
Hari yang begitu damai dan juga tenang. Suara kicau burung yang merdu mencuat di segala penjuru kerajaan. Dengan tanaman-tanaman serta bunga-bunga yang indah menghiasinya. Menjadikan taman kerajaan sebagai taman yang paling terindah di langit ini.
Sekarang adalah pesta perayaan pangeran pertama, karena ia telah berhasil menumbangkan sang pelahap pedang. Pelahap pedang? Apakah ia semacam monster? Ataukah Iblis?
Entah mengapa rasanya sungguh nikmat tetapi di dalam waktu yang sama ini juga sangat memalukan.
"Ibu... hentikan itu, ini memalukan."
Sekarang aku berada di kamarku sendiri dengan ibu serta kakakku yang menemaniku. Mereka berdua seperti menggunakanku sebagai bahan percobaan mereka. Karena ini adalah sebuah pesta yang cukup ramai.
Sehingga anggota kerajaan maupun menteri kerajaan haruslah berpenampilan sangat anggun dan memesona. Tetapi ...
"Reiss, diamlah sebentar."
Kakakku yang sibuk dengan rambut cokelatku sepertinya sangat menikmatinya.
Ia sedang memoles rambutku seperti sebuah sepatu. Dengan minyak zaitun dan pada akhirnya rambutku seperti perosotan anak-anak. Licin dan rapi.
"Ayolah, sayang. Ini adalah hari besar untuk Kakakmu, maka pakailah baju ini." Ibuku yang sangat perhatian sekali dengan pakaian yang kugunakan.
Ia sangat ketagihan sekali jika itu menyangkut diriku. Tidak hanya dalam pakaian, makanan, bahkan ia lebih perhatian di bandingkan Kakakku sendiri. Akhirnya aku bisa membuka mata tanpa rasa khawatir.
Di depanku kini terpampang cermin kotak yang cukup besar. Lalu kulihat dari mulai rambut cokelat kebanggaanku, kini telah berganti model menjadi seperti gaya bob namun dengan rambut yang lebih lurus dan mengilat.
Wajahku yang di bersihkan dari kotoran dan juga debu. Bersih seperti baru. Lalu turun ke pakaian, menggunakan sebuah kemeja putih yang sangat bersih, dengan jas hitam yang cocok untukku, serta muat sekali dengan ukuran tubuhku.
Di saku sebelah kirinya terdapat sebuah serbet putih yang mengambai hingga setengahnya. Dan khusus untuk bagian tengahnya adalah dasi kupu-kupu polkadot yang cerah.
Sedangkan untuk bagian bawahnya adalah celana panjang hitam yang lembut dan ringan, sangat nyaman. Lalu bagian sepatu seperti kebanyakan orang, yaitu sepatu formal tapi dengan ukuran yang pas untuk sepasang kaki mungil seperti milikku.
"Wahhh ... Reiss, sayangku ... kau begitu tampan sekali," ucap Ibuku merona.
"Hmm... pangeran kedua Kerajaan Faustia kau begitu luar biasa," ucap Kakakku sambil terkekeh-kekeh. "Dengan pakaianmu seperti itu mungkin akan ada yang jatuh cinta kepadamu."
Kakakku pun berbalik, tapi aku tahu ia kini sedang tertawa kecil.
"Hueee ... Ibu, lihat Kakak menertawakanku," rengekku. "Bisakah aku menggantinya dengan yang biasa? Ini terlihat begitu menggelikan," lanjutku sambil menarik-narik dasi kupu-kupu polkadot milikku.
"Ray ... hentikan itu. Reiss, sayangku ... kau itu sudah tampan, jadi percaya dirilah. Kau adalah anak ibu yang sangat lucu," sahutnya lalu mengelus-ngeluskan pipinya ke pipi kananku.
Aku tahu ibu memiliki selera aneh, tetapi kenapa aku yang harus menjadi objek percobaannya? ... hueeee.
"Baiklah Bu," ucap Ray. "Tenang saja, Reiss. Kau tampak tampan dan memesona," lanjutnya sambil mengarahkan jempol tangan kanannya ke arahku.
Sepertinya mereka sangat bersikeras dengan semua ini.
