
Sebelum kecerita utama kita intro dulu~
Hai semua! Nama gue ReIN dan terima kasih karena telah memberikan gue kesempatan untuk menemani malam jomblo loe! Jika kalian menyukai cerita ini maka berikan jempol ke atas dan jika tidak cukup vote lalu sebarkan cerita ini. Jangan lupa berikan komentar dan tips agar sang Author tetap semangat update ceritanya!
Author juga terbuka dengan kritik dan saran yang membangun. Ingat! Kritik dan saran membangun! bukan kritik aja :3
.
.
.
Ini akan menjadi sesuatu yang cukup menegangkan. Berhadapan dengan makhluk-makhluk yang di tarik paksa dari dunia roh. Sifatnya lebih menjijikkan dari pada apa yang aku kira.
“Beginilah caraku mematikan api yang sedang berkobar hebat,” ucapku sambil melafalkan Rune.
... Brann, Vann, Bakken, Vind ...
... Harmoni Ned Naturen ...
... Med Spyd Rettferdighet ...
... Jeg Straffe Deg For A Være Skyldig ...
Suara itu seperti menggema di langit-langit. Membuat waktu seperti melambat dan bulir-bulir cahaya keluar dari dalam tanah. Kemudian bulir-bulir cahaya itu merapat ke dekat diriku.
Empat buah Rune yang telah aku ucapkan mengandung makna yang dalam dengan dunia ini. Tombak perak yang sangat tipis keluar dari lengan kananku. Semakin membesar hingga seukuran batang pohon raksasa.
Ukurannya yang semula sangat besar kini mengecil dengan cepat. Begitu semua makhluk itu bangkit seutuhnya, aku pun menancapkan ujungnya ke lantai untuk menciptakan gelombang suci yang meluap dengan ganasnya.
Meledak membelah lantai dengan seketika, permukaannya hancur karena dientak begitu kuatnya. Bebatuan pun muncul terangkat dan membentuk ratusan pilar yang kemudian hancur berkeping-keping menjadi serpihan batu biasa.
Gelombang udara yang sangat dahsyat menjadi daya ledaknya yang sangat hebat dan tepat ketika makhluk panggilannya menggeram kehadiran mereka pun lenyap tak tersisa.
Kini semua makhluk itu benar-benar telah lenyap seutuhnya, meninggalkan kumpulan cahaya yang kemudian meninggalkan pesan terima kasih.
"Sepertinya permainanmu selesai sampai sini saja,” tuturku sambil menatapnya tajam.
Setelah itu aku mengeluarkan Lionheart dari dalam dadaku. Walaupun terasa detak yang berdebu-debu, tetapi rasanya semua organ dalam tubuhku mati rasa. Hanya dalam satu detik itu, aku mencabutnya dengan paksa.
Sekali lagi sensasi yang aneh ini menyengat semua sensitifitas otot di seluruh tubuhku. Aku pun menunduk pelan dan membuka mataku.
Kini pedang itu telah berada di dalam genggamanku. Bersinar samar keputihan dengan elemen petir biru dan dinginnya es yang menguap di malam hari.
“Bagaimana? Apa kau siap ronde selanjutnya, mantan kawanku?”
Ketika kata terakhir itu keluar, aku pun sudah memosisikan diri untuk melesatkan gelombang listrik beku dari Lionheart. Berkat serangan tiba-tiba itu Meist sedikit terpukul akibat sengatannya yang membekukan tangan kanan dan pinggulnya secara bersamaan.
“Hmph! Menarik, kita lihat sejauh mana kau bisa melawanku....”
Ruangan ini pun kembali hening sebelum sebuah entakkan dua buah kaki yang saling mendahului terdengar menggema.
Saat itulah kami saling beradu pedang untuk kesekian kalinya. Kali ini aku bisa memukul mundur Meist dengan permainan pedangku, tetapi sepertinya itulah yang ia harapkan dariku. Melihat bagaimana ia tersenyum dengan wajah puas nan kosong itu, aku sangat yakin.
Selam kami saling menyerang satu sama lain. Tempat ini mulai terkikis secara perlahan-lahan. Lantai yang menjadi kuburan es dan juga aura kegelapan menguap, pilar-pilar terbelah menjadi potongan batu panjang tak berguna, dan dinding pun memudar seakan terbakar meleleh.
Meist pun tiba-tiba saja mundur dan tertawa sambil melihatku dengan mata
kosong.
“Jangan berharap, jangan memohon... tidak ada kesempatan lain karena hari penghakiman akan segera tiba. Aku akan menunggumu di ujung langit perjanjian,” tuturnya datar dengan nada yang berbeda kemudian menghilang meninggalkan sebuah bulu abu-abu.
