Sword Anthem

Sword Anthem
Chapter 21 - Cerita di Balik Keajaiban


__ADS_3

Di taman itu terdapat seorang gadis kecil, ia senang sekali mengejar kupu-kupu dengan bebas. Berlari ke sana-kemari dengan riangnya. Senyumnya yang sangat manis dapat membuat orang-orang di sekitarnya menjadi tenteram.


Tiba-tiba saja ia terjatuh, pada saat itu ia hanya seorang diri, dan tidak ada siapa-siapa lagi. Tetapi, entah dari mana sebuah tangan tiba-tiba memberikannya bantuan. Tangan itu sangat hangat sekali, sampai-sampai anak


kecil itu tidak mau melepaskannya.


Lalu ia pun mendongak, melihat sebuah wajah yang sangat hangat. Sorot matanya sangat lah jantan, ia seorang anak laki-aki. Kemudian anak laki-laki itu membantunya berdiri.


"Ahhh ... terima kasih, namaku adalah ... ," ucapnya sambil tersenyum. "Kalau kamu?"


Anak laki-laki itu memandang langit lalu melepaskan genggaman tangannya. Ia mencabut segenggam rumput lalu ia melemparnya hingga bertebaran.


"Namaku adalah... Reiss"


Lelaki itu kemudian tersenyum kepadanya. Tetapi, sebuah suara tiba-tiba memanggilnya dan akhirnya ia berpisah dengan lelaki itu.


"Reiss... kemarilah, Ayah dan Ibu sudah pulang."


Aku langsung melirik asal suara itu dan rupanya ia adalah Kakakku, Ray, "Kalau begitu semoga kita bisa bertemu lagi kapan-kapan," ucapku lalu pergi meninggalkannya.


Gadis kecil berambut cokelat pendek itu mencoba menghentikanku dengan mengapit bagian bawah bajuku dengan erat. Aku hanya tersenyum kecil kepadanya, lalu melepaskan tangannya dari bajuku.


Setelah itu aku segera pergi ke arah sumber suara itu sambil melambaikan tangan. Tidak lama setelah itu  aku


sampai di sumber suara itu, "Kak, tadi kakak teriak Ayah sama Ibu sudah pulang, ya?"


"Seperti yang Kakak bilang tadi, Ayah dan Ibu memang sudah pulang. Kalau begitu mari kita sambut mereka berdua," sarannya dengan tersenyum kecil.


Aku mengangguk dengan semangat, kemudian menemani Kakakku menuju istana. Waktu sungguh tak terasa dan kini kami berdua telah sampai di dalam istana.


Dua orang yang saling bergandengan tangan terlihat dalam pandanganku. Aku kira itu adalah para pelayan namun rupanya salah, mereka adalah Ayah dan Ibuku. Seketika aku pun langsung berlari ke arah mereka sambil berteriak.


“Ayahhhh!! ... Ibuuuu!!"


Mereka berdua pun langsung menoleh lalu tersenyum ke arahku. Aku langsung melompat dan mendarat dalam pelukan mereka berdua.


"Selamat datang kembali, Ayah... Ibu."


"Reiss, anakku ... kau selalu ingin dimanja. Berbeda dengan kakakmu ... Ray, bicara tentang Ray sekarang ia ada di mana?" ucap Ayahku.


Ayahku memiliki penampilan seperti lelaki paruh baya yang tinggi. Aku yang hanya setinggi perutnya saja merasa ia seperti seorang raksasa. Berambut hitam cukup basah dengan janggut kecil mencuat dari dagunya yang mulus.


Menggunakan jubah merah yang menjulur hingga ke lantai dengan bulu-bulu putih pada bagian pundaknya. Sebuah mahkota emas terpasang di atas kepalanya yang cukup bundar dan kotak.


Matanya yang sayu memberikan kesan hangat dan bersahabat. Dengan dua buah lengan yang lebar dan besar, pas sekali untuk kepala kecilku. Dymia Veil Reizhart, itulah nama Ayahku sekaligus raja di kerajaan ini.


"Ayah ... Kakak ada di sana," ucapku berbalik lalu menunjuk seorang anak lelaki yang tampan.


"Apakah Ayah memanggilku?" Tiba-tiba saja suara itu muncul.


