Sword Anthem

Sword Anthem
Chapter 14 - Tuan dan Kucing


__ADS_3

Hari berlalu dengan tenang. Berkat sesuatu yang menyilaukan dan cukup aku pun terbangun dari tidur nyenyakku.


"Hahhhh... tenangnya, tanpa ada benda mematikan yang selalu mengancam hidupku"


Aku pun segera menyingkap selimut. Lalu pergi ke kamar mandi, menyiram tubuh setengah kelelahan ini dengan air dingin pasti enak. Setelah mandi aku pun langsung mengambil handuk di atas pintunya, lalu menggosok tubuh ini hingga kering.


Setelah itu melilitinya di bagian bawah tubuhku dan langsung pergi ke dapur untuk melihat bahan-bahan apa saja yang bisa kugunakan untuk membuat sarapan pagi. Dapurku seperti sebuah ruangan serba guna.


Tidak banyak bahan di sana, hanya beberapa irisan daging beku, dan beberapa telur, “Mata telur sapi lagi, kah?” gumamku lalu mengambil bahan yang diperlukan.


Untungnya tidak membutuhkan waktu yang lama bagiku untuk menyiapkan semua itu. Terlebih aku juga menambahkan roti panggang dan segelas susu dingin yang sebelumnya aku hangatkan terlebih dahulu.


Kini di atas mejaku terdapat sepiring telur mata sapi lengkap dengan irisan daging cincang, roti panggang hangat, dan segelas susu.


Tiba-tiba saja Kristal Athea mengeluarkan gambaran seorang perempuan berambut merah muda.


"Ahh ... rupanya Irina kah? Sepertinya ia kerepotan sekali dengan perannya sebagai kepala sekolah Akademi Swordia."


Setelah itu gambar itu bergerak seperti transmisi sihir, dan mengeluarkan suara.


[Untuk seluruh rakyat kerajaan Astarte maupun rakyat di luar sana. Saya kepala sekolah Akademi Swordia, Irina Hassley. Dengan ini memberitahukan bahwa Astarte Festa akan segera di adakan dan tempatnya adalah di akademi Swordia sendiri. Kepada orang-orang yang ingin mengunjunginya, silakan masuk karena Astarte Festa sekarang di selenggarakan untuk umum. Kami pun mengundang akademi-akademi lain untuk datang ke dalam Astarte Festa kami]


Setelah itu Irina tersenyum kecil, membungkuk kemudian tampilan tersebut menghilang.


"Seperti yang diharapkan darinya, terima kasih atas pemberitahuannya, Irina."


Sebelum aku memakan telur mata sapi yang aku lapisi dengan roti panggang, pertama-tama aku menuangkan saus tomat, dan memasukkan salada. Setelah itu baru memakannya dan menghayati setiap gigitannya secara maksimal.


Hari-hari yang tenang, tidak ada serangan mendadak. Tidak ada keributan, tetapi tetap saja ada masalah yang di timbulkan oleh murid-muridku. Satella, Wes, Nheil, Fiana, dan Reina. Mereka adalah murid terbaik di Akademi Swordia yang di pimpin oleh Irina.


Tetapi tidak seperti saat aku berada di akademi Magistra. Cobaan demi cobaan selalu menghampiriku secara tidak terduga, bahkan saat aku ingin tidur saja. ia selalu mencoba membunuhku dengan tubuhnya yang seksi.


Setelah aku menghabiskan roti lapis, aku pun langsung menyelesaikannya dengan tegukan susu hangat, "Ahhh


... enaknya, sekarang adalah saatnya pergi mengajar."


Semua lengkap dan tidak ada yang tertinggal. Sarapan pagi pun telah selesai saat pergi menemui para pembuat onar itu.


***


Kerajaan Ronove, Akademi Magistra


"Nona Aresya, ini surat dari Akademi Swordia dari Kerajaan Astarte," ucap Rena.


"Ahhh ... terima kasih."


Aresya pun langsung mengambilnya, kemudian ia membaca isi surat itu. Surat itu tidak lain adalah dari teman lamanya dan juga teman sesama pelatihannya bersama instruktur mereka yang telah tiada.


"Hmm ... Astarte Festa, kah?" gumamnya. "Sepertinya kepala sekolah Akademi Swordia ingin mengundang kita, Akademi Magistra untuk ikut berpartisipasi"


"Itu berarti—“


"Ya, selamat bersenang-senang, Rena," tutur Aresya dengan senyum kecil.


