Sword Anthem

Sword Anthem
Chapter 27 - Sebuah Rumor


__ADS_3

Akhirnya kami berdua sampai di ruang makan. Berbagai makanan yang Bibi Emma tawarkan kepada kami berdua sangat lah beragam, bahkan selain makanan utama. Makanan penutup serta berbagai manisan tersaji begitu mewah.


Semua itu terdapat di atas meja. Beberapa kursi juga terlihat telah di susun bersama dengan sebuah bantal kecil pada bagian bawah tempat duduknya.


"Apakah hanya kami berdua yang makan di sini," tanyaku setelah duduk.


"Tidak, sebenarnya tidak hanya kalian berdua yang menginap di sini," sahutnya dengan khawatir.


“Lalu?"


"Mereka semua kebanyakan adalah para kesatria maupun pendekar, tetapi semenjak kedatangan Pembantai Penyihir. Mereka semua meninggalkan penginapan ini untuk bertugas."


Dari wajahnya yang mulai mengerut pertanda akan kegusaran sebuah hati. Sepertinya orang yang memiliki Pembantai Penyihir ini bukanlah orang biasa.


"Apakah ini yang Anda maksud?" Aku pun menunjukkan poster yang sebelumnya tidak sengaja aku dapatkan.


"Saya juga penasaran, apakah orang ini sangat ditakuti di kota ini? Bukankahkota ini dipenuhi oleh kesatria dan para penjaga," timpal Fear dan ia pun mulai duduk di sampingku.


"Ya, benar itu adalah gambar si Pembantai Penyihir. Tetapi, mengapa kau mempunyai poster itu, Nak?" tanyanya. "Walaupun kota ini terkenal karena banyaknya para kesatria dan penjagaannya yang ketat, sayangnya karena kehadiran si Pembantai Penyihir ini yang sangat kuat menjadikan para kesatria dan penjaga di kota ini tidak ada apa-apanya," lanjutnya.


Fear tiba-tiba saja merapatkan tubuhnya dan mulai menelaah wajah sang Pembantai Penyihir yang berada di poster, “Poster ini tadi menabrak wajahku ketika di kamar," tuturku ringan.


"Ohhh ... sepertinya para penjaga kekaisaran mulai beraksi."


Kekaisaran? Apakah si Pembantai Penyihir ini begitu kuat hingga harus mengerahkan penjaga kekaisaran. Tetapi, jika mereka mulai bergerak berarti orang ini memiliki tingkat bahaya yang sangat tinggi.


Di dalam spekulasiku ini yang belum tentu benarnya tersirat pesan yang mengarah kepada para korban.


"Eumm... si Pembantai Penyihir yang kuat ini biasanya membunuh penyihir seperti apa?" tanyaku.


"Hmm ... kalau tidak salah akhir-akhir ini sudah di laporkan sekitar 13 penyihir mati. Di antaranya ada seorang bangsawan dan sisanya hanyalah penyihir biasa," jelasnya pelan.


Jadi seperti itu, berarti dugaanku benar.


Baru saja selamat dari sergapan mayat hidup dan serangan Golem. Kini aku yang menginginkan ketenangan bersama Fear harus terganggu dengan si Pembantai Penyihir ini.


"Lalu sejauh ini apakah dia pernah membunuh orang biasa?"


"Tidak, rata-rata korban adalah bangsawan," jawabnya sambil mengorek-ngorek pipi kanannya.


"Jadi seperti itu, terima kasih atas informasinya. Kalau begitu saya ingin makan dulu," ucapku dan langsung menyambar makanan yang berada di depanku.


Fear tampaknya telah selesai dengan penelaahannya dan setelah itu ia langsung ikut bersamaku menyantap sarapan pagi. Bibi Emma hanya tersenyum melihat tingkah lakuku, ia pun langsung pergi ke belakang rumah setelah melihat diriku dan juga Fear telah selesai menyantap.


Tapi pengetahuan Bibi Emma ini cukup menarik, siapa sangka seorang wanita lanjut usia dapat memiliki informasi


seperti itu.


Begitu kami keluar, pemandangan kembali berganti, dan warna semerbak kehidupan dapat aku lihat dari aktivitas orang-orang.


