasih karena telah memberikan gue kesempatan untuk menemani malam jomblo loe! Jika kalian menyukai cerita ini maka berikan jempol ke atas dan jika tidak cukup vote lalu sebarkan cerita ini. Jangan lupa berikan komentar dan tips agar sang Author tetap semangat update ceritanya!
.
.
.
Kami pun segera berlari menuju tengah-tengah kerajaan yang tidak lama lagi dapat lihat. Regin yang telah kehilangan semua pasokan mananya terkulai lemas di panggulan Irina. Begitu juga dengan diriku, tetapi setidaknya aku masih bertahan.
Kali ini warna langit di atas sana sudah menjadi normal. Biru gelap. Tidak seperti sebelumnya yang berwarna merah padam, ditambah dengan adanya miasma menjadi lebih rumit. Tetapi, karena sihir gabungan sebelumnya, semua entitas berlemen kegelapan telah menghilang.
Saat ini kami terus berlari sambil dikejar oleh bunyi dentangan jam langit.
Terakhir kali aku bertarung dengannya adalah 300 tahun yang lalu, di mana waktu itu ia berhasil menguburku ke dalam kenang-kenangan bersama dengan Fear. Terlebih lagi wujudnya hanya sepertiga dari bentuk yang sempurnya.
Kuharap untuk sekarang aku masih bisa menghilangkan jam langit itu sebelum semuanya terlambat. Aku melompat, menapaki atap-atap rumah. Selina dan Irina yang membawa Regin mengikuti serentak.
“Reiss!!—“
Namun tiba-tiba saja sebuah lingkaran sihir muncul di hadapanku lalu menarikku ke dalamnya. Suara Selina adalah hal terakhir yang bisa aku dengar saat itu.
***
“Ughh—“
Kesadaranku perlahan mulai kembali dan begitu juga mataku yang berusaha untuk terbuka.
“A-apa yang barus saja terjadi?”
Aku pun hanya bisa bertanya-tanya mengingat sebelumnya aku berada di Kerajaan Astarte. Tetapi, tempat apa ini? aku sama tidak ingat pernah ke sini.
Tempat ini seperti sebuah padang rumput. Tetapi, semua rumputnya memancarkan cahaya biru langit yang samar seakan-akan mirip seperti Bunga Lili Malam.
“Lili Malam?!”
“Sepertinya kau telah sadar, Reiss.”
Suara itu...
Aku pun langsung bangkit dan menemukan sesosok laki-laki yang sedang menatapku dari jauh sana. Tubuhnya terlihat penuh dengan cairan merah.
Ia duduk di atas sebuah batu putih kotak yang telah berlumut. Berkat sinar bulan yang cukup terang, siluet bayangannya menampakkan sesosok monster yang berkecamuk. Aku tidak tahu apa itu, tetapi firasatku mengatakan jika itu adalah pertanda buruk.
“Jangan menatapku seakan kau menatap musuh bebuyutanmu. Kau mencari ini, ‘kan?”
Begitu ia menjentikkan jari, sebuah portal tiba-tiba saja muncul, dan memperlihatkan tubuh Fear yang terbalut kain tipis terikat oleh rantai hitam pada sebuah lingkaran sihir.
“Pada awalnya aku ingin menyerahkan wanita ini, tetapi jika dipikir-pikir lagi mengulurmu dengan ini mungkin terdengar lebih menarik,” ucapnya lalu bangkit beranjak menuju Fear.
“Kau sakit,” tuturku dingin.
“Sakit? Apakah itu yang kau lihat dariku saat ini? ya, ya, ya... waktu akan menjawabnya.”
Setelah itu ia mengangkat dagu Fear dan menunjukkan ekspresi puas dengan mata yang menyipit.
“Kau seharusnya tahu membawa beban seperti ini hanya akan menghambatmu,” ucapnya lalu menorehkan luka gores pada pipi Fear.
“Hentikan!”
“Baiklah, pahlawan. Kita lihat sejauh mana kau bisa menyelamatkannya, tetapi sebelum itu aku ingin melihat pertunjukkan terlebih dahulu.”
Berbagai Rune muncul dalam serentak. Tetapi, semua Rune itu terdistorsi, dan menciptakan sekumpulan monster-monster raksasa yang mengaum layaknya singa kelaparan.