Lelaki itu berambut pirang samar dengan dua buah mata yang merah padam. Memiliki kulit putih dan lekukan bibir yang sangat memesona. Ya, dia adalah Kakakku. Ray Veil Drag Reizhart, putra pertama, dan sekaligus pangeran pertama di kerajaan ini.


"Ahhh ... Ray, kau menjaga Reiss sepanjang waktu?... maafkan ibumu yang jarang bersama kalian."


Suara itu begitu lembut seperti alunan harpa yang di mainkan oleh malaikat.


Perempuan berambut hitam gelap yang anggun. Memiliki proporsi tubuh ideal dengan penampilan yang sangat luar biasa cantik. Viona Enthesquisya, itulah nama Ibuku. Malaikat tercantik yang berada di kerajaan ini.


"Tidak apa-apa Bu, sudah tugas seorang Kakak menjaga adiknya tercinta," ucap Ray lalu ia pun mendekatiku.


"Hahaha... Ray, Ayah bangga padamu," ucapnya lalu kembali mengelus kepalaku dengan lembut.


"Hehehe... Ayah hentikan, itu geli," ucapku lalu segera berlari ke samping Kak Ray.


"Kalian berdua benar-benar sangat akrab sekali, Ray ... jagalah adikmu yang manja ini ya," ucap Viona lembut. "Ibu dan ayah akan menghadiri rapat dewan langit terlebih dahulu, jadi tolong temani Reiss."


Setelah itu mereka berdua pun berjalan pelan meninggalkan kami berdua.


"Kalau begitu, Reiss. Ayo sekarang kita latihan terlebih dahulu, Kakak tidak akan bermain pelan lhoo ... hahaha," ucapnya.


Lalu tidak lama kemudian sepasang sayap muncul dari punggungnya, membawanya pergi mengapung di udara.


"Ahhh ... Kakak curang, aku belum bisa mengeluarkan sayapku," protesku sambil memasang wajah tidak mau kalah.


"Kalau begitu, ayo."


Ia pun langsung menarik lenganku. Kini ia membawaku terbang bersamanya dengan pelan di lautan langit biru. Melewati lorong dan juga taman depan kerajaan.


Beberapa saat kemudian kami telah berada di tempat latihan kami berdua. Kakakku menurunkanku dengan pelan, kemudian ia segera kembali menyembunyikan kedua buah sayapnya dengan lembut.


Beberapa helai bulu putih yang cukup transparan mengapung dengan lamban di udara, lalu menghilang tertiup angin. Aku yang terlena karena bulu-bulu itu begitu kaget ketika sebuah benda tiba-tiba melayang ke arahku.


"Reiss, ambil ini!” ucapnya lalu melempar sesuatu ke arahku


"Hehhh ... aww!"


Sebuah pedang kayu yang cukup besar ukurannya mendarat tepat di kepalaku dengan keras. Aku pun terhuyung jatuh karena sakit. Kakakku lalu datang dengan tergesa-gesa ke arahku. Wajahnya cukup khawatir dengan tingkah laku yang sangat perhatian.


"Reiss?! Apa kau tidak apa-apa? Maaf kakak kira kau tidak melamun," ucapnya kemudian mengelus kepalaku.


"Ehmm... ya tidak apa-apa."


Aku yang merasakan bagaimana rasanya di elus memasang wajah yang tenang tapi menikmatinya dengan kedua buah pipi yang merah dan juga cukup menggembung.

__ADS_1


"Kalau begitu, mari kita mulai latihannya."


Segera setelah itu aku pun bangkit di bantu oleh Kakakku. Lalu ia pergi berjalan berlawanan arah dengan diriku berada. Ia kemudian memasang kuda-kuda yang cukup serius.


Aku yang melihatnya ikut memasang wajah yang serius. Cukup untuk membuatku berpikir bahwa Kakakku adalah seorang jendral perang, walaupun ia sebenarnya memang seorang jendral perang.


Di juluki sebagai 'Miracle Kid' walaupun usianya terpaut sekitar 146 tahun. Sedangkan diriku masih 59 tahun. Di dalam kerajaan yang terletak di atas langit ini, semua makhluk hidupnya memiliki umur yang sangat panjang.


Raja dan ratu seperti orang tuaku hampir bisa mencapai ribuan tahun, tapi untuk rakyatnya sendiri yang tidak memiliki darah istimewa hanya terpautsekitar 1000-1350 tahun. Di usiaku yang sekarang, aku hanyalah seorang bocah.


