Sword Anthem

Sword Anthem
Chapter 19 - Sang Pelahap Pedang


__ADS_3

Makhluk yang menyerang kami adalah seekor monster raksasa atau lebih di kenal sebagai Sang Pelahap Pedang. Seperti apa yang Hilda katakan, penampilannya memang mirip menyerupai seekor naga.


"Apa kau yakin makhluk itu adalah si Pelahap Pedang, Hilda?"


"Saya yakin, Kuro. Yang satu ini telah sangat matang dan juga memiliki tingkatan yang berbeda. Sayap yang ia punya telah berevolusi, sehingga kulitnya seperti itu," sahutnya lalu bersiap dalam mode siaga.


Aku tidak tahu seberapa jauh aku bisa bertahan melawan makhluk ini. Ya, mungkin tidak sehebat Kakakku... tapi, setidaknya ini akan menjadi pertarungan besarku lagi setelah melawan naga tulang saat berada di Akademi Ronove.


Pelahap pedang itu meraung dengan keras, raungannya itu menggetarkan tanah langit ini. Udara seperti di aduk dengan mudahnya dan rumah-rumah dalam jarak raungannya hancur menjadi serpihan kecil.


Mengambang lalu perlahan jatuh tak tersisa. Sungguh kekuatan yang luar biasa. Itu hanya sebatas suara, lalu bagaimana jika itu adalah kekuatan sebenarnya dari pelahap pedang? Mungkin tanah langit ini akan hancur tak tersisa.


Setelah itu Hilda menerjangnya mendahuluiku dan aku mengikutinya dari belakang. Aku mengerahkan kekuatan tebasanku pada bagian kakinya sedangkan Hilda menghunjamnya dengan sebuah tombak energi kemerahan.


Sayangnya serangan kami tak memberikan pengaruh apa-apa—tersayat? Tidak. Tergores? Tidak... apalagi terbelah. Setelah itu kami terpental berkat guncangan aura tubuhnya.


Di saat aku menyerangnya dengan sihir jarak jauh, tampaknya Hilda menggunakan sihir penguat, dan sekali lagi menyerangnya seperti kilat merah di malam hari.


Ia berhasil menyentak bagian kepalanya dengan ledakan kuat, tapi sang pelahap pedang tak tinggal diam. Makhluk raksasa itu mengeluarkan bongkahan meteor dari mulutnya.


Aku pun mengantisipasinya dengan melesatkan tujuh buah gelombang kejut secara bersamaan. Dua kekuatan saling beradu selagi Hilda mengambil jarak, meteor itu pun hancur luluh lantah.


Sekali lagi aku mengeluarkan sihir jarak jauh. Kali ini aku merangkainya menjadi empat susun yang saling bersingkronasi. Semua sihir itu aktif secara bersamaan dan mengempurnya dengan petir-petir ganas.


Sang Pelahap Pedang pun meraung keras dan udara kembali bergetar hebat. Tekanan auranya memang tidak bisa aku remehkan begitu saja. Jika aku berada dalam jaraknya, mungkin tubuhku akan terpental jauh sekali.


Ketika makhluk itu disibukkan oleh sihirku. Aku memperkuat Hilda dengan Runeku. Ketika gempuran petir itu  habis, kini giliran Hilda untuk menerjangnya. Ia mengangguk lalu menerjang Sang Pelahap Pedang dengan kecepatan tinggi.


Stocking yang ia gunakan robek dab pakaiannya pun ikut terkelupas sedikit demi sedikit. Begitu serangannya menghantam Sang Pelahap Pedang, tubuh makhluk besar itu berguncang cukup hebat.


Serangannya tidak berhenti pada itu saja, Hilda meneruskannya dengan sebuah pukulan berat yang diselubungi oleh energi mana. Suara dentaman terdengar riang dan bersamaan suara retak yang mengelupas, serpihan kulitnya hancur.


Hilda pun langsung mundur ke sampingku. Untuk memastikannya, kulempar pedang proyeksi untuk menjadikannya sebuah serangan penutup.


Pada saat itu juga aku bisa mendengar suara jeritan yang teramat keras dan membuatku terpaksa menutup telinga. Setelah jeritan itu selesai, aku memastikan jika Hilda baik-baik saja.