Tubuh mereka seperti gumpalan daging yang saling menyatu, di mana bagian kepala mencuat terdapat pada tengah-tengah tubuhnya. Di punggung mereka terdapat beberapa kristal hitam keluar secara bersamaan membentuk segitiga. Sedangkan lengan mereka besar sebelah penuh dengan batu-batu tajam.
“Keparat! Apa yang kau inginkan dari mereka?!”
“Kau tahu, ‘kan? Mereka yang mati hanya akan menjadi sejarah, sayangnya aku tidak setuju dengan itu. Karena itulah aku membawa mereka ke sini... oopss! Aku lupa satu hal, selamat bersenang-senang dengan keluargamu yang telah mati, Reiss,” tuturnya kegirangan.
“Sepertinya otakmu telah rusak. Menggunakan mereka sebagai katalis pemanggilan? Huh... hahahaha. Jangan bermain-main denganku.”
Begitu aku menguatkan tekanan aura pada kakiku, hanya dalam sekejap semua monster yang dipanggil oleh Meist terbelah menjadi dua secara bersamaan.
Ia pun bersiul lalu memberiku tepuk tangan.
“Khu... hahahaha! Luar biasa, tanpa ampun seperti biasanya. Bahkan kau tidak ragu untuk membunuh keluargamu dua kali”
“Cukup... “
“Apa? Kau masih belum puas, tenang saja mereka akan kembali hidup dalam beberapa detik. Karena mereka abadi!” ucapnya puas sambil menutupi mulutnya.
Semua monster yang sebelumnya telah aku kalahkan kembali bangkit. Tubuh mereka yang terbelah pun kembali menyatu seperti tidak terjadi apa-apa. Tingkat regenerasi seperti ini bukanlah main-main.
“Bagaimana? Apa kau senang? Ayo! Ayo! Ayo! Bermainlah dengan keluargamu kembali, Reiss! Mereka sangat merindukanmu, kau tahu itu, ‘kan? khuahahahaha!!”
Semua itu kembali bangkit dan mulai berlari membabi buta ke arahku. Kali ini dengan teriakan tak jelas yang terus menerus menghantamkan tangannya ke tanah berkali-kali.
“Ya, tentu saja aku merindukan mereka. Meskipun mereka telah tiada, tetapi hati, dan juga jiwa mereka masih bersamaku. Kau juga melupakan sesuatu tentang ini?”
“Huh?”
“Sifat dari pedangku ini adalah murni terbentuk dari partikel cahaya. Itu artinya semua yang telah terkena serangannya akan hangus menjadi abu....”
Ketika semua monster itu ingin menghantam kepalaku. Kaki mereka telah hancur terlebih dahulu sebelum akhirnya merambat ke seluruh tubuh dan kini hanya meninggalkan butiran abu.
“Apa?!... “
“Jangan meremehkanku seperti itu atau pipimu akan terluka,” tuturku datar.
“Apa maksudmu!—ughh!”
Tiba-tiba saja sebuah luka gores muncul di pipi kanan Meist.
“Tidak baik jika hanya aku saja yang mendapatkan hadiah, bukan? Bagaimana? Apa kau suka dengan hadiahku? Hahahaha,” ucapku puas.
“Bajingan! Akan kubunuh kau!”
“Ini baru lebih mirip seperti dirimu dulu. Sini datanglah pada papa!”
STANGGG!!!
Kami berdua saling meluncur dengan cepat. Dua buah ayunan pedang pun ikut bertabrakan menciptakan suara dentangan yang nyaring hingga tanah di sekitar kami meledak kecil mementalkan bebatuan kecil.
Aura yang kuat terlihat dari tubuhnya yang bersimbah darah. Meist, aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu selama ini. Tapi, sebelum aku mengetahui kebenarannya, aku menolak untuk memaafkanmu.
“Fhangedt!” ucapnya lantang sambil mengangkat jari telunjuk kanannya ke atas.
__ADS_1
Itu adalah sihir kuno yang membuat tanah di sekitar kami hancur dan dengan kekuatan gerakan jarinya, semua tanah itu akan terbentuk ulang sesuai keinginan penggunanya. Sayangnya aku sudah memprediksi sihir ini jauh-jauh sebelumnya.
