Sword Anthem

Sword Anthem
Chapter 33 - Keluarga Baru


__ADS_3

Sebelum kecerita utama kita intro dulu~


Hai semua! Nama gue ReIN dan terima kasih karena telah memberikan gue kesempatan untuk menemani malam jomblo loe! Jika kalian menyukai cerita ini maka berikan jempol ke atas dan jika tidak cukup vote lalu sebarkan cerita ini. Jangan lupa berikan komentar dan tips agar sang Author tetap semangat update ceritanya!


 


.


.


.


 


 


Di dalam rumah itu sebuah tangisan terdengar melengking dengan hebat layaknya ledakan meriam yang tak kenal ampun. Bergema sekaligus memantul di setiap inci sudutnya. Ternyata sumber suara itu berasal dari luar rumah.


Kemudian pintu itu pun terbuka dengan perlahan, memperlihatkan seorang perempuan dengan gaun putih anggun. Ia kaget ketika mengetahui seorang bayi dalam keranjang cokelat tengah menangis di depan pintunya.


Dengan kedua lengan lembutnya, sang perempuan pun langsung mengangkat bayi itu. Terlepas dari tangisannya yang keras nan membuat telinga sakit, tapi setelah ia berada dalam pelukannya, tangisan itu pun mereda.


Setelah itu sang perempuan pun membawa masuk ke dalam rumah. Ia pun membaringkannya tepat di tengah-tengah kasur dengan ukuran lebar yang kini berada di hadapannya. Dengan lembut dan pasti, nyaman dan juga tidak kasar.


Setelah berhasil meletakan bayi itu dengan sempurna, perempuan bergaun putih anggun itu kemudian membuka isi surat yang di letakan bersamaan dengan bayi itu tadi.


Terletak di tempat yang bayi itu simpan tadi, dan akhirnya ia membukanya. Tertera sebuah nama di lembaran kertas itu—


Reiss....


"Manna, lihatlah bukankan dia lucu."


Suasana yang cukup gelap di dalam ruangan itu, cahaya lampu lampion yang temaram seperti matahari terbenam. Menerangi tempat itu dengan cahaya oranyenya. Memantulkan beberapa siluet hitam di dinding.


Seorang perempuan yang tak kuasa melihat bayi yang kini sedang tertidur. Wajahnya memerah saking tak kuatnya ia untuk dapat menggendongnya.


"Tentu saja, sebentar lagi ia akan menjadi anggota keluarga ini," sahutnya dengan tersenyum kecil.


***


"Kak Manna, Gill mulai berulah lagi," ucapku pelan sambil menunjuk ke arah anak yang kusebutkan.


"Reiss," tepat setelah itu bukannya memarahi anak yang sedang kusebut ia malah mencubit kedua pipiku, "mengapa kau begitu menggemaskan sekali?" tanyanya dengan wajah yang merona.


"Aww ... bukan aku, tapi Gill. Lihatlah dia mulai mengambil makanan dari Leny lagi," gerutuku sambil mencoba melepas cubitan Kak Manna.


Entah sudah sejak kapan kejadian seperti ini terus menimpaku. Setahuku saat aku sadar kedua pipiku juga sudah di cubit seperti ini. Jika tidak salah aku mengingatnya ketika umurku baru saja menginjak 4 tahun.


Tempat tinggalku adalah sebuah panti asuhan di sebuah desa terpencil. Tapi, aku tidak terlalu tahu dengan tempat ini. Yang kutahu adalah Kak Manna menjadi Kakak angkatku di panti asuhan ini, sedangkan Ibu angkatku adalah....


"Manna, hentikan itu. Lihatlah Reiss jadi kesakitan," ujar seorang perempuan yang tiba-tiba saja menyelamatkanku.


Ya... dialah Ibu angkatku sekaligus perempuan yang pertama kali menemukanku. Ia adalah Maria, Ibu dari anak-anak di panti asuhan ini.


"Ibu .... hueeee," rengekku.


