
Setelah semua muridku pergi menuju rumahnya masing-masing. Aku dan Aresya berbincang-bincang dulu sebentar. Sementara instruktur dan Kesatria Legion lainnya menemani mereka.
Aku tahu mereka pasti kebingungan, tetapi aku juga tidak ingin mendebatkan sesuatu karena itu melelahkan. Sedangkan para Kesatria Legion memintaku untuk ikut berlatih bersama mereka.
"Kuro?"
Aresya tiba-tiba saja membangunkan diriku dari lamunan.
"Ahh ... ehh, tadi sampai mana?" tanyaku yang baru tersadar dari sebuah mimpi yang sebentar.
"Huhh ... kita membicarakan tentang karirmu!"
"Baiklah-baiklah, maaf ... tadi aku melamun. Kau sudah tahu kan? lagi pula aku tidak memiliki niat sedikit pun untuk menjadi seorang instruktur, tetapi kau harus percaya pada mereka," ucapku sambil memandangi langit malam.
"Hmm ... apa kau yakin?"
"Menurutmu? Aku tidak ingin mengambil risiko itu," tuturku lalu merebahkan diriku di atas rumput yang sejuk.
"Membunuh para Guardian of Life atau—“
"Ya, atau membunuhku," potongku.
"Jadi, apa kau benar ingin meninggalkan Kerajaan Ronove ini? Aku akan memastikannya dengan pertanyaan ini," ucap Aresya, kini ia duduk di sampingku." Ohh, ke mana Fear?"
"Aku telah menitipkannya kepada seseorang. Lalu mengatakannya untuk pergi ke rumah yang seperti ini," jelasku sambil memeragakan bentuk rumahku sendiri.
"Ara ... tampaknya Fear kelelahan sekali."
Sebenarnya dia bukanlah seorang nenek melainkan perempuan cantik berambut panjang abu. Tapi mengapa aku menyebutnya dengan nenek sialan? Itu karena umur sebenarnya dari Aresya adalah 283 tahun.
Jangan kaget dulu, ia memiliki sejarah yang sama denganku. Atau lebih tepatnya dia adalah muridku, tapi mengapa aku di anggap seperti anak kecil?
Itu karena sekarang adalah tahun di mana dia menjabat sebagai kepala sekolah dan aku sebagai guru sementara. Aresya dan kedua Guardian of Life lainnya adalah murid-murid kami para pengelana.
Mereka memakan Mutiara Etheir. Mutiara ini memberikan umur panjang sebagai ganti dari kekuatan mereka. Seharusnya dia telah mempunyai keriput namun ... yah, gara-gara mutiara itu bentuk tubuhnya masih sama seperti 283 tahun yang lalu.
Terkunci dalam bentuk perempuan berumur 16 tahunan. Lalu mengapa aku masihhidup jika aku sama sekali tidak memakan mutiara itu? Kalau penasaran baca terus ok ... hahaha.
"Tentu saja, aku sudah memutuskannya. Aku akan benar-benar pergi dari kerajaan ini. Tolong simpan salamku untuk Regin si manja itu, Aresya," ucapku sambil tersenyum kecil.
"Ara ... jadi kau sudah memanggilku dengan nama asli rupanya, Kuro ... ahh tidak, Kak Reiss," sahutnya sambil membalas senyum kecilku.
"Jangan panggil aku dengan nama itu lagi, aku telah menguburnya dalam-dalam. Cukup Kuro saja, asalkan jangan dengan nama itu," tuturku, "kenapa aku harus masih menjaga kalian? Aku bukan guru kalian lagi ... hahhh. Kapan aku akan bisa beristirahat dengan tenang," lanjutku mengeluh.
"Hahaha ... itulah yang kami sukai dari dirimu, Kak. Tidak hanya baik saja, tetapi kau selalu peduli terhadap teman seperjuanganmu. Tidak seperti Kak Oz yang dingin dan Kak Selina yang genit," sahutnya sambil tertawa kecil.
"Mungkin aku harus segera menikah, agar aku terhindar hal seperti ini saja," guyonku.
"Kalau begitu, kenapa tidak dengan diriku saja, Kak? Lagi pula aku telah menyerahkan tubuh ini kepada Kakak sejak umurku masih 5 tahun," ucapnya memerah." Saat itu aku hanyalah anak kumuh dan tidak mempunyai orang tua, tapi Kakak mengulurkan tangannya untukku. Saat itu juga aku merasa bahagia sekali, dan akhirnya memiliki seorang lelaki yang kusebut dengan ayah."