Udara yang sejuk, wajah berseri penduduk, dan obrolan pagi dapat aku dengar begitu jelasnya. Ada juga beberapa kesatria yang sedang berpatroli lengkap dengan perlengkapannya.


Selain itu juga terdapat sekumpulan gerobak jerami yang mengambil jalur pinggir, mungkin itu adalah jalan yang dikhususkan untuk mereka?


Sekilas kepalaku mendongak menatap sebuah menara jam yang tinggi. Jarumnya menunjukkan pukul enam pagi.


Setelah itu kami mulai melihat-lihat kota ini, Fear menyebutnya sebagai Ibu Kota Ignia--itulah nama kota ini.


Bentuk kota ini seperti lingkaran, dari bagian terluar yang datar hingga terdalam yang menanjak sedikit demi sedikit. Pada bagian pinggirnya adalah tangga-tangga kecil. Beberapa toko telah buka.


Dari mulai toko bunga, roti, senjata, pakaian, sayuran hingga buah-buahan. Warna-warni yang di tunjukan kota ini kepada kami berdua sangatlah memukau.


Fear memeluk lengan kiriku sangat erat. Wajahnya berseri sekali dengan bibir merah mudanya yang mungkin akan menyapaku setiap pagi dari mulai sekarang.


Tidak lama berselang, akhirnya kami sampai di sebuah taman. Anak-anak yang berlari-lari sambil memegang roti panggang yang cukup besar membuat Fear tertawa kecil.


"Jika kita sudah memiliki rumah ... kau ingin mempunyai berapa anak, sayang?" tanyanya dengan lembut.


"E-ehhhh... t-tentang itu kita bisa pikirkan dulu nanti," sahutku cepat nan gagap.


ANAKKK!? Aku belum siap ... aku belum siap.


Sekali lagi ia hanya menimbaliku dengan tawa kecilnya. Aku juga dapat melihat sebuah pohon besar sebagai pusat perhatian, di sekelilingnya terdapat bunga-bunga bermekaran.


Saluran air mengalir di bawahnya seperti jalan khusus, bercabang dan juga kecil. Bangku-bangku kayu yang terpisah di buat melengkung untuk menyesuaikan dengan tempatnya.


Aku memilih bangku dekat pohon itu, sedangkan di lain tempat ada seorang nenek-nenek yang sedang memberi makan burung gereja dengan remah-remah roti. Di sisi lain ada dua orang anak kecil yang saling berargumen tentang sesuatu yang tidak aku mengerti.


Ada juga yang sedang tertidur sambil di tutupi surat kabar. Ada sepasang keluarga yang sedang bermain juga.


"Bukankah kota ini sangat hidup sekali, iya, ‘kan, sayang?" tanyanya lalu menidurkan kepalanya di pundakku.


"Ya. Kota ini memang sangat hidup. Walaupun seorang Pembantai Penyihir sedang berkeliaran di kota ini."


Aku hanya ingin bertanya mengapa mereka begitu santai selagi Pembantai Penyihir bisa saja berkeliaran di antara mereka.

__ADS_1


Pasti ada yang salah tentang ini, "Apakah kau masih memikirkan tentang hal itu?" ia pun bangun dan langsung menatapku.


Aku pun langsung menyamping agar dapat saling berhadapan dengannya. Setelah itu mengangguk pelan, "Ya. Sebenarnya itu sedikit menggangguku. Akan sangat aneh sekali jika seorang yang dapat di katakan sebagai pembunuh berkeliaran di kota ini, tetapi mereka sangat tenang, dan tidak terlihat gelisah," tuturku gamblang.


"Kau tahu, baru saja aku telah selesai memeriksa sifatnya, dan anehnya aku tidak bisa melihat jelas seperti apa jati dirinya," ucap Fear sambil memegang kedua tanganku.


"Maksudmu dia tidak dapat kita definisikan?"


"Mungkin iya mungkin juga tidak, ada sedikit aura putih yang mengelilingi kedua matanya ketika aku melihat wajahnya di poster tadi"


"Sepertinya teka-teki baru harus kita ungkap sekarang," gumamku pelan.


"Apa?"


"Ah ... tidak, bukan apa-apa. Bagaimana jika sekarang kita berkeliling di kota ini terpisah," saranku.


"Kenapa? Aku masih ingin bersamamu," rengeknya. "Apa jangan-jangan kau belum puas dengan ciuman tadi pagi?"


