Sword Anthem

Sword Anthem
Chapter 23 - Akhir Dari Permulaan


__ADS_3

Hamparan kegelapan bermekaran di dalam pandanganku. Sunyi bagai kematian. Tiada tanda yang tersisa dalam jejak masa lalu. Hanya masa depan yang menantipenuh dengan teka-teki.


"Ahhh ... di mana ini?"


"Ha... kau sudah bangun rupanya, Master"


"Siapa kau? Tempat apa ini? Mengapa gelap"


"Hahaha... kalau begitu," ucapnya sambil menjentikkan jari.


Tempat yang bagai kehampaan itu bercahaya. Dalam sebuah genangan air yang muncul tiba-tiba entah dari mana. Tetes-tetes air jatuh turun dan memperlihatkan sosoknya. Dia adalah seorang bocah lelaki berambut setengah putih dan setengah hitam.


Memiliki dua buah warna mata yang berbeda dan juga anting yang berbeda. Pada bagian kirinya yang berwarna putih, memiliki mata berwarna biru lautan. Tenang, jantan dan juga dalam.


Lalu pada bagian kanannya berambut hitam gelap dengan mata merah menyala. Amarah, tujuan dan juga harapan. Semua itu bersatu dengan tubuh miliknya. Dengan wajah yang tenang namun memiliki kepercayaan yang tinggi bagai seorang raja di antara raja.


"Aku adalah Regalia"


"Regalia? Bukankah kau seharusnya sebuah pedang?"


"Tentu saja aku memang pedang, namun karena kita berada jauh di dalam hatimu. Aku dapat menjadi seperti dirimu," ucapnya dengan senyum tipis. "Jadi apakah harapanmu itu benar?"


"Untuk apa aku berbohong jika memang itu adalah harapanku," sahutku.


"Hmm... aku dapat melihat tekad yang membara di kedua matamu. Ok, aku menyukaimu... kalau begitu semoga kita dapat bekerja sama dengan baik," ucapnya lalu mengulurkan tangan kanannya.


"Hehhh... Rupanya pedang Regalia sebaik ini, ya?"


"Emang kau pikir aku seperti apa?"


"Gelap, suram, pemurung, pendiam, dan tak bersahabat," tuturku dengan terkekeh-kekeh. " Kalau begitu aku terima tanganmu itu." Aku pun meraih tangannya.


"Hmph ... untuk bocah seukuran dirimu, kau cukup berani juga rupanya”


"Jangan salah, walaupun kecil tapi 'ini' sangat lah kuat," sahutku sambil menggembungkan dadaku.


"Benar-benar menarik kalau begitu—“


Dengan namaku, Regalia. Aku akan menyerahkan kekuatanku kepadanya, wahai sang pedang lagu sekaligus Sang Pengemban Harapan. Bintan-bintang yang menjadi saksi atas sumpah ini, dan aku akan melebur menjadi kekuatannya.


Exchangeeee ...


"Kini kuserahkan tubuhku ini untuk kau jaga, ingat selalu jaga jangan dirusak," ucapnya.


"Tentu saja, lagi pula kau akan ke mana?"


"Waktuku telah tiba, kini kekuatan ini menjadi milikmu sepenuhnya. Lalu bangunlah, orang-orang di sana mengkhawatirkan dirimu. Semoga kita dapat bertemu lagi, Master."


Akhirnya ia pun lenyap seperti sebuah hantu masa lalu dan perlahan kegelapan ini mulai menyelimutiku lagi secara perlahan dan halus.


"Tunggu!!—“


***


Ada sebuah rasa yang sangat khas yang menyentuh tubuhku. Entah mengapa seperti air, dan juga tangan kiriku seperti di jepit oleh sesuatu yang sangat lembut. Hangat dan juga menenangkan.


"Hmmmm... "


Kedua mataku akhirnya terbuka secara perlahan. Apa yang kulihat mungkin terbilang sangat langka. Di dalam ruangan ini tepatnya kamarku, aku bisa melihat seorang wanita sedang menangis.


"I-ibu?"


Wajahnya yang sangat cantik mendongkak. Menatapku lekat-lekat dengan butir-butir air mata yang mengalir jatuh secara pelan. Bibirnya yang tipis nan indah dan juga merah muda bergetar tiada tara. Tubuhnya mulai terangkat dan dengan cepat langsung memelukku yang masih bingung ini.


"REISSS!!...."