"Lihatlah gara-gara perbuatanmu itu, kau menakuti Reiss. Sudahlah Nak, kau tidak akan apa-apa, Ibu sudah bersamamu," ucapnya tegas kemudian melembut.


"Maaf maaf, habisnya Reiss menggemaskan."


Setelah itu Kak Manna pergi ke arah Gill dan Lenny berada. Ia membereskan masalah yang di buat olehnya untuk kesekian kalinya.


Tampaknya Lenny mulai tenang juga setelah makanannya di rebut oleh Gill.


"Reiss, tenanglah ... tenanglah," ucap Maria. "Dengar, kau akan mendapatkan seorang adik baru," lanjutnya dengan tersenyum kecil.


Mendengar kata itu aku pun luruh dan akhirnya tidak menangis lagi, "Adik?"


"Ya, seorang adik perempuan," jawabnya dengan senyum kecil lalu membawaku ke luar rumah.


Tepat sebelum taman bunga matahari berada, seorang gadis kecil sedang berjongkok sembari mengorek-ngorek tanah dengan sebatang kayu kecil.


"Nah Reiss, itu dia... Ibu tidak bisa membujuknya, ia selalu diam jika Ibu tanya, jadi tolong ajak main dia," ucapnya kemudian masuk kembali ke rumah.


Aku pun langsung menghampiri gadis kecil itu. Ia tampaknya kesepian dan terbebas dari itu sepertinya ia gadis yang ramah.


"Hai... kamu lagi apa?” tanyaku saat sampai di sana.


Gadis itu masih terdiam sembari terus mengorek-ngorek tanah dengan batang kayu yang ia pegang. Karena penasaran aku pun ikut berjongkok di sebelahnya. Saat aku melihat ekspresi wajahnya, ia tidak terlihat senang maupun sedih.


Seperti seorang manusia tanpa hati, lebih mirip seperti boneka.


"Kalau namamu?"


Ia sama sekali tidak merespons pertanyaanku, sehingga kurebut batang kayu itu lalu mematahnya. Anehnya ia sama sekali tidak keberatan, bahkan tanpa perlawanan sedikit pun... seakan-akan ia tidak memedulikan hal itu.


Walau ia sangat manis dan juga cantik. Rambutnya berwarna putih pucat dengan dua buah mata ungu violet yang indah. Kulitnya putih dengan jari-jemari kecil ramping yang sedang bergerak seperti ingin melakukan sesuatu.


Pakaiannya adalah gaun musim panas, aku bisa melihat dengan jelas kedua bahu indahnya.


"Jika kau ingin mencari serangga, maka seperti ini caranya," ucapku pelan namun kesal.


Ketika aku memberinya sebuah cara agar para serangga yang berada di dalam tanah keluar, samar-samar aku bisa melihat kilauan cahaya dari kedua matanya. Apakah ia tertarik dengan hal ini?


Saat ini aku masih menebak-nebak apa yang sebenarnya ia pikirkan saat ini. Tapi, semua itu tampaknya percuma hingga sebuah suara menyadarkanku kembali dari lamunan singkat nan dalam.


"Aku tidak mempunyainya," ucapnya tiba-tiba.


"Ohh ... jadi namamu—hehh?! Maksudmu kau tidak mempunyai nama?”

__ADS_1


Dengan reaksi yang spontan hampir saja aku mengeluarkan nada keras, untungnya mulutku terlebih dahulu menutup dibandingkan suaraku yang bocor karena kaget.


"Jadi selama ini orang-orang memanggilmu dengan apa?" lanjutku.


Ia pun menggeleng, "Aku hanya mengingat kejadian ketika aku di bawa ke sini oleh perempuan itu," sahutnya sambil meremas gaun bawahannya.


"Kalau begitu bagaimana dengan Silvya?" celetukku.


"Silvya?"


"Ya. Karena rambutmu berwarna putih dan juga matamu berwarna ungu, jadi Silvya," lanjutku sambil tersenyum lebar, memperlihatkan jajaran gigi putih dengan sisa remah-remah pada bagian dalamnya.


