Sword Anthem

Sword Anthem
Chapter 50 - Pembatas Takdir


__ADS_3

Semua itu berlangsung begitu cepat. Tanpa bisa bereaksi ataupun menghentikannya, aku terdiam memandangi lenyapnya Kerajaan Astarte seperti sebuah mimpi buruk. Gigiku bergemertak dengan kaki yang gemetar, tapi pada


akhirnya aku jatuh berlutut.


“TIDAKKK!!!”


BHAMSSSSSS!!!!!


Langit menjadi hampa, Kerajaan Astarte menjadi sejarah, debu berterbangan ke mana-mana. Cahaya bulan berubah menjadi cahaya penderitaan. Angin yang seperti racun mulai merasuki pikiranku dan saat kukuatkan diriku untuk membuka mata. Semuanya berubah menjadi putih, tanah menjadi putih, gelembung-gelembung kecil mencuat keluar dari dalam tanah. Bahkan awan saja tidak menampakkan wujudnya. Keenam sayapnya terbuka lebar mendominasi langit.


Beberapa orang masih bertahan dan mereka berdiri sambil mengangkat lengan kanan dengan telapak yang terbuka. Sebuah pilar cahaya emas bersinar redup melindungi beberapa orang di dalamnya.


Sebuah lingkaran sihir muncul di bawah mereka dengan beberapa Rune yang naik-turun menyertainya. Tidak lama kemudian sesosok bayang-bayang muncul dari dalam asap itu, ia adalah Selina dan beberapa orang lainnya seperti orang-orang dari Kesatria Legiun, Instruktur Van dan Fay, lalu sisanya dari pihak Kerajaan Astarte, mereka adalah Erina dan Beatrice, lalu para muridnya juga.


Tidak lama setelah itu mereka ambruk dengan lutut dan tubuh yang terlihat gemetar. Sementara itu Selina tersenyum ke arahku dan setelah itu tubuhnya mulai kehilangan keseimbangan. Aku pun segera berlari ke arahnya untuk menangkap tubuhnya yang goyah.


Ketika aku berhasil menangkap tubuhnya dengan sempurna, aku bisa merasakan kondisinya yang amat kritis. Dari bagaimana suhu tubuhnya menjadi dingin, suaranya yang memanggilku lirih, hingga kedua lengannya yang berusaha menyentuh pipiku gemetar.


“M-maaf... sekali lagi, maafkan aku. Aku tidak bisa melindungimu,” ucapku dengan mata yang berkaca-kaca.


Saat itu aku memeluk tubuhnya dengan sangat erat dan berusaha meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi, tetap saja aku tidak bisa dan perasaan bersalah di dalam diriku terus saja keluar sambil membisikan kata-kata yang pedih... ‘Percuma, kau itu ditakdirkan untuk gagal’, ‘jangan melawan takdirmu’, ‘semua orang yang kau cintai akan mati satu demi satu di depan matamu’.


Untuk kesekian kalinya aku terus mempertanyakan kelayakan atas diriku. Apakah aku layak menggunakannya? Bisakah aku mengalahkannya? Dengan entitas yang selalu menjadi asal-usul semuanya... bisakah aku melawannya seorang diri? Bukankah aku hanya seorang makhluk yang kesepian? Mengapa harus diriku?


Demi keselamatan mereka dan demi pengorbanan mereka yang telah gugur, apapun caranya, dan bagaimanapun hasilnya, aku harus tetap melangkah maju meskipun setiap kali aku melangkah bayangan mereka terus menarikku ke masa lalu.


Potongan demi potongan kejadian muncul di dalam benakku. Semua itu seperti mengingatkanku untuk apa aku diberikan tugas sebagai pemegang pedang takdir. Tetapi, aku hanyalah seorang anak kecil, penampilanku tidak seperti apa yang mereka pikirkan.


Tubuhku ini bukanlah sesuatu yang bisa aku kendalikan secara bebas. Sama seperti halnya saat pembantaian anggota kerajaan, aku melakukannya dengan kedua tanganku sendiri, meskipun aku bisa menolaknya, tapi pada akhirnya aku melakukannya.


Tidak lama setelah aku menempatkan tubuh Selina di samping Fear, aku pun mendongak, menatap entitas raksasa di atas sana dengan rasa kesal yang sangat dalam.


Apakah aku harus melakukannya... apakah aku harus mengeluarkan pedang kedua dari tubuh Fear? Jika seperti itu, maka nyawanya akan dalam bahaya. Sama halnya seperti mengambil kehidupan orang lain.