"Hmm ... kau masih mengingatnya, yah waktu itu kondisimu parah sekali. Bahkan tidak ada orang yang peduli padamu waktu itu, seluruh temanmu mengabaikanmu dan tubuhmu penuh luka lebam," ucapku sambil mengenangnya. "Dan coba lihat dirimu sekarang, sangat berbeda jauh. Kau sekarang menjadi seorang perempuan yang luar biasa"
"Kak—“
Aku dapat melihat wajahnya yang sangat senang sekali bahkan memerah seperti buah ceri yang manis.
"Kalau begitu aku akan pulang dulu."
Setelah mengatakan itu, aku pun bangun, lalu membersihkan bagian belakang tubuhku.
"Ehmmm ... apakah tidak bisa di pertimbangkan lagi?"
"Tentang hal itu ... sebenarnya aku telah mempunyainya, jika harus memiliki dua sepertinya aku akan kerepotan"
"Ohh ... EHHH?!!"
Aku bisa melihat jelas bagaimana ekspresi bahagianya itu menjadi seperti kucing kesetrum yang penuh dengan kejutan.
"J-j-jadi siapa perempuan ini?" lanjut Aresya dengan gagap.
"Gadis berambut putih, bermata ungu dan ketua dari Kesatria Legion"
"VELIAAAA!?? ... sial, aku kalah cepat dengannya. Lalu kapan Kakak menikah dengannya?"
"Tadi pagi di ranjang," godaku.
"R-r-r-r-r-r-ranjanngggg!?"
Aresya sangat kaget sekali bahkan wajahnya menjadi pucat ketika mendengar itu. Aku hanya tertawa cekikikan mendengar hal itu.
"Jangan berpikir hal yang aneh-aneh dulu, aku sama sekali belum melakukan apa-apa ... hahahaha"
"A-a-aku kira ... jadi seperti itu, berarti aku masih mempunyai kesempatan. Hmph ... aku akan lebih berusaha lagi, jadi—“
Aku tak mengira bahwa Aresya menciumku dengan tiba-tiba. Kelembutan bibirnya sangatlah hangat, ia merangkul leherku dengan cukup erat. Tubuh kami saling bersentuhan dan aku dapat merasakan dua buah benda yang sangat empuk menyentuh dadaku.
"Dengan ini aku telah mengirim perasaanku yang dulu belum pernah aku sampaikan, Kak," ucapnya dengan sangat erotis.
Aku hanya dapat melihat wajahnya dari dekat. Jika kuperhatikan dengan seksama, rupanya dia memiliki wajah yang sangat manis sekali bahkan ia telah menyerahkan tubuhnya kepadaku sejak lama.
Tetapi ....
"Dengar ...," ucapku kemudian melepaskan rangkulan Aresya, "kau tahukan aku tak mungkin bisa melakukannya?"
Kedua matanya hanya menatapku lekat-lekat dengan tatapan yang sama seperti saat pertama kali kami bertemu.
"Seharusnya kau mengerti kondisiku saat ini—“
"Jadi kau menolakku? Kakak! Lalu mengapa kau menerima Velia?" potongnya sambil tersedu-sedu.
__ADS_1
"Sepertinya kau salah sangka, aku bahkan belum menerimanya kok. Malahan dia yang mendeklarasikan dirinya sendiri sebagai istriku. Jadi kau tahu kan ...," Ucapku sambil mengambil napas dalam-dalam.
"Jadi kau belum resmi menjadi suaminya?"
"Tentu saja, lagi pula dia masih di bawah umur di bandingkan denganmu," ucapku tersenyum lebar.
"Horeiii!" soraknya lalu memelukku erat-erat.
"Dasar, rupanya walaupun umurmu sudah ratusan tahun dengan tubuh belasan tahun, kau masih seperti anak-anak," sahutku sambil mengelus kepalanya.
"Hehehe ... Kakak, menyebut umur seorang perempuan itu tidak boleh lhoo. Kalau kau menyebutnya tepat di depan seorang perempuan kau akan di musuhi, tetapi jika itu aku kau boleh mengatakannya. Lagi pula aku sangatmenyayangimu," ucapnya, mendongakkan kepalanya sambil melayangkan dua buah mata seperti cihuahua lalu kembali menguburnya dalam-dalam di perutku.