"Apakah kau tidak apa-apa, Hilda?" tanyaku khawatir. "Tampaknya kakimu cukup terluka."


Begitu aku perhatikan, kaki kanannya sedikit memar dengan luka gores yang mengeluarkan darah.


"Tidak, bagi saya yang merupakan pelayan pribadi Anda. Hal seperti ini tidak terlalu menjadi masalah, karena saya tahu suatu saat hal seperti ini pasti akan terjadi," jawabnya tenang.


Aku pun masuk ke dalam alam pikiranku. Ini aneh, jika hanya dengan melangkah saja tanah dapat bergetar lalu ia datang dari mana? Aku bahkan tidak merasakan hawa kehadirannya saat berada di dalam Menara Entia.


Sang Pelahap Pedang pun kembali meraung dan membuat sebuah lingkaran sihir di sekitar rongga mulutnya dan bagaimana makhluk besar itu masih bertahan dari gempuran serangan kami berdua?


"Sepertinya ini bukan berita baik," ucapku lalu dengan cepat menarik lengan kiri Hilda.


Ia kaget namun setelah itu ia sadar bahwa tindakanku ini memanglah yang terbaik. Karena setelah lingkaran sihir itu aktif dan Sang Pelahap Pedang itu menutup mulutnya, sebuah cahaya ungu kemerahan keluar.


Bagaikan sebuah plasma yang sangat ganas. Serangannya itu meratakan semuanya dalam sekejap, bahkan aku sampai menggeleng karena hampir seluruh reruntuhan di sini musnah. Untungnya Menara Entia terlindungi oleh sebuah sihir kuno.


Menara itu tidak tergores sama sekali. Lalu setelah itu sebuah kepulan asap keluar dari dua buah matanya. Dengan siaga aku dan Hilda terpisah, kami berdua berlari dengan berlawanan arah. Hilda ke kiri sedangkan aku ke kanan.


Kami berdua memutari Sang Pelahap Pedang itu dengan cepat, dalam satu hitungan kami saling melesatkan sebuah serangan yang sangat besar daya hancurnya. Hilda mengeluarkan sebuah pukulan penghancur dengan aura merah kehitaman.


Sedangkan aku melompat tinggi terlebih dahulu, kemudian menghantamnya dengan tendangan salto yang sangat dahsyat.


Serangan kami berdua saling terkoordinasi dengan baik. Sebuah tendangan yang di susul oleh pukulan, kemudian tebasan dengan sayatan, dan terakhir adalah ledakan beruntun yang diselesaikan oleh sihir gravitasi milik Hilda yang membuat Sang Pelahap Pedang tertekan.


Tampaknya Hilda mulai kelelahan dengan serangan-serangan berat yang ia lancarkan. Sedangkan aku masih bisa bernapas dengan normal dan tidak terlalu kelelahan. Setelah kami mengambil napas kembali, kami langsung berlari kembali ke arah Sang Pelahap Pedang itu.


Melancarkan serangan-serangan lanjutan yang sangat cepat. Hilda menggunakankedua kakinya untuk menghantam setiap sisi kulit sang pelahap pedang. Sedangkan aku melompat tinggi sambil meliukkan pedang proyeksi yang kubuat berkali-kali.


Sedikit demi sedikit sisik sang pelahap pedang mulai rapuh dan akhirnya berjatuhan hancur. Ia kembali meraung namun raungan kali ini seperti teriakan kesakitan. Sepertinya kami berhasil walaupun hanya menghancurkan sisiknya saja.


Namun aku tidak mengetahui bahwa fase ronde dua ternyata nyata, karena kedua sayapnya terkelupas dan menyatu dengan tubuhnya. Sisik-sisiknya berubah menjadi putih-keabuan, mulutnya menjadi lebar dan taring-taringnya menjadi lebih banyak. Napasnya mengeluarkan uap yang panas dan juga korosif. Tanah kembali bergetar lalu terbelah menjadi dua, mengeluarkan lahar-lahar yang panas


Tampaknya tadi aku hanya melawan kepompongnya saja, sial.


Dengan bentuk yang baru, aku yakin kekuatannya pun bertambah. Tetapi, lebih sialnya adalah... makhluk itu melepaskan bola plasma kuat ke arah langit.


"Tch... sial! Serangan berskala besar, kah!? Hilda cepat gunakan sihir pertahanan dan juga penguat diri."