Kini aku dapat melihat dengan jelas bagaimana kekhawatiran dari Ibuku. Air mata yang begitu tulus, keluar dari pelupuk matanya seperti mutiara yang indah. Hangat sekali. Lalu saat kupandang dua orang laki-laki di belakangnya, pada saat itu juga aku tahu siapa mereka.


"Kakak... Ayah, m-mengapa Ibu menangis?"


Wajah mereka terlihat kecut, aku tidak tahu mengapa. Tetapi Ibuku masih terus memelukku tanpa henti. Situasi seperti jarang terjadi di kerajaan ini. Namun jika kedua orang tua serta kakakku seperti ini.


Maka seluruh anggota kerajaan juga ikut panik. Seingatku aku berpisah dengan Shines di perpustakaan itu lalu setelah itu... aku tidak mengingatnya sama sekali.


Aku pun ikut merangkul wanita yang sedang menangis dalam kekhawatiran ini. Walaupun lama tetapi demi meredam rasa khawatir dari ibuku, hal seperti ini harus aku lakukan.


"B-berapa l-lama?" tanyaku gugup. Tenagaku seakan-akan tiada, hanya mengucapkan sepatah kata saja cukup berat.


"Reiss, kau tidak sadarkan diri selama satu minggu," jawab Kakakku.


APA?! ... satu minggu. Satu minggu dari hari pesta itu. Aku tidak menduganya sama sekali. Apakah ini efek dari kekuatan Pedang Regalia yang telah berada di dalam tubuhku?


"Kami menemukanmu tergeletak di taman belakang," ucap Ayahku. Ia tampak sangat khawatir sekali dengan hal yang telah menimpaku." Reiss, kami kira kau telah meninggal. Namun Ibumu Viona mengurung dirinya bersama dirimu di kamar ini."


"Jika saja kakak bersamamu, mungkin hal ini tidak akan terjadi."


Setelah itu mereka berdua pergi keluar, sedangkan ibuku masih menemaniku di kamar ini. Hari berlalu dengan cepat dan kini aku sudah sedia seperti semula. Dengan stamina dan sifat periangku yang seperti biasa.


Pada awalnya aku tidak bisa menggerakkan tubuhku sama sekali. Berlalu menuju fase kedua, aku sedikit bisa berjalan walaupun sering terjatuh. Dam fase ketiga aku telah kembali bisa untuk berjalan dengan lancar.


Di hari itu aku bertemu dengannya, seorang anak laki-laki berambut putih. Ia tampak tidak memiliki ekspresi apa-apa. Dengan dua buah mata kosong dan sikapnya yang acuh. Ayahku memperkenalkan dirinya kepadaku setelah aku sembuh.


Dia adalah pelayan baru di kerajaan ini, Ayahku berkata bahwa saat itu ia dalam keadaan yang tidak stabil dan juga sangat kacau. Untung saja tabib istana berhasil meredakan sedikit masalahnya.


Dan pada saat itulah aku memiliki teman bermain untuk pertama kalinya. Bukan kakak ataupun ayah dan juga ibu. Pada awalnya ia sangatlah dingin namun karena aku sering membuatnya kesal, ia mulai membuka dirinya kepadaku.


Namanya adalah Meist Gil Drawlhar. Seorang anak lelaki berambut putih yang memiliki wajah seperti perempuan. Bukannya tampan ia malah terlihat cantik jika seandainya ia seorang perempuan.


Waktu berlalu dengan cepat dan kami telah berusia 98 tahun untuk diriku dan 102 tahun untuk dirinya. Sekarang kami sangat dekat seperti saudara kandung. Ayah dan ibuku sangat sengat senang melihatnya.


Karena Kakakku sekarang sering ikut berperang melawan pasukan iblis sehingga momen seperti sekarang sangat lah jarang terjadi. Ia sangat piawai dengan keahliannya. Seperti membersihkan ruangan dengan cepat, masakannya yang enak, merapikan taman-taman istana dengan anggun.


Para pelayan menaruh kepercayaan mereka terhadap dirinya. Dan akhirnya ia di angkat menjadi kepala pelayan di umurnya yang 117 tahun. Kini kami berdua selalu pergi bersama entah jika itu berburu, bermain ataupun lain-lain hingga pada suatu saat hari-hari seperti itu berubah menjadi tirai darah.