"Eummm ... baiklah aku akan menggunakan ini, tetapi—“
"Tetapi?" sahut mereka berdua.
"Mengapa pakaian kalian sangat berbeda dengan punyaku?!"
"Ara ... apakah Ibu belum memberitahukannya?" ucapnya. "Nanti kerajaan lain akan datang untuk bertamu, sehingga Ibu harus berpakaian seperti ini. Ibu juga sebenarnya tidak ingin menggunakan pakaian seperti ini...
memamerkan dada atas dan juga paha."
Ia pun menarik lenganku lalu memelukku erat-erat. "Reiss, sayangku... Ibu sangat menyayangimu sama seperti kakakmu, Ray."
Rasanya hangat sekali dan sangat nyaman, sensasi seperti inilah yang membuatku bahagia di keluarga ini. Dengan senyum tulus mereka, tingkah laku mereka yang sangat perhatian dan juga sangat khawatir.
Wangi Ibuku sungguh harum sekali, dengan rambut hitamnya yang sungguh indah. Di hias dengan beberapa bunga lili putih di bagian samping kirinya. Setelah itu ia pun melepaskan pelukannya lalu mengecup keningku dengan lembut. "Ini sebagai jimat keselamatan"
"Eummm... "
"Reiss, seperti yang Ibu katakan tadi. Kakakmu ini kerepotan dengan pakaian ini, kalau boleh memilih. Kakak ingin pakaian yang seperti biasa saja," ucapnya sambil mengucel-ngucel pipi kirinya.
Ia berpakaian bagai laksana perang yang gagah berani. Dengan jubah putih yang sangat mewah, sepatu yang sangat cocok sekali. Serta sebuah pedang yang tersarung di pinggang kirinya.
Membuatnya semakin tampan dengan rambut yang di sisir menyamping. Wanginya yang seperti parfum mahal menambah daya tariknya tersendiri.
"Kalau begitu ayo kita segera keluar, sayang," ucap Viona lalu menggandeng tangan mungil kiriku.
Kakak, ibu dan juga diriku akhirnya keluar untuk segera menuju ruang aula kerajaan. Di mana pesta ini akan segera di selenggarakan. Ketika kami bertiga melewati koridor kerajaan. Para pelayan memberikan hormat kepada kami.
Ada beberapa yang berwajah merah karena melihat ketampanan kakakku, ada juga yang memerah dan merasa gemas sekali karena melihatku menggunakan pakaian ini. Mereka seperti menahan teriakannya masing-masing.
Tepat sebelum kami tiba di pintu aula, ayahku telah berada di depannya. Ia seperti menunggu seseorang, kemudian akhirnya ia menoleh ke arah kami. Entah mengapa ia langsung berlari ke arah kami, seperti kerasukan sesuatu dan –
"WHOAAAA!! ... Reiss, Anakku kau begitu gagah berani sekali," ucap ayahku dengan lantang.
Ayah ... apakah itu pujian ataukah hinaan?
Lalu tepat setelah itu ia pun memegang kedua pinggangku. Setelah itu mengangkatku seperti sebuah pesawat terbang. "Hehehe ... tidak hanya gagah kau juga lucu"
"Hueee ... hentikan itu ayah, aku takut," rengekku. "Turunkan aku!"
"Cup, cup, cup. Reiss si lucu, Reiss si menggemaskan," tuturnya dengan wajah seperti seorang maniak.
Ibu dan Kakakku hanya dapat menertawakanku di dalam ketakutanku ini. Tidak hanya ibu dan kakak saja yang sangat perhatian terhadapku. Tetapi, bahkan hingga Ayahku yang di kenal sebagai pahlawan langit pun, menampakkan sifat aslinya jika berurusan dengan keluarganya.
Ceroboh, sembrono, terlalu berlebihan. Apalagi ketika menyangkut diriku ini, mereka sangat menjagaku seperti sebuah harta yang paling berharga dibandingkan dengan harta kerajaan.
Aku yang masih merengek karena takut dengan wajah yang dibuat oleh Ayahku hanya dapat pasrah. Tidak lama setelah ia menurunkanku.