"Tidak ... itu jelas-jelas memuaskanku 'walau tidak sepenuhnya sih' maksudku adalah kita bisa mengunjungi tempat yang belum kita ketahui, saat kita telah selesai kita bisa menceritakannya lalu pergi ke sana bersama-sama," jelasku meyakinkan.


"Hmm...." Kini Fear memandangi kedua mataku dengan tatapan curiga, "Apa kau ingin selingkuh dariku?!" ketusnya dengan tatapan menakutkan.


"B-bukan seperti itu," sanggahku cepat namun gagap, setelah itu aku mengangkat tubuhnya dan meletakannya tepat di atas pangkuanku.


Kini aku bisa memeluknya dari belakang dan kepalaku menyembul dari bagian samping kanan kepalanya.


"Dengar, ehmmm... aku penasaran dengan rasa minuman keras di sini, jadi—“


"Jadi?"


"Aku tidak mau kau ikut karena mungkin saja aku akan mabuk, ya seperti itulah. Bukankah aku pernah bilang kepadamu, jaga tubuhmu baik-baik karena kau sekarang adalah istriku. Nah karena itu aku tidak ingin kau ikut masuk ke dalam toko minuman keras... aku penasaran dengan rasanya jadi kau pasti mengerti kan?"


Awalnya ia hanya terdiam tanpa berkata apapun. Tetapi, tiba-tiba saja aku bisa mendengarnya tertawa kecil, lalu mengecup pipi kiriku.


"Baiklah, aku mengerti. Seharusnya kau bilang dari tadi," ucapnya dengan wajah yang gembira.


"K-kalau aku mengatakannya dengan jelas, bisa-bisa aku malu setengah mati," sahutku terbata-bata.


Wajah Fear lagi-lagi berseri dengan gelak tawa kecil yang sesekali membuatku malu.


"Kalau begitu peluk lebih erat lagi, aku ingin seperti ini untuk beberapa saat. Rasanya sangat menyenangkan sekali."


Kicau burung yang berterbangan dengan bebas memberikan lagu hari yang baru. Dengan tambahan instrumen alam yang berhembus di setiap saat. Riak tawa dan senyuman menghias perbincangan kami berdua saat ini.


Fear yang selalu bertanya kepadaku tentang anak selalu membuatku kewalahan dan  bahkan ia pun tertawa kembali dengan wajahnya yang manis. Kami berdua menghabiskan waktu di taman ini hingga siang hari.


Sekarang jalanan ini lebih mirip seperti pecahan kristal di banding dengan sebuah bongkahan batu yang disusun secara acak. Sebuah jembatan yang harus aku lewati dan akhirnya aku pun tiba di kedai bir.


Kudorong pintu itu, sebuah pintu dengan engsel yang sedikit rusak menimbulkan bunyi yang mendecit. Aku pun masuk dan tatapan para pengunjung terarah kepadaku, awalnya hening tapi kembali ramai.


Seorang lelaki berkumis kecil dengan sebuah kaca mata bundar pada mata kanannya sedang beratraksi di samping kiri. Sebuah meja dengan berbagai gelas dan berbagai minuman di pajang dengan cukup rapi.


Aku pun langsung mengambil kursi di dekat meja sang pemilik toko.


"Tuan ingin memesan sesuatu?" tanyanya begitu aku telah duduk di kursi.


"Minuman terbaik yang ada di sini, tolong."


Setelah itu ia pun mengangguk lalu secara cepat mengambil beberapa botol di belakangnya.


Rangkaian lemari yang di simpan secara apik, di setiap selanya ada botol-botol minuman yang terlihat enak. Dengan desain bunga mawar biru yang awet tumbuh di atasnya.


Setelah mengambil beberapa botol itu, sang pemilik toko langsung membuka sebuah lemari yang berisikan buah-buahan segar. Ia pun mengambil buah apel dan juga belimbing, lalu memotongnya dengan rapi dan menyajikannya di atas sebuah nampan kayu.


Sedangkah untuk botol minuman itu ia tuangkan ke dalam gelas bundar yang cukup besar. Lalu mengocoknya dengan cepat, dan terakhir ia tuangkan ke dalam gelas kayu yang besar.


