
"Pangeran inilah tempat persembunyian yang saya katakan tadi."
Aku pun langsung menengok sebuah hamparan awan putih mengambang dengan tenang. Di pandu oleh tiupan angin yang jantan. Beberapa tanah menonjol di bawa sana dan itu adalah bumi.
"Bumi? Apa kau yakin? Aku bisa mati di sana," ucapku lalu aku pun berbalik kembali dan—“
Meist menikamku dengan sebilah pedang yang cukup besar. Tepat sekali di tengah perutku, kemudian ia menariknya kembali. Semburat darah keluar dari mulut dan juga perutku bersamaan dengan rasa mual.
Linu bagaikan suara yang melengking dan perih yang serasa terbakar. Lalu muntahan darah keluar dari mulutku. "Ahkksss!!!....”
Kini tidak hanya bagian luar saja yang terlumuri oleh darah, namun bagian dalam serta semua tubuhku telah di dominasi olehnya.
"A-apa yang kau—“
Namun ia langsung mencengkeram leherku dengan sangat kuat, "Dengar ini pangeran manja, akulah yang telah meracuni seluruh anggota kerajaan. Tetapi, sayangnya aku tidak berhasil meracunimu. Sungguh beruntung sekali nasibmu."
Setelah itu raut wajahnya berubah menjadi sangat gelap dan terlihat penuh kebencian.
"Apa kau kira bermain denganmu menyenangkan, huh? Tidak, tidak sama sekali. Itu memuakan bahkan aku tidak
ingin mengenalmu sama sekali. Tidak dari sekarang namun aku memang membencimu saat aku belum di bawa ke istana."
Sekali ia menikamku dengan kuat, aku yang tak bisa menahannya hanya bisa pasrah menerima rasa sakit yang sangat mengerikan ini.
“ARghh!! Bhuakss!”
"Pa–ahh tidak, mantan pangeran, Reiss. Kalau begitu selamat tinggal ... aku harap kau beristirahat dengan
tenang mantan pangeran," ucapnya lalu mendorong tubuhku.
Karena tubuhku benar-benar telah lemas, aku tidak bisa melawannya dan pada akhirnya aku pun terjatuh dari pulau
langit itu.
"M-M-Me... ist.... "
Yang aku rasakan sekarang hanyalah rasa hampa dan perih di sekujur tubuh. Mataku perlahan mulai menutup, berharap jika semua ini hanyalah sebuah mimpi buruk saja. Tetapi, sayangnya penyesalan, dan kejadian itu begitu nyata hingga membuatku ingin menangis sekaligus mengutuk diriku sendiri.
***
Rasa dingin menjalar di dalam tubuhku, merambat seakan ingin merampas kehidupanku. Tiada suara tanpa sumber yang nyata. Penglihatan yang buta seakansemua rona pudar dan menghilang menjadi ketiadaan.
Hingga suatu saat kebahagiaan yang telah terkumpul akan sirna seperti debu. Menghilang tanpa jejak yang pasti. Hanya akan menuntunmu hingga ujung yang tak berada. Putih-putih itu seperti bercak-bercak darah yang menempel pada dinding dengan sendirinya.
"Ahkk....”
Kini semua lenyap tak tersisa. Baik itu hangatnya cuaca, lembutnya suara panggilan, keramahan tanpa pandang, hingga seseorang yang sudah kuanggap sebagai sahabat.
Tetapi... tetapi... tetapi kenapa?
"MEISSTTTT!!!!—“
Napasku terengah-engah dan jantungku berdetak hebat satu kali, seperti ingin membangunkanku dari ilusi kebohongan.
"A-aku masih hidup?—ahksss!”
Tiba-tiba saja sebuah telapak tangan menyentuh dadaku. Sensasi ini hampir mirip seperti sensasi yang dulu pernah aku dapatkan dari seseorang.
"Beristirahatlah ... lukamu belum pulih seutuhnya."
Suaranya sangat lembut, hangat sekali dan juga membuatku mengira bahwa ia adalah Ibuku.
Penglihatanku yang masih samar membuatku tidak yakin dengan apa yang sekarang aku lihat.