“Jadi itu rencanamu....”
Sepertinya tujuannya di sini hanya ingin menjauhkanku dari Fear. Aku tidak tahu apa yang selanjutnya ia lakukan, tetapi saat ini aku harus segera memeriksa keadaan mereka.
Baik itu kawan lama seperjuanganku atau mereka yang aku kenal saat ini.
Setelah itu aku pun segera berlari ke luar untuk memastikannya. Suara berderap, teriakan melengking, aura kepanikan terlihat jelas mengambang di langit Kerajaan Swordia, dan kepastian palsu tampak menyelimuti mereka.
Begitu aku tiba di sana, satu hal yang aku dapatkan adalah sebuah pelukan hangat dari Selina yang sedang menangis tersedu-sedu sambil mengutuk diriku berulang kali.
Sedangkan Oz dan Aresya melihatku dengan terharu. Di samping kanan mereka Irina sedang memapah Regin yang terlihat kesakitan, walau seperti itu mereka tetap tersenyum ke arahku.
“Ke-k-ke mana saja kau selama ini? a-a-aku terus mencarimu, a-aku tidak tahu arah... terus dan terus mencarimu—“
“Aku pulang,” potongku lembut sambil mengelus rambutnya.
Belum sempat aku ingin melepaskannya, pelukan Selina semakin kencang. Ia juga memendamkan wajahnya di dadaku seperti tak ingin lepas.
__ADS_1
Ketika momen seperti ini membuatku canggung dan tidak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba saja sebuah lingkaran sihir raksasa muncul di langit malam.
Sang bulan yang cahayanya selalu menerangi malam hari, kandas dan menyisakan pecahan-pecahan. Di balik pecahan itu muncul dua buah sayap raksasa yang hampir menutupi seluruh langit.
DONG!! DONG!!... DONGG!!
Lingkaran sihir itu kini berubah menjadi sebuah lingkaran jam raksasa yang menunjukkan pukul sebelas.
Aku tidak tahu apa maksud dari penanda waktu itu. Apakah akan ada sesuatu yang muncul ketika jarum itu menunjukkan pukul 12?
Selain itu mengapa suara orang-orang yang sedang bersenang-senang di Astarte Festa menghilang?
Tchhh... aku terlambat!! MEIST!!!
Semua perhatian kini tertuju pada langit, melihatnya seakan keharusan, dan yang paling parah mereka semua tampaknya tidak bisa memalingkan wajah mereka dari efek lingkaran sihir itu.
Ini seperti sebuah hipnotis secara tidak langsung yang berhasil merenggut kesadaran mereka. Aku harus bergerak cepat, jika tidak... mungkin saja mereka akan terus berada dalam kondisi kosong layaknya sebuah boneka.
Namun kekuatanku sendiri tidak dapat membuat mereka kembali seperti semula. Baik Oz, Aresya, Irina, dan Regin... mereka masih menungguku.
Ketika aku sedang berpikir di dalam kegundahan ini, sebuah bola cahaya yang di dalamnya ada bola cahaya juga tiba-tiba saja menyentuh hidungku.
“Apa ini?”
Begitu aku menyentuhnya, sebuah suara yang tidak asing muncul memanggil namaku. Suara itu seperti berada di dalam kepalaku dan di saat yang sama bola cahaya itu pecah. Bintik-bintik bagai serbuk bunga yang keluar dari dalamnya perlahan-lahan menyelimuti semua bagian tubuhku, Selina, Aresya, Oz, Regin, dan Irina.
[Ini adalah hadiah terakhir dariku, Reiss. Paman akan terus menunggu bersama Hilda di sini...]
“B-bagaimana bisa... t-tunggu dulu, paman!”
Namun suara itu pun menghilang dan aku hanya bisa mengepalkan tanganku sangat keras.
Kini aku merasakan kekuatan yang berbeda mengalir di dalam tubuhku. Efek dari kekuatan lingkaran sihir itu juga tampaknya telah memudar.
“E-eh? Mengapa aku di sini? Bukannya tadi... “
“A-apa Anda baik-baik saja tuan muda?”
Semuanya kembali normal dan pengaruh dari lingkaran sihir di atas sana juga telah lenyap. Aku cukup tercengang karena bahkan mereka sendiri pun tidak menyadarinya.
Karena melihat ekspresi kebingungan mereka, aku pun mulai menjelaskan apa yang sebelumnya terjadi, dan bagaimana cara untuk menyelesaikan masalah ini selagi Selina masih memeluk diriku.