Sikap Rena biasa saja, namun beberapa detik kemudian ia kegirangan. Melompat-lompat dan terkadang berterima kasih kepada Aresya dengan menggenggam kedua telapak tangannya erat-erat.


"Jangan lupa ajak mereka juga."


Rena mengetahui apa yang di maksud dengan mereka, mereka adalah para Kesatria Legiun dan instruktur serta murid-murid Fear.


"Baiklah, saya akan langsung memberitahu mereka."


Rena pun langsung pergi dari ruangan itu.


"Hahaha ... semangat sekali."


Sementara itu di sebuah kelas, seorang gadis kecildengan kaca mata besar sedang mengajar. Walaupun ia pendek tetapi ia menggunakan penggaris yangmempunyai panjang dua kali lipat dari tinggi tubuhnya.


"Jadi ... jika kalian ingin membuka wadah ke tiga hingga kelima, kalian harus melakukan ini ... ini dan juga latihan seperti penguatan Mana," jelasnya dengan suara yang imut. Gerak tubuhnya yang mungil terkadang membuat seisi kelas tertawa.


"Instruktur Fear, jika kita tidak melakukan salah satu di antaranya atau kedua di antaranya, apakah wadah Mana kami akan tetap terbuka?"


"Seperti yang Hiro sendiri katakan, tapi dalam kasus ini. Jika kita tidak melakukan satu ataupun dua diantaranya maka sudah pasti wadah Mana kita akan tetap terkunci," jawabnya sambil sesekali memperbaiki posisi kaca


matanya yang cukup besar.


"Apakah ada yang ingin bertanya lagi? Sepertinya tidak, tetapi aku tidak menyangka orang-orang di kelas ini adalah para Kesatria Legiun dan juga mantan murid Kuro."


Mereka semua langsung tertegun mendengar nama itu. Tapi setelah itu mereka tersenyum karena mengingat kebiasaannya yang unik dan juga menyenangkan.

__ADS_1


"Kalau begitu aku akan membacakan surat yang di berikan oleh Rena," ucapnya kemudian membuka surat itu.


Sebelum ia sempat benar-benar membacanya, wajahnya langsung berbinar. Memancarkan wajah seorang gadis kecil sejati, pipinya merona dan kaca matanya jatuh.


"Instruktur Fear telah berubah menjadi mode gadis kecil sejati, kira-kira apa isi surat itu hingga ia menjadi seperti itu, ya?" celetuk Grey dengan wajah yang penuh teka-teki.


Suara Grey bergema hingga kelorong-lorong dan tidak sengaja terdengar oleh perawat akademi yaitu Selina. Ia pun langsung berjalan menuju kelas Fear dengan cepat, membuka pintu ruangan itu lalu menunjukkan wajah yang mendengus-dengus.


Fear yang tadi sangat senang sekarang harus menerima teror dari seorang wanita berbahaya.


"Hiiii... S-S-Selina... mengapa kau ada di sini?"


Dalam waktu yang singkat itu wajah Fear menjadi pucat dengan tubuh yang merinding karena melihat Selina yang akan segera memeluknya.


"Huh... tentu saja untuk menangkapmu Fear ... hehehe," ucap Selina dengan wajah maniak.


Fear yang mendengarnya segera melarikan diri dan menjatuhkan surat yang sebelumnya ia baca.


"Hehehehe ... Fear kali ini kau tidak akan lolos."


Selina pun langsung mengejarnya, tetapi Fear selalu dapat menghindar dengan baik.


"Lagi-lagi seperti ini, kah?" ucap Grey. "Lalu apa isi surat itu?" Grey pun langsung pergi ke depan lalu memungutnya.


Ia pun ikut berbinar dan seluruh temannya kaget melihat tingkah laku Grey yang begitu langka. Namun ia langsung tersadar lalu menyimpan surat itu di depan meja guru. Bel telah berbunyi dan kegiatan pembelajaran di akademi telah selesai.


Van, Fay dan juga Oz masuk ke dalam kelas. Mereka kaget karena melihat wajah Fear yang begitu ketakutan di kejar oleh Selina. Lalu Grey menggebrak meja untuk mendapatkan semua perhatian.


