Sword Anthem

Sword Anthem
Chapter 3 - Seseorang Yang Tak Terduga


__ADS_3

"Bangun, kau ini laki-laki, 'kan?


Aku pun menghela napas, kemudian wajahku menoleh ke samping kanan, menata datar sesosok yang kini sedang bersembunyi di balik semak-semak itu.


"Kau masih ingin bersembunyi? Aku bisa merasakan hawa kehadiranmu ...."


"Jangan—eh?"


Wajah Reya tercekat ketika aku mengatakannya. Tidak lama setelah itu, muncullah seorang perempuan berambut putih keunguan. Semakin ia mendekat, aku bisa melihatnya dengan jelas.


Dengan wajah, postur tubuh, dan mata biru violetnya itu. Benar-benar sebuah kombinasi pemikat laki-laki, terkecuali diriku sendiri. Aku sama sekali tidak merasa berdebar-debar atau apapun yang menyangkut dengan kegirangan.


"Velia?! T-tetapi sejak kapan?"


Dengan raut wajah kagetnya itu, aku hanya bisa tertawa dalam diam. Selagi menikmati pemandangan yang jarang seperti ini. Setelah di kalahkan, sekarang ia dikagetkan oleh sosok perempuan di depannya.


"Eumm ... Apa aku mengganggu kalian?"


"Tidak sama sekali. Hanya saja kebiasaanmu untuk menguntit kami tidaklah baik ... tuan putri," sahutku.


"Hmm ... eh, apa?! instruktur, kau bercanda kan? Aku bahkan tidak merasakan hawa kehadirannya"


"Hmm ... kau langsung memanggilku instruktur, eh? Kuberi kau nilai A+ untuk kali ini, Reya Leshar."


Aku pun berdeham, sekilas melihat perempuan bernama Velia ini. Kemudian menjelaskannya lagi.


"Perempuan yang menarik," gumamku pelan, "Tuan putri, anda memiliki kebiasan yang buruk"


"Anoo ... aku bukan tuan putri, tapi—"


"Dia adalah Velia Priscelya, kapten dari Kesatria Legiun," potong Reya dengan wajah tak bersalah.


"Reyaaaa!" geram Velia kemudian menggembungkan kedua pipinya yang putih.


"Aku tahu kalian saling kenal, tapi bisakah kita simpan untuk besok? Aku mengantuk dan ingin segera tidur sebelum nenek tua sialan itu mulai memerintahkan sesuatu yang aneh lagi"


Aku pun langsung berbalik, meninggalkan mereka berdua yang sedang dalam argumen yang menggelikan.


"Instruktur, tunggu aku," ucap Reya, ia pun langsung bangkit dengan cepat kemudian mengikutiku dari belakang dengan lambat." Nenek sialan? Instruktur apakah itu adalah kepala sekolah?." Lanjut Reya dengan memasang wajah kebingungan.


"Hmmm ... hebat sekali kau langsung mengetahuinya. Sebaiknya kau istirahatkan dulu tubuhmu itu, besok pelajaran akan dimulai"


" ... Lagi-lagi mengabaikanku. Tunggu aku ...."


Velia pun berlari menghampiri Reya dan aku berada. Sepertinya ia kesal sekali kali ini, wajahnya memerah matang.


Setelah itu kami bertiga kembali ke kerajaan.


                                                                ***


Pagi yang cerah menyambutku dengan tenang. Suara burung gereja yang bertengger di


atap-atap rumah mulai menunjukkan alunan yang merdu. Perlahan kesadarankumulai kembali.


"Sepertinya tidak ada yang aneh pagi ini. Hahh ... kuharap pekerjaanku kali ini tidak terlalu berat. Ini semua gara-gara nenek sialan itu!"


Di dalam sebuah ruangan yang di penuhi oleh pedang-pedang antik yang tak terpakai. Menempel pada pinggir-pinggir dinding yang berwarna coklat muda dan kuning yang cukupcerah.


Seorang perempuan berambut putih – ahhh tidak, seorang nenek yang sedang menulis sebuah laporan dengan tenang mendengar sebuah langkah kaki dari luar ruangannya.


"Ahcooo ... ini yang ketiga kalinya. Sepertinya Kuro mulai mengutukku lagi ... hahahaha."