“Apa yang bisa kulakukan di saat seperti ini?—“


—Aku yakin kau pasti bisa melakukannya.


—Kau tahu? hidup itu akan merasa hampa jika tidak ada tantangan.


M-Meist?....


—Baik itu keadilan atau kejahatan, keduanya memiliki arti. Tidak peduli jalan apa yang kau pilih, aku tetap akan membantumu.


—Ingatlah, Reiss. Kau tidak sendirian....


Tiba-tiba saja kilas balik kenangan itu muncul di dalam kepalaku, kenangan di saat kami duduk di atas padang rumput sore hari. Saat itu kami sedang menunggu bulan keluar dan langit menjadi merah keoranyean.


Saat itu ia menceritakan cita-citanya kepadaku... dan itu adalah....


—Apapun cita-citaku di masa depan atau bagaimana aku berubah, tanamkan pada hatimu, bahwa aku akan selalu membantumu ketika kau membutuhkanku.


Benar... itulah yang ia katakan padaku.


Tiba-tiba saja liontin yang aku ambil darinya bercahaya. Tubuhku mengapung karenanya dan di saat yang juga sebuah bola kecil muncul lalu masuk ke dalam tubuh Fear. Ketika bola kecil itu kembali keluar, bola itu berubah menjadi sosok Meist dengan wujud seperti bayang-bayang.


Tubuhnya memancarkan beberapa titik cahaya dan ia juga berjalan ke arahku membawa bola kecil itu. Ekspresinya yang ramah dan penuh senyum itu mengingatkanku akan masa lalu. Perlahan namun pasti tubuhnya mulai memudar.


Seiring tubuhnya menghilang perlahan-lahan, aku bisa melihat senyum lega dari wajahnya.


[Reiss....]


Setelah kata itu keluar, tubuhnya pun hancur berkeping-keping menjadi pecahan kaca cahaya.


Saat itulah aku terpukul untuk kedua kalinya dan termenung melihat semua itu. Apa maksud dari semua ini? Mengapa ia pergi meninggalkanku dengan wajah seperti itu?


Sialan kau, di saat seperti ini masih bisa menunjukkan ekspresi seperti itu.


Kini bola yang berada di dalam genggamanku perlahan-lahan hancur dan kembali menyatu membentuk sebuah pedang hitam yang penuh dengan garis-garis kemerahan. Pada bagian sisi-sisinya terdapat beberapa Rune yang berpendar seakan-akan mengatakan ‘Akhirnya aku bebas juga’.


“I-ini... kepingan Dragontears?”


Aku pun terenyak beberapa saat ketika menyadarinya dalam bentuk sempurna. Begitu aku menggenggam bilahnya bersamaan dengan Lionhart, tiba-tiba saja jantungku berdetak kencang.


Semua potongan gambar dan kenangan masa lalu Fear muncul dalam ingatanku, begitu juga Meist yang selama ini telah berjuang melindunginya.


“Ha... haha, jadi selama ini aku memang tidak sendirian,” gumamku lirih.


Kehidupanku saat ini berasal dari pengorbanan seluruh keluarga—Kakak, Ayah,  Ibu, para menteri dan juga kau... Meist.


Namaku adalah Kuro reinkarnasi dari Reiss Veil Drag Reizhart. Bersamaan dengan jiwa dan tubuhnya yang telah tiada, aku mengemban takdir kejam sekaligus kehidupan indah ini bersamanya. Nyawaku yang menjadi taruhannya dan mereka yang hidup akan mengingatku di dalam kenangannya.


Jangan pernah berkata dalam hati kalian bahwa tidak ada harapan, harapan itu selalu ada walaupun keputusasaan telah menghancurkan secercah harapan itu. Cahaya berkilauan memantulkan bias-biasnya di atas sana.


Kali ini dua di antara enam mata itu bercahaya. Cahayanya gelap, hitam kelam dan sesekali langit merintih kesakitan karenanya. Kepalanya yang besar itu sesekali menjurus seperti ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam mulutnya.


Apa yang akan terjadi jika sesuatu itu keluar dan meledak. Mengeluarkan serangan dahsyat yang dapat membuatku dan juga mereka mati dalam sekejap. Setelah sinar yang menghancurkan Kerajaan Astarte, kini dari dua mata raksasanya itu muncul kembali cahaya hitam.