"Dengar, besok kita akan pergi untuk berpartisipasi dalam Astarte Festa. Kalian tahu maksudku, ‘kan?" tanyanya dengan semangat.


Wajah seisi kelas saling memandang dan secara perlahan sebuah senyuman tergurat di wajah mereka.


"Ya, saatnya bersenang-senang!" ia pun tersenyum lebar dan orang-orang di kelas itu berteriak akan kesenangan.


Wajah para instruktur pun ikut merasakan kesenangan ini, tetapi apakah mereka juga akan ikut ke berpartisipasi dalam Astarte Festa ini ataukah tidak?


"Ahhh ... Instruktur Oz dan yang lainnya pun ikut, ini langsung dari kepala sekolah. Tadi sebelum pelajaran di mulai Instruktur Rena memberikan ini kepada Instruktur Fear, tapi ia tidak memberitahu kami jadi aku mengambilnya


lalu membacanya," ucap Grey lalu kembali ke bangkunya.


Hampir dari kebanyakan mereka membahas tentang makanan, pakaian, hiburan, dan sejenisnya. Sedangkan para instruktur kebingungan dengan materi yang akan mereka ajarkan begitu sampai di sana.


***


Kini aku berada di sebuah serikat di kerajaan Astarte. serikat ini membebaskan para kesatria dari berbagai daerah, dengan jenis Class yang berbeda dapat mengambil suatu misi menurut kemampuannya masing-masing.


"Hmmm ... coba kulihat. Investigasi bayangan misterius ... tampaknya aku akan mengambil misi ini."


Setelah aku melihat informasi yang tertera serta hadiah yang akan aku dapatkan setelah menyelesaikan misi ini. Aku pun langsung mengambilnya, semoga tidak ada pertarungan yang sia-sia. Tetapi, informasi ini sedikit mencurigakan.


"Hm? Tuan Hughes E. Reficul?."


Itulah nama informan yang tertera di atas kertas informasi ini. Terdengar seperti seorang bangsawan, untuk memastikan keaslian informasi ini aku harus pergi ke rumahnya dan bertanya langsung. Setelah itu aku pergi ke meja informasi dan memberitahukan penjaga di sana bahwa aku akan melakukan misiinvestigasi ini.


Aku pun langsung keluar dan segera mencari rumah orang yang menempelkan misi ini. Rumahnya terletak di antara persimpangan dekat toko sepatu dan juga toko permen kapas. Sepertinya aku tahu di mana letaknya.


Tanpa menunggu lama aku pun langsung melompat tinggi lalu meloncat-loncat di antara atap-atap rumah. Saat aku melompat aku melihat sebuah rumah yang begitu menarik perhatian. Dengan arsitekturnya yang rumit dan juga warnanya yang suram.


Atapnya berbentuk seperti sebuah kerucut berwarna hitam, jendelanya di susun secara acak dan tidak rapi. Ada sebuah cerobong asap berbentuk persegi panjang yang menempel pada pinggir dindingnya.


Tersambung ke dalam rumah. Dengan asumsi yang belum dapat aku pastikan, aku menebak bahwa itu adalah rumahnya. Lalu aku pun turun tepat di depan pintunya kemudian mengetuk pintunya.


Sebuah suara terdengar samar dari dalam rumah itu. Seperti langkah kaki, lalu pintu pun terbuka. Seorang kakek-kakek dengan rambut putihnya menyambutku. Ia setinggi bahuku, menggunakan kaca mata yang bulat hanya di mata kanannya saja.


Pakaiannya seperti seorang kepala pelayan. Rapi dan juga wangi.


"Hmm... ada yang saya bisa bantu?" tanyanya ramah.


"Ahhh... apakah benar ini rumah tuan Hughes E. Reficul?"


"Ya, saya sendiri adalah Hughes yang Anda cari."


Ia tersenyum hangat kemudian mempersilahkanku masuk ke dalam rumahnya.


Aku pun berterima kasih lalu masuk ke dalam rumah itu. Beberapa ornamen kuno dan juga lukisan abstrak menyambutku. Wangi semerbak bunga lili tercium hampir di seluruh rumah ini. Lampu lampion menggantung di setiap dindingnya.