Wajahnya menoleh ke arah pintu yang di ketuk seseorang. Kemudian ia pun mempersilahkannya untuk masuk ke dalam.


"Ya silahkan masuk."


Pintu itu pun terbuka, seorang perempuan berambut cokelat krim cantik muncul. Ia pun menghampiri seseorang yang ia anggap penting di akademi itu.


"Nona Aresya, apakah anda yakin akan memasukkan orang ini ke dalam kelas buruk itu?" ucapnya kemudian menyerahkan seberkas kertas dengan foto seorang lelaki berambut cokelat tua.


"Mungkin saja ia akan melakukan hal yang tidak diinginkan, walaupun itu adalah rekomendasi dari Anda, Nona Aresya," lanjutnya.


"Sudahlah Rena. Aku yakin ia akan melaksanakan tugasnya dengan benar," sahutnya dengan senyum jahat.


"Jika itu adalah keputusan Nona Aresya, aku akan mencoba mempercayainya."


Sementara mereka membicarakan masa lalu, di sebuah rumah sederhana yang hanya memiliki satu ranjang. Lelaki berambut cokelat tua mulai bersiap-siap untuk pergi ke sebuah tempat selagi ia masih dalam keadaan setengah sadar.


"Lupakan tentang masalah itu atau aku akan terlambat."


Aku pun lekas menyingkap selimut, tetapi semua itu berubah menjadi bencana ketika tanganku merasakan sesuatu yang begitu lembut.


"S-sepertinya ada yang tidak beres."


Dengan wajah yang memucat aku pun memberanikan diri untuk melihatnya. Ketika aku mengetahui siapa yang berada di balik selimut. Aku pun tercekat, karena saat ini  ... telapak tanganku sedang menyentuh pipi Velia.


Melihat wajahnya yang sedang kemerahannya saja sudah membuatku merasa bersalah. Ia adalah murid dan aku adalah seorang guru. Benar-benar takdir yang kejam.


"Emm, Velia? Mengapa kau ada bisa ada di sini?"


Sepertinya aku tidak bisa mengharapkan pagi yang tenang dan itu semenjak pertemuanku dengan Fear.


Hanya dengan menggunakan gaun violet yang begitu menggoda, ia pun mulai mendekat ke arah wajahku.


"Sebaiknya kau segera turun dari ranjangku sebelum kutendang terlebih dahulu," ucapku halus dengan mata yang menyipit bernada ancaman.


Dan di sebelahnya adalah seorang gadis kecil berambut merah. Terlebih kini air liurnya tumpah ke tubuhku.


Pakaiannya berantakan, rambut yang menyebar seperti ranting. Benar-benar tenang bahkan sama sekali tidak merasa bersalah karena telah menunpahkan cairan menjijikannya.


"Sial ... "


"Ahhh ... Kuro pagi," ucapnya dengan tenang.

__ADS_1


Selagi air liurnya itu menetes, ia pun menatapku dengan mata yang linglung. Wajah penuh kepolosan dan postur yang menjengkelkan.


"Ada apa dengan wajahmu, apakah kau melihat sesuatu yang seram?" lanjutnya dengan menunjukan ekspresi yang tak berdosa sama sekali.


"Itu adalah dirimu sendiri dan berhentilah untuk menjatuhkan air liurmu di atas tubuhku Fear!"


Aku pun mencengkram kepala mungilnya yang sangat terbuka lebar.


"Awawa ... hiks, itu sakit Kuro"


"Ini semua salah siapa!?"


"Hnggg ... aku"


"Nah itu kau tahu, lalu berhentilah menjatuhkannya. Nanti tubuhku akan di banjiri oleh air yang tidak ku-inginkan," ucapku memohon dengan sangat.


Lalu kali ini giliran Velia yang mulai menyandarkan tubuhnya di dadaku. Mengangkat wajahnya perlahan, kemudian memegangi kedua pipiku.


"Anuu ...  mengapa kau ada di sini, Velia?!" rutukku yang masih mencengkram kepala mungil Fear dengan tangan kanan, dan tangan kiriku untuk menutup hidung yang terlanjur meneteskan darah.


" ... Instruktur selamat pagi," sahutnya.