Aku berteriak, berteriak, dan berteriak pada dunia ini. Pada dunia yang melahirkan kekejaman nyata dan ketakutan luar biasa yang disebut Omega.


Beberapa detik telah berlalu dan sinar itu meledak, mengeluarkan sebuah plasma yang besar. Cahaya plasma seperti sebuah tangan yang ingin merampas segala kehidupan yang berada di sekitarnya dan parahnya arah tembaknya tepat ke arahku.


Namun siapa sangka, ketika serangan itu ingin membinasakanku sebuah suara hangat yang kukenal tiba-tiba saja terdengar lantang.


"Andythus!"


Sebuah lingkaran sihir perak keluar di hadapanku. Warnanya berseri keperakan. Putih dan juga menyilaukan. Berkat lingkaran sihir ini, serangan milik Omega berhasil dinetralisirkan dengan sempurna.


Begitu aku berbalik, sosoknya yang selama ini aku rindukan sedang berdiri melihatku dengan senyuman hangat.


“F-Fear... “


“Mengapa kau menangis, sayang?”


“A-apa yang kau katakan? Ak-aku sama sekali tidak menangis—“


Namun apa yang aku dapatkan adalah perasaan lega, senang, bahagia yang dibalut haru. Bahkan aku sendiri tidak bisa menghentikan air mataku sendiri.


“Tenang, kali ini kita akan selalu bersama,” ucapnya lembut.


Setelah itu kedua tangannya ia simpuhkan di atas dada, ketika matanya tertuju padaku. Entah mengapa aku merasa tubuhku penuh dengan kekuatan.


“Aku akan membantumu....”

__ADS_1


Angel’s Voice—ternyata ia mulai menyanyikan lagu perang. Berbeda dengan kemampuan Satella yang memberikan semangat dan juga pemulihan cepat, kekuatan yang dimiliki oleh Fear lebih kuat dan efek yang diberikannya juga lebih lama.


Perbandingannya adalah satu banding sepuluh... kekuatan Fear sepertinya telah pulih.


Ketika Omega kembali melepaskan kekuatan dahsyatnya. Waktu di sekitarku seakan-akan melambat, sepasang sayap putih keluar dari punggungku, dan aku pun langsung terbang secepat mungkin sambil meluncurkan tebasan terkondensasi dari Dragonntears.


Berbeda dengan Lionheart, pedang ini memiliki kekuatan destruktif yang lebih hebat dan hanya fokus pada kehancuran.


Ketika bola-bola energi muncul dari langit. Tebasanku berhasil menghancurkan semua itu hanya dalam sekali serang. Alhasil semua bola itu meledak layaknya bunga yang bermekaran di langit.


“ARghhh!!!”


Aku pun berteriak melampiaskan semua emosiku dan mulai bertarung di langit menggunakan kedua pedang takdirku—Lionheart dan Dragontears.


Ukurannya yang sangat besar bahkan hingga menutupi dunia ini membuatku muak. Apalagi setelah ia melepaskan beberapa anak-anaknya dari kumpulan bulu sayap hitamnya.


Semua itu kuhabisi dengan cepat. Aku terbang di langit dengan perasaan yang menggebu dan setiap kali aku menghunuskan kedua pedangku secara bergantian, makhluk-makhluk yang mengejarku mulai berguguran satu-persatu.


Terkadang di saat sela-sela seperti itu Omega mengeluarkan partikel-partikel hitam yang hancur dan mengeluarkan beratus-ratus laser kecil. Tetapi, berkat Dragontears di dalam genggamanku, semua laser itu pun pecah menjadi kepingan cahaya.


“OMEGAAA!!!—Aghskk—”


Namun begitu aku berusaha menyerang kepalanya, tubuhku tiba-tiba menjadi lemah, dan hanya dengan satu cambukkan dari salah satu anaknya tubuhku pun terpental jauh ke bawah hingga menghantam tanah sekaligus menghancurkannya berkeping-keping.


“A-apa yang terjadi?”


Perasaan itu seperti ada sesuatu yang ditarik dari dalam tubuhku. Lalu perhatianku teralihkan oleh sebuah suara rintihan. Suara itu berasal tidak jauh dariku.


“J-jangan-jangan, Fear?!”


Skenario yang selama ini tidak ingin aku lihat sudah terjadi. Aku benar-benar bodoh membiarkannya menggunakan kemampuan itu. Saat ini kulihat tubuh Fear terkulai lemah dengan napas yang terengah-engah.