Namun ketika aku menoleh ke arahnya, sepertinya ia kelelahan. Masa bodo dengan mana yang habis, aku pun langsung melafalkan rune terkondensasi yang menciptakan sebuah perisai berlapis-lapis.


Kutarik lengan Hilda ke arahku. Langit yang menggelap mulai menampakkan sekumpulan bola-bola hitam berkobar api.


Sebenarnya perasaanku juga masih khawatir jika kekuatan perisai ini dapat menahan serangannya. Saat-saat seperti inilah yang sangat berbahaya... aku tidak boleh kehilangan konsentrasiku.


Hingga aku ingat sebuah sihir tingkat tinggi yang cukup berisiko, tetapi apa boleh buat. Aku harus mencobanya.


"Cahaya suci... langit keemasan yang abadi dan kehampaan pada masa lalu, aku memanggilmu—Arhsis Lücéntiä!!!"


Sebelum bola-bola api hitam korosif itu menghujani kami, sepasang sayap cahaya muncul, dan menyelimuti kami berdua. Untuk beberapa saat aku bisa mendengar suara ledakan yang bertubi-tubi dari dalam sepasang sayap cahaya ini.


Berdebum dan menggetarkan tanah tempatku berpijak. Rasa panas yang kurasakan pada kulit aku hiraukan dan berusaha melindungi Hilda sekuat mungkin.


Sepertinya aku sudah mencapai batas dari manaku...


"Hilda, apa kau bisa memberiku sedikit Manamu?"

__ADS_1


Hilda terdiam namun kedua pipinya mulai memerah kembali, "Tentu saja saya bisa, tetapi Anda yakin ingin melakukannya?"


"Tentu saja, lagi pula manaku hampir habis dan mungkin waktunya sebentar lagi"


"Tapi ini akan sangat berbeda dengan cara yang Anda lakukan tadi. Saya akan kembali bertanya, apakah Anda masih ingin melakukannya?"


"Cepat, aku tidak punya waktu banyak untuk berdebat tentang hal itu," ucapku tergesa-gesa.


Manaku kini tinggal dua wadah lagi, dan itu artinya jika kedua wadah ini kosong maka aku seutuhnya tidak memiliki


pertahanan mutlak.


"Baiklah kalau begitu."


Tiba-tiba saja ia mendekatiku. Sensasi yang tidak asing ini kembali kurasakan, ya... dua buah benda mematikan itu menyentuh dadaku. Begitu lembut dan nyaman, tidak hingga ia merangkul leherku dengan hati-hati.


Ketika tubuh kami saling bersentuhan satu sama lain. Aku bisa merasakan sensasi aneh mengalir di dalam tubuh ini. Hal yang dilakukannya sangat berbeda dan ini terbilang cukup merepotkan.


Namun aku bisa merasakan manaku sedikit demi sedikit mulai kembali. Pada tahap akhir ia menciumku dengan panas. Pada awalnya aku keberatan, tapi sayangnya aku tidak bisa lepas darinya.


Lalu setelah itu Hilda melepaskan ciumannya, "Maaf atas kelancangan saya, tetapi melakukan hal seperti itu cukup memalukan," ucapnya dengan memerah. "Tapi, karena Anda adalah alasan saya untuk hidup, maka berapa kali pun saya akan melakukannya"


Terdengar seperti pernyataan cinta saja... tapi, aku memakluminya, dan mengangguk pelan.


Hilda kembali memerah dan kali ini seperti ada uap yang keluar dari kepalanya. Tetapi, apa yang di lakukannya telah membantuku dari gempuran meteor jatuh.


Ketika semuanya telah berakhir, sepasang sayap cahaya itu akhirnya hancur berkeping-keping. Aku pun bangkit dan membantu Hilda untuk berdiri.


“S-sepertinya kita beruntung....”


Tempat ini telah menjadi kuburan bagi magma-magma yang melepuh. Uap korosif menguap dan bunyi-bunyi letupan gelembung api pecah memercik. Aku tidak percaya kekuatannya bisa sampai sebesar ini, pantas saja Kakakku memerlukan kekuatan Pedang Regalia untuk menghabisinya.