Sekarang aku ada di lorong depan yang menyambungkannya dengan ruang utama. Dinding yang di cat coklat dan juga hitam serta beberapa garis memanjang berwarna putih. Terkadang ada beberapa patung yang kulewati, mereka seperti patung-patung makhluk kuno.


"Maaf ... tapi—“

__ADS_1


"Ah, saya lupa memperkenalkan diri. Nama saya adalah Raid, saya seorang pengembara yang sedang mengambil misi Anda," jelasku dengan memalsukan identitas diri. "Lalu tentang misi investigasi ini? Apakah Anda bisa menjelaskannya secara terperinci?"


"Tuan Raid, kah?" sahutnya ramah. "Kalau begitu silakan duduk dulu di sini, sementara itu saya akan menyiapkan beberapa camilan untuk kita makan bersama."


Ia pun menunjuk sofa eksentrik kelabu kemudian ia pergi ke ruangan sebelah, menghilang di antara kegelapan.


Ini seperti di dalam dongeng saja?


Kini aku berada di ruang tengah. Dua buah sofa yang saling berhadapan berwarna kelabu dengan beberapa bulu di bagian atas penyangganya. Di samping sofa yang sedang aku duduki ada perapian yang menyala dengan redup.


Cerobong asapnya bahkan berwarna-warni. Di depanku ada sebuah meja kotak berwarna hitam gelap. Kemudian lampu gantung yang cukup lebar, bundar dan terdapat beberapa lampu yang menggantung di setiap sisinya.


Pad bagian pinggir ruangan ada sebuah tangga menuju lantai dua. Terbuat dari kayu-kayu dan juga beberapa Kristal Zenith berwarna ungu transparan. Tidak lama kemudian Tuan Hughes datang membawa beberapa camilan.


Camilan yang di taruh di atas sebuah nampan adalah dua buah teh dan juga satu piring kue kering dengan warna dan aroma buah beri biru.


"Lalu apa yang akan Anda tanyakan, Tuan Raid?" tanyanya lalu meletakan nampan itu di atas meja kemudian ia duduk di sofa depanku.


"Ahh ... maaf jadi merepotkan," ucapku gugup. "Saya akan bertanya tentang misi ini terlebih dahulu. Mengapa Anda memasang begitu banyak sekali hadiah pada misi ini? Padahal ini hanya sebatas investigasi."


Aku pun langsung mengeluarkan lembaran kertas tentang misi itu lalu menaruhnya di atas meja.


"Informasi yang saya dapat hanyalah 'Bayangan itu terlihat di dekat Lembah Mour, ia sesekali menunjukkan diri di malam hari' ,apakah Anda memiliki informasi yang lebih lengkap?”


"Hohohoho ... tentang hadiah itu kah? Memang terlalu berlebihan untuk sekedar investigasi. Tetapi apakah tuan Raid bisa menebak dalam investigasi itu apa saja yang akan terjadi? Mungkin saja akan ada monster berbahaya ataupun makhluk lain."


Ia pun mengangkat gelas yang berada di tangan kanannya. Di taruh pada sebuah alas yang terbuat dari kayu. Kemudian ia meminumnya secara perlahan, lalu kembali melihatku setelah selesai meminumnya.


"Untuk informasi lebih lanjut, bayangan itu selalu berkeliaran di Reruntuhan Armhade," jelasnya sambil mengambil kue kering yang berada di atas piring kecil, lalu memakannya dengan wajah yang berbinar.


"Hmm ... untuk penjelasan Anda yang tadi, sepertinya masuk akal juga. Kalau begitu terima kasih atas informasinya saya akan pamit dulu. Maaf bila saya mengganggu hari Anda Tuan Hughes," ucapku kemudian segera beranjakdari sofa namun ia tiba-tiba saja menghentikanku dengan mengangkat tangannya.


"Tunggu dulu... tunggu sebentar, saya masih ingin berbincang-bincang dengan Anda Tuan Raid," ucapnya dengan tersenyum kecil. "Saya sedikit penasaran, dari mana Anda berasal. Bisakah Anda menceritakannya sebentar? Lagi


pula jarang sekali saya kedatangan tamu ... hohoho. Bahkan Anda juga belum mencicipi kue kering buatan saya"


"Ahh... hm... baiklah tetapi saya tidak akan lama, karena saya masih memiliki pekerjaan lain." Aku pun kembali duduk di sofa itu, lalu mengambil satu kue kering itu. Siapa yang akan menyangka jika rasanya benar-benar enak.