Sihir ini adalah salah satu kemampuan unik milik Meist yang dapat membuatnya diuntungkan karena pembuatan sihir imbuhan berskala besar. Tentunya aku tidak ingin itu terjadi, bagaimana jadinya jika ia terus bertambah kuat seiring waktu berjalan? Mungkin aku bisa saja mati terbunuh olehnya dua kali.
“Percuma! Reuscht!” balasku sambil menancapkan ujung pedang ke tanah.
Namun aku juga menggunakan kemampuan anti-sihir yang dimiliki oleh pedangku. Salah satunya adalah menetralkan semua jenis sihir yang saling berkaitan satu dengan lainnya.
Sihir pada zaman ini tidak cocok dengan kemampuan anti-sihir seperti ini. Karena itulah ketika Meist menggunakan sihir kuno, sihir ini adalah apa yang bisa aku bilang sebagai penangkalnya.
Semua tanah yang sebelumnya akan membentuk sesuatu kini hancur dan semua mata rantai Rune yang tersusun pun pecah.
"Sepertinya kau tidak lupa dengan ini, Reiss," ucapnya lalu mengayunkan pedangnya.
“Bagaimana aku bisa lupa dengan keahlian sakti seperti itu?” sahutku sambil mementalkan serangannya dengan tendangan bakcflip-ku.
“Tapi, kau juga melupakan satu hal, Reiss.”
Ketika ia kembali pada posisinya tepat di samping Fear yang sedang di rantai. Tiba-tiba saja tiga sosok yang aku kenal muncul dengan kondisi mengenaskan.
“Oz?! Aresya! Regin! Apa yang kau lakukan kepada mereka?!”
“Oh. Akhirnya ekspresi yang kunantikan-nantikan muncul juga. Apa kau tidak melihat darah ini?” tanyanya sambil menunjuk sisi kiri tubuhnya.
“Jangan-jangan—“
“Benar sekali, Reiss. Akulah yang melakukannya. Tenang saja, mereka tidak mati, tapi hanya sekarat. Khuahahahaha!”
“T-tapi, sejak kapan?” tanyaku tak percaya.
Melihat bagaimana tubuh mereka di tumpuk seperti itu membuatku sangat terkejut. Aku tidak menyangka kekuatan Meist telah melebihi apa yang telah aku perkirakan.
“Tentunya saat kau tidak sadarkan diri. Memangnya kapan lagi?”
“Sialan!”
“Kau tahu apa yang paling membuatku geli? Itu adalah saat mereka percaya jika mereka bahwa kau akan mengakhiri fenomena ini, tetapi lihat! Kau sama sekali tidak memiliki waktu banyak,” tuturnya dengan tawa kecil.
Saat ini aku ingin sekali memukul wajahnya dengan sekuat tenaga.
“Sayangnya mereka tidak tahu bahwa kaulah yang membawa bencana ini kepada mereka. Kau! Kau! Kau! Satu-satunya penyebab semua ini terjadi, Pangeran Kedua Reiss Veil Drag Reizhart!” lanjutnya, “bagaimana aku tidak bisa berhenti tertawa ketika mendengarnya? katakan padaku, apa kau percaya dengan kekuatan pedang itu? Pedang yang bahkan membuatmu hingga seperti ini, semua itu hanyalah dongeng!”
“Meist... “
“Kau bisa melihatnya saat ini! Kita semua terlihat seperti orang bodoh! Kau, diriku, semua orang di kerajaan. Apalagi yang kau inginkan ketika dunia ini hancur?”
“Aku tahu... tentu saja aku mengetahuinya... “
“Khuahahaha. Ini menggelikan dan kau masih melakukannya—“
“—Aku tahu jika kau kesepian.”
Ia tiba-tiba terdiam dengan ekspresi yang membeku.
“Orang bodoh yang percaya jika dirinya adalah seorang pahlawan dan seorang lelaki pengecut yang tidak bisa menerima kenyataan adalah dua hal yang berbeda. Kuakui jika diriku adalah orang bodoh, maka selanjutnya adalah dirimu... seorang pengecut yang tidak pernah mengakui apapun dalam hidupnya.”
Setelah raut wajahnya membeku, kini aku bisa melihat tubuhnya yang gemetar. Aku tidak tahu apa yang ia rasakan saat ini ataupun ingatan apa yang ia lihat ketika aku mengatakannya.
Namun, satu hal yang aku tahu adalah saat ini ia mengutukku dengan kata-kata luar biasa yang bahkan tidak pernah bisa aku pikirkan.