“Kalian mengerti... karena itu cepat sadarkan mereka yang namanya telah aku sebutkan!” perintahku.
Selain Selina, mereka semua langsung bergegas untuk menyelamatkan orang-orang yang telah aku sebutkan namnya.
“Mau sampai kapan kau terus seperti ini, hei, Selina?”
“Biarkan aku merasakan kehangatan tubuhmu untuk beberapa saat saja”
“Huh... terserahlah.”
***
“Tuan Muda, aku telah melakukan apa yang Anda minta. Selanjutnya apa yang akan kita lakukan?”
“Cepat juga. Kau lihat lingkaran sihir di atas sana?”
Oz pun mengangguk.
“Kita akan menghancurkannya. Titik poin dari sihir berskala besar itu menyatu pada tanah, sehingga jika kau mengukurnya dari sudut yang benar... maka titik poin jatuhnya berada di alun-alun kota,” jelasku.
“Wah! Sudah lama sekali aku tidak mendengarkan Kak Reiss menjelaskan,” timpal Regin dengan senyum lebar.
“Bukan lama lagi, Regin. Tapi, sangat lama... “
“Apakah kita akan segera pergi ke alun-alun secara langsung?” tanya Aresya.
“Tidak. Sebelum itu harus ada yang perlu aku lakukan terlebih dahulu. Hei! Selina sekarang sudah waktunya giliranmu!” ucapku sambil menyentil dahinya.
“Ouchh!! Kenapa sih padahal lagi asyik! Kena sentil lagi, Reiss kau jahat”
“Cepatlah! Kita tidak memiliki banyak waktu!”
Mendengar itu Selina pun mengerutkan alisnya, tetapi walaupun seperti itu ia mulai mengulurkan kedua tangannya ke depan sambil membuka telapak tangan. Di belakangnya aku juga ikut mengalirkan mana ke dalam tubuhnya melalui pundak.
[Natt lys som skinner klart]
[gi dem beskyttelse stjerne]
“Aurora Regen!”
__ADS_1
Bersamaan dengan nyanyiannya yang indah sekumpulan aurora mulai menghiasi langit dan membuat efek dari lingkaran itu melemah. Selain itu sihir ini juga merupakan sihir gabungan yang Selina miliki bersama Fear.
Namun karena Fear tidak ada di sini akulah yang menggantikannya. Pada awalnya aku ragu jika harus melakukan sihir gabungan ini karena tidak cocok dengan alur mana di dalam tubuhku.
“Dengan ini semuanya telah selesai. Persiapkan diri kalian... karena kali ini kita akan menghajar pantat seseorang,” ucapku geli sambil menoleh ke belakang.
“Serahkan saja padaku, Kak Reiss!”
“Aku tidak akan kalah denganmu, Regin!” timpal Aresya semangat.
“Tentu saja Tuan Muda, aku akan selalu siap”
“Sama seperti saat itu, ‘kan? sayang~”
Aku pun mengangguk, “Umm....”
“Tentang para instrktur lainnya dan juga murid-murid telah aku beri instruksi mengenai fenomena ini melalui sihir angin. Aku yakin mereka dapat menerimanya dengan sangat baik,” jelas Irina.
“Seperti yang diharapkan dari sang ratu sendiri”
“Hahaha. Itu sedikit menggelikan jika mendengarnya langsung dari pelatih sang ratu itu sendiri”
“Benar kah? Hah. Bersiaplah....”
Mereka semua pun langsung masuk ke dalam mode siaga. Aku bisa melihat setiap ekspresi yang mereka keluarkan saat ini.
Ketika jarum jam panjang bergerak ke arah kanan pandanganku tiba-tiba saja menjadi putih dan begitu aku kembali membuka mata, ternyata kami semua diteleportasi paksa.
“Tempat ini bukankah distrik makanan?” tanyaku heran.
Selain itu mereka juga sama denganku dipindahkan ke tempat ini, tampaknya kami menjadi tim yang utuh.
Namun sebuah komet tiba-tiba saja menukik ke arah kami. Komet itu cukup cepat untuk mengagetkan kami semua, tetapi untungnya refleks yang dimiliki oleh Oz sangat cepat. Ia langsung memotongnya menjadi dua bagian, setelah itu Irina mengikuti, dan menghancurkannya berkeping-keping menggunakan teknik berpedangnya.