Raut wajah itu menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja. Bagaimana ia baik-baik saja jika menunjukkan senyum paksaan seperti itu. Aku pun segera meluncur ke arahnya secepat yang kubisa dan langsung memeluknya.


“Apa yang kau lakukan?! Tolong jangan memaksakan dirimu lagi dengan nyanyian itu!”


“F-Fear?! Apa yang terjadi dengannya?!”


Satu lagi sesuatu yang ingin aku hindari adalah Selina. Mengapa kau harus bangun di saat seperti ini. Aku tidak ingin ia melihat kemunculan Omega.


“Aku tidak bisa menjelaskannya, tapi percayalah padaku. Tolong jaga dirinya untukku—huh?!”


“J-jangan tinggalkan aku lagi, tidak seperti ini, Reiss,” pinta Fear lirih.


“T-tapi kondisimu—“


“—A-aku tahu Dragontears membutuhkan esensi kehidupan untuk mengeluarkan potensi sesungguhnya, karena itulah gunakanlah milikku”


"Fear! Apa yang kau katakan?!" tanya Selina histeris.


"A-aku hanya ingin mengucapkan terima kasih," sahutnya pelan.


Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Bahkan saat ini aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan karena rasa panik menyerangku ketika tiba-tiba saja ia mengucapkannya.


"Kau tahu Selina ... aku bisa hidup hingga saat ini, semua itu karena senjata kuno milik Kuro."


Dari wajahnya yang tampak gundah, ia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda penyesalan.


"Saat itu... ketika kalian terkirim oleh sihir teleportasi cepat. Jika saja aku tidak menggunakannya... mungkin aku tidak akan bertahan hingga sekarang," jelasnya kecut.


Kedua mata Selina membesar seakan-akan tidak mempercayai semua itu.


Apakah maksud Fear adalah selama ini ia hidup karena sebuah pedang yang tersimpan di dalam tubuhnya. Tetapi ketika ia memegang lengan Fear, sebuah denyut nadi dapat dirasakannya dengan jelas.


"Tetapi—“


Fear hanya menggeleng pelan.


Penglihatanku semakin kabur, tetapi telapak tangan kananku masih berada di tengah-tengah dada Fear.


"Cepat tidak ada waktu lagi... Kuro!" bentaknya.


Apa yang bisa kuperbuat sekarang? Tidak ada, tidak ada sama sekali. Stamina... mana... bahkan semuanya telah habis, pedang Lionheart memiliki efek yang luar biasa terhadap tubuhku. Tetapi efeknya telah lama hilang saat aku


menghadapi Meist.


Perkataannya memang benar. Pedang Dragontears akan menunjukkan potensinya jika esensi kehidupan yang berada di dalamnya telah penuh, maka semua kekuatan yang terkubur selama ini akan keluar.


Mereka berdua semakin lama, semakin tidak ingin melepaskanku. Memelukku erat-erat selagi Omega mengamuk di langit sana, menembakkan beberapa bola-bola plasma hitam yang besar.


Bintik-bintik yang berkelap-kelip di atas sana bukanlah bintang. Melainkan bola plasma yang sangat berbahaya sekali. Hingga salah satu di antara bola itu ada yang melesat ke arah kami. Ketika aku berusaha untuk mendorong mereka berdua dariku.


Selina kembali menitikan air mata.


"Maaf kan aku... kau yang paling kucintai, aku akan melanggar hakku sebagai putri bumi."


Jari telunjuk Selina bergerak seperti menulis sesuatu dengan cepat, tetapi kedua matanya itu berkaca-kaca. Tetes-tetes air mata tidak henti-hentinya berjatuhan dengan tubuhnya yang bergetar hebat, sebenarnya apa yang akan ia


lakukan?


Tetapi ketika aku melihat wajah Fear, ia sangat terkejut sekali melihatnya. Setelah itu ia kembali melihatku sambil mengelus kedua pipiku dengan lembut.


"Biarkan aku melakukannya sekali ini... m-maafkan aku," ucap Fear lembut lalu tersenyum lebar ke arahku.


Setelah Selina selesai ia meremas erat pundak kiriku dan saat itulah aku tahu apa maksud dari semua ini.


"Kami yang memiliki nama dan menyandang nama putri memiliki larangan untuk menggunakan sihir terlarang ini... karena sihir ini melanggar hak makhluk hidup untuk melakukan hal yang tidak diinginkan."