***

__ADS_1


Aku heran ke mana semua orang pergi? Bahkan aku tidak bisa menemukan Ayah, Ibu, Kakak bahkan Meist pun tidak ada. Lalu aku pun mencari mereka di sekeliling istana. Dengan tubuhku yang mulai beranjak remaja kecepatan berlariku juga menjadi bertambah cepat.


Taman depan tidak ada siapa-siapa, hanya burung-burung yang terbang bebas. Kini aku beranjak dari sana dan segera pergi ke dalam istana. Pada aula utama pun tidak siapa-siapa. Kini pikiranku mulai gelisah dan sangat khawatir jika telah terjadi sesuatu pada mereka.


Dan akhirnya aku sampai di taman belakang istana. Di sana aku melihat Kakakaku sedang menatap langit. Begitu tenang sekali, ia seakan-akan bukan dirinya yang seperti dulu. Lalu aku pun pergi menghampirinya.


Setelah sampai tepat berada di sampingnya, aku pun memanggilnya, " Kak? Apa yang kakak lakukan di sini?" Raut wajahnya sama sekali belum berubah, kedua matanya seperti penuh dengan rasa khawatir.


Ekspresi wajahnya seperti kehilangan harapan yang begitu saja tertiup oleh waktu. Kemudian kutepuk pundaknya agar ia segera tersadar, "Kakk!!


..."


"Huaaa... rupanya Reiss, apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya.


"Itu adalah pertanyaanku sebelumnya, jadi?"


"Ahhh... kakak hanya sedang memandangi langit saja. Tidak ada yang spesial kok"


"Lalu apakah Kakak melihat Ayah dan Ibu?" Ketika pertanyaan itu aku lontarkan, wajahnya menjadi tegang. Ia seperti ketakutan atau lebihnya adalah gelisah.


"Reiss, ada yang ingin kakak bicarakan denganmu di sini. Sekarang juga," tuturnya serius.


"Baik, jadi apa itu?"


"Kakak ingin kau untuk membunuh semua anggota kerajaan. Tanpa sisa, termasuk aku, Ayah, dan juga Ibu."


Pada awalnya aku mengira itu adalah sebuah lelucon baru. Tetapi jika itu sebuah lelucon, ini sungguh kelewatan. Membunuh? Sepertinya kakakku sedang sakit. Namun raut wajahnya tidak mengindikasikan sebuah lelucon sama sekali.


"K-kakak pasti bercanda, kan? Mana mungkin aku melakukannya. Lagi pula untuk apa aku harus membunuh mereka semua?"


"Reiss, ini demi kelangsungan seluruh makhluk hidup," ucapnya serius.


Setelah itu ia menarik lengan kananku dengan kuat. Lalu berjalan menuju istana, dengan cukup tergesa-gesa berjalan di setiap koridornya. Kami berdua melewati beberapa lorong dan juga ruangan dengan cepat.


Dan akhirnya sampai lah kami berdua di ujung lorong lantai pertama dekat dengan gudang. Di samping kami berdua ada sebuah pintu raksasa yang cukup kokoh. Jika tidak salah ini adalah aula kedua selain aula utama yang berada di tengah-tengah istana.


"Jadi Reiss, kakak mohon cepatlah. Kita tidak mempunyai banyak waktu lagi," ucapnya tiba-tiba.


"Ta-tapi kak –


"Kumohon Reiss, kakak tahu bahwa kau tidak ingin melakukannya." Wajahnya sangat gelisah sekali sekarang namun tidak lama setelah itu kembali normal.


"Setidaknya berikan aku sebuah penjelasan terlebih dahulu," pintaku dengan penasaran.


"Kita sudah tidak memiliki waktu lagi, jadi maafkan Kakakmu ini, Reiss," sahutnya sambil melihatku dengan tatapan permintaan maaf.


"Jika seperti itu biarkan aku ikut bersama dengan kalian –


"Tidak kau harus tetap hidup apapun alasannya"


"Reiss, hanya kau satu-satunya yang bisa melakukan tugas ini"


"Apa maksud kakak, aku tidak mengerti sama sekali. Tugas? Tugas apa maksud Kakak?"


"Omega? Apa itu? apakah seekor monster. Jika seekor monster ma—“


Ia pun menggelengkan wajahnya dengan pelan, dan tatapannya berubah menjadi lembut. Sebuah senyuman kecut menghiasi wajah saat itu. Dengan wajah yang sudah mulai memerah ia kini seperti akan kehilangan kontrol emosi miliknya.