“Lenyap! Lenyap! Mati! Mati! Musnahlah kau sampah kerajaan!” rutuknya lalu berlari ke arahku dengan cepat.
“Setidaknya sampah bisa di daur ulang, tidak seperti kau yang tidak dapat diperbaiki,” sahutku dingin.
Aku juga tidak ingin kalah dengan keberaniannya mengeluarkan serangan sekuat itu pada babak pertama ini.
Ketika ia terpukul mundur oleh seranganku, dengan cepat aku pun mengambil kuda-kuda untuk mempersiapkan serangan berskala besar. Setelah ia kembali datang ke arahku, saat itulah serangan ini keluar dengan daya rusak yang hebat.
Walaupun sebelumnya Manaku terkuras akibat sihir Star Raid, tetapi setelahnya Selina membantu memulihkan manaku sehingga aku bisa mengeluarkan serangan saat ini.
“Executh!”
Sebuah pedang cahaya raksasa tiba-tiba saja muncul dari Lionheartku. Seperti sebuah tembakan kejut yang meledak dengan senyapnya kemudian menghilang cepat ketika aku menariknya kembali.
Berkat serangan Meist yang sebelumnya terdorong akibat amarah kini terpental jauh hingga akhirnya terhenti karena menghancurkan sebuah batu raksasa.
Sebelum ia datang kembali aku harus menyerap esensi kemampuanku sebelumnya. Membaginya ke dalam dua bagian—pertama adalah kesadaran dan kedua adalah jiwaku. Setelah itu menyesuaikannya dengan kondisiku saat ini.
Namun tidak lama setelah itu muncul beberapa bola api hitam dalam jumlah yang sangat banyak dari langit.
Gawat, Fear!
Aku pun segera bergegas menuju Fear yang tidak sadar diri. Sebelumnya aku mengira rantai yang membelenggu tubuhnya bisa aku hancurkan dengan pedangku ini, tetapi setelah aku melihatnya dari dekat. Rantai ini hanya dapat hancur jika penggunanya mati, maka satu-satunya cara untuk membebaskannya adalah dengan membunuh Meist.
Sepertinya waktuku telah tiba untuk membalas semuanya.
Dengan kondisiku saat ini, aku tidak bisa menggunakan sihir perlindungan area.
“Mau tidak mau aku harus melakukannya.”
Aku pun mulai mengambil napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya kembali. Setelah itu menyiapkan kuda-kuda dan menajamkan penglihatanku.
Begitu semua bola api hitam itu mulai mendekat, aku pun langsung meluncur menggunakan teknik kaki untuk mempercepat gaya pertarunganku saat ini.
Satu persatu bola api itu aku pantulkan kembali menggunakan bagian pipih pedangku. Saat ini aku hanya membayangkan sebuah benda lembut yang kembali memantul setelah bersentuhan dengan permukaan yang lembut.
Demi makanan yang bernama pie labu, semua serangan balikku ternyata berhasil, dan bola-bola api yang mencoba mendekat berhasil aku pantulkan dengan lembut.
Namun siapa sangka tiba-tiba saja Meist berada di hadapanku sambil berteriak kencang memanggil namaku.
“Reiss!!! Matilah!!”
“Tidak secepat itu kawan.”
Kini kedua pedang kami saling bergesekan, begitu pun mata yang saling menatap satu sama lain.
“Dari dulu kau selalu saja seperti ini, karena itulah Kakakku enggan mengajarkan teknik seperti tadi kepadamu, Meist”
“Hmph! Kau kira aku membutuhkannya?! Mana sudi aku belajar teknik seperti itu dari kalian!”
“Seperti biasa kau tidak bisa mengakuinya—kalau begitu kita akhiri semua ini tanpa memendam kekecewaan,” tuturku datar.
Begitu pedang kami saling terpukul mundur oleh daya kejut dari masing-masing aura. Meist langsung mengimbuhi pedangnya dengan aura hitam sedangkan aku mengimbuhi pedangku dengan aura biru.
Tidak lama kemudian kami kembali saling beradu pedang. Permainan pedang yang diperlihatkan oleh Meist tidak terlalu beda dengan apa yang aku pelajari dari Kakakku.