__ADS_1
Setelah itu ia langsung membuka pintu aula pelan-pelan
Kumpulan orang-orang yang tidak aku kenal berkumpul di aula ini. Mereka sangatlah mewah dengan tampilan serta asesori yang mereka pakai. Ibu menggandeng tanganku kembali, ayah berjalan di depan sedangkan Kakakku berjalan di samping Ayahku.
Kami seperti keluarga yang sangat legendaris, walaupun kami sebenarnya keluarga yang sangat harmonis dan juga penuh kehangatan. Ayahku langsung disambut oleh para menteri, sedangkan Kakakku di sambut oleh para gadis cantik.
Untuk Ibuku sendiri di sambut oleh para lelaki bangsawan yang sangat tampan dan juga memesona. Tapi, di sisi yang lain aku juga sama hanya saja mereka—perempuan yang sangat mendambakan diriku sebagai adik ataupun anak mereka.
Wajah mereka mendengus seperti pemangsa anak-anak. Pipi mereka memerah dan ada aura yang sangat aku takuti di sana. Dalam sekejap aku langsung mengubur wajahku ke dalam pelukan ibuku, karena takut di mainkan oleh para perempuan itu.
Ibuku hanya mengelus-ngelus kepalaku agar tenang, ia pun terkadang berbisik kepadaku untuk membuatku nyaman. Setelah itu ayah dan juga Kakakku pergi menuju singgasana. Ayahku di tengah dan Kakakku di samping kiri.
Ibuku kemudian melepaskan pelukannya lalu berbisik kembali ke arahku. "Reiss, sayang ... Ibu akan pergi dulu ke sana. Jadilah anak yang baik selama di pesta ini, ya," tuturnya sambil mengecup keningku dengan lembut.
Setelah itu aku pun langsung berlari ketika ibuku sudah meninggalkanku. Karena jika aku tidak segera berlari maka aku akan di jadikan bahan cubitan. Terutama bagian pipi dan juga tubuh kecilku.
Akhirnya aku sampai di pintu belakang aula, Ayahku berdiri pada saat itu. Aku tidak tahu apa yang ia katakan namun Kakak dan juga Ibuku berdiri, bersamaan dengan para tamu undangan mereka semua mengangkat gelas berisikan wine rasa anggur yang sepertinya sangat lezat.
Namun aku tidak lagi menoleh ke arah mereka berada. Dalam sekejap aku pun membuka pintu lalu melangkah keluar. Dua buah koridor menyapaku kala itu, yang satu menuju lantai atas dan yang kedua menuju dapur.
Setelah itu aku pun memutuskan untuk pergi ke lantai atas, sambil berlari kembali menuju koridor pertama, beberapa pelayan kerajaan menyapaku dengan ramah. Untuk pelayan laki-laki mereka membungkuk kemudian menyapaku.
Responsku adalah melambaikan tangan sambil berlari di koridor itu dengan memberikan senyum lebar. Jika pelayan perempuan mereka membungkuk namun setelah aku melewati mereka, mereka berteriak gemas.
Misalnya saja 'kyaaa ... Pangeran Reiss, Anda benar-benar menggemaskan hari ini', seperti itulah. Namun aku tetap memberikan senyum lebar serta lambaian tanganku kepada mereka.
Seorang bocah kecil berambut coklat yang di semir layaknya sepatu. Licin,mwangi dan juga rapi. Di bentuk menyerupai perosotan yang lembut. Dengan dasimkupu-kupu polkadot yang cerah. Ia sedang berlari di koridor kerajaan.
Aku menemui jalan buntu pada akhirnya, tetapi saat aku kembali menuju aula, kakikumtersandung sesuatu dan sebuah pintu rahasia terbuka tepat di bawah karpet merah yang membentang luas di setiap koridor kerajaan.
Karena rasa penasaran bisa mengalahkan rasa takut, aku pun menyingkapnya, lalu masuk ke dalam pintu rahasia itu.
Jurang?
Saat itu juga tubuhku terperosot ke dalam, sensasi ini sama seperti papan seluncur.
"Whoaaaaaa ..."
Pantatku mendarat terlebih dahulu, alhasil rasa sentakannya sakit sekali. Begitu aku mencoba bangkit, tempat ini sangat gelap. Untungnya aku bisa menggunakan sihir cahaya yang diajarkan oleh Kakakku.