Aku benar-benar merasakan bagaimana kehangatan dari napasnya. Selain itu ada dua buah benda yang sedari tadi membuatku nyaman dan mencoba untuk melemahkan keteguhan hatiku.


Setelah itu tiba-tiba saja ia mengecup keningku dengan lembut, "Apakah ini cukup?" ucapnya lalu tersenyum hangat.


Lalu leherku di rangkul olehnya, wajah kami sangat dekat seperti ingin berciuman.


"Saat ini aku akan menjadi istrimu, Kuro," ucapnya dengan senyum tipis.


"A-a-a-apa yang kau lakukan?!"


Kulepaskan cengkaraman tanganku, Fear pun terlepas. Sementara itu perempuan bernama Velia ini langsung mendeklarasikan dirinya sebagai istriku. Fenomena yang langka.


"Tentu saja memberikan salam pagi, apalagi? Jika belum puas aku akan melakukannya setiap pagi," sahutnya.


Berkat rambutya yang panjang, hidungku merasa geli, akhirnya wajahku menjadi hangat karenanya.


Sementara Fear kali ini mulai memeluk lenganku. Ini sungguh memuakan. Dan untuk Velia, wajahnya berada di atasku, ia menindih perutku dengan cukup kencang.


Wajah kami saling bertemu. Wajahnya putih seperti salju, kedua matanya memperlihatkan kilauan biru yang indah. Bibirnya tipis dan merah muda, sekilas mengingatkanku akan kelembutannya saat tadi ia mengecupku.


"Maksudmu!? Istri? Yang benar saja ... kita baru pertama kali bertemu," sanggahku.


"Tidak, lebih tepatnya dua kali. Iya, kan Rei, tidak lebih tepatnya Reiss Veil D Reizhart."


Setelah itu matanya mulai berkaca-kaca, kulihat pipinya juga memerah. Dengan lengan yang gemetar ia membisikkan sebuah kalimat yang membuatku tertegun.


"Kak, jangan pernah meninggalkan aku lagi. Aku tidak ingin sendirian."


Lalu ingatan itu sekilas menunjukkanku sebuah wajah tak asing. Gadis kecil yang selalu tersenyum ketika ia menemukan sebuah bunga kecil yang indah.


Selalu mengikutiku dari belakang dan terkadang menangis jika ia tersandung. Benar-benar kenangan yang begitu indah.


Lalu wajahnya mulai memerah, dengan setetes air mata yang mengalir dari mata kirinya. Ia pun memelukku erat sekali. Memendamkan wajahnya di antara bahu dan leherku.


Tetapi siapa yang menyangka aku akan bertemu dengannya lagi setelah sekian lama kami terpisah. Sosoknya sama sekali belum berubah, masih seperti Silvya yang aku kenal.


Benar-benar pagi yang penuh kejutan. Sementara itu Fear masih belum bangun. Aku sudah di hujani oleh air mata adikku ini. Pantas saja ia berani mendeklarasikan dirinya sebagai istriku.


Entah dari mana ia bisa mengetahui bahwa ini adalah aku—Kakak angkatnya.


Setelah ia tenang, kami berdua mulai saling bertukar tatapan. Aku hanya melihatnya dengan kelegaan, jika ia orang asing. Mungkin aku sudah menendangnya jatuh dariranjang. Betapa kejamnya Kakak angkatnya ini.


"Apa kau sudah tenang sekarang?"


Ia pun mengangguk pelan.


"Baiklah ... sekarang adalah pertanyaannya. Mengapa kau bisa tahu tempat tinggalku?"


"Aku hanya mendengarnya dari orang-orang sekitar"


"Hanya itu?!"


"Ya, hahaha."


Siapa sangka rumor itu bisa semengerikan ini.


"Kak, bukan kah sudah saatnya Kakak mengakuiku?"


"Huh? mengakui? Kau masih cengeng!"


"Bukan itu maksudku. Tapi lihat ... tubuhku sudah berkembang, bahkan aku berisi. Bukan kah Kakak menyukainya?"  dengan nada halus itu ia benar-benar langsung menikam batinku dengan kuat sekali.


"Ahh, aku lupa ...."


Dengan pengalihan itu, aku pun ingat bahwa saat ini aku harus pergi menuju akademi. Jika tidak,


bisa-bisa ada sesuatu yang gawat menantiku.