"Reiss, kumohon. Kakak akan mempercayai Pedang Regalia di tanganmu"


"Bagaimana kakak mengetahuinya?" celetukku kaget.


"Saat kau dulu tidak sadarkan diri, ayah memeriksa tubuhmu dan ayah berkata bahwa takdir Pedang Regalia telah berada di tanganmu"


"Ibu mengetahui apa maksud dari perkataan ayah pada saat itu sehingga ia tidak bisa melepaskanmu begitu saja, karena orang yang menggenggam takdir pedang itu sudah rela mengorbankan nyawanya demi kehidupan yang tersisa"


"Kakak pun tidak ingin kau menanggung beban yang berat seperti itu, namun ayah pun hanya dapat terdiam saja dengan semua itu. Bahkan ibu kita rela menukarkan nyawanya dengan pedang itu, tetapi itu adalah hal yang sia-sia. Karena pedang itu telah memilihmu," jelasnya.


"Jadi ku mohon sekali lagi, tolong lakukan permintaan terakhir kakakmu ini, Reiss," lanjutnya dengan tersenyum lebar." Cabutlah pedang ini ketika kau sudah siap," ucapnya lalu mengeluarkan dua buah pedang berwarna


hitam dan putih kemudian menancapkannya tepat di tengah-tengah kami.


"Ini hanyalah wadah, sedangkan kekuatan sebenarnya berada di dalam dirimu"


"Kak, aku tidak sanggup—“


"Reiss mungkin kau akan sanggup jika melihat wajah mereka semua—“


Kakakku kemudian membuka pintu yang berada di samping kami berdua. Di mana di dalamnya terdapat semua personil kerajaan.


"Ayah ? ibu? Kenapa kalian berada di sini?." Tetapi mereka hanya tersenyum dengan menggunakan wajah yang di balut oleh topeng kesedihan.


Bahkan semua anggota kerajaan pun ada di sana. Menteri Lags, Menteri Einhalk, Menteri Prompto bahkan para penjaga dan juga ksatria kerajaan. Mereka melihatku sambil tersenyum kecil seperti mereka sedang berharap untuk sesuatu.


Mereka tersenyum lebar dengan wajah yang berseri. Ayah dan Ibu saling bergandengan tangan sambil memberikan sebuah senyuman yang tidak aku mengerti sama sekali.


Sedangkan para menteri berdiri sambil membusungkan dada mereka. Para ksatria mengangkat pedang mereka dan para penjaga merebahkan tangan mereka dan menjatuhkan tameng emas mereka.


Saat melihat itu semua lututku bergetar hebat dan akhirnya tertunduk lemas. Wajahku kini sangat pucat dan gigiku bergemertak. Kedua tanganku bergetar sedangkan tubuhku menggigil. Sekarang wajahku penuh dengan butir-butir air mata yang tidak rela.


Semua orang yang melihatnya hanya dapat tersenyum, walaupun sebenarnya mereka tidak menginginkan hal seperti ini terjadi. Sedangkan Kakakku mulai memegangi pundakku dengan lembut.


"Reiss, anakku kuatkanlah hatimu. Ayah dan Ibumu bangga memiliki anak seperti dirimu," ucap ayahku dengan tenang.


"Pangeran, kami tahu seharusnya kami tidak memberikan tugas seberat ini padamu," timpal menteri Einhalk.


"Pengeran, jika kita dapat bertemu kembali. Jangan lupa ajak kami bermain seperti biasa," ucap para kesatria serentak.


"Reiss, lihatlah mereka. Bahkan kakak mu ini tidak rela jika kau yangharus melakukannya"


— Reiss ... Pengeran ... anakku ... kami mohon agar kehidupan yang ada tidak


hancur.


"Hentikan itu," gumamku pelan.

__ADS_1


Kemudian ku dongkakan kepalaku untuk melihat lelaki yang ku sebut sebagai kakakku. Kakaku tersenyum lebar dengan berlinang air mata, ia terisak-isak dan tidak rela melihat diriku adik tercintanya melakukan hal yang tidak bisa ia maafkan.


"APA YANG KALIAN KATAKAN??! A-AKU TIDAK INGIN MEMBUNUH KALIAN!!! KALIAN ADALAH K-KELUARGA YANG SANGAT BERHARGA UNTUKKU."