"Silvya ... vya ... vya." Wajahnya kemudian memerah.


"Hmm... untuk nama belakangnya, hmm .... Fie Fieghar, bagaimana? Walaupun terdengar aneh tetapi itu adalah hal yang pertama kali muncul di dalam benakku ketika kau mengulangi namamu," ucapku sambil menggosok-gosok bagian bawah hidungku dengan jari telunjuk kananku.


" ... "


"Ehhhh ... jangan diam saja, aku jadi malu"


"Uhmmmm.... "


Kali ini ia mengangguk dengan semangat dan mengeluarkan senyuman lebar sambil menggenggam kedua tangannya sendiri.


Kalau begitu, ayo. Aku akan mengenalkanmu dengan yang lainnya," ucapku semangat lalu menarik tangan kanannya sambil berlari menuju ke dalam rumah.


Saat kami berdua saling bergandengan tangan, Ibu Maria tersenyum lega sedangkan Kak Manna sedikit menggembungkan kedua pipinya yang putih. Ia pun berkata kepadaku 'Reiss mengapa kau tidak menggandeng tangan kakakmu ini?' lalu jawabanku 'Itu karena kakak jahat'.


Kak Manna awalnya terdiam namun akhirnya ia tertawa lepas sambil kembali mencubit kedua pipiku lagi. Aku menepisnya lalu kembali berlari ke ruang tengah untuk memperkenalkan yang lainnya kepada Silvya.


Kami pun sampai, Gill, Lenny, Cody, Mila, dan juga Jane sedang bermain kejar-kejaran di sana. Aku pun bersama dengan Silvya langsung ikut bersama mereka, pada awalnya mereka bingung siapa gadis kecil yang saat ini menggandeng tanganku.


Lalu aku menjelaskannya dengan singkat kepada mereka bahwa Silvya adalah adik baru mereka dan juga diriku. Tanpa perlu waktu lama mereka semua tersenyum lalu mengulurkan tangan mereka kepada Silvya, namun ia malu dan bersembunyi di balik punggungku.


Mereka semua tertawa lepas, sedangkan aku hanya tersenyum sambil menjelaskan kepada Silvya bahwa mereka tidak berbahaya. Setelah itu ia menjadi lebih tenang dan langsung bermain bersama mereka.


Pada awalnya ia cukup kesusahan karena mempunyai fisik yang tidak terlalu kuat. Aku membantunya beberapa kali untuk bangun, ia menerimanya dengan tangan hangat dan kemudian ia kembali bermain.


Waktu yang kami habiskan sangat lah menyenangkan dan mengasikan, terlepas dari itu jika aku bermain keluar desa ini. Ia selalu mengikutiku terkadang juga memegang baju belakangku.


Rasanya ia jadi lebih dekat denganku dibandingkan dengan mereka. setahun sudah berlalu kini usiaku menginjak 8 tahun dan Silvya berusia 4 tahun, pada suatu hari aku mendengar suatu guyonan yang mungkin terlalu di anggap serius olehnya.


'Aku ingin menikahi Kakak Reiss jika sudah besar' yahhh ... seperti itulah kurang lebih. Aku terkekeh-kekeh


ketika mendengarnya, terlebih lagi sekarang ia sudah seperti lem yang sangat lengket denganku.


Tetapi itu tidak bertahan lama ketika beberapa bulan saat umurku akan menginjak 9 tahun. Aku di adopsi oleh seorang bangsawan yang cukup kaya, padasaat itu aku dapat melihat tangisan di wajah semua saudaraku.


Terutama Silvya ia tidak mau melepaskan bajuku walau hanya sesaat. Aku merasa seperti bersalah karena harus meninggalkan mereka terlebih dahulu, tapi Kakak Manna membantuku untuk melepaskan Silvya dari bajuku.


