
Sebelum kecerita utama kita intro dulu~
Hai semua! Nama gue ReIN dan terima kasih karena telah memberikan gue kesempatan untuk menemani malam jomblo loe! Jika kalian menyukai cerita ini maka berikan jempol ke atas dan jika tidak cukup vote lalu sebarkan cerita ini. Jangan lupa berikan komentar dan tips agar sang Author tetap semangat update ceritanya!
.
.
.
Beberapa kata melayang di atas buku milik Aresya yang tenang. Berputar ke atas semakin tinggi seperti menara spiral yang dapat bergerak dengan sendiri. Cahaya hitam muncul di tengah-tengahnya seperti pilar cahaya yang kelam.
Bibirnya kembali bergerak dengan mulus dan cepat. Tangan kanannya telah bersiap kapan saja untuk di jatuhkan. Lalu dalam satu lafalan terakhir sebuah kata terlintas dengan pelan.
"Gaea Spear!!"
Sebuah tombak hitam yang mengeluarkan api hitam muncul tiba-tiba. Melesat dengan cepat menerjang monster berparuh itu. Ketika tombak hitam itu meluncur seluruh tempat yang terlewatinya menjadi abu.
Tembok pun merintih dan tanaman menjadi layu. Sedangkan angin terbelah menjadi dua bagian.
"Gaea Spear adalah tombak pusaka dari kerajaan kuno, tombak itu adalah sebuah pesan kematian yang ditujukan untuk musuh bebuyutan mereka yang menentangnya. Kuharap kau menikmatinya ...."
Aresya memejamkan matanya. Tepat saat ia membuka kedua matanya kembali, sekelebat cahaya meledak menjadi sekumpulan jiwa yang meminta untuk di selamatkan. Monster berparuh itu kini berada di antaranya.
Ia meronta-ronta kesakitan. Karena tidak hanya terkena ledakan bahkan para jiwa kini sedang merayap di tubuhnya sambil merobek-robek dagingnya. Mereka seperti satu kerangka manusia yang dikuliti hidup-hidup.
Tanpa kulit atau pun organ dalam. Hanya tulang-belulang dan serabut otot yang menarik-narik. Setelah ledakan cahaya kegelapan itu usai, sebuah Rosario keluar dari tanah dengan terbalik. Bagian kirinya patah sehingga menyisakan sebuah batu yang tampak seperti tombak.
Bagian bawah ujungnya yang kini berada di atas melubangi daging monster berparuh itu hidup-hidup. Menembus perutnya hingga memuncratkan darah yang tidak berhenti-henti. Ia merintih kesakitan sambil berusaha melepaskan tusukan Rosario itu.
Aresya tidak berhenti di situ. Kali ini ia menutup bukunya itu, menjadikannya sebuah tongkat kayu dengan atasan kristal yang di aliri oleh cahaya kegelapan. Ia angkat beberapa kali serta menghuyungkannya ke samping.
Sebuah lingkaran muncul di depannya. Cukup besar dengan rune yang melingkar. Suara jeritan petir terdengar dahsyat, berbalut dengan api putih yang berkobar-kobar. Setelah itu ia memukulnya dengan tongkat yang di pegangnya kuat-kuat.
Lingkaran Rune itu meledak, melemparkan serangan sihir yang sangat luar biasa dengan sekejap. Selagi monster berparuh itu tertancap di langit-langit. Kini gabungan sihir petir hitam dan api putih menyerunya tiba-tiba.
Membakar serta menyambarnya dengan hebat, tak mengenal ampun sedikit pun. Suara gema guntur menyeru di langit-langit beberapa kali, di kala api menari dengan ria di tubuh monster berparuh itu tanpa kenal lelah.
Setiap detiknya menyiksa serta mengubahnya menjadi gila. Ia menjerit-jerit serta berteriak-teriak kesakitan. Namun dalam sekejap ketika ia berusaha meraih langit dengan tangan besarnya.
Kini di atasnya beribu-ribu pedang es muncul dalam sekejap. Mengkilap, mengeluarkan hawa dingin yang siap menyambarnya setiap saat. Lengan Aresya mulai kembali terangkat dengan telunjuk tangan kanan yang teracungkan.
Ia menurunkannya pelan-pelan, lalu kembali menariknya ke atas dengan cepat. Di dalam perintahnya kali ini, ia menghancurkan pedang-pedang es itu menjadi serpihan es yang sangat kecil seperti partikel.