Kakakku tidak bergeming sama sekali, kemudian ia pun berjalan menuju sang ayah, ibu, para menteri dan para ksatria serta penjaga itu berada. Kemudian Kakakku berdiri di tengah-tengah mereka sambil tersenyum ke arah diriku.


"Reiss, kami mohon," ucapnya lembut.


"KALIAN TIDAK TAHU PERASAANKU SEKARANG, JANGAN MEMERINTAHKU LAGI! S-SUDAHKUKATAKAN AKU TIDAK INGIN MEMBUNUH KALIAN SEMUA."


Walaupun aku sudah membentak dan menolaknya. Namun mereka semua tidak sedikit pun bergerak dari posisinya ataupun meragukan hati sang lelaki berambut cokelat itu, itulah diriku. Mereka yakin bahwa ia akan mengemban harapan terakhir mereka walaupun, sebagai gantinya adalah nyawa mereka sendiri.


Kemudian dengan rasa takut yang menjalar di tubuhku, aku pun bangkit dengan kaki yang bergetar hebat. Dua buah pedang yang tepat berada di depanku. Tertancap pada lantai kristal, ku cabut. Pedang kanan berwarna hitam sedangkan pedang kiri berwarna putih.


Setelah itu ku genggam keduanya dengan tangan kiri milikku. Dengan cepat kupukul wajahku sendiri dengan tangan kanan. Mereka semua kaget, namun setelah aku memperlihatkan wajahku kembali.


Mereka lega, karena sekarang wajahku menjadi penuh dengan tekad dan juga tanggung jawab. Mereka kembali senyum lalu –


—Reiss ... Pangeran ... Anakku ... semoga kita bertemu kembali di lain hari.


Mereka tersenyum dengan sangat tulus. Lalu aku pun menerjang mereka dengan memainkan kedua pedang yang berada di kedua tanganku. Dengan sangat cepat dan hanya dalam beberapa menit, ruangan itu bersimbah darah.


Dan di tengah-tengah itu diriku bersimbah darah dengan memegang dua buah pedang. Aku kembali menangis dengan hebat, sebuah teriakan yang keluar dari mulutku tak henti-hentinya meneriakan orang-orang yang ia sayangi.


Di saat itu aku tidak sadar bahwa ada satu pelayan yang masih hidup, dan ia melihatku bersimbah darah. Ia pun menjerit lalu akhirnya berlari ketakutan menjauhi diriku.


"I-ini tidak s-seperti yang kau bayangkan," ucapku dengan berlinang air mata. Kakiku masih lemas akibat kejadian ini.


Air mataku tidak bisa berhenti mengalir. Tetapi, beberapa saat kemudian ada beberapa suara langkah kaki yang berat menuju kesini. Aku yakin itu adalah para Guardian. Ayah, Ibu, Kakak dan yang lainnya selamat tinggal.


Aku pun segera melompat ke arah jendela untuk menghindari kejaran mereka. Suara pecahan kaca itu terdengar cukup keras hingga para Guardian yang lainnya berhasil melihatku. Tetapi,  dengan cepat aku membutakan pandangan mereka dengan sihir cahaya.


Segera aku langsung berlari menuju taman depan, melalui jalan rahasia yang hanya keluarga kerajaanlah yang mengetahuinya. Alhasil aku berhasil lolos dari kejaran mereka. Tetapi—


"Ke mana aku harus pergi .. hikss, aku tidak memiliki tempat pulang selain di sini ... hikss."


Dengan pikiranku yang mulai berjalan semestinya. Hanya ada satu hal yang bisa aku lakukan, yaitu mencari tempat untuk bersembunyi. Aku berharap semuanya akan berjalan lancar, walaupun saat ini hatiku masih terasa sakit.


Berat hati aku harus memilih di antara diam tertangkap atau berlari tersesat. Aku memilih berlari tersesat dan segera setelah itu aku langsung berlari menerjang semak-semak tinggi pembatas daerah istana dan juga rumah-rumah penghuni kerajaan.


Para penghuni itu berteriak ketakutan melihat sosok pangeran yang dulunya periang kini berlari dengan tubuh yang penuh dengan darah. Aku menghiraukan semuanya dan percaya dengan apa yang dikatakan oleh Kakakku.


Jika ini tugas untuk menyelamatkan kehidupan yang tersisa maka aku harus menerimanya walau sesakit apa nantinya. Apakah jantungku akan terkoyak-koyak karenanya. Hanya masa depan yang penuh dengan misterilah yang kini sedang menungguku.