Tangan Ayah angkat baruku cukup besar dan kini ia menggenggam tangan kananku lalu membawaku keluar. Setelah pintu tertutup aku dapat mendengar teriakanmereka memanggil namaku.


'Maafkan aku' kata pertama yang terucap dari mulutku ketika pintu itu tertutup. Hari mulai larut dalam kegelapan, kini aku berada di atas gerobak yang di tarik oleh kuda.


Suara itulah yang pertama kali aku dengar.


Tubuhku mulai beraktivitas kembali, aku pun menyingkap selimut kain cokelat yang menyelimutiku. Kemudian aku mendekati orang itu.


"Kau pasti canggungkan dengan hal ini? Panggil saja aku sesukamu, mau Ayah, Paman, atau yang lainnya juga boleh. Aku belum memperkenalkan diriku kepadamu ya? Namaku adalah Raphael," tuturnya dengan lembut.


"Sekarang kita akan ke mana?" tanyaku blak-blakan.


"Kita akan menuju ke Kerajaan Ronove, di sanalah kita akan tinggal."


Sebuah kerajaan? Pikirku. Suara roda yang berputar di jalanan bebatuan yang cukup kasar, mengentak dan terkadang bergetar. Suara kuda yang terenyuh ke dalam balutan malam hari ini tampak tenang.


Lampu lampion tergantung di sisi kiri-kanan gerobak ini, menerangi jalan yang akan kami lewati. Dan berjam-jam sudah kami lewati untuk menyusuri jalan ini. Kepalaku menyembul di pinggir kiri Ayah angkat baruku.


Aku bisa melihat sebuah tembok raksasa, dua buah obor menyala tepat di depan kami berdua. Sebuah gerbang dan ada beberapa penjaga sedang berdiri membawa dua buah tombak dengan ujungnya yang tajam.


Ada sebuah aliran sungai yang menjadi parit untuk pemisah antara jalanan yang kami lewati dengan tembok raksasa itu. Ketika ayah angkatku mengangkat tangannya, penjaga di sana mulai melambai dan sebuah jembatan mulai turun seiring uluran rantai besar.


Kini kami mulai pergi tepat ke arah para penjaga itu, sepertinya ayahku sangat akrab dengan mereka. Tak lama setelah itu gerbang mulai terbuka.


"Wahhhhh ... "


Aku termenung ke dalam lautan manusia yang sangat banyak. Mataku tak henti-hentinya melebar dan mulutku terkadang bergerak sendiri mengeluarkan perkataan yang membuat Ayah angkatku tertawa.


"Reiss, mulai hari ini. Di sinilah tempat tinggalmu hari ini, Kerajaan Ronove," ucapnya dengan tersenyum kecil.


Anggukan yang teramat berlebihan tak kuasa keluar dariku dan sebuah benturan sangat jelas aku rasakan. Luka merah tampak pada kepalaku karena terbentur bagian atas gerobak itu.


Ayah angkatku tertawa kecil dan setelah itu kami pun melanjutkan perjalanan kami berdua hingga menuju sebuah rumah besar. Di sana kami berdua di sambut oleh belasan pelayan yang berbaris rapi.


"Nah ... Reiss, mulai hari ini di sinilah rumah kita berdua."


Aku tersenyum kemudian berhambur menuju ke dalam rumah baruku.


Ruangannya sangat luas sekali, sentuhan kudapat tepat di atas kepalaku. Itu adalah Ayah angkatku, ia memberitahuku untuk segera pergi menuju kamar mandi terlebih dahulu untuk membersihkan diri.


Aku langsung menurutinya dan segera pergi ke kamar mandi yang telah di tunjukan olehnya. Karena sikapku yang terlalu bersemangat aku pun menghabiskan waktuku cukup lama di kamar mandi. Ketika aku sudah selesai dan membuka pintu—


"Whuaaahh!!.... "


"Hiii!!.... "


Aku kaget karena seorang perempuan atau lebih tepatnya pelayan membawakanku sebuah pakaian. Tapi, karena aku kaget dan dia juga kaget kami berdua saling berteriak. Untungnya tidak terlalu keras sehingga tidak meninggalkan keributan.