Kedua tangannya yang meremas erat pundak kiriku mulai memudar dengan perlahan. Tubuhnya pun berubah menjadi cahaya samar.


"Selina—ahk!"


Kenapa tenggorokanku seperti sedang di kendalikan.


"I-itu lah yang kulakukan ...." sambil tersenyum kecut, bagian bawah tubuh Selina mulai menghilang.


[I Calling You Dakrness From The Deepest  Dead Sea]


[Calling You The Blood of Life]


[Tear Apart The Extinction Itself]


[[Cloud That Bring Despair ]

__ADS_1


[Pain Bringer That Cut Down All Illness]


[Come To Me, My Full Pledge Second Sword]


[Dragoontiers!!!]


HUH?! Mengapa mulutku bergerak sendiri... TIDAK!!!!!


Fear dengan tulusnya berkata tidak apa-apa dengan pelan. Mengapa kau memasang wajah seperti itu seakan-akan mengatakan semuanya akan baik-baik saja.


Apa yang kau lakukan... KENAPA?!!!


Sebuah lubang hitam muncul di dada milik Fear, tangan kananku tiba-tiba saja masuk. Kelima jariku yang penuh dengan darah berhasil mendapatkan sebuah sensasi yang seharusnya kuabaikan sejak lama.


Tetapi itu semua tidak bisa kulakukan, karena saat ini benda itu telah kugapai dengan sangat nyata. Tanganku bergerak sendiri lalu mencabutnya dengan paksa. Tubuh Fear pun ikut bergetar hebat dengan teriakan dan tangisan yang melengking.


Darah keluar dari mulutnya, mengalir perlahan. Matanya memejam sedangkan mulutnya tersenyum tanpa menghiraukan rasa sakit yang begitu hebat yang ia rasakan kali ini.


Tidak... tidak... tidak... ini seharusnya tidak terjadi. Mengapa kalian melakukan ini kepadaku, setelah semua yang kulalui. Keluargaku satu persatu mati tepat di hadapanku dengan tanganku sendiri.


Dan kali ini kenapa harus kalian juga... perempuan yang memberikanku alasan untuk dapat meneruskan hidup yang tidak pernah kubayangkan akan semenarik ini. Senyuman dan juga kebaikan kalian yang telah menerangi hati hampaku ini... apakah akan mati... ?


"ARGHHHHHHH!!!"


Fear dan Selina yang mulai berubah menjadi kepingan cahaya samar memelukku erat-erat selagi aku berteriak kencang. Kedua mataku seperti terbakar karena sebuah penyesalan.


"" Terima kasih atas semuanya... lelaki yang paling kucintai.""


Kata-kata manis itu tetap tidak bisa mengubah fakta bahwa aku akan kembali kesepian... Fear... Selina.


Mereka pun menghilang di dalam pelukanku saat itu juga. Tubuh mereka pecah menjadi butiran cahaya yang tidak lama setelah itu menghilang tanpa jejak.


Dadaku sesak sekali, tanganku tidak berhenti untuk menahan semua ini. Kini Dragontears telah sepenuhnya bangkit berkat pengorbanan mereka berdua.


Dengan adanya pedang Dragontears di tangan kananku. Seluruh kekuatannya perlahan mulai merayapi tubuhku. Aku juga bisa merasakan mataku terbakar hebat.


Sepertinya kedua mataku telah bangkit.


"I-ini sangat... menyakitkan," gumamku lirih.


Kini keduanya memancarkan resonansi yang saling berkesinambungan. Memunculkan lambang Regalia dengan wajah Fenrir kecil di tengah-tengahnya.


Sementara lambang Fenrir yang berada di atas lengan kiriku tak henti-hentinya berkedut-kedut. Setelah itu meledak, menyelubungi tubuhku dengan mana yang berlimpah.


Aku juga bisa merasakan sayap hitamku perlahan-lahan berubah menjadi hitam.


Setelah itu aku pun langsung mencabut kedua pedang itu dari tanah lalu menggenggam erat bilah keduanya. Lidah kugigit untuk memendam rasa kesal ini dan akhirnya aku berteriak.


“ARGHHHHHHH!!!"


Aku pun langsung meledak cepat, melesat terbang menerjang Omega di atas sana. Kedua pedangku telah bersinar-sinar. Bola-bola plasma mulai ia tembakan kembali ke arahku. Tetapi dengan mudahnya dapat kutangkis dengan satu kibasan menggunakan Pedang Lionheart di tangan kiriku.