"Aku akan terlambat pergi ke akademi!"


"Kakak! jangan mengalihkannya!"


Untuk saat ini ... terima kasih akademi, kau menjadi penyelamatku, batinku.


Dengan cepat aku pun segera bangkit dari ranjangku, menyisihkan Silvya ke samping, dan segera membangunkan Fear dengan permen apel yang kusimpan di bawah bantalku.


Hanya dalam beberapa detik itu, Fear langsung bangun, dan menerkamnya bagai hewan kelaparan di pagi hari. Sementara Adikku ini tidak mau melepaskanku hanya sebentarsaja.


"Cepat ganti pakaianmu! Aku tidak ingin terjadi sesuatu di sana!" rutukku dengan tergesa-gesa mencari perlengkapan hitamku.


"Jawab aku Kak! Reiss! Uhhh ... kenapa kau tidak mau mengakuiku!"

__ADS_1


"Itu mudah. Karena aku masih menganggapmu sebagai Adikku, cepatlah! atau keningmu akan memerah saat ini juga!"


Matanya melebar dengan wajah yang memucat. Setelah itu ia pun mulai bersiap-siap. Tetapi pertanyaanku adalah ... bersiap-siap untuk pergi ke mana?


"Gantilah pakaianmu di luar, bodoh! Kau ingin membuatku mimisan, huh?!"


"Kenapa harus di luar, aku tidak keberatan ganti baju di sini bersama dengan suamiku, 'kan?"


"Sejak kapan aku menjadisuamimu dan tentu saja aku keberatan!" ucapku lalu menerjangnya, menggendongnya, lalu mengeluarkannya dari kamarku walau ia terus saja mengeluskan hidungnya ke pipiku dengan penuh kasih sayang.


Jika hal seperti itu terus berlanjut aku tidak yakin bisa bertahan dari serangan mematikannya. Tetapi belum berapa lama setelah aku mengeluarkannya, ia pun kembali masuk dengan kemeja kancing atas yang terbuka, dan celana


dalam berwarna violet.


Dengan wajah penasarannya, ia pun bertanya, "Reiss, siapa anak itu?"


"Ohh ... dia adalah—"


"Salam kenal, aku Fear Relestya. Aku dalah anaknya, bisa di bilang anak haram dari perbuatan


yang terlarang dengan wanita lain," potongnya dengan cepat dan tanpa bersalah.


Setelah itu pergi meninggalkan ruangan ini dengan santai. Begitu berada di ambang pintu ia berbalik kemudian memberikan sebuah jempol perjuangan.


Matanya bersinar seperti mengisyaratkan 'berjuanglah Kuro' kemudian ia pun menghilang.


"Reiss, apa maksudnya tadi!"


Sebuah aura hitam muncul dari belakang tubuhnya. Dan dua buah mata merah yang menyala melihatku dengan tatapan pembunuh.


"Mati aku, dasar bocah sialan! Kau benar-benar terlalu," ucapku spontan, "tenang ... aku bisa menjelaskannya"


"Reiss, apa kau tidak puas dengan tubuhku? Sehingga kau me-me-melakukannya dengan  wanita lain!"


Ia pun langsung berlari ke arahku dengan wajah yang memerah karena kesal.


"Kalau begitu, aku juga akan melakukannya se-se-s-sekarang juga. Kau menginginkan seorang anak, kan? Kita bisa melakukannya seharian di sini!"


Lau dengan kuat ia pun mendorongku hingga jatuh ke ranjang dengan posisi yang terlentang. Bagaimana ia bisa sekuat ini? Fear! Lihat saja nanti kau tidak akan mendapatkan jatah permen selama satu minggu!


"Ini tidak seperti yang ia katakan, dia itu adalah roh kontraktorku. Bisa di bilang hanya sebatas rekan saja." jelasku meyakinkan.


"Jadi, dia bukan anakmu?"


"Kau paham sekarang? Kalau begitu ...."


Aku pun mencengkram kepalanya kepalanya, lalu menatapnya dengan mata yang menyipit.