Sosoknya kini menyerupai hibrida manusia-naga. Memiliki 10 sayap putih pucat yang mengepak menanggalkan bulu, sebuah halo pada atas kepalanya menandakan ia adalah makhluk suci, dan terlebih sebuah kristal hitam menempel tepat di tengah-tengah dadanya.


Ia mengapung seperti keberadaan majestik yang tak bisa diutarakan oleh kata-kata. Tanpa terlihat apakah ia laki-laki atau perempuan, tubuhnya telanjang. Meski seperti itu aku tak yakin bisa mengalahkannya dengan


kemampuanku saat ini.


Ya, perawakannya sekarang lebih kecil. Tapi... itu tidak menutup kemungkinan semua energi yang menggebu-gebu dalam bentuk kepompong sebelumnya menyusut dan menjadikannya sangat kuat.


Sang Pelahap Pedang itu langsung menghilang dan kini berada tepat di hadapanku.


Cepat sekali?!


Aku tidak tahu apa yang terjadi pada saat itu. Tapi, yang pasti sosok Hilda telah tumbang, dan lengan kiriku mencipratkan darah banyak sekali.


“Arghhh!!!....”


Sial! I-ia akan memakannya... aku harus segera menghentikannya sebelum terlambat. T-t-tetapi dengan kondisiku


saat ini, apa yang bisa aku lakukan?!


Aku pun berteriak dalam bisu menyalahkan diriku sendiri, apakah Hilda akan mati?


Lengan kiriku patah, kakiku gemetar tak berdaya, dan terlebih staminaku pun hampir habis.


­Namun, Tiba-tiba saja jantungku berdetak kencang....


 


[Syarat Telah Terpenuhi]


[Membuka Batas Pintu]


Suara itu tiba-tiba saja terngiang dalam telingaku dan dadaku terasa begitu menyakitkan. Begitu aku melihatnya....


B-bukankah ini Lambang Fenrir?!


... Ayo ambilah.


Aku tak mengerti, tetapi suara itu seperti memintaku untuk mengambil sesuatu dari dalam lambang ini. Saat ini aku hanya bisa pasrah dengan kenyataan pahit, tanpa pikir panjang aku pun memasukkan kedua tangan ke dalamnya.


Sensasi yang aneh dan membuatku sedikit kejang-kejang. Aku bisa merasakan sesuatu yang solid, penuh kekuatan, dan perasaan familiar dalam satu sentuhan.


Setelah itu aku mencabutnya sekuat tenaga. Saking sulitnya, aku merasa ada jantungku keluar. Saat itu pun aku berteriak penuh keputusasaan. Teriakan yang terdengar seperti meminta tolong dengan nada pilu.


“HAaaAAAAaaaAArgHHH!!!”


Tak lama setelah itu berhasil mencabutnya dan pada saat yang sama aku tersadar akan satu hal, yaitu kedua lenganku dipenuhi oleh darah.


[Legacy Berhasil Diambil]


Apa yang aku dapatkan adalah sebuah pedang perak transparan dengan aura kebiruan dan seperti memiliki nadi mengalir di seluruh bagiannya. Di bagian tengahnya terdapat beberapa rune kuno yang sangat asing, rune itu memancarkan cahaya samar-samar.


[Mengaktifkan Bentuk Sejati Pedang Lionheart]


"Lionheart? Bentuk sejati? Bukankah sebelumnya aku pernah memiliki pedang ini," celetukku kaget.


Apakah saat itu hanya bentuk prototype-nya saja?


Seperti waktu yang terulang. Darah di seluruh kedua lenganku pecah dan menghilang, lalu membentuk sebuah kain merah yang melilitinya hingga pundakku. Rasa sakit yang sebelumnya mencekikku pun ikut menghilang.

__ADS_1


Tidak lama setelah itu lambang Fenrir pada dadaku menguap membentuk sebuah syal putih yang memeluk leherku dengan lembut. Sedikit transparan dan begitu hangat.


... Berteriaklah!!!.


Lagi-lagi suara itu muncul.


"WHOARGGGHHHH!!!"


Tanpa di duga, teriakanku itu mengeluarkan raungan layaknya monster ganas yang berhasil menghempaskan Sang Pelahap Pedang kuat sekali. Hilda pun terlempar dan aku segera menangkapnya, setelah itu merebahkannya di dekat Menara Entia.