Begitu komet itu telah selesai kini muncul seekor monster yang dapat terbang, itu adalah seekor Wyvern dewasa berwarna abu-abu gelap. Sayangnya makhluk bersayap itu langsung hancur menjadi serbuk es begitu Aresya menyelesaikan mantra Rune yang ia rapalkan beberapa saat yang lalu.
Setelah monster itu musnah kini segerombolan makhluk hitamlah yang mengepung kami dari berbagai arah. Aku pun memberikan arahan untuk membuat formasi lingkaran sempurna yang saling membahu.
Mereka semua mengerti dan langsung membuat formasi lingkaran tersebut. Begitu aku menjentikkan jari, mereka pun melesat melakukan tugasnya masing-masing.
Sementara itu aku segera menerjang seekor monster yang berada di ujung distrik menggunakan kelincahan kaki dan kekuatan percepatan persepsi.
Dari penglihatanku saat ini, aku sedang menembus dua buah dinding kaca, dan menghancurkannya berkeping-keping. Pecahannya itulah yang memberiku kekuatan pada kaki dan meringankan tubuhku.
"Enyahlah," tuturku dingin.
Setiap makhluk yang berada dalam jarak serangku hancur menjadi sekumpulan pasir abu. Sebuah tebasan, dua buah sayatan, tiga buah tusukan, dan diakhiri oleh tarian pedang lincah nan mematikan.
Dalam satu garis jalur itu semua monster lenyap dan bangunan di sekitarnya bergetar beberapa saat hingga beberapa bekas goresan besar terlihat jelas. Lalu beberapa saat kemudian semua bangunan itu hancur mengeluarkan suara gemuruh yang bergetar hebat.
“Kini giliranmu, kawan....”
Monster besar di ujung distrik ini melihatku dari atas. Ia menyemprotkan sebuah cairan korosif yang hampir saja melelehkan kaki kiriku jika aku tidak segera melompat ke belakang.
Aku kembali dalam kuda-kuda lalu melesat membelahnya menjadi bagian. Melepaskan aura dari Lionheart dan membekukannya sekaligus menghancurkannya menjadi kepingan es.
Ketika aku berbalik, tampaknya mereka juga telah menyelesaikan bagiannya masing-masing. Kami pun kembali berkumpul di titik awal dan menjelaskan strategi ke depannya.
Setelah mendengarnya mereka semua mengangguk, tidak ada yang keberatan sama sekali dengan ideku. Pertama kami semua akan memastikan tempat ini benar-benar telah aman dari monster.
Baik itu makhluk kematian, Wyvern seperti tadi, atau bisa saja monster lainnya yang lebih berbahaya dari sebelumnya. Kedua adalah menetralkannya agar tidak ada tempat yang dapat dijadikan sebagai pembangkit dan itu adalah tugas Regin.
Ketiga setelah semua selesai kami akan melanjutkannya menuju tahap yang baru, itu adalah menghancurkan kekuatan utama dari fenomena aneh ini.
Aku juga tidak tahu bagaimana dengan kabar yang lainnya. Apakah mereka baik-baik saja di sana? Tapi mengingat mereka selama satu tahun ini dan bagaimana kehadiran Selina dan Oz membantu mereka, tampaknya aku tidak perlu mengkhawatirkannya terlalu banyak.
Aku juga yakin dengan kekuatan mereka saat ini dan kuharap mereka tidak bertemu dengan sesuatu yang melebihi mimpi buruk mereka.
“Kau yakin mereka akan baik-baik saja, Irina?” tanyaku.
“Ya. Tentu saja, lagi pula mereka adalah murid-murid kita, bukan?”
“Huhh. Jika yang kau katakan itu benar, maka kenapa aku masih khawatir hingga saat ini?”
“Tenanglah Tuan Muda, aku yakin mereka akan baik-baik saja”
“Kuharap perkataanmu benar, Oz. Tetapi, sebelum itu....”
Aku pun menoleh ke arah Selina dan Aresya. Begitu melihatku, mereka pun mengangguk mengerti. Apa yang aku indikasikan adalah mengeluarkan sihir pembantu seperti kekuatanku sebelumnya, tapi kali ini radiusnya hingga ke seluruh kerajaan.
Ini cukup sederhana, aku hanya meminta Selina untuk memperkuat sihir sebelumnya dengan bantuan Aresya karena terlihat saling melengkapi.
__ADS_1
Alur Manaku lebih menjurus pada tipe penyerang dan pertahanan, sedangkan Aresya adalah penyerang dan pembantu. Itu artinya kali ini ialah yang akan membantu Selina dalam menguatkan Aurora Regen miliknya.
Karena setelah ini mungkin akan menjadi pertarungan yang lebih berbahaya.