Sebuah cahaya keluar dari telunjuk tangan kananku. Kemudian menerangi seisi ruangan secara perlahan-lahan. Tempat ini sangat berdebu dan dipenuhi oleh barang-barang aneh, tanganku mencoba meraba sesuatu hingga secara tidak sengaja menekan sesuatu.
Seperti keajaiban yang luar biasa. Ruangan itu tiba-tiba menjadi terang akibat lentera sihir yang aktif. Lentera-lentera itu berbaris di sepanjang pinggir tembok serta langit-langit. Berwarna putih terang.
"Hmmm ... sejak kapan perpustakaan berada di lantai bawah?"
Dan pada saat itulah aku mengira bahwa ini adalah perpustakaan. Namun aku salah ...
Aku kembali menjelajahi tempat ini dengan seksama. Buku-buku yang aku lewati benar-benar bersih seperti di bersihkan setiap hari. Lantai pun sangat harum seperti harum melati dan ada beberapa jejak-jejak di pinggiran tembok, seperti ada yang pernah berjalan di atasnya.
"Huaaaa...."
Dengan refleks yang cepat aku langsung terjatuh lalu menjauh dari sana. Apakah itu monster ataukah penjaga perpustakaan. Ia memiliki delapan buah sayap dengan masing-masing empat putih dan juga hitam.
Di atas kepalanya terdapat setengah halo dan juga setengah tanduk. Wajahnya rata tak memiliki mata, hidung, mulut namun memiliki telinga. Rambutnya berwarna hitam gelap rapi.
Menggunakan sebuah jubah keabuan dengan merah serta putih pada bagian tengahnya. Ia juga memegang sebuah buku yang cukup besar di tangan kirinya. Ia telanjang kaki, kulitnya putih pucat seperti mayat.
"S-s-siapa kau!?" tanyaku gemetar.
"Sepertinya kita belum pernah bertemu, betulkan Pangeran Reiss," sahutnya dengan lembut.
"K-k-kau bisa berbicara padahal tidak memiliki mulut"
"Hahaha... saya tidak berbicara, tetapi saya menggunakan telepati tepat ke pikiran Anda," jawabnya. "Karena jumlah Mana yang Anda miliki sangat luar biasa, sehingga saya dapat menjadikan telepati ini seperti pembicaraan biasa"
"Maafkan saya, jika saya mengagetkan Anda, pangeran Reiss," ucapnya lalu duduk menyilang di lantai.
"Ahhh... aku kira kau hantu atau sejenisnya, aku hampir saja pingsan. Tetapi syukurlah kalau begitu," ucapku lega." Lalu apa yang kau lakukan di sini? Apakah tidak bosan," lanjutku kemudian perlahanmendekatinya.
"Saya di sini telah berjuta-juta tahun lamanya, menunggu seorang yang pantas untuk menunjukkan jalan takdir yang sesungguhnya," sahutnya." Maafkan atas kelancangan saya, saya belum memperkenalkan diri walaupun saya sudah mengetahui Anda. Nama saya adalah Shines, sebuah petunjuk sejati yang tidak pernah terlelap."
Kemudian ia pun berdiri, lalu menggandeng tanganku. Aku tak keberatan selama itu tidak menyakitiku. Lalu ia membawaku ke arah meja coklat yang cukup besar di dekat persimpangan dua buah tangga.
Jika kulihat lebih jelas lagi, ini memanglah sebuah perpustakaan. Dan terlebih lagi sungguh luas. Dengan berbagai rak yang mengapung dan tergantung seperti mainan bayi. Langit-langit atasnya terbuat dari kaca yang tembus
pandang.
Dapat kulihat langit malam... ehh, malam?
"Apakah ini sudah malam, Shines?"
"Hahaha... Pangeran Reiss, waktu di sini tidak pernah berubah. Meskipun waktu di dunia anda selalu berubah-rubah," sahutnya dengan tertawa kecil.
Dengan nada yang dalam serta intonasi yang selalu tepat, ia seperti seseorang yang bjiak meskipun aku tidak yakin jika ia adalah orang.
"Maksudmu?"