Sedangkan Kakakku adalah remaja yang mulai tumbuh besar. Jika dalam umur manusia biasa mungkin aku baru berumur 4 tahun dan Kakakku sekitar 8 tahun. Namun dengan ukuran tubuhnya yang seperti itu ia seperti berumur 270 tahun.


Tinggi badan yang proporsional, di tambah dengan ketampanannya yang sangat di idam-idamkan oleh lelaki lain.


"Apa kau siap, Reiss?"


"Ya, aku siap."


Lalu Kakakku pun berlari ke arahku dengan cepat, ia melesatkan dua buah entakkan kecil secara acak dengan pedang kayu yang ia genggam. Aku yang lumayan terbiasa dengan serangannya mulai bisa melihat arah datangnya serangan itu.


"Pasti kiri lalu atas," gumamku lalu menyejajarkan pedangku ke arah vertikal dengan kemiringan 45 derajat.


Dan benar saja serangan itu mendarat tepat di samping pedang kayuku. Berkat itu Kakakku sedikit terkejut. "Kau sudah bisa menguasainya, Reiss. Kalau begitu Kakak akan sedikit cepat sekarang."


Dalam keadaan seperti itu ia memutar kakinya lalu melancarkan serangan lebar yang kuat. Pedang kayu yang aku genggam kembali dengan posisi bersiap.


Serangan itu berhasil kutangkis kembali, tapi tubuhku terseret cukup jauh, seperti ada yang menarik kakiku, tetapi aku tidak mengetahuinya sama sekali, "Kak, aku juga akan serius."


Tubuh kecilku yang mulai terbiasa dengan serangan Kakaku akhirnya bereaksi. Kedua kaki kecilku pun berjalan cukup lincah dengan mengacak pandangannya. Berlari zig-zag, lalu berputar menggunakan kaki kiriku saat berada tepat di hadapannya.


Sebuah lesatan horizontal yang miring, melesat dengan cepat dari arah kanan bawah hingga ke kepala. "Hehh... Reiss, kau cukup mahir juga ternyata. Tidak sia-sia kakakmu ini melatih dirimu."


Tetapi hanya dalam sekejap saja tubuhnya seperti hantu, ia tiba-tiba telah menghilang dan berada di posisi sebaliknya. Jika tubuhnya tadi berada di samping kiriku, namun sekarang ia berada di samping kananku.


Lengan kanannya mendorong hulu pedang kayuku. Alhasil pedang kayu itu menjadi lebih berat dan tidak bisa aku kendalikan. Aku pun terlonjak dan akhirnya jatuh ke samping kiri.


"Ughhh ... kakak, seperti hantu saja," ucapku kesal.


"Reiss, ini namanya teknik. Ingat ini bukan sihir, ok. Ini hanya kemampuan fisik biasa, Kakak menyebutnya Overwalk."


Setelah ia langsung melompat cepat ke arahku sambil melesatkan tusukan pedang yang akurat.


Tusukan itu seperti mengarah tepat ke arah jantungku berada. Aku pun segera bangkit, namun karena kakiku belum siap. Pada akhirnya aku terpeleset, serangan Kakakku hanya berjarak dua meter lagi.


Jika dalam kondisi yang tidak memungkinkan mungkin kepalaku yang akan meledak, jika itu adalah sebuah pedang asli. Namun kugunakan tangan kiri sebagai tumpuan pijak, lalu berputar di atas tanah, dan menendang pedang kayu itu hingga terpental jauh.


"Whoaaa... Reiss, dari mana kau mempelajari gerakan seperti itu?"


"Hahaha... kalau begitu, mungkin kakakmu ini akan lebih serius lagi. Jadi coba hentikan Kakakmu ini sebagai 'Miracle Kid' bukan sebagai Ray."


Lalu ia pun segera berlari untuk mengambil pedang kayunya yang terjatuh oleh serangan unik milikku. Ada sebuah aura yang berbeda di sekitar tubuhnya sesaat ia telah menggenggam pedang kayu miliknya lagi.