"... Sekaranglah pembalasanku, dasar tak BERGUNAAA!!!"


Aku pun langsung bangkit lalu menerjangnya dengan sangat cepat bahkan ia belum sempat melakukan apa-apa dan aku telah melancarkan sebuah pukulan Uppercut yang keras. Alhasil ia pun terlempar jauh ke langit.


Siapa yang akan menyangka jika penggabungan Pedang Lionheart dengan manaku bisa sehebat ini.


Kaki sedang melakukan ancang-ancang dan aku pun melompat tinggi lalu menyerangnya dengan gerakan yang cepat.


Kecepatanku begitu senyap bahkan suara pun tak terdengar. Di atas sana aku langsung menyerangnya dengan beberapa tebasan rendah, tapi ia berhasil menangkisnya dengan sempurna.


Bunyi aduan terdengar lantang dan gelombang angin meluap bagai ombak yang menyapu sekitarnya.


Aku pun kembali mendarat dengan sempurna dan berharap bisa terbang untuk segera menyusulnya yang kini telah bersiap melepaskan bola-bola api dari mulutnya.


Sayangnya aku telah dan sekumpulan bola api hitam kecil melesat ke arahku. Kakiku dengan refleks yang sigap segera berlari menghindarinya. Tetapi, bola-bola api kecil itu masih mengejarku... meledakkan setiap jalan yang kulalui dengan hati-hati.


Aku juga tidak ingin menyeret Hilda ke dalam masalah baru ini. Sudah cukup baginya untuk melayaniku saat ini, waktunya untuk beristirahat, dan biarkanlah ia tidur tanpa gangguan.


Setelah beberapa lama aku berlari, akhirnya kami berada di tempat yang jauh dari Menara Entia, dan kejaran bola-bola apinya pun telah berhenti.


Saat itu juga kami saling bertatapan secara langsung dan dalam satu hitungan sosoknya telah berada di hadapanku lagi, tapi kali ini aku bisa mengimbanginya dengan sangat baik.


Saling beradu serangan dan menciptakan lubang retakan besar, berpindah tempat lalu tempat itu pun hancur berkeping-keping, menyerang satu sama lain dan bekas-bekas sayatan besar tercetak nyata pada tanah tandus tak berpenghuni itu.


Serangan kami berdua sangat dahsyat bahkan hingga adu pukulan saja membuat keseimbangan kami berdua pecah.


Memanfaatkan momentum itu, aku berusaha sekuat mungkin menyeimbangkannya kembali, dan mendaratkan sebuah jab rendah yang keras dengan tangan kanan pada perutnya.


Ia pun mengerang kesakitan, mulutnya memuntahkan darah ungu. Setelah itu aku memukul wajahnya dengan tangan kiri, pukulan itu berhasil melemparkannya jauh sekali hingga sebuah batu raksasa hancur akibat diterjang oleh tubuhnya itu.


“Akan kuakhiri dengan serangan selanjutnya,” ucapku sambil mengambil napas.


Ketika Sang Pelahap Pedang itu bangun, dengan cepatnya sekumpulan bola api kembali melesat ke arahku. tapi, aku mementalkan semua itu dengan punggung tangan dan telapak tanganku.


Namun kejadian tak terduga muncul. Sebuah bola api korosif yang sangat besar kini meluncur ke arah Hilda berada. Aku tak bisa membuatnya kesakitan lebih dari ini, biar aku yang mengurus sisanya, dan biarkanlah perempuan itu tidur tanpa harus bertarung lagi.


Aku pun berlari secepat mungkin dan mengerahkan kekuatan pada kakiku. Hanya seperkian detik aku telah mendahului bola api korosif yang memiliki muatan petir dan langsung membelahnya menjadi dua bagian menggunakan Lionheart.


Ledakan energi yang perlahan mulai meledak itu aku hisap menggunakan Lionheart dan melepaskannya kembali ke arah Sang Pelahap Pedang.


Tidak lama kemudian tepat di tempat Sang Pelahap Pedang itu terjadi badai api petir yang meledak-ledak dengan sangat dahsyat dan suara teriakan pilu pecah keluar begitu melengking. Lalu dari besarnya badai itu sesosok makhluk keluar dan terbang ke langit dengan tergesa-gesa.