Namun aku sangat malu ketika seorang perempuan melihatku telanjang seperti ini, untungnya kawan kecilku tertutupi oleh handuk lilit yang cukup lebar.

__ADS_1


"Anoooo... Tuan Reiss, ini baju gantimu," ucapnya ramah.


Kutatap lekat-lekat wajahnya," Tuan?" gumamku.


Seorang perempuan berpakai pelayan dengan sebuah bando pada bagian atas rambut hitam panjangnya. Wajahnya cukup oval memiliki dua buah mata biru padam dengan bibir merahnya yang lumayan tipis.


"Tuan?" gumamku sekali lagi karena bingung.


"Ya, Tuan Muda Reiss? Apakah ada yang salah?" tanyanya dengan


wajah polos.


"Ahhh ... tidak, hanya saja aku tidak terlalu terbiasa dengan panggilan


tadi."


Wajahnya kini mulai mengerut bersamaan dengan dahi dan juga keningnya.


Setelah itu suara tawa kecil terdengar begitu aku menanyakannya.


"Hahahaha ... Anda cukup menyenangkan juga Tuan Muda Reiss, walaupun Anda masih baru di sini karena Tuan Raphael mengadopsi Anda. Mungkin ada beberapa pelayan yang tidak menyukai Anda karena tiba-tiba di angkat menjadi anak dari Tuan Raphael di sini, tetapi saya tidak keberatan jika Anda mempunyai sikap seperti ini," ucapnya dengan senyum kecil menghias wajahnya.


"Kalau begitu cepat, Tuan Raphael menunggu Anda di ruang makan."


Pelayan itu langsung membantuku untuk berganti baju tentu saja aku memintanya berbalik ketika menggunakan celana.


Lalu ia pun mengantarkanku menuju ruang makan. Setelah aku sampai di sana, jamuan yang sungguh menggiurkan terkapar dia tas sebuah meja dengan alas kain putih yang cukup mewah. Aku duduk atas sebuah kursi yang cukup sulit kujangkau.


Karena sepertinya pelayan yang tadi mengantarku sedikit khawatir ia membantuku duduk di kursi itu. ketika aku sudah berhasil duduk tepat di depanku, Ayah angkatku sedang menungguku.


"Karena kau telah tiba, mari kita langsung makan," tuturnya ramah.


Awalnya aku malu tetapi ketika melihat pelayan tadi yang membantuku untuk naik ke atas kursi ini tersenyum. Sedikit demi sedikit kutumpuk keberanian dan akhirnya aku ikut makan bersama dengan Ayah angkatku.


Setelah makan aku di antar ke kamarku oleh pelayan tadi dan ketika aku sampai. Betapa luar biasanya kamarku sekarang, seperti seorang pangeran saja. Sebuah tempat tidur yang luar biasa leba, meja kecil di sebalah kirinya, lemari baju di sebelah kanannya yang dekat jendela.


Dan kaca persegi panjang, lampu menggantung bundar dengan berbagai lampu kecil di setiap sisinya. Tubuhku cukup kelelahan dan aku pun langsung melompat menuju tempat tidur baruku.


Pelayan itu membungkuk sedikit kemudian mengucapkan selamat tidur kepadaku. Lalu ia pun pergi meninggalkan kamarku. Walaupun kepalaku kini banyak sekali pertanyaan yang ingin aku tanyakan tetapi karena kini sudah malam hari aku mengurungkan niatku untuk bertanya kepada Ayah angkatku kenapa ia ingin mengadopsiku.


Keesokkan harinya aku di beritahu oleh salah satu pelayan bahwa Ayah angkatku sudah menungguku di tempat latihan.


Pada awalnya aku bingung tempat latihan? Apakah aku akan di latih secara pribadi dengannya. Namun sepertinya mengasyikkan aku pun langsung berlari ke tempat latihan.