Jalan mulai menyempit dan para Guardian hampir berhasil mengejarku namun entah dari mana sebuah tangan menarikku dengan tiba-tiba, "Meist? Dari mana saja kau?"


"Ssssttt ... diam, aku akan mengantarmu ke tempat yang aman," ucapnya.


"Tetapi, ke mana? Ini adalah sebuah pulau raksasa yang mengapung di udara. Walaupun aku berhasil sembunyi dari kejaran mereka, suatu saat mereka pasti akan menemukanku"


"Diam dan ikutilah aku."


Ternyata itu adalah Meist sahabat baikku. Kini ia membantuku melarikan diri dari kejaran para Guardian. Melewati beberapa jalan yang tidak aku ketahui dan bertemu dengan para penghuni yang sepertinya sedang menderita.


Rumah mereka sangat lah kotor, kecil, bahkan ada bau menyengat. "Mungkinkah ini adalah—“


"Seperti yang sudah bisa kau tebak, Pangeran Reiss. Ini adalah tempat tinggalku dulu." Perkataan itu membuatku sedikit merasa bersalah.


Sepanjang pelarian kami berdua, aku melihat ketidakadilan dimana-mana. Dan karena saat ini aku adalah seorang pangeran—ahh, tidak tetapi mantan pangeran, aku merasa bersalah sekali karena tidak melirik masalah seperti ini.


Kami pun sampai pada ujung pulau langit ini.


"Pangeran inilah tempat persembunyian yang saya katakan tadi."


Aku pun langsung menengok sebuah hamparan awan putih mengambang dengan tenang. Di pandu oleh tiupan angin yang jantan. Beberapa tanah menonjol di bawa sana dan itu adalah bumi.


"Bumi? Apa kau yakin? Aku bisa mati di sana," ucapku lalu aku pun berbalik kembali dan—“


Meist menikamku dengan sebilah pedang yang cukup besar. Tepat sekali di tengah perutku, kemudian ia menariknya kembali. Semburat darah keluar dari mulut dan juga perutku bersamaan dengan rasa mual.


Linu bagaikan suara yang melengking dan perih yang serasa terbakar. Lalumuntahan darah keluar dari mulutku. "Ahkksss!!!....”


Kini tidak hanya bagian luar saja yang terlumuri oleh darah, namun bagian dalam serta semua tubuhku telah di dominasi olehnya.


"A-apa yang kau—“


Namun ia langsung mencengkeram leherku dengan sangat kuat, "Dengar ini pangeran manja, akulah yang telah meracuni seluruh anggota kerajaan. Tetapi, sayangnya aku tidak berhasil meracunimu. Sungguh beruntung sekali nasibmu."


Setelah itu raut wajahnya berubah menjadi sangat gelap dan terlihat penuh kebencian.


"Apa kau kira bermain denganmu menyenangkan, huh? Tidak, tidak sama sekali. Itu memuakan bahkan aku tidak ingin mengenalmu sama sekali. Tidak dari sekarang namun aku memang membencimu saat aku belum di bawa ke istana."


Sekali ia menikamku dengan kuat, aku yang tak bisa menahannya hanya bisa pasrah menerima rasa sakit yang sangat mengerikan ini.


“ARghh!! Bhuakss!”


"Pa–ahh tidak, mantan pangeran, Reiss. Kalau begitu selamat tinggal ... aku harap kau beristirahat dengan tenang mantan pangeran," ucapnya lalu mendorong tubuhku.


Karena tubuhku benar-benar telah lemas, aku tidak bisa melawannya dan pada akhirnya aku pun terjatuh dari pulau langit itu.


"M-M-Me... ist.... "


Yang aku rasakan sekarang hanyalah rasa hampa dan perih di sekujur tubuh. Mataku perlahan mulai menutup, berharap jika semua ini hanyalah sebuah mimpi buruk saja. Tetapi, sayangnya penyesalan, dan kejadian itu begitu nyata hingga membuatku ingin menangis sekaligus mengutuk diriku sendiri.


 


 




*


Hai semua! Nama gue ReIN dan terima kasih karena telah memberikan gue kesempatan untuk menemani malam jomblo loe! Jika kalian menyukai cerita ini maka berikan jempol ke atas dan jika tidak cukup vote lalu sebarkan cerita ini. Jangan lupa berikan komentar agar sang Author tetap semangat update ceritanya!

__ADS_1


__ADS_2