Ketika serpihan itu jatuh dan menyelimuti monster berparuh yang tak berkutik itu dengan dinginnya butiran es yang sangat kecil. Aresya kembali berucap ...
"Frozen Nova!!" gumamnya pelan dengan aura tipis nan dingin yang keluar di sekitarnya.
Lalu butiran salju-salju itu menyembur seperti geyser. Menerjang monster itu dari bawah dengan hebat, membekukannya sekaligus menyayat kulit bagian terluarnya dengan cuma-cuma. Setelah itu ia pun berubah menjadi sebuah pilar es yang tinggi hingga ke langit.
Bersama dengan Rosario yang masih tertancap di perutnya, kedua mata serta sayapnya berubah menjadi serpihan kecil. Sedangkan paruhnya menganga, memperlihatkan bagaimana lidah serta gigi-gigi kecil runcingnya menjadi es yang membeku.
Di tempat lain Oz yang membantu kelompok Shiren, Kyle, Rena, Satella dan Erina sedang menghadapi seekor iblis tingkat tinggi yang sangat luar biasa. Aura yang di pancarkannya membuat Oz mulai berjaga-jaga.
Terlebih lagi dengan tanduk raksasa serta kristal yang berada di tengah-tengahnya membuat ia bertanya-tanya. Apakah kristal itu adalah titik kelemahannya?
Iblis itu langsung menerjang Oz , lengannya yang besar dan juga berat berhasil menghempaskan lawannya beberapa puluh meter ke belakang. Walau pun sudah ia menahan serangan itu, namun dampaknya mungkin sangat luar biasa jika terkena telak.
Oz terkesan ada iblis yang sekuat dan juga setangguh ini. Mungkin ia akan sangat serius menghadapinya.
"Cukup sampai di sini," gumamnya pelan.
Pedang di tangan kanannya teracungkan ke arah iblis itu, sedangkan pedang yang di genggam oleh tangan kirinya yang terbalik. Pedang itu berbalik ke belakang dengan ujung mata pisau yang berada di belakang tubuhnya.
Ia pun merendahkan tubuhnya perlahan-lahan. Hanya dalam satu ketukan langkah sosoknya pun menghilang dalam sekejap.
"Menghilang?!" celetuk Shiren terkejut.
__ADS_1
"Bukan ... bukannya menghilang, tetapi terlalu cepat untuk dapat dilihat dengan mata telanjang," ucap Rena yang kelelahan.
Shiren pun hanya bisa mengangguk pelan tanda akan mengerti.
Iblis itu mencari keberadaan Oz yang tiba-tiba saja hilang dari pengawasannya. Saat ia mulai memicingkan matanya, sosok lawannya itu tiba-tiba berada tepat di hadapannya tanpa hawa keberadaan. Ia pun mengepalkan tangannya kuat-kuat lalu memukul Oz.
Tetapi yang ia pukul bukan lah Oz melainkan hanya bayangan sekejap dari kecepatan Oz yang begitu cepat. Sebuah sentuhan halus menyadarkannya lalu begitu ia tersadar sebuah benda tajam menembus tubuh besarnya.
"Check Mate, ... Wandering Touch," ucap Oz dengan nada dingin.
Muncratan darah keluar dari tubuhnya yang besar, kedua matanya mulai memutih dan keseimbangannya pun ikut pecah. Hampir saja ia tumbang dengan serangan kuat itu.
"Aku tidak hanya menusuk punggungmu saja, coba lihat ke depan sana, apa yang kau lihat," lanjutnya datar.
Bangunan, jalanan, properti bahkan bunga-bunga terbelah menjadi potongan-potongan yang kecil. Meletup lalu melayang beberapa sentimeter di atas permukaan tanah dan akhirnya terjatuh kembali.
Ketika iblis itu meraba dada serta perutnya pelan-pelan. Ia pun tersentak, mengetahui bahwa kini di perut serta dadanya itu telah di tebas-tebas berulang kali. Walau pun seperti itu, ia sama sekali tidak menyadarinya.
Tetes-tetes darah terjatuh, di susul oleh semprotan darah yang membuncah keluar dari tubuh bagian depannya itu. Pada akhirnya ia pun tertunduk lemas, terjatuh dengan kepala yang menghadap ke tanah.
Oz mengeluarkan pedangnya dari punggung iblis itu. Dalam tarikannya itu, lagi-lagi darah keluar dan melumuri wajahnya tampannya. Membuatnya tampak seperti orang yang sadis.