Untuk beberapa saat aku berusaha meyakinkan diri dengan semua mimpi buruk itu. Hingga tak lama kemudian perhatianku mulai tertuju pada seorang perempuan cantik
Ia memiliki rambut panjang kecokelatan, dengan wajahnya yang terlihat mengkhawatirkanku, aku sempat ragu, dan mengira ini masihlah sebuah mimpi.
Selain itu Hidungnya sedikit mancung, bibir merah muda seperti madu yang sangat manis, serta kulit putih cerah seperti salju di musim dingin. Dari dua buah matanya terpancar kehangatan seperti keluarga. Tetapi, ia memiliki dua buah telinga yang tidak biasa. Lalu saat aku benar-benar tersadar, ternyata aku sedang berada di sebuah ranjang.
"T-terima kasih ... siapa—“
"Aku adalah Fear. Fear Relestya, hanya seorang tabib di desa ini," ucapnya lalu menyentuh keningku, “sepertinya demammu sudah reda.”
Ia pun bangkit dari bangku kecil di dekatku. Lalu pergi ke arah meja minimalis, di atasnya terdapat dua buah perban gulung dan beberapa jenis tanaman asing yang aneh.
Mataku mulai menjelajahi isi ruangan ini. Atap yang terbuat dari beberapa jerami dan pelepah daun lebar. Temboknya terbuat dari serabut yang sedikit kasar, tapi cukup untuk menahan hangatnya cahaya matahari.
Saat itu aku mengira tidak ada yang aneh. Sebuah jendela yang disekat oleh sebatang kayu dibiarkan terbuka menganga. Seperti sebuah fentilase udara sederhana. Penutup jendela bahkan terbuat dari kayu yang cukup tebal dan terlihat ringan.
Aku bisa mendengar kegaduhan di luar sana, tapi yang paling membuatku aneh adalah dirinya... tabib? Dengan pakaian seperti itu?
Jika ini memang sebuah desa, lalu mengapa pakaiannya cukup terbuka dan sangat memesona? Ia lebih mirip seperti kebangsaanku dibandingkan dengan tabib sederhana. Seorang bangsa langit.
Kemudian ia mulai mengambil perban serta dedaunan itu, lalu segera beranjak menuju ranjangku. Ia meletakan perban di atas tubuhku, sedangkan untuk dedaunannya ia remas hingga menjadi sedikit berbuih, dan mengeluarkan serat.
"Bisakah kau melepas pakaianmu terlebih dahulu? Jika kau keberatan aku tidak akan memaksamu," ucapnya sambil tersenyum hangat.
"B-baiklah."
Aku pun mulai melepaskannya dengan anggapan ia bukanlah orang yang jahat. Tetapi, sayangnya kondisiku tidak terlalu baik, sehingga aku meminta bantuannya. Selain itu karena matanya tidak tampak seperti orang jahat jadi aku mempercayainya.
Namun, kenapa aku tidak mati setelah Meist menusuk perutku dengan pedang itu?
Ini adalah teka-teki yang harus aku pecahkan. Apalagi aku tidak tahu tempat ini, aku juga sama sekali tidak mengenalinya.
Selagi aku berpikir dan mencoba mengenali situasiku saat ini, Fear mulai mengoleskan cairan hijau itu di atas perutku.
"A-apa kau yakin ini a-akan baik-baik saja?" tuturku gemetar.
"Tenang saja, aku punya pengetahuan yang cukup luas tentang tanaman obat-obatan. Jadi tidak usah khawatir," sahutnya. "Lagi pula bagaimana kau bisa mendapatkan luka seperti ini?"
"Ahh... ahahaha. Hanya sebuah tikaman yang cukup cepat."
__ADS_1
Demi merahasiakan sesuatu aku harus berbohong, walaupun sebenarnya ini memang di tikam. Tetapi, bagaimana jika aku keterusan dan membocorkan sesuatu yang berbahaya.
Bisa gawat urusannya, terlebih lagi aku baru bertemu dengannya hari ini. Di sini, di tempat misterius dan asing untukku.
"Baiklah, sekarang angkat tanganmu"
"U-untuk apa?" tanyaku gugup.