"Kau ini ... sudah, kita harus segera pulang. Nanti Rena akan mengkhawatirkanmu jika dia melihatmu bersama seorang laki-laki sepertiku"
"Tenang saja, aku sudah memerintahkannya untuk menungguku di tempat biasanya," ucapnya usil, "aku masih ingin seperti ini, Kak, jika bersamamu pasti akan selalu hangat. Walaupun cuaca dingin seperti ini. Ehhh ... Kak, ada apa?"
"Uhkkk ... sesak, b-bisakah kau m-melepasakanku sebel—ahhh—“
"Kakak?!! ....”
Setelah itu aku tidak sadarkan diri beberapa saat karena saluran pernapasanku di tekan oleh dua buah benda empuk namun mematikan. Tapi untungnya aku tidak mati.
"Hmmmmm ... "
"Apakah tidurmu nyenyak, Kak?"
Untuk beberapa saat aku tidak tahu tempat ini, tetapi ketika aku menerkanya kembali, sepertinya aku masih berada di Padang Rumput Graughas. Lalu sensasi nyaman ini ... paha?!
"Suara itu, apakah kau Aresya?"
"Tentu saja, aku kira Kakak telah meninggalkan dunia ini. Hahaha ... tetapi untungnya cuman pingsan beberapa menit saja," ucapnya sambil tertawa kecil.
Dasar gadis tengik, untung ya ... ya, setidaknya aku tidak mati karena ditekan oleh benda tidak berbahaya itu.
"Sepertinya aku kelelahan, kalau begitu aku akan pulang. Hati-hati saat kau berjalan sendirian di malam seperti ini, Aresya," ucapku lalu bangun. "Monster biasanya akan sangat agresif pada malam hari." Setelah itu aku berjalan
menuju ke dalam hutan.
"Kalau begitu ... eitt—“
Tiba-tiba saja ia menggandeng tangan kiriku. Dua buah benda mematikan yang baru saja membuatku pingsan mulai menyerangku kembali dengan sebuah taktik baru. Apakah aku dapat selamat? Atau terkapar dengan limpahan darah di hidungku?
"Huhhh ... kau ini. Tapi untuk kali ini saja, sekarang kita harus bergegas untuk segera menuju kerajaan."
Setelah itu kami berdua berjalan bersama, untung saja waktu yang kuperlukan tidak begitu lama. Seperti biasa para penjaga gerbang sudah sangat mengenal diriku, jadi mudah sekali untukku keluar ataupun masuk kerajaan.
Namun mereka sepertinya kaget saat kepala sekolah akademi Magistra sedang menggandeng tangan kiriku dengan sangat erat. Sesekali mereka menyemangatiku seperti 'Semoga kau cepat menikah, Instruktur Kuro ... hehehehe. Jangan lupa undang kami'.
Aku hanya dapat menahan tawaku ini dalam hati. Tetapi, seperti inilah mengapa aku menyukai tingkah laku mereka yang sangat ramah. Tidak seperti para bangsawan ataupun konglomerat-konglomerat yang tamak dan sombong seperti itu.
"Kalau begitu, kapan-kapan akan aku traktir lagi," ucapku sambil melayangkan jempol tanda persahabatan.
"Kita sudah sampai, sekarang lepaskan tangan gurumu ini. Atau kau ingin mendapatkan hukuman?" bentakku sambil menunjukkan tatapan seperti iblis.
"Hmm ... baiklah," sahutnya, lalu ia melepaskan genggaman tangannya dengan murung.
"Ingat jangan pernah mengajak Rena untuk minum jus jeruk denganmu?"
"Kenapa? Apa jangan-jangan kau mengkhawatirkannya daripada aku, Kak?"
"Tidak, sebaliknya. Aku mengkhawatirkan dirimu jika mabuk, kau akan menggila sambil meluncurkan beberapa sihir ke segala arah."
Setelah itu kami berdua tertawa kecil, lalu kami pun berpisah. Aresya ke sebelah kanan sedangkan aku ke sebelah kiri. Di pojok dekat dengan sebuah pohon raksasa adalah rumahku bersama Fear. Rumah itu tidak terlalu megah, tetapi sebaliknya.