"Ini adalah dunia yang seharusnya tidak pernah ada, sedangkan dunia Pangeran Reiss adalah dunia yang di ciptakan untuk sebuah takdir yang kejam"
"Jadi maksudmu adalah aku sekarang berada di dunia lain, seperti itu?"
"Ya, tepat sekali. Lalu untuk sekarang perputaran waktu tidak berlaku di sini karena sekarang kita memang sudah berada di angkasa," ucapnya. "Bagaimana jika sekarang kita intip takdir milik Anda sendiri? Apakah Anda penasaran?"
__ADS_1
"Whoaaa... takdirku? Sepertinya menarik, kalau begitu ayo." Setelah itu kami sampai di meja itu.
Ada beberapa buku yang di tumpuk menjadi beberapa menara yang terpisah. Dengan memiliki warna yang berbeda, menjadikannya seperti menara sungguhan, dan itu menjulang tinggi sekali.
Di tengah-tengahnya terdapat sebuah pena dengan tinta yang masih basah. Beralaskan sebuah kayu persegi panjang yang tipis dengan helai bulu putih yang sejajar. Setelah itu Shines segera duduk di kursi dekat tengah meja itu.
Karena ukurannya yang sangat luas maka aku pun duduk di atasnya karena tidak ada kursi lagi. Ia juga sepertinya tidak keberatan, "Kalau begitu mari kita dengan permainan kartu tarot," ucapnya pelan.
"Kartu tarot?"
"Ya, kartu tarot biasanya dapat memperlihatkan masa lampau, sekarang bahkan masa depan. Namun kemungkinan semua itu tidak akan terlalu jelas, karena takdir berada di tangan Anda sendiri, Pangeran Reiss."
Setelah itu setumpuk kartu yang aneh berserakan di atas meja besar itu. Kemudian Shines menempelkan telunjuk tangannya tepat ke tengah-tengah kartu berserakan itu. Dan ajaibnya kartu-kartu itu berbaris menjadi beberapa banjar dengan sangat rapi.
"Kalau begitu pangeran Reiss, silahkan Anda memilih lima kartu sesuai dengan petunjuk hati Anda," ucapnya lalu kedua tangan miliknya menyilang di atas meja.
Aku tidak terlalu paham namun sepertinya kartu-kartu itu terbalik jadi aku memilihnya secara asal dan cepat.
"Rupanya Anda percaya diri sekali, pangeran Reiss... kalau begitu mari kita lihat kartu pertama Anda," ucapnya." Wah wah, rupanya kartu Si Bodoh. Di masa yang akan datang Anda akan di hadapkan dengan berbagai masalah
namun Anda berpeluang mendapatkan pengalaman baru serta teman baru"
"Coba yang kedua... hmmm, Lima Tonkat Sihir. Setiap kali Anda mengalami masalah ataupun kesusahan, Anda selalu dapat tersenyum walaupun itu adalah masalah besar yang mungkin menyangkut dunia ataupun keluarga Anda"
"Lalu selanjutnya adalah ... Roda Keberuntungan, di masa yang akan datang juga Anda akan mengalami keberuntungan, jangan pernah takut untuk mengambil tindakan serta mencoba hal yang baru"
"Yang ke empat adalah... Penghakiman, suatu saat Anda akan menuai dari hasil jerih payah masa lalu. Mengampuni orang-orang yang telah menyakiti Anda di masa lalu"
"Dan yang terakhir adalah ... sepertinya tidak cukup baik seperti yang ke empat kartu yang tadi," ucapnya. "Kartu Keadilan, namun kartu ini terbalik, jadi Anda suatu saat akan mendapatkan ketidakadilan, tuduhan palsu serta pikiran negatif lainnya. Kartu ini sangat kontras sekali dengan Penghakiman," jelasnya. "Tetapi, dengan kelima kartu ini saya hanya dapat menyimpulkan bahwa Anda sangat lah positif terhadap masalah di sekitar Anda, terlebih lagi takdir yang menunggu Anda di masa depan sangat lah berat."
Aku yang mendengarkan itu seperti melihat diriku di masa depan dan juga masa lalu. Entah mengapa tetapi perasaanku mengatakan bahwa takdirku sepertinya tidak akan menyambutku dengan baik-baik.