Kakiku cukup bergetar ketika menerima aura yang besar itu. Gigiku bergemertak  tetapi aku pun tidak akan kalah. Kurendahkan tubuhku, membuat sebuah kuda-kuda milikku sendiri. Lalu menyarungkan pedang kayuku seperti asli.


Tanpa aku duga ia telah berada di tepat di hadapanku. Ia pun mengayunkan pedangnya dari bawah hingga ke atas. Aku yang belum dan tanpa persiapan penuh itu harus segera mengambil langkah.


Aku pun melompat mundur dan untungnya berhasil menghindari serangan itu, sayangnya pedang kayukulah yang kini terbang jauh ke belakang.


Tanpa perlu menunggu waktu lagi, aku pun segera berlari mengejar pedang itu dantanpa adanya hal yang aneh, tiba-tiba saja Kakakku telah berada di sebelah kiriku sambil mengayunkan pedangnya secara diagonal.


Namun entah karena apa kakiku tersentak oleh sesuatu. Mungkinkah ini serangan tak terduga Kakakku? Tapi, aku menghiraukannya, dan langsung melompat untuk mengambil pedangku.


Mungkin Kakakku bisa di sebut sebagai hantu, karena ia selalu saja menggagalkan upayaku. Tiba-tiba berada di depan, menarik kerah bajuku, atau bahkan membuatku tersandung.


Sayangnya aku adalah seorang bocah keras kepala yang telah belajar darinya selama kurang lebih dari satu tahun. Setidaknya aku bisa membaca gerakannya sedikit.


Aku pun segera berguling, lalu melakukan lompatan singa yang mengarah tepat ke arah Kakakku berada. Tiba bisa menghindarinya, kami berdua saling bertabrakan.


Sesaat jarak kami sudah sangat dekat, kulemparkan pedang kayu milikku. Gerakan tiba-tiba itu membuatnya cukup terkejut. Tetapi, tidak hanya dari itu saja. Kudaratkan sebuah tendangan Spiral yang tepat mengarah wajahnya.


Pada awalnya ia menunjukkan wajah yang tidak percaya. Tetapi, sebuah seringai berhasil membuatku bergidik, sepertinya ini akan semakin menakutkan.


Ketika tendanganku sama sekali tidak berhasil mengenainya dan hanya menebak angin saja, aku pun tercekat. Sosoknya telah menghilang dan sebuah bayang-bayang menutupi pandanganku dari atas.


Rupanya ia telah berada di langit. Ia langsung melempar pedang kayunya ke arahku, tapi aku lagi-lagi bisa menghindarinya. Ketika aku kira semuanya telah selesai, siapa sangka sosoknya telah berada di hadapanku lagi sambil mengangkat kaki kanannya cukup tinggi.


Merasa tersudutkan, aku pun mengangkat kedua tanganku, "Aku menyerah... whoaaaa!"


Untungnya serangan itu terhenti dengan waktu yang tepat, jika tidak mungkin kepalaku akan remuk, karena jarak ujung kakinya dengan hidungku hanya berjarak lima sentimeter. Dan tidak lama setelah aku terjatuh karena kakiku tiba-tiba saja menjadi lemah.


"Hahahaha... Reiss, kau cukup hebat juga. Kakak senang dapat melatihmu," ucapnya lalu mengulurkan tangan kanannya.


"Kak... sepertinya aku lebih takut akan pedang kayu yang di genggam tadi di bandingkan kakak sendiri," sahutku dengan wajah memucat.


"Hehhh... kau selalu bisa bercanda ya, Reiss."


Setelah itu ia menarik lenganku sambil membantuku untuk berdiri.


"Terima kasih kak, tadi kakak menyebutkan 'Miracle Kid' kan?" tanyaku penasaran. "Kenapa Kakak mendapatkan julukan itu? Aku saja sampai sekarang masih belum mengerti mengapa Kakak di juluki seperti


itu."


"Begitu, kah? Kalau begitu akan kakak ceritakan. Tetapi mari kita duduk di bangku itu terlebih dahulu."

__ADS_1


Akhirnya kami berdua pun pergi ke arah bangku itu berada. Namun dengan kaki kiriku yang masih sakit, aku hanya dapat berjalan terpincang-pincang. Kakakku pun langsung membantuku untuk berjalan.