Sangat sederhana sekali, dengan beberapa lubang kecil yang menghiasi atap dan juga sisinya. Aku pun langsung segera membuka pintu lalu masuk ke dalam saat sampai di sana.
Namun aku tidak menyangkanya bahwa mungkin saja aku akan pingsan untuk kedua kalinya karena—
"Sayang, kau ingin makan, mandi atau di-ri-ku?"
Tiba-tiba saja Velia menyambutku dengan sebuah gaun transparan berwarna merah. Untung saja dia masih menggunakan celana dalam dan juga bra-nya. Jika tidak aku sudah pasti pingsan di tempat karena stok darah di hidungku akan di kuras secara paksa.
Namun tanpa hal seperti itu juga, aku sudah sangat kelelahan dan akhirnya tumbang lalu menghantam kedua dada milik Velia dengan keras. Menghuyungnya jatuh ke lantai dengan posisi aku menimpa tubuhnya yang setengah telanjang itu.
"Jadi ... ehhhh—“
"Anhhh ... Reiss, di ranjang saja. Fear bisa mendengarnya jika kau melakukan itu di sini ... Reiss?"
Velia pun melihatku tampak kelelahan sekali. Wajahnya yang melihat lelaki yang ia cintai itu menjadi tenang, untung saja ia tidak mengalami luka yang parah ataupun mematikan. Ia hanya mengelus-ngelus kepalanya dengan lembut.
"Kau sudah sangat kelelahan kan? Reiss. Hingga kau langsung tertidur begitu sampai di rumah," Ucapnya dengan tersenyum kecil, kedua pipinya memerah.
Itulah kata-kata yang bisa aku dengar sebelum kesadaranku terlelap.
***
Begitu aku terbangun seperti pada biasanya, sinar matahari pagi yang menembus lubang-lubang di dinding kayu rumahku membuatku tergerak. Kali ini aku tidak mendengar suara burung melainkan sebuah suara perempuan yang sedang tertidur pulas.
"Hngkkk ... ahhh, rupanya aku ketiduran tadi malam. Whuaa ... tadi malam itu sungguh ekstrem sekali, Velia benar-benar sungguh berani dengan gaun transparan seperti itu," ucapku yang masih terbaring." Hmmm ... empuk? Ah ... sepertinya aku berada di ranjangku. Lalu siapa yang mengangkatku? Velia?!"
Saat aku melirik samping kananku, Velia benar-benar sedang tertidur pulas di sampingku. Ia melebarkan tangan kanannya hingga ke samping kiri tubuhku. Seperti sedang memeluk sesuatu.
"Kau ini ... benar-benar sesuatu," ucapku lalu mencium keningnya.
Ia pun tergugah, lalu terbangun. Tangan kanannya terangkat dan menghempaskan selimut cokelat krim hingga terjatuh.
"Sepertinya aku lebih baik pingsan lagi ... VELIAAAA! Mengapa kau telanjang bulat!?" ucapku dengan kaget.
"Anhh ... hoammm, ahh ... pagi Reiss. Kau semalam tampak kelelahan sekali tadi malam, jadi aku memindahkanmu ke atas ranjang," sahutnya serasa tidak bersalah sama sekali.
__ADS_1
"A-aku tahu, terima kasih. Tapi kenapa kau harus telanjang juga?"
"Huhh? Apakah ada yang salah? Bukankah jika seorang istri telanjang bulat saat ingin tidur bersama dengan suaminya itu normal?" tanyanya sambil mendongak ke arahku.
"I-iya, kalau itu sudah sah dan melalui jalur hukum. T-tapi kan kau hanya menciumku saja tidak lebih," balasku dengan gugup.
"Tidak, itu tidak benar. Di keluarga yang mengangkatku menjadi anak angkat mereka hanya dengan mencium seorang lelaki saja itu sudah di anggap menikah," tuturnya dengan wajah polos.
"K-kau benar-benar tidak tahu aku sekarang benar-benar setengah—“
"Ohh ... aku lupa."
Ia pun langsung menindihku dengan tubuhnya yang terlihat jelas. Dari mulai lehernya hingga bagian bawah, yang seharusnya tidak boleh sama sekali aku lihat. Lalu dengan cepat ia menciumku dengan sangat bergairah.
Kedua dadanya menyentuh dadaku, rasanya seperti sebuah jeli yang hangat. Lembut, dan juga menyenangkan. Tubuhnya sangat hangat sekali, karena sekarang aku juga tidak mengenakan pakaian sama sekali.