"Aku tidak pernah melakukannya, Silvy! Jika itu terjadi maka hidupku akan hancur, mengerti? Neh ... kau mengerti, kan? perempuan yang mendeklarasikan dirinya sebagai istriku ... "


"Aww ... maafkan aku Reiss, seharusnya aku tahu suami tercintaku tidak ak- awaawaw"


Setelah itu untuk beberapa waktu yang cukup lama aku terus mencengkram kepalanya hingga iakapok. Dan tidak akan memberikan kesimpulan yang salah seperti itu sebelum memastikan kebenarannya terlebih dahulu.


Beberapa saat kemudian, setelah kami bersiap-siap. Dan telah memastikan semuanya tidak ada yang tertinggal, kami pun berangkat.


Kulihat Fear masih menikmati permennya dengan wajah yang senang. Sementara Silvy menggandeng tanganku dengan erat. Wajahnya bersinar memperlihatkan ekspresi terbaiknya untuk suami tercintanya.


Senyumnya itu benar-benar indah. Aku ragu jika orang-orang mulai mengira kami bertiga adalah keluarga yang bahagia. Dengan Silvya sebagai ibu, Fear sebagai anak dan tentu saja aku sebagai ayahnya.


Namun mereka terheran-heran dengan pakaian yang digunakan oleh Silvya alias Velia. Mengapa ia menggunakan seragam sekolah sedangkan suaminya menggunakan pakaian yang terlihat seperti guru.


Namun semua kecurigaan itu pudar ketika melihat wajah imut Fear yang sedang berbahagia menikmati sensasi manisnya permen yang ia makan. Dengan bibirnya yang mungil mungkin saja ia membutuhkan waktu sekitar satu jam bahkan lebih untuk menghabiskan permen itu.


"Cepatlah kalian berdua,jika tidak cepat-cepat pintu masuk akademi akan segera di tutup," ucap Silvya dengan riang, ia masih menggandeng tanganku begitu erat.


"T-tunggu dulu, aku tidak melihat Fear dimana pun?"


"Apa maksudmu? Fear berada di atas bahumu"


"Hmmm ... ehhhh "


Kulihat Fear begitu menikmati berada di atas bahuku, kedua kakinya yang kecil turun di antara pundak. Kepalanya muncul dari balik kepalaku, seperti sedang di gendong.


"Hahaha ... bukan kah kita seperti keluarga, Reiss"


"Silvy, jangan mengucapkan nama asliku. Panggil aku Kuro"


"Ehhh ... aku lupa. Kalau begitu panggil aku juga Velia, Kuro," ucapnya kemudian tersenyum hangat.


Suara dentangan lonceng tengah kerajaan telah berdentang begitu keras. Berarti sebentar lagi gerbang Akademi akan segera di tutup.


"Kita harus segera sampai di sana sebelum gerbang ditutup"


"Kalau begitu berpeganglah dengan erat-erat padaku"


"Ehhh ... hyaaa –"


Dengan cepat kulepaskan genggaman tangan Silvya, kuangkat tubuhnya dengan gendongan tuan putri. Wajahnya mulai memerah dan ia tampak senang sekali.


"Kuro ... ayo kita terbang," ucap Fear dengan polos namun kedua matanya bersinar terang akan ketertarikan. Tangan kirinya yang mungil menunjuk akademi yang berada di atasnya.


"Walaupun kau tidak mengatakannya juga, aku akan melakukannya"


"Terbang? Kuro, apakah kau bisa terbang?"


Melihat wajah Velia, akuyakin ia meragukanku apakah aku bisa terbang atau tidak. Jawabannya adalah bukan tidak bisa, tetapi setengah bisa.


Setelah itu aku melompatdengan tinggi ke atap-atap rumah. Melompatinya dengan cepat dan lincah. Wajah Fear walaupun tanpa ekspresi yang terlihat dengan jelas ia tampaknya kegirangan.


Sedangkan Velia begitu histeris pada awalnya, tapi lama kelamaan ia menikmati sensasinya berada di langit-langit walaupun sekejap. Setelah itu kami tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di Akademi Magistra.


Dan inilah kehidupanku yang tidak terduga. Di Kerajaan Ronove tempat para Kesatria Sihir berkumpul dan satu-satunya kerajaan yang memiliki para kesatria yang berbakat.

__ADS_1


__ADS_2