Baik sikap atau caranya bertindak melambangkan seorang yang elegan dan penuh kehatian-hatian, tetapi penuh kesadisan dan tak berjiwa.
Sedangkan raut wajah dan ketegasan alisnya menyerupai seorang eksekutor yang tak mengenal ampun sama sekali. Ia pun mengibaskan pedangnya untuk menghilangkan noda darah di pedangnya itu.
Setelah ia selesai, lagi-lagi Oz menghunuskan pedangnya. Mencincang habis monster itu dengan tatapan dingin.
Menyemburkan darah kembali, sedangkan iblis itu memekik. Berteriak kesakitan, dari kedua matanya air mata tumpah. Namun bukannya bening melainkanmerah gelap. Apakah sebelumnya ia memiliki hati?
Tetapi mana mungkin jika ia memiliki hati, ia bisa saja tidak menyerang Shiren, Rena dan yang lainnya dengan brutal. Atau kah ia sedang di kendalikan oleh sesuatu?
Oz hanya dapat menghela napas, setelah itu menyarungkan kembali pedangnya dalam-dalam tanpa keraguan.
Pertarungan ini telah berakhir, jika kau masih memiliki nyawa atau perasaan sebaiknya kau segera menyerah saja. Aku tidak suka jika harus menyiksamu lebih jauh lagi!," ucap Huey dengan nada sarkasme.
Iblis itu menjerit, Oz pun berbalik dengan cepat. Mengeluarkan pedang selembut angin berhembus. Tanah bergetar sekejap, bangunan di sekitarnya pun lenyap menjadi serpihan debu.
Kristal di antara kedua tanduknya itu pecah. Mengeluarkan dua buah sulur besar yang melahap iblis itu dalam satu kali santap. Oz mengambil beberapa langkah mundur untuk mengamankan Shiren dan yang lainnya jika tiba-tiba
terdapat serangan dahsyat.
Iblis itu bersinar gelap, daging-daging berhamburan di sekitar bawahnya.Lalu dua buah sulur yang telah semakin besar itu pecah. Menampakkan sesosok iblis baru yang berbeda sekali dengan yang tadi.
Kali ini ia seperti manusia jika disamakan dengan proporsi tubuhnya. Ia seperti seorang lelaki, seluruh tubuhnya berwarna hitam dengan garis-garis kuning. Sepasang tanduk yang berada di depan kakinya ia ambil.
Namun Oz tidak gentar, ia membuang napasnya tanpa basa-basi.
"Jadi kau ingin ronde kedua?" gumamnya kesal.
Rena dan Shiren kembali terkejut melihat perubahan iblis itu.
Iblis itu kembali menerjang Oz dan di saat yang bersamaan lelaki dingin itu pun menerjang sang iblis itu dengan raut kesal. Mereka saling melesatkan beberapa tebasan yang berakhir dengan suara pantulan dan beberapa percik api kecil yang samar untuk dilihat.
Kembali dengan pedang-pedang yang saling berbenturan. Iblis itu tidak menunjukkan sebuah ekspresi yang jelas. Kedua matanya merah kelam dengan hidung yang tertutup oleh sebuah selaput abu. Mulutnya tertutup rapat, atau lebih tepatnya seperti di jahit agar tidak bisa di buka.
Sedangkan Oz, ia memasang wajah datar tanpa peduli dengan perubahan, kekuatan, ataupun apapun itu yang berhubungan dengan sang iblis. Dikepalanya saat ini hanya fokus untuk menyelesaikan misi yang diberikan Kuro dan kembali ke sisinya.
Satella yang berada di belakang mereka sedang mengobati Erina dan Kyle sekaligus. Wajahnya mulai letih karena mana yang digunakannya tampak mulai habis. Apalagi sebelumnya ia mengeluarkan sihir pendukung berskala besar yang menguras kurang lebih setengah dari pasokan mananya.
Dan setelah beberapa lama kemudian ia tergeletak bercucuran keringat. Tubuhnya sudah kehabisan mana sedangkan dirinya sendiri seperti belum menyerah sama sekali. Ia pun meneruskan sihir penyembuhnya itu.
Kembali dengan pertarungan sengit antara iblis tingkat atas dengan Oz. Mereka tampak seimbang, tapi di beberapa bagian wajah Oz terdapat goresan-goresan tipis yang mengeluarkan darah. Sedangkan iblis itu belum
mendapatkan luka di tubuhnya sama sekali pun.