"Pangeran, ada satu lagi yang akan saya tunjukan kepada Anda," ucapnya sambil mengangkat tangan kanannya.
Langit-langit tempat ini terbuka dan memperlihatkan beribu-ribu bintang yang indah. Namun di antara mereka ada sebuah bintang dengan warna yang berbeda sekali. Bintang itu berwarna merah terang seperti kobaran api.
Dan bintang itu kemudian jatuh tepat ke tengah-tengah perpustakaan ini....
"Inilah yang saya ingin tunjukan kepada Anda ... Bintang Harapan."
Shines pun berjalan keluar dari kursi duduknya.
Setelah itu ia mendekati bintang jatuh itu sambil membawa buku, lalu membacakan sesuatu yang tidak aku mengerti. Namun ada beberapa Rune yang kemudian mengambang keluar dari buku itu lalu mengelilingi bintang jatuh tersebut.
Ia pun menyuruhku untuk mendekati bintang itu. Situasi langka ini sangat lah jarang terjadi sehingga aku pun segera beranjak dari meja dan langsung menghampiri Shines berada.
"Pangeran... inilah takdir yang akan menentukan masa depan Anda, sentuhlah lalu pikirkan apa yang Anda inginkan"
"Baiklah," kemudian aku menyentuh bintang jatuh itu. Cahaya yang meneranginya mulai meredup secara perlahan kemudian memudar.
Lalu cahaya itu muncul kembali seperti spiral, berputar-putar di sekelilingku dan juga di sekeliling bintang jatuh itu, dan akhirnya lenyap bersamaan keluarnya butir-butir cahaya yang gemerlap.
Sebuah pedang yang sangat luar biasa keren tiba-tiba menancap tepat di posisi bintang jatuh tersebut. Tetapi, bintang jatuh itu menghilang dan di gantikan oleh sebuah pedang. Bentuknya yang unik seperti pedang yang di katakan oleh Kakakku.
Yaitu, Pedang Tak Terhingga Regalia.
"Hmm... saya tidak menyangkanya bahwa pedang ini menerima Anda"
"Maksudnya?"
"Ya, ini adalah bentuk asli dari Pedang Regalia. "
"APA?!" celetukku kaget.
"Takdir seperti apa yang Anda inginkan, Pangeran Reiss?'
"Tentu saja hanya satu ... aku ingin menjadi seorang penyelamat," tuturku dengan tulus.
"Hahaha ... menarik, walaupun Anda masih anak-anak tetapi takdir Anda sungguh lah hebat. Kalau begitu saya bisa beristirahat sekarang"
"Beristirahat?"
"Ya, tentu saja beristirahat. Setelah berjuta-juta tahun lamanya akhirnya aku bisa tenang juga, pangeran Reiss, dengan ini saya... Shines, kehadiran yang tak pernah terlelap menyatakan Anda sebagai sang pengemban
harapan," tuturnya sambil mengangkat kedua tangannya.
Ia pun berubah menjadi butiran-butiran yang mengambang di udara. Kemudian ia mendekatiku lagi lalu memegang pundak kiri kecilku, “Pangeran Reiss, ini bukan hanya sebuah takdir, tetapi juga sebagai sebuah kutukan, jadi saya minta agar Anda berhati-hati dengan ini. Terlebih lagi Pedang Regalia telah menerima Anda, kini takdir berada di dalam genggaman Anda sendiri"
"Kalau begitu selamat tinggal, saya senang bisa bertemu dengan Anda di sini. Kirimkan salamku kepada Ayah Anda, pangeran Reiss." Ia pun kemudian menghilang sepenuhnya meninggalkan teka-teki yang belum aku pecahkan sama sekali.
Sinar yang sangat silau menghantamku dengan cepat. Lalu aku pun tidak sadarkan diri.
*
__ADS_1
Hai semua! Nama gue ReIN dan terima kasih karena telah memberikan gue kesempatan untuk menemani malam jomblo loe! Jika kalian menyukai cerita ini maka berikan jempol ke atas dan jika tidak cukup vote lalu sebarkan cerita ini. Jangan lupa berikan komentar agar sang Author tetap semangat update ceritanya!