Aku bisa melihatnya... itu adalah Sang Pelahap Pedang.


Ia memiliki kulit merah darah yang mengeluarkan urat-urat keunguan. Setelah ia terbang cukup tinggi, tiba-tiba saja tepat dari sayapnya itu mengeluarkan beratus-ratus bola kecil yang langsung menancap di tanah.


Bola itu pun pecah, menetaskan monster-monster kecil secara serentak yang menggeram begitu mereka melihatku.


“Sialan... rupanya ia mengeluarkan pasukan monster kali ini....”


Aku pun langsung berlari lalu menebas setiap monster yang kulewati. Satupersatu musnah dalam genggaman pedangku. Mereka mengeluarkan darah yang sangat banyak dan membanjiri tempat ini dengan darah segar mereka.


Pada serangan terakhir aku melebarkan serangan dari Pedang Lionheart milikku. Sehingga dalam satu kali kibasan mereka semua lenyap, sekarang hanya makhluk aneh itulah yang tersisa saat ini.


Namun entah mengapa punggungku seperti di dorong oleh sesuatu, seperti sebuah telapak tangan. Lalu sebuah sayap merekah dari punggung kiriku, tanpa basa-basi lagi aku pun segera mengejarnya.


Hembusan angin yang sangat kuat menerpaku dengan kasar. Aku tak memedulikannya sama sekali, saat ini aku hanya ingin melepaskan serangan terakhir dan menyelesaikannya dengan gaya.


Kecepatanku berhasil mengimbanginya, tapi aku lebih cepat, dan telah berada di hadapannya. Aku pun langsung menyayat salah satu matanya, menyipratkan darah dengan hebat, dan aku lihat wajahnya tampak mengeras layaknya sedang murka.


Saat ia akan menembakkan bola api kembali, aku pun mendahuluinya dengan sebuah tendangan kuat pada atas kepalanya. Alhasil Sang Pelahap Pedang terjun bebas dan langsung menghantam tanah hingga menciptakan sebuah lubang besar.


Aku kembali menukik dengan tajam sambil melesatkan beberapa gelombang tajam ke arahnya.


Dan dengan tepat berhasil melukai dadanya. Dua buah sayapnya telah berhasil terbelah. Satu jantung telah berhasil aku hancurkan. Tinggal dua lagi, sambil terus menukik dengan tajam Sang Pelahap Pedang itu berusaha bangkit.


Ia mengeluarkan sebuah cahaya dari dalam tubuhnya berwarna hitam dan tiba-tiba langit mengeluarkan petir-petir hitam ke arahku. Aku berhasil menangkisnya seperti memukul bola karet dengan batang kayu menggunakan Pedang Lionheartku, dan mengubah arahnya hingga melesatkannya kembali ke arah Sang Pelahap Pedang.


Satu petir hitam, dua petir hitam, tiga... hingga akhirnya sepuluh petir hitam meluncur ke arah sang pelahap pedang dan meledakkannya dengan sangat dahsyat. Dadanya telah hancur, itu berarti aku berhasil menghancurkan dua buah jantungnya.


Walaupun kini ia tengah terkapar tak berdaya, tetapi aku masih merasakan aura pembunuhnya.


Tiba-tiba saja kepala Sang Pelahap Pedang melayang ke arahku dengan cepat, kakiku berputar dengan lincah,  lalu meliukkan pedangku untuk menorehkan luka sayatan di tubuhnya.


Tubuhnya sudah kini sudah tak berdaya, "Jantung terakhir berada tepat di kepalamu," ucapku dingin.


Dan kepala Sang Pelahap Pedang itu terbelah dua sedangkan tubuhnya tercerai berai oleh permainan pedangku. Kedua belah kepalanya jatuh ke tanah lalu kuinjak hingga hancur.


"Tampaknya kau belum paham apa itu arti kata ‘tanpa ampun’,” ucapku dingin, “dan dengan ini Skakmat," lanjutku lalu menancapkan pedang Lionheart ke tanah.


Beribu-ribu pedang cahaya keluar lalu menghancurkan sisa-sisa tubuh sang pelahap pedang.

__ADS_1


"Dengan begini permainanmu telah selesai, aku tahu ini telat tetapi kau telah menari di telapak tanganku dengan baik," lanjutku lalu mencabutnya kembali.


__ADS_2