"Hahaha ... tentu saja kue itu enak, orang yang membuatnya saja mengatakan itu enak," tuturnya sambil tertawa kecil. "Lalu pekerjaan seperti apa yang tadi tuan bicarakan apa?"


"Tentang itu saya hanya mengumpulkan Kristal Zenith untuk di tukar dengan uang lalu menukarkannya kembali dengan makanan," ucapku polos. "Bolehkan saya meminum tehnya?"


"Hahahaha ... Anda orang yang menyenangkan, Tuan Raid, tentu saja Anda boleh meminumnya. Lagi pula saya membuatnya untuk Anda minum," sahutnya dan ia kembali tertawa kecil.


"Terima kasih," balasku kemudian meminum teh itu. "Mint? sepertinya Tuan Hughes memiliki selera yang sama dengan saya"


"Hm? tampaknya kita memiliki pemikiran yang sama. Ohh... saat ini Anda tinggal di mana, Tuan Raid?"


"Sepertinya memang begitu, Tuan Hughes. Saya tinggal di luar kerajaan, dekat dengan danau."


Aku pun melihat sekitar dengan pelan-pelan lalu aku juga jadi ikut penasaran dengan pria ramah yang satu ini, apalagi tinggal di rumah sebesar ini bukan kah itu hal yang merepotkan?


"Apakah Anda tinggal sendiri di sini?" tanyaku.


"Hohoho... tidak, saya tinggal bersama kucing peliharaan saya. Jadi saya tidak sendiri," jawabnya sambil tertawa ala kakek-kakek eksentrik. "Nah itu dia."


Seekor kucing putih yang cukup gembul dengan wajahnya yang menggemaskan tiba-tiba datang entah dari mana. Ia pun langsung meloncat ke arah pangkuan Tuan Hughes, lalu ia duduk kemudian mendengkur.


"Lihat Tuan Raid, ini adalah kucing kesayangan saya. Masky," tuturnya lalu mengelus kepalanya.


"Anda memiliki selera humor yang tidak buruk juga... hahaha. Maaf tiba-tiba, tetapi waktu telah memanggil saya. Kalau begitu saya pamit dulu, terima kasih atas informasinya Tuan Hughes."


Aku pun langsung beranjak dari sofa, tapi tak lupa mengamankan beberapa kue kering.


"Hahaha .. ya sama-sama, kapan-kapan saya akan mampir ke rumah Anda tuan Raid," ucapnya lalu melambaikan tangan. "Ohh... satu lagi, jika Anda telah menyelesaikan misi ini dan menemukan sebuah benda apapun itu, datanglah ke rumah saya lagi lalu berikan itu kepada saya."


Ia tersenyum kecil, tapi aku tidak menemukan sebuah indikasi jahat dari dalam dirinya.


"Baiklah, tuan Hughes. Kalau begitu saya pergi."


Setelah dari sana aku pun langsung pergi menyusuri lorong aneh yang tadi, kemudian di ujungnya ada sebuah pintu cokelat dengan penerangan lampu berwarna kuning menyala.


Aku pun membuka dan melangkah keluar dari rumahnya. Siapa yang akan menyangka jika ternyata rumahnya besar sekali, selain itu ia orang yang menyenangkan. Walaupun aku sedikit menipunya tadi.


Lalu aku mengambil kesimpulan, jika bayangan ini berada di Lembah Mour. Berarti kemungkinan ia adalah si pelahap pedang, namun ada satu yang mengganjal pikiranku. Reruntuhan Armhade, reruntuhan yang dulu di pakai sebagai tempat pemujaan terhadap para malaikat.


Bisa saja bayangan itu adalah hal yang berbeda, pelahap pedang yang melawanku dulu tidak seperti itu. Mereka membawa monster hasil jinakkan dan juga terlebih mereka sangat kuat. Jika bayangan ini memiliki hubungan dengan si pelahap pedang ini maka satu hal yang pasti.


Si pelahap pedang ini berhasil menjinakan monster yang lebih berbahaya dan juga memiliki tingkat kekuatan yang lebih dahsyat. Sepertinya misi kali ini tidak akan mudah seperti yang kubayangkan.

__ADS_1


__ADS_2