"Jika kau tidak mengangkat kedua tanganmu, bagaimana aku akan membalut lukamu yang telah kuolesi dengan obat ini," jawabnya dengan senyum geli.
"B-baiklah."
Setelah itu ia pun membalut lukaku dengan perban putih yang cukup tipis.
"Sebenarnya apa yang terjadi di luar?" tanyaku membuka topik.
"Ohh ... tidak, hanya saja mereka begitu panik ketika menemukanmu di hutan desa. Bagaimana tidak? Seorang lelaki besimbah darah dan anehnya ia masih hidup. Apakah kau manusia?" tanyanya menggoda.
"T-tentu saja, apakah aku mirip seperti monster menurutmu?"
Sebenarnya penduduk langit sih.
"Hahahaha ... tentu saja kau manusia, mana mungkin makhluk lain," sahutnya sambil tertawa kecil.
“Sebelum itu... tadi kau bilang aku tidak sadarkan diri dan temukan oleh salah satu warga, ‘kan? Tepatnya kapan?”
Untuk sejenak ia terdiam, tapi ketika wajahnya kembali melihat ke arahku. Sepertinya bukan sehari atau dua haru saja.
“Empat tahun...,” jawabnya dengan wajah datar.
“Oh, hanya empat tahun—tunggu, apa?! Empat tahun!”
Demi kue cokelat buatan Ibuku, bukankah itu waktu yang sangat lama?
Aku pun mengambil napas, "Kalau begitu, bisakah kita pergi keluar agar para penduduk yang lain tidak mencemaskanku," ucapku memohon. "Mereka orang-orang baik, aku tidak ingin mereka terlalu berlebihan dengan orang sepertiku, terlebih lagi aku ini orang asing bagi mereka"
“Tentu, tidak masalah. Lagi pula itu adalah sebuah keajaiban, mengetahui kau tidur selama dua tahun dan baru terbangun sekarang”
“Rrrr... baik... lah?”
Ia pun hanya tersenyum tipis ke arahku. Mungkin aku mendapatkan kata 'baik' darinya. "Tetapi, tahanlah sebentar, bicara tentang hal itu. Aku belum mengetahui siapa namamu?"
"Namaku adalah... Reiss," ucapku sambil tersenyum kecil.
"Reiss ... " gumamnya.
"Apakah ada yang aneh? Aku tidak mendengar apa yang kau katakan."
Aku tidak tahu apa yang ia pikirkan saat ini, karena pipinya mulai merona, dan samar-sama aku bisa melihat mulutnya menyungging.
"Kalau begitu mari kita keluar, kau mungkin akan sedikit kaget dengan respons mereka, Reiss," ucapnya lembut sambil merangkul pundakku.
Aku hanya mengangguk pelan mendengar perkataannya. Setelah itu ia membantuku untuk berjalan, perlahan-lahan tapi pasti. Aku masih belum bisa berjalan dengan lancar karena rasanya setiap otot-otot di kakiku menjadi kaku.
Ketika penglihatanku kembali seperti semula, mataku berkedip beberapa kali untuk memastikannya.
Tempat ini di dominasi oleh tumbuhan hijau yang segar. Tenteram dan sejuk. Orang-orang berjalan ke sana kemari sambil membawa sesuatu di pundak mereka, apakah itu tanaman? Buah-buahan? Atau sayuran? Aku tidak tahu... tapi, yang jelas itulah yang mataku lihat saat ini.
Mereka menggunakan pakaian sederhana, seperti kaos polos dan celana pendek. Untuk alas, tampaknya itu adalah sandal jerami.
Seorang anak yang di duduk di atas pundak Ayahnya tampak tertawa bahagia. Sedangkan Ayahnya berlari-lari ke sana kemari. Ada beberapa orang Kakek-kakek yang saling menertawakan dirinya masing-masing.
Mereka berkumpul sambil meminum sesuatu dan inilah dia seorang kakek berambut putih kehitaman. Kulitnya sudah mulai keriput.