Itu berarti kami berdua sama-sama telanjang walaupun aku masih menggunakan celanaku. Bibirnya menimpa bibir atasku, kemudian masuk. Menyedot-nyedot lidahku sambil memainkannya di dalam dengan intens.
Tidak lama kemudian ia melepaskannya dengan pelan, sambil menyedot salivaku ke dalam mulutnya. Ia mendesah sesekali, lalu akhirnya bangun dan menelan salivaku dengan raut wajah yang sangat erotis.
Aku hanya terdiam melakukan hal seperti itu, tak kusangka bahwa ia akan lebih agresif di pagi hari di bandingkan dengan malam hari. Sungguh, dengan begini atau cara seperti ini aku lewatkan setiap pagi sudah 100% aku akan mati dalam beberapa bulan ke depan karena darahku akan habis.
"A-ahhh ... sudah cukup, cepat menyingkir dari atas tubuhku," ucapku lalu melempar Velia yang masih berada di atas tubuhku ke pinggir, "aku juga harus segera membangunkan Fear"
"Anhhh ... kau sungguh suka bermain kasar, Reiss."
Dengan cepat aku segera menggunakan kemeja putihku dengan dasinya, kemudian jubah merah sebagai pelengkapnya.
Setelah itu aku menemukan Fear sedang tertidur di atas seundukkan permen bola warna-warni. Ia tampak bahagia sekali dengan wajahnya yang seperti ini. Pasti Fear meminta Velia untuk membelikannya.
Bukan hanya bahagia tetapi ia tampaknya sudah rela untuk mati dalam semua itu. Dan ... air liurnya mengalir dengan deras sesekali ia tertawa sendiri dalam mimpinya yang entah apa itu. Aku pun langsung membangunkannya.
Tapi karena ia tidak bangun-bangun juga terpaksa aku membuat jebakan dengan sebuah permen yang lebih besar dari pada kemarin. Aku mendapatkannya dari sebuah selebaran kupon gratis, sekitar dua hari yang lalu.
Untung saja dia tidak mengetahuinya, karena ia sangat fokus sekali dengan sebuah permen kapas yang besar. Dan itu terpampang di sebuah rumah pembuat permen kapas.
Aku ikat permen itu dengan tali, lalu menyambungkannya hingga menuju kamar mandi. Ia pun meresponsnya dengan cepat. ia menggeliat seperti ulat sambil mengejar permen itu. Wajahnya benar-benar seperti orang mesum walaupun ia seorang gadis kecil berkelas.
Napasnya mendengus-dengus selagi air liurnya menjadi pelumas untuk membuatnya menggeliat dengan cepat.
"Ayoo ... Fear, saatnya kau masuk ke dalam jebakan manis sempurnaku. Jangan menyalahkanku, ok. Kau yang memulainya karena susah bangun," ucapku sambil mengembangkan senyum jahatku.
Tidak lama kemudian ia sampai di kamar mandi, aku angkat jebakkan permen itu ke atas bak mandi yang penuh dengan air dingin. Setelah itu betapa cepat refleksnya, ia melompat seperti seekor ikan salmon yang bermigrasi.
Dari posisi seperti ulat lalu berevolusi menjadi ikan salmon, Fear kau benar-benar gadis kecil berkelas. Ia pun berhasil menggigit permen itu dan secara bersamaan aku lepaskan tali itu, dan akhirnya ia jatuh ke dalam bak
mandi yang penuh air dingin itu.
Aku hanya bisa tertawa tak karuan melihat itu lalu sebisa mungkin memasang wajah tak tahu apa-apa. Fear pun akhirnya terbangun namun –
"Errrrrr ... K-Kuro ... ini dingin sekali," ucapnya sambil menggigil, suaranya yang kecil seperti boneka yang rusak. Ditambah dengan proporsi tubuhnya yang mungil membuatku hanya dapat tertawa namun sebisa mungkin tetap tenang.
Wajahnya memerah, pakaiannya basah dan juga rambutnya terurai sepenuhnya.
"Pffftt ... lain kali jika kau tidur jangan susah untuk di bangunkan. Jika kau susah lagi mungkin lain kali sungai bahkan lembah ... hahaha," ucapku sambil tertawa terpingkal-pingkal.