"Pesanan Anda telah selesai tuan, segelas Ale spesial. Anda bisa mencelupkan buah yang telah saya potong tadi ke dalam ini lalu meminumnya secara bersamaan," jelasnya, membungkuk lalu ia pun pergi meladeni pelanggan yang lain.


"Ale, huh? Apa itu," gumamku. " Yang penting aku mencobanya dulu,” gumamku dan langsung meneguknya dengan pelan.


Aku bisa merasakan sedikit kecut dengan tambahan manis dan juga masam yang secara bersamaan menyengat lidahku. Entah mengapa perasaanku seperti mengambang, lalu tiba-tiba saja sebuah sentuhan hangat menyapa pundakku.


"Hei, Nak. Apakah ini pertama kalinya kau mencoba Ale?"


Suara yang sedikit serak, tapi dalam dan juga bersahabat itu membuatku langsung menurunkan gelasku. Sontak aku pun langsung menoleh ke arah sumber suara.


Seorang lelaki yang berperawakan tinggi. Rambutnya putih seperti cahaya bulan, dengan kulit yang sedikit longgar. Berpakaian seperti pendekar, pada bagian mata kirinya terdapat bekas luka cakaran yang cukup jelas.


"Y-ya, aku baru pertama kali mencobanya," jawabku gugup.


" Hahahaha... anak muda sekarang ini sangat menarik. Apakah kau baru datang ke kota ini, Nak?" tanyanya sambil meminum sebuah susu hangat.


"Begitulah," jawabku singkat.


"Apakah kau mengincar si Pembantai Penyihir ini juga?" tanyanya lalu mengeluarkan poster dan menunjukkannya ke arahku. "Imbalannya tinggi, tetapi kemungkinan untuk menangkapnya sangatlah sulit."

__ADS_1


Ia pun menjelaskannya dengan sangat gembira walaupun ia baru pertama kali bertemu denganku. Ia juga menjelaskan bahwa dirinya juga sedang memburu lelaki yang berada di poster itu.


"Emm?"


"Wajah itu... kau tidak usah mengetahui diriku siapa, yang penting kita akrab, betul, ‘kan? Hahahaha."


Dengan raut wajahnya yang bersahabat mungkin aku memang tidak perlu mengetahui siapa dirinya. Tetapi yang aku tahu, ia adalah seorang kakek-kakek yang sangat bersemangat dengan mata membara yang masih muda.


"Lalu mengapa kau memberitahukan informasi itu kepadaku? Bukankah itu sedikit mencurigakan?" tanyaku mengantisipasi.


"Seperti yang kau tanyakan, mengapa aku memberitahukannya? Itu karena aku mempunyai firasat waktuku tidak banyak. Terlebih aku bisa melihat sesuatu yang menari darimu," jelasnya. "Tidak seperti kesatria-kesatria yang


banyak omong itu," lanjutnya dengan mata menyipit.


Jadi seperti itu, aku turut sedih mendengarnya.


"Jika aku tidak salah dengar, orang ini selalu muncul untuk memetik bunga di malam hari, ‘kan?"


"Pendengaranmu bagus sekali, Nak. Bunga itu adalah Bunga Lili Malam, sangat sulit sekali di temukan. Tetapi, kota ini memiliki tempat istimewa yang memungkinkan bunga tumbuh dengan subur. Karena itulah ia sering terlihat sedang memetik bunga tersebut," jelasnya sambil memeragakannya dengan kedua tangannya yang sudah keriput.


"Hmm... ternyata ia memiliki kebiasaan seperti itu, huh?"


"Ya, lebih singkatnya mungkin seperti itu, jadi berhati-hati lah, Nak. Ia sangat andal dalam memainkan pedangnya, sudah banyak konglomerat dan juga bangsawan yang mati di tangannya terutama para penyihir."


Setelah itu ia langsung meneguk susu hangatnya lagi hingga habis. Bangkit dari tempat duduknya lalu menyentilkan sebuah koin emas ke arahku.


"Aku yang traktir, jadi nikmati itu selagi ada, Nak," ucapnya sambil meninggalkanku.


Aku hanya bengong lalu sesekali menyeruput Ale ini dengan wajah kagum, "Whoaaaa... ehkk, asam."


Sepertinya aku mempunyai firasat buruk tentang ini, bunga?