Dengan dua buah mata hitam yang gelap, dan tinggi yang sepertinya sebahuku. Ia berdiri tepat di depan kami berdua sambil menggigiti kuku-kuku jarinya. Bergemertak seperti mengkhawatirkan sesuatu. Lalu ia pun terdiam sesaat ketika mendengar suara di sampingnya. Ia pun memutar kepalanya dan mendapati diriku bersama Fear.
Berlari dengan rasa khawatir dan mulai meraba-raba tubuhku, "A-apa kau tidak apa-apa?" Suaranya sungguh dalam dan juga tulus. Tetapi, karena umurnya yang sudah mulai memasuki tahap lanjut, sehingga suaranya terkadang
naik satu oktaf dan menjadi lebih tinggi.
Aku hanya dapat tersenyum geli. Melihatnya membuatku menyadari bahwa kehidupan seperti ini rupanya masih berlanjut.
"Ya, aku sudah merasa baikkan. Terima kasih karena telah mengkhawatirkan diriku," ucapku. "Apakah Anda yang menemukan saya?."
Kakek itu mengangguk. "Ya, saya kaget ketika melihat Anda penuh dengan darah di hutan sana dua tahun lalu. Awalnya saya panik tapi untungnya Nona Fear datang di waktu yang tepat, sehingga saya menitipkan Anda bersamanya. Tapi... siapa sangka setelah dua tahun Anda terbangun, hahaha. Ini pasti keajaiban dewa"
"Begitu, kah? Ahaha... sekali lagi terima kasih, tapi bicara tentang itu. Apakah hari ini ada sesuatu yang spesial? Karena aku melihat mereka begitu sangat gembira dengan hari ini," tanyaku penasaran.
"Hahahaha... Anda benar-benar aneh, anak muda. Bukannya perhatian dengan tubuhmu tetapi malah penasaran dengan hal seperti itu," sahutnya. "Tapi, akhirnya saya bisa bernapas lega setelah melihat Anda tampaknya baik-baik saja. Hari ini adalah hari di mana desa kami memberikan sembahan terhadap Dewa Omega, maka dari itu kami sangat senang," ucapnya dengan berbinar-binar.
UGHHH ... O-ME-GA?!
"Lalu persembahan seperti apa yang kalian tawarkan untuknya?"
"Beberapa hasil panen dan juga beberapa hewan untuk di korbankan," jawabnya. "Kalau begitu saya mau pergi dulu untuk segera bersiap-siap, jagalah kesehatanmu anak muda ... hohohoho," lanjutnya, lalu ia pun pergi meninggalkan kami berdua.
"Sepertinya kau bukan berasal dari sini, ya, Reiss?"
Aku sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan itu dan tiba-tiba saja Fear pun melirik ke arahku. Ia melihatku seperti melihat sesuatu yang aneh, mungkin wajah kagetku cukup membuatnya keheranan.
"Reiss... Reiss? Apakah kau tidak apa-apa? Jawab aku Reiss," ucapnya dengan khawatir.
"Huhhhh... hahhh... i-iya aku tidak apa-apa, sepertinya aku masih harus beristirahat dulu sebentar. Terima kasih karena mengkhawatirkan diriku," sahutku.
Setelah itu Fear membawaku kembali ke dalam rumah. Ia segera membaringkanku di atas ranjang. "Apa kau yakin? Sepertinya kau terlihat ketakutan di bandingkan 'tidak apa-apa'?"
"Ah... tidak, aku tidak apa-apa. Hanya saja sepertinya aku belum sembuh sepenuhnya, jadi bisakah tinggalkan aku untuk sementara waktu."
Setelah itu aku pun menutup kedua mataku dan membaringkan tubuhku dengan rasa takut. Tetapi, entah mengapa perkataan Fear selanjutnya seperti bisa menebak isi pikiranku—
"Apakah kau takut tentang Omega ini? Reiss."
Tubuhku bergetar dan itu adalah reaksi setiap makhluk hidup atau setidaknya yang mereka anggap sebagai tanda ketakutan, "Fear... apakah kau seorang pengintip?"
__ADS_1
"Hmm ... bagaimana aku harus menjelaskannya, ya?" ucapnya. "Ini seperti rasa khawatir dibandingkan dengan pengintip itu sendiri."