Oz melesat dengan menebas udara di depannya, menimbulkan distorsi angin yang meledak dan mengeluarkan belasan gelombang sabit tajam.
__ADS_1
Gelombang-gelombang sabit itu melesat tak kenal arah membabi buta menghantam iblis itu tak kenal lelah. Iblis itu memantulkan serta membalikkan arah lesatan beberapa gelombang sabit yang melesat ke arahnya. Sedangkan sisanya menghantam tanah atau pun bangunan yang masih utuh.
Meluluh lantahkan mereka. Setelah itu Oz kembali menyerangnya dengan cepat.
"Lenyaplah....”
Sosoknya dengan cepat telah berada di hadapan sang iblis dengan posisi tubuh yang merendah. Suara gesekan besi terdengar dan dalam sekejap tubuh sang iblis pun hancur lebur layaknya di hantam benda keras yang sangat destruktif.
Di sisi lain berkat darah yang menyembur deras tubuh Oz kini bersimbah darah. Melihat dalam kekacauan seperti ini lebih terlihat seperti seorang pembunuh keji yang tak kenal ampun.
Ketika ia berjalan pergi meninggalkan jejak yang nyata. Kelam dan juga gelap. Potongan tubuh Iblis itu kembali menyatu dan dalam sekejap puing-puing yang berada di sekitarnya berkumpul membentuk gumpalan bola raksasa.
“Menyebalkan... Bloody Shift,” ucap Oz pelan sambil mengubah mata pedang menjadi bagian belakang kemudian mengibaskannya.
Serangannya itu layaknya membelah sebuah roti lembut dengan sangat pelan. Begitu halus dan rapi. Dari tebasannya itu tercipta sebuah lubang hisap yang menarik segala entitas ke dalamnya.
Sang iblis pun terhisap dan semua puing-puing yang membentuk di atasnya ikut berjatuhan. Ketika tubuhnya akan masuk ke dalam ruang hampa itu, ia masih bertahan sambil mencoba menyerang Oz.
"Keras kepala," rutuk Oz lalu menghantam wajah sang iblis dengan tendangan kakinya.
Setelah itu ia memukulnya dengan sangat kuat dengan imbuhan api hitam di telapak tangannya. Alhasil sang iblis pun terbakar hidup-hidup, berkobar hebat melahapnya dengan rakus, dan kenal lelah.
“Kuharap ini yang terakhir.”
Semua aksinya itu diakhiri dengan hunusan vertikal yang rapi, membelah wajah sang iblis menjadi dua bagian, lalu membakarnya dengan api hitam.
Ketika jeritan melengking hebat datang dari iblis itu, Oz hanya menghembuskan napas, lalu pergi berjalan menjauhinya.
“Dust...,” ucapnya lalu mengepalkan tangannya erat-erat.
Tebasan dimensi itu menutup dan langsung menghancurkan sang iblis. Membawanya
ke dalam ruang hampa penuh tekanan energi haus darah milik Oz.
“Apakah dengan begini tugasku telah selesai, tuan muda?” gumamnya.
***
Tepat di plaza dekat dengan jantung Kerajaan, Kuro dan Regin telah menyelesaikan persiapannya. Sementara itu Selina dan Irina melindungi mereka dari gempuran para makhluk hitam dan juga beberapa iblis.
Regin menghela napas, kemudian mengeluarkannya pelan-pelan. Matanya mulai terbuka lebar dan alisnya juga sedikit mengerut.
"Ayo kita lakukan ini, Kak," ucapnya tanpa keraguan.
Kuro hanya mengangguk pelan dengan senyum tipis di wajahnya.
Mereka pun mulai mendekatkan telapak tangan selagi sirkuit sihir terus mendekat dan saling bertabrakan. Mengeluarkan suara bising yang terdengar hampa.
"Star—"
Sekumpulan bola-bola cahaya melambung ke atas dengan cepat dan lingkaran sihir di bawah mereka terangkat bersamaan dengan sensasi mengapung yang nyata. Begitu langit mengeluarkan pusaran awan yang berputar. Mereka mulai mengarahkan telapak tangannya ke tengah-tengah kerajaan.
“—RAID!!!”
Setelah beberapa detik, sebuah pilar cahaya keluar lingkaran sihir itu. Pilar itu tinggi sekali hingga begitu menyentuh langit, pilar itu pun meledak menanggalkan bola-bola cahaya layaknya bintang jatuh.
Semua pun menjadi terang bersamaan langit hitam yang sepia