"Maafkan kakak, walaupun ini hanya latihan. Tetapi kakak menganggapnya terlalu serius," ucapnya khawatir. "Siapa yang akan menyangka kau bisa tidak menangis kali ini, hahaha”


"Tidak apa-apa, kak. Hehehe ... kan aku akan menjadi seperti Kakak suatu hari nanti, memimpin pasukan dan berdiri di garis depan," jawabku dengan tersenyum lebar.


"Hahaha... dasar kau ini benar-benar Adikku yang paling aku sayangi."


Setelah itu kami berdua pun sampai di bangku dekat dengan pilar itu. Kakakku pun langsung memberikan sihir penyembuh untuk kaki kiriku. Ia tidak hanya mahir dalam seni bela diri saja. Namun di usianya yang terbilang muda ia juga sangat ahli dalam menggunakan sihir-sihir yang sangat efektif.


"Lalu?," tanyaku kembali.


"Baiklah kakak akan menceritakannya. Reiss... apa kamu tahu Pedang Regalia?"


"Ya, tentu saja. Itu kan harta pertama kerajaan kita, memangnya ada apa dengan Pedang Regalia?"


"Kalau begitu ini akan mudah," gumamnya. "Selama berabad-abad belum ada seorang pun yang dapat menggunakan kekuatan penuh dari pedang ini. Tapi, suatu saat seorang anak kecil berambut kuning samar dapat menggunakannya."


Aku pun mengangguk cepat.


"Tidak hanya kekuatan penuh, tapi ia juga dapat membuka potensi penuh dari pedang itu," jelasnya. "Pedang Regalia atau yang biasa di sebut Pedang Tak Terhingga Regalia terbagi menjadi dua bilah mata pedang."


Untuk sesaat aku hanya bisa memandangi Kakakku karena ceritanya terdengar begitu menyenangkan.


"Yang berwarna putih adalah Lionheart. Bilah pedang ini merupakan yang sangat tidak mungkin di gunakan oleh sembarang orang. Karena kekuatannya ditakuti oleh para iblis," ucapnya sambil menunjuk awan, “sedangkan yang


ke dua yaitu Dragontears, pedang berwarna hitam gelap. Bilah ini memiliki elemen kegelapan yang dapat melahap cahaya sang surya. Tidak seperti Lionheart yang memiliki elemen cahaya, pedang Dragontears ini memiliki efek samping."


Untuk beberapa saat ia menatapku seperti sedang memastikan sesuatu, lalu meneruskannya lagi sambil tersenyum tipis.


"Siapapun yang memakainya akan langsung mati. Setiap kali pemakaiannya akan memakan korban, karena energi kehidupan mereka di hisap oleh pedang itu sendiri. Nah kamu tahu siapa anak kecil itu, Reiss,?" tanyanya.


Aku hanya mengangguk dengan mata yang berbinar lebar. Dengan kedua pipi yang mengembung layaknya bola-bola kapas manis yang lembut.


"Bagus, anak kecil itu adalah Kakakmu sendiri yaitu aku. Ray Veil Drag Reizhart, pangeran pertama dari kerajaan ini," jelasnya. "Lalu mengapa kakak bisa menggunakan Pedang Regalia itu, apalagi mengeluarkan potensi sesungguhnya. Itu karena Kakak memiliki Angel Drop dan  Fairy Heart. Angel Drop adalah darah yang sangat legendaris dan hanya keluarga kerajaan saja yang memilikinya. Sedangkan Fairy Heart adalah tetesan air mata peri yang membentuk sebuah jantung."


Kini ia berbalik ke arahku, lalu meletakan telakan tangannya sendiri ke dada miliknya.


"Jantung ini sangat lah kebal jika di serang oleh sihir kegelapan dan juga bisa menangkal energi negatif, sehingga Kakakmu ini dapat menangkal efek samping dari pemakaian pedang hitam Dragontears," jelasnya, “kedua pedang


ini memiliki fungsinya masing-masing.”


Kini ia melukis sebuah bentuk pedang dengan sihir cahaya di udara tepat di depan kami berdua.


“Pertama adalah Lionheart. Jika kau menusukkannya tepat ke arah jantungmu sendiri dengan maksud yang baik, maka pedang ini akan memberikanmu dua buah kesempatan. Dalam artian yang berbeda pedang ini membutuhkan pengorbanan. Untuk pedang Lionheart, ia akan memutar balik waktu kehidupanmu dengan pengorbanan dua pertiga


dari ingatan yang kau miliki."