Untuk sesaat sepertinya aku dapat mempercayainya.
"Seperti yang kau katakan, aku memang takut kepadanya. Bukan dari arti yang sesungguhnya, hanya saja itu tiba-tiba," jelasku. "Di bandingkan itu, sepertinya kau mengetahui sesuatu? Apakah boleh aku memintanya."
Fear sedikit merasa ragu pada awalnya namun perlahan ia mengucapkan sesuatu, "Aku hanya tahu beberapa hal tentang Dewa Omega yang mereka katakan," ucapnya.
" Katakan? Fear apakah kau bukan penduduk asli desa ini?"
"Hahaha... Reiss, rupanya kau pandai sekali tentang hal seperti ini. Aku memang bukan penduduk asli desa ini aku hanya menetap di sini sebagai tabib," jelasnya.
"Aku juga tahu bagaimana rasanya jika hak privasi seseorang di usik, karena aku pernah merasakannya dulu"
"Reiss, kau lelaki yang lucu. Mudah sekali terbuka dengan orang lain, jika aku jadi kau, mungkin saja aku masih merasa curiga"
"Itu karena dirimu sendiri, Fear"
"Aku?"
"Ya, karena mudah untuk kuajak bicara," ucapku. "Sebaiknya aku akan bertanya langsung. Apa kau tahu apa Omega itu?"
"Sebenarnya aku juga kurang mengerti, tetapi sepertinya para penduduk memiliki sebuah kuil di pedalaman hutan"
"Hmmm ... sepertinya ini akan menarik, aku akan bertanya apakah aku boleh pergi ke sana"
"Sebaiknya istirahatkan dulu tubuhmu, jangan terlalu memaksakan diri"
"Tetapi aku perlu mencari tahu tentang ini... kumohon Fear"
"Kenapa kau terlalu terobsesi dengan Omega ini?"
"Hanya sebuah alasan pribadi, jadi aku belum bisa memberitahumu sekarang. Mungkin jika waktunya telah tiba aku akan memberitahumu," ucapku lalu bangkit dari ranjang itu.
"Huhhh ... baiklah, tetapi jika kau terluka aku akan berhenti, ok," balasnya sambil membuang napas.
Sekali lagi ia membantuku untuk berdiri, benar-benar perempuan yang baik. Apalagi penduduk desa ini juga adalah orang-orang yang ramah.
Aku adalah orang asing yang ditemukan dua tahun lalu oleh salah satu penduduknya. Otomatis aku adalah seorang pendatang dan meski seperti itu mereka masih memperlakukanku dengan baik, buktinya adalah saat ini... aku masih bisa hidup.
Tidak lama setelah itu kami keluar dari desa dan tiba di sebuah hutan yang sepertinya tidak terlalu ramah. Tanah gembur cokelat yang selalu menelan kakiku setiap kali dipijak, kabut yang cukup tebal, apalagi suara-suara burung asing selalu terdengar beberapa kali.
Bahkan aku sama sekali tidak bisa melihat langit dari sini karena langit-langitnya di tutupi oleh daun-daun lebat.
Tepat di depan sana aku bisa melihat sebuah siluet besar, apakah itu tempatnya?
Selangkah demi selangkah dan kami pun akhirnya tiba di depan sebuah kuil. Kuil itu seperti bangunan yang hancur seperti bekas peperangan. Dengan satu buah pilar di sebelah kiri yang keadaannya sungguh mengerikan.
Lumut-lumut menyelimutinya, beberapa siput dan juga lintah ikut melumasinya. Retakan yang cukup parah dan besar. Kemudian di sebelah kanannya terdapat sebuah patung. Berbentuk menyerupai seperti tabung.
Dengan bentuk wajah yang abstrak, dua buah mata yang saling bertolak belakang. Yang satu bundar dan yang satu kotak, dengan perut yang besar. Kedua tangannya seperti sedang melakukan sebuah taruhan.
Jari-jemari miliknya masih utuh, tapi penuh dengan lumut. Kedua kakinya tidak tampak seperti baik. Kiri yang retak dan kanan yang habis di makan oleh waktu. Di antara kedua itu terbentang sebuah jembatan bebatuan berwarna cokelat ke hijauan.