Teknik Pedang Kerajaan, itulah yang mereka sebut. Teknik yang mengambil dasar pada permainan kecepatan tangan dan kestabilan pengambilan waktu untuk mengayunkan pedang. Teknik ini juga biasa disebut teknik kejutan karena waktu untuk mengambil serangan terkadang bisa menipu lawannya.
Hal pertama yang dilakukan oleh Meist juga tidak terlalu berbeda, yaitu ilusi dan missdirection. Meskipun seperti
__ADS_1
itu aku selalu mendapat serangan dari banyak orang, walaupun aku tahu ia hanyalah seorang diri.
Tapi teknik ini memiliki kelemahan. Kelemahan dari teknik ini adalah pemutusan rantai serangan dan saat itu adalah sekarang.
“Rasakan ini!” ucapku lalu berbalik sambil menyentak lengan Meist yang berusaha menyerangku dari belakang menggunakan sikut.
“Ughh!—“
Ketika ia kehilangan fokus atas serangan berantanya, kini giliranku untuk menyerangnya. Serangan balik yang paling ampuh adalah menggunakan seni bela diri jarak dekat.
Begitu Meist berusaha mengayunkan pedangnya secara vertikal menggunakan auranya. Aku pun langsung membanting pedang miliknya menggunakan pedangku dengan cara menekan daya ayunnya.
Setelah pedang kami menancap pada tanah, saat itulah aku memukul bagian pundak kirinya. Mengentak keseimbangan lalu beralih pada perut, pundak kanan, serangan sikut, dan di akhiri oleh pukulan keras pada perutnya yang dimaksimalkan dengan tendangan berputar yang cepat.
“Arghh!—“
“Kau terlalu mengandalkan kekuatan yang berasal dari luar, karena itulah kau kehilangan esensi teknik yang kau pelajari sejak saat itu.”
Aku pun tidak membuang-buang waktu lagi dan langsung mencabut pedangku, melompat tinggi sekaligus menebas samping kiri perut Meist yang terbuka lebar. Ia pun berteriak kesakitan.
Tidak lama setelah tubuhnya terjatuh keras, aku pun kembali dengan serangan cepatku. Begitu ia mencoba untuk bangkit kuhantam rahangnya dengan tendangan menyamping sekuat mungkin dan sekali lagi tubuhnya terhempas.
“Aghkss—“
“Kali ini aku akan mengakhirinya!”
Aku yakin tubuhnya sudah pada batas dan saat inilah yang paling tepat untuk melakukannya.
Sekali lagi aku meluncur untuk melakukan serangan terakhir.
“Grrrrr!! Uaghhhh!!! Apa kau kira aku akan mati semudah itu!”
Tiba-tiba saja tubuhnya mengeluarkan aura hitam yang sangat kuat dan hampir menerbangkanku jika saja aku tidak menancapkan pedang dan menggunakannya sebagai penahan.
“Reiss! R-Reiss!!”
Suaranya lagi-lagi seperti sesuatu yang telah rusak. Aku tidak bisa melihatnya seperti ini. Meskipun ia pernah mengkhianatiku, tetapi tetap saja penampilannya saat ini tidak bisa aku terima.
“Sialan kau, Meist!”
Tubuhnya telah menjadi suatu mimpi buruk abnormal yang tidak ingin aku ingat. Karena inilah aku membenci Omega, apanya yang dewa, apanya yang sosoknya dinanti-nantikan, semua itu hanyalah omong kosong.
Demi semua orang yang telah mengorbankan nyawanya saat itu, aku tidak ingin ini semua terulangi lagi.
“Reiss!!!”
Ia pun meluncur ke arahku sambil membawa sebuah tombak kegelapan yang ia ciptakan dari esensi kekacauan.
“Meist!!!”
Aku pun sama sepertinya ikut meluncur menerjangnya dengan kecepatan penuh dengan membawa pedang Lionheartku. Kami berdua saling menyerang dengan kekuatan penuh hingga meluluh lantahkan tempat sekitar menjadi bebatuan kerikil.
Meledak dan berhamburan. Terangkat dan mengapung. Terhempas lalu akhirnya hancur seutuhnya hingga semua penglihatanku menjadi putih terang. Hal terakhir yang aku rasakan adalah rasa sengat dan hangat pada bagian pundak kiriku lalu merambat hingga ke area perutku.
.
.
.