Ia pun mengambil gambaran pedang itu dan memberikanku sebuah contoh.


"Saat ini Kakakmu berusia 146 tahun, jika aku menusukkannya tepat ke arah jantungku sendiri, maka aku akan kembali seperti anak kecil bahkan jika itu adalah kasus langka bisa saja menjadi bayi atau masuk ke dalam janin


seseorang," ujarnya, “jadi pedang ini mengorbankan ingatan demi memperpanjang umur dan menyusutkan tubuh menjadi seperti terlahir kembali," jelasnya.


Setelah itu ia kembali menggambar sebuah bentuk pedang, kali ini menggunakan sihir cahaya yang redup berwarna keabuan.


"Tetapi berbeda dengan Dragontears, bilah yang satu ini tidak mengorbankan ingatan. Melainkan jiwa dan juga raga. Sehingga jika kau menusukkannya ke arah jantungmu sendiri, tubuhmu akan terpisah menjadi dua bagian," ucapnya sambil mengambil gambar pedang itu, “pertama adalah sebagai roh dan yang ke dua adalah sebagai manusia biasa. Tapi, wujud roh akan memiliki ingatan utuh sedangkan tubuh hanya berupa cangkang kosong tanpa jiwa. Sehingga pedang ini memiliki tingkat kesulitan yang sangat tinggi."


Aku yang seperti patung  dengan mataku sebagai perekam dan kepalaku sebagai ingatan membuatnya menjadi seperti luar biasa. Aku tidak tahu bahwa kakakku sangat lah luar biasa.


"Lalu?" tanyaku lagi.


"Untuk Ayah dan Ibu mereka sama seperti Kakakmu ini, memiliki Angel Drop dan juga Fairy Heart"


"Kalau aku? Bagaimana?"


"Kakak belum tahu, mungkin nanti jika umurmu sama seperti Kakak, mungkin kekuatanmu akan terlihat," ucapnya. "Oh, ada yang terlewat"


"Hmm...?"


"Ingat kata kakak tadi jika Pedang Regalia itu adalah dua buah bagian pedang berbeda?"


Sekali lagi aku hanya mengangguk karena ketagihan dengan cerita kakakku.


"Jika kedua bilah pedang itu di satukan, maka bentuk sesungguhnya akan terlihat. Sayangnya menurut Ayah, untuk menggunakan pedang itu harus mengorbankan nyawa agar dapat membuatnya berfungsi. Mudahnya begini... jika Lionheart untuk terlahir kembali, maka Dragontears untuk membelah kepribadian kita. Sedangkan untuk Regalia sendiri memiliki kekuatan spesial sebagai pengubah takdir alternatif," jelasnya. "Seperti itulah, kalau begitu mari kita segera lekas menuju ruang tengah. Sepertinya tadi Kakak mendengar Ayah memanggil kita."


Aku pun langsung mengikutinya dari belakang, kami berdua segera berjalan menuju ruang tengah.


Mendengar cerita seperti ini sangat lah luar biasa. Apalagi Kakakku dapat menggunakan potensi penuh Pedang Regalia, walau aku tahu bahwa ia belum menyatukan dua buah bilah pedang itu menjadi satu.


Karena jika ia melakukannya, kemungkinan besar saat ini aku hanya akan mendengar kabar kalau Kakakku telah tiada.


 


 


Note**:**


Hai semua! Nama gue ReIN dan terima kasih karena telah memberikan gue kesempatan untuk menemani malam jumat loe! Jika kalian menyukai cerita ini maka berikan jempol ke atas dan jika tidak cukup vote lalu sebarkan cerita ini.


Sebagai Info tambahan, nanti gue dan juga tim bakal hadir di acara Comic Frontier Jakarta Pusat sebagai Exibhitor, tepatnya di Booth C1B di depan pintu masuknya. Tempat Comic Frontier bertempat di Balai Kartini Expo.. acaranya diadakan pada tanggal 22 Februari tepatnya besok hingga 23 Februari yaitu Minggu.


Jangan lupa mampir dan berkunjung ke Booth kami, karena Booth kami menjual Light Novel Original buatan anak bangsa. Jadi stay tune aja guys... Happy Weekend xD

__ADS_1


__ADS_2