Setelah itu aku langsung melakukan manuver di atas langit dengan melesatkan puluhan gelombang kejut dari kedua pedang takdir ini. Meledak secara bertubi-tubi tanpa mengenal ampun.


Omega meraung dengan sangat keras karena salah satu sayapnya putus dan mengeluarkan luapan darah yang sangat banyak. Menghujani tanah tak bernama di bawah sana. Kini semuanya merah.


Aku kembali terbang cepat melampaui kecepatan suara. Seperti warp kecil yang sangat cepat dan tanpa jeda waktu.


Luka demi luka mulai kutorehkan pada tubuhnya dengan cepat. Ia kembali mengaum dengan hebat dan sesekali melancarkan laser-laser kecil dari seluruh tubuhnya.


Tetapi sayang sekali semua itu meleset. Tanah di bawah sana membuncah hebat, meledak, dan menyemburkan darah merah ke atas dengan keras. Suara gema dan juga teriakan dari mulutnya yang terbuka lebar dengan jajaran gigi taring yang besar dan juga tajam mulai muncul.


Dan kini ia memecah diri mengeluarkan bagian dirinya dengan versi lebih kecil lalu mulai mengejarku dengan cepat. Meliuk-liuk di tubuhnya yang panjang, meskipun seperti itu ia juga masih bisa mengikutiku dengan mudah.


Saat berada di jarak yang sudah kurencanakan . Aku berhenti lalu berbalik melesat cepat ke arah kepala Omega sambil mengangkangkan kedua pedangku. Dalam sekali terjang darah merah kembali keluar deras. Kini kedua matanya telah berhasil kutusuk dan kuhancurkan dengan kedua pedang takdir ini.


Lalu...


[A Sky That Never Fall Asleep]


[A Moon That Never Being Alone]


[A Sun That Never Fall Down]


[A Wind That Never Hazy]


[A Cloud That Never Betrays]


[And Last ... A Destiny That Now Will Perished Before My Eyes]


[Show Your Self ... I Calling You]


[Infinite Sword of Regalia!!!]


Lionheart dan Dragontears yang menancap di kedua mata Omega keluar, lalu menyatu menjadi sebuah pedang emas yang sangat indah. Tetapi, di balik keindahannya itu terdapat kekuatan perusak yang sangat... sangat besar.


Omega yang masih bergelut di atas awan kelam tidak menyadari bahwa hidupnya kali ini tidak akan bertahan lama. Pedang Regalia telah berada di tangan kananku. Kugenggam erat-erat dengan kedua tanganku.


Aku kembali melesat terbang tinggi ke atas langit. Setelah berada di puncak yang paling tinggi, aku pun menundukkan wajahku. Melihat bentuk Omega yang telah melilit bumi dengan tubuhnya itu.


Semua warna berubah menjadi abu dari kedua mataku... persis seperti perkataan Kakakku, saat pergi menyusul kedua perempuan tercintaku.


"HAAAAAAAAA!!!"


Aku pun meluncur dari ketinggian maksimum sambil mengangkat pedang Regalia tinggi-tinggi. Setelah jarak kami—Omega dan juga diriku dekat, satu lesatan dari Pedang Regalia yang dikatakan dapat mengubah takdir telah kulepaskan.


Dan pada saat itu juga aku tidak tahu apa yang terjadi, karena ketika aku membuka mataku Omega telah lenyap menjadi kepingan ingatan. Sementara kedua sayapku lenyap menjadi cahaya, pedang Regaliaku pun hancur berkeping-keping menjadi cahaya.


Aku terjun bebas di langit kali ini, tanpa ada yang tersisa dari tubuhku sama sekali. Dan akhirnya menghantam tanah tanpa nama itu, mataku terasa berat sekali. Ahhh ... tampaknya aku sangat ingin memejamkan kedua mataku kali ini.


Lalu pada saat itu juga aku pun menutup mataku, sebuah kalimat terngiang di dalam kepalaku.


—Kami sangat mencintaimu, Kuro.


Aku tersenyum kecil....


Aku pun sama, aku sangat mencintai kalian berdua.


"Kuharap aku bisa bertemu dengan kalian lagi...."


Dan saat itulah aku sama sekali tidak bisa menggapai cahaya yang selama ini menuntunku. Hanya saja hal terakhir yang aku rasakan adalah sebuah pelukan hangat hingga akhirnya tubuhku jatuh ke dalam jurang kegelapan.


 

__ADS_1


[END]


__ADS_2