Napasku menjadi berat dan semua kembali dapat kulihat. Saat ini Meist sedang terkapar dengan kedua lengannya yang hancur. Aku pun pergi mendekatinya.
“A-arghk—ha... ha... hahaha. Sepertinya inilah akhirku....”
Aku hanya bisa menatapnya dengan perasaan lega, tapi jauh di dalam hatiku terdapat perasaan yang tidak bisa aku jelaskan. Semua itu bercampur aduk dan aku sama sekali tidak bisa menjelaskannya begitu mudah.
“Kau tahu... selama ini aku tidak ingin kau ataupun Fear menjadi korban ramalan bodoh ini,” ucapnya lirih.
“Apa maksudmu?”
“Semua ini... semua yang terjadi di sini bukanlah kesalahanmu. Baik itu pembunuhan di kastil ataupun takdirmu saat ini, orang itulah yang harus menanggungnya—“
Ia pun terbatuk-batuk. Aku ingin menolongnya, tetapi ia menolak, dan hanya bisa memberiku senyum kecil. Ya, senyum itu adalah yang biasa ia keluarkan ketika bersama kami—Aku dan Fear.
“Dengarkan aku, Reiss....“
Aku pun hanya mengangguk pelan.
“Perjalananmu masih panjang. Ini hanya sebagian kecil dari kisah yang akankau lalui, karena sang Omega adalah langkah awal dalam penaklukan dunia. Kau harus menyadarinya—ughks!!—hah huh hah. Aku yakin kau pasti bisa melakukannya—“
“Maksudmu... ?”
“Selama ini kita telah ditipu oleh seseorang. Saat itu... saat ketika aku membawamu pergi dan kemudian menjatuhkanmu ke sini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkanmu. Aku tahu diriku adalah seorang yang pengecut, tetapi ketika ada yang membutuhkanku itu berbeda lagi”
“Jadi selama ini... “
“Dasar otak bodoh. Kau seharusnya sudah tahu apa yang harus kau lakukan... selesaikan apa yang telah menjadi tugasmu selama ini pangeran. Sebelum itu ambilah liontin di dadaku, ini akan membantumu dalam perjalanan selanjutnya, dan tolong jaga Fear. Selama ini selalu menangis karena tidak bisa membantumu... terakhir, tolong sampaikan salamku kepadanya... ”
"T-tunggu—"
"Reiss... "
"Hmm?"
"Ini sudah waktunya...."
Lalu matanya menutup perlahan-lahan. Saat itulah untuk pertama kalinya aku kembali menitihkan air mati demi sahabatku.
Setelah itu aku pun pergi untuk membebaskan Fear yang tidak sadarkan diri. Begitu juga menggunakan pedang Lionheart untuk menyembuhkan luka pada Oz, Aresya, dan Regin.
Pedang Lionheart memiliki fungsi lain sebagai katalis penyembuhan, tetapi harga yang harus dibayarkan adalah darah dari sang pengguna. Setelah beberapa saat aku melakukannya, semua luka pada tubuh mereka pun mulai menutuh perlahan-lahan.
Di sisi lain aku juga membebaskan Fear dari belenggunya lalu menidurkannya perlahan-lahan agar ia tidak terbangun.
Tiba-tiba saja bulu kudukku merinding mendengar suara dentangan yang berulang kali terus menggema di langit.
DANGG... DANGG... DANGGG!!!
Aku pun mendongakkan kepalaku.
"Aku terlambat....”
Langit terbelah, sepasang sayap melebar hingga menutupi seluruh langit. Warnanya hitam kelabu dengan bulu-bulu yang berguguran seperti daun cemara di musim gugur. Seluruh langit—tidak, aku yakin seluruh dunia kini telah tertutupi oleh keenam sayapnya itu.
Lalu dari balik sayapnya itu muncul sebuah mata yang besar. Sedangkan di tengah-tengahnya muncul sebuah kepala seperti gabungan naga dan juga iblis. Memiliki tubuh yang panjang, bahkan langit saja seperti ia lilit dengan
mudahnya.
Namun bagian terburuknya adalah ketika ia mengeluarkan sebuah bola hitam dan melesatkannya ke arah kerajaan.
__ADS_1
“TIDAKK!!!”
Saat itulah untuk pertama kalinya aku kembali melihat kejadian yang selama ini tidak ingin aku ingat kembali.