"Hueee ... Kuro kau jahat ... ahcooo," sahutnya sambil mengeluarkan air mata bak seperti air terjun. Matanya membesar dan ia sesekali bersin akibat kedinginan.
"Huhh .. sini," ucapku lalu mendekatinya setelah itu mengangkatnya hingga keluar bak mandi. " Lain kali jangan susah untuk kubangunkan, Vel, apakah kau sudah benar-benar menggunakan pakaianmu?" lanjutku sambil
mengeringkan tubuh Fear yang kebasahan dengan handuk yang super besar, sangat besar bahkan dari tubuh kecilnya.
"Tentu saja," balasnya dengan riang.
"Kalau begitu, tunggu aku di dekat pintu," ucapku, "nah, Fear, kau sekarang sudah kering. Lalu pakai pakaianmu, cepat"
"Kuro jahat ... kalau begitu pakaikan aku pakaian itu, cepat sekarang juga," ucapnya mengancam, namun dengan suaranya yang benar-benar seperti batita aku hanya dapat tertawa kecil.
"Apa katamu?" balasku dengan meninggi." Lakukan sendiri atau kupatahkan permen ini ... hahahaha," lanjutku dengan tertawa kejam.
Fear pun panik dan ia segera berlari ke arah kamar, beberapa menit telah berlalu. Dan akhirnya ia telah berpakaian dengan layak, ia pun kembali kepadaku dengan rapi. Setelah itu aku tersenyum lalu memberikan permen itu kepadanya.
Velia sudah menungguku di dekat pintu. Aku pun segera menghampirinya bersama Fear setelah itu kami segera berangkat menuju akademi.
***
Kami bertiga pun telah sampai di akademi, dan aku tidak menduganya bahwa kabar aku akan melatih para Kesatria Legion itu sudah menyebar dengan cepat. Dan lapangan telah di penuhi oleh mereka.
Di setiap gedung-gedung, semua murid melihatnya dari balik kaca dan sedangkan untuk para guru telah bersiap di sisi lapangan. Lapangan tempat latihan kali ini berbentuk persegi panjang berbeda dengan yang lainnya.
Kali ini bahkan Aresya juga ikut menonton di bangku pelatih. Sedangkan untuk Rena ia duduk di sampingnya dengan membawa sebuah papan. Di atasnya terdapat beberapa lembar kertas.
"Reiss ... walaupun kau suamiku, aku tidak akan segan-segan kali ini," ucap Velia dengan semangat.
Aku hanya tersenyum, Fear yang seperti biasa mengemut permen langsung berjalan ke arah Aresya berada. lalu ia pun ikut duduk sambil menonton.
Kalau seperti itu aku juga menjadi semangat. Seluruh Kesatria Legion telah berkumpul di lapangan itu dengan menggunakan pakaian pelatihan. Sebuah baju seperti pakaian olah raga, namun mereka memegang senjata asli menurut keahlian mereka masing-masing.
Sepertinya akan menarik dan tidak akan membuatku bosan di akhir waktuku untuk mengajar.
Setelah itu aku melangkahkan kakiku ke dalam lapangan dan suara teriakanyang begitu keras menyemangatiku. Itu adalah tempat kelasku mengajar, bahkan Loki memegang sebuah bendera yang cukup lebar dengan tulisan 'Instruktur Kuro, kau pasti bisa. Kalahkah mereka seperti waktu kau melawan makhluk itu'.
Dasar kalian tidak pernah membuatku bosan berada di kelas itu. Tapi aku bersyukur bertemu kalian, mengenal kalian dan mengetahui seperti apa sifat kalian sebenarnya. Tidak hanya kelas satu yang menonton pertandingan bohongan ini.
Tetapi kelas dua bahkan kelas tiga juga menontonnya dari berbagai arah. Aku tidak peduli dengan semua itu, sudah cukup dengan kelas yang aku bimbing untuk menyemangatiku. Aku tidak mencari kepopuleran namun aku mengejar kebenaran.
Hahaha ... sepertinya mereka sangat bersemangat sekali. Kita lihat seorang lelaki dengan julukan si Kesatria Gagal apakah dapat mengalahkan para penyandang gelar Kesatria Legion?
"Aku harap mereka siap dengan ini, waktunya mengajar," ucapku kemudian maju ke tengah lapangan dengan senyum tipis yang menyiratkan akhir dari pertarungan.
__ADS_1