Kami berjalan di atas jembatan itu, sebuah sungai dengan aliran air yang cukup tenang melintas di bawahnya. Bersih dengan aliran air yang bening. Suara katak terdengar natural di sana. Di tambah dengan desiran angin yang sepertinya sangat suka menjahili kami berdua.
Terkadang berdesis di sela-sela dedaunan pohon tinggi. Cukup untuk membuat kami berdua terpana, sebuah gerbang yang bukan main besarnya terbentang di hadapan kami berdua. Sayangnya karena kondisinya yang sudah luput dari kata utuh menjadikannya seperti remah-remah kayu.
Saat kami tiba tepat di depannya, gerbang kayu itu langsung terjatuh dengan hebat. Meninggalkan debu yang menghalangi pandangan kami berdua. Setelah semua debu itu menghilang kami pun segera memasuki kuil itu.
Dengan atap yang sudah tiada dan kondisi embok yang amat menyedihkan. Apakah ini yang kalian sebut dengan kuil?
Benar-benar tidak di jaga dengan baik. Namun satu hal yang membuat kami berdua tampak kaget dan terhenyak sebentar. Yaitu, segelimpangan tengkorak dengan baju zirah yang masih menyatu dengan tubuhnya.
Beberapa pedang berumur tergeletak begitu saja. Di setiap dinding yang kami lihat penuh dengan tulisan darah yang masih terlihat warnanya. Ada beberapa Rune yang tergurat di sana juga. Mereka seperti menyatu dengan tulisan-tulisan darah itu.
Apakah itu pesan kematian?
"Reiss... ?"
"Ya?"
"Sepertinya ini bukan sesuatu yang bagus," ucap Fear sambil menguatkan rangkulannya.
"Begitukah?"
Dan entah dari mana semua tengkorak itu tiba-tiba berdiri. Mereka menyala berwarna biru kehijauan. Tengkorak-tengkorak itu kemudian berjalan ke arah kami berdua seakan-akan ingin menyerang kami.
Lalu sebuah tangan menghentikan mereka semua dengan serentak. Siapa itu?
"Hentikan... mereka bukanlah musuh kalian, bukankah begitu Pangeran Langit Reiss Veil Drag Reizhart dan juga Putri Langit Fear Relestya," ucapnya tiba-tiba, lelaki itu entah mengapa bisa mengetahui identitas asli diriku.
Dan tunggu dulu sebentar, Putri Langit? Fear adalah seorang putri langit?
Dengan rasa keraguan yang masih kutanyakan, aku pun menengok wajah Fear, "Fear? kau seorang putri langit?"
Fear pun langsung mengubah posisi tubuhnya dan langsung memeluk diriku dari depan. Ia sepertinya merasa membodohiku tetapi ia tidak ingin melihat wajahku yang sangat kaget itu. Sehingga ia memutuskan memendam wajahnya tepat di dada bidang milikku.
"B-baiklah akan kuanggap ini adalah iya, lupakan itu... kau? Sebenarnya siapa kau? Bisa mengetahui identitas diriku?" tanyaku dengan wajah yang sangat kaget bahkan mungkin seperti membatu.
"Perkenalkan aku adalah Hughes El Lucifer, aku adalah pamanmu... "
"P-paman!? ... itu—“
"Sebaiknya kita segera menuju menu utama, Reiss. Kau sekarang berada di reruntuhan perang kuno. Saat ini juga paman akan menjelaskan segala sesuatu yang belum kau ketahui,” ucapnya sambil tersenyum kecil lalu duduk di atas kursi batu berlumut perlahan-lahan.
.
.
.
Hai semua! Nama gue ReIN dan terima kasih karena telah memberikan gue kesempatan untuk menemani malam jomblo loe! Jika kalian menyukai cerita ini maka berikan jempol ke atas dan jika tidak cukup vote lalu sebarkan cerita ini. Jangan lupa berikan komentar dan tips agar sang Author tetap semangat update ceritanya!
__ADS_1