Berada di belakang rumahku, tak membutuhkan waktu yang lama untuk diriku sampai di sana karena aku hanya perlu berlari lurus melewati pinggir rumah untuk sampai di sana.


Aku pun sampai ...


"Whoaaaaa."


Dan sekali lagi aku kagum dengan tempat latihan itu, tidak hanya untuk berpedang saja.


Namun untuk memanah, untuk latihan bela diri, dan lain-lain, "Ahhh ... Reiss, kau sudah sampai rupanya. Ambilah ini," ucap Ayah angkatku lalu melemparkan sebilah pedang kayu ke arahku.


Aku pun langsung menangkapnya. Pedang kayu ini memiliki ukurannya yang cukup besar membuat tangan kecil serta ramping diriku kerepotan untuk memegang gagangnya.


"Apakah kita akan berlatih?" tanyaku gugup.


"Seperti yang kau lihat sendiri, Reiss. Ayah barumu ini akan mengajarkanmu seni berpedang, untuk awal mari kita dengan mempelajari dasar-dasarnya."


Aku pun langsung menghampiri Ayah angkatku di sana tepat di tengah lapangan berumput hijau. Sangat luas dan untungya cuaca bersahabat sekali hari ini. Tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin, cukup hangat namun juga sekaligus mendinginkan pikiran.


"Baiklah, mari kita mulai," ucapnya kemudian mulai memberitahuku cara menggunakan sebuah pedang kayu dengan benar.


Ia memberitahuku walau itu hanya sebuah pedang kayu dan ia adalah Ayah angkatnya. Tapi anggap bahwa pedang kayu itu adalah sebuah pedang asli yang dapat menyelamatkan banyak kehidupan dan dapat mempertahankan sebuah harga diri.


Sedangkan dirinya di anggap seperti sebuah musuh dalam selimut yang seakan-akan menghunuskan pedangnya secara diam-diam tepat di belakang punggungmu. Aku pun menganggap itu dengan sungguh-sungguh karena perkataan Ayahku angkatku.


Lalu dengan ajaibnya aku dapat melakukannya dengan baik. Serangan samping, bawah kemudian sebuah tusukan secara bertahap. Staminaku yang belum pernah aku asah gampang sekali terkuras dan alhasil aku pun cepat kelelahan.


"Kalau begitu kita istirahat dulu sebentar, setelah itu kita akan melanjutkannya lagi setelah staminamu kembali," ucapnya ringan.


"Baiklah."


Aku pun langsung berbaring tepat di tengah-tengah lapangan berumput hijau itu.


"Mengapa Anda mengadopsiku?" tanyaku spontan.


"Karena sebuah hutang," gumamnya pelan.


"Maaf?"


"Tidak usah di terlalu di pikirkan, aku hanya menginginkan seorang anak laki-laki saja, tidak ada yang aneh kok," jelasnya sambil memainkan pedang kayu di tangan kanannya.


"Lalu mengapa tidak menikah saja, lagi pula Ayah memiliki wajah yang terbilang tampan kok," tuturku polos.


"Yah, ada beberapa masalah... salah satunya aku gugup ketika berhadapan dengan seorang perempuan"


"Ehhhh?!!! Bohongkan? Lalu mengapa begitu santai dengan para pelayan?" tanyaku lagi karena tidak percaya dengan baru saja yang ia katakan.


"Ayahmu ini adalah tipe orang yang malu ketika dihadapkan pada urusan seperti itu. Jika dibandingkan dengan para pelayan yang sudah lama tinggal di sini, itu berbeda... simpel, kan?"


Simpel jidatmu.


"Yah ... masing-masing orang pasti memiliki hal tersembunyi, "ucapku ringan.


Kami berdua larut ke dalam perbincangan yang lucu dan terkadang membuat perut kami berdua sakit. Hal pertama yang kurasakan adalah ...


"Mempunyai sebuah keluarga itu menyenangkan," gumamku pelan.

__ADS_1


"Huh?"


"Tidak, bukan apa-apa."


__ADS_2