***


Fear yang sedang melihat-lihat bunga di dalam rumah itu mulai terpikat dengan sebuah bunga berwarna putih kebiruan. Lalu ia pun bertanya kepada pemilik toko.


"Kalau boleh tahu, ini bunga apa/"


Lalu seorang wanita berambut hitam panjang pun datang menghampirinya.


"Itu adalah Bunga Lili Malam, sangat langka sekali untuk di dapatkan. Bukan kan itu indah," jawabnya.


"Ya, indah sekali 'ku harap Reiss akan menyukainya jika aku


memakainya' ehmmm ... jika boleh tahu apakah bunga ini masih ada?"


"Maaf. Bunga itu telah habis. Bunga yang sedang kau lihat itu telah di pesan jauh-jauh hari," sahutnya.


"Ahhhh... sayang sekali."


Fear pun termenung mendengarnya, wajahnya sedikit kecewa.


"Tetapi jika Anda ingin mencarinya, Anda bisa keluar kota ini pada malam hari untuk memetiknya," ucapnya. "Tetapi, sebaiknya Anda pergi bersama seseorang ketika ingin memetiknya, karena saat malam hari sangat lah


berbahaya"


"Terima kasih atas sarannya, kalau begitu saya pamit terlebih dahulu," ucap Fear sambil membungkuk sedikit lalu akhirnya pergi dari tempat itu.


Kini di dalam pikirannya, ia sangat ingin sekali untuk memetik bunga itu untuk di jadikan kejutan bagi suaminya, Reiss. Mengingat saran sang pemilik toko, ia pun menggeleng pelan, dan menguatkan niatnya.


Sebelumnya ia diberi tahu bahwa bunga itu tumbuh di sekitar taman bunga di luar kota. Namun bagaimana ia bisa keluar kota jika banyak sekali penjaga yang menjaga gerbang utama.


Dan di situlah ia berpikir untuk menggunakan sayapnya yang sudah lama ia tidak gunakan. Tidak lama setelah itu pun mencari tempat sepi dan segera terbang menggunakan sayap putih yang tersimpan di balik punggung putihnya.


Begitu ia berhasil pergi keluar kota. Ia pun mendarat, lalu berjalan menapaki jalan penuh pepohonan pinus yang tinggi, dan tepat di ujungnya terdapat sebuah taman luas yang membentang sungguh indah.


Bulan pun tiba di takhtanya, tepat di atas langit. Awan kelabu yang kebiruan mengambang di sekitarnya. Angin berhembus cukup pelan di kala itu, suara langkah kaki yang terburu-buru akhirnya keluar dari dalam hutan pinus.


Ia pun tiba tepat di tengah taman itu. Ia tak sengaja melihat seorang lelaki berambut putih di ikat sedang berdiri di sebelah kanan taman. Bunga Lili Malam yang indah bermekaran dimana-mana, menghias tempat ini dengan warna putih terangnya yang cantik.


Lelaki itu tidak berbahaya saat Fear melihat sifatnya, dengan menelaah aura yang terdapat di sekitar tubuhnya. Akhirnya ia pun pergi mendekatinya dengan santai. Dan tak lama kemudian ia pun sampai tepat di belakang lelaki itu.


"Nehh... apakah kau juga ingin memetik Bunga Lili Malam juga?" tanya Fear dengan senyum tipis.


Lelaki itu pun berbalik. Wajahnya kini tidak dapat di baca oleh Fear. Dengan dua buah mata merah yang seperti darah. Ia membawa sebuah pedang tipis di samping kiri pinggulnya.


Baju hitam dengan jubah putih kebiruan. Berkibar-kibar tertiup angin malam yang dingin. Ia hanya memasang wajah dingin sebelum bibirnya bergerak.


"Akhirnya... aku menemukanmu...," gumamnya pelan.


.


.


.

__ADS_1


Hai semua! Nama gue ReIN dan terima kasih karena telah memberikan gue kesempatan untuk menemani malam jomblo loe! Jika kalian menyukai cerita ini maka berikan jempol ke atas dan jika tidak cukup vote lalu sebarkan cerita ini. Jangan lupa berikan komentar dan tips agar sang Author tetap semangat update ceritanya!


dan tambahan...  cerita ini akan vakum beberapa hari karena sang Author lagi kurang sehat dan memerlukan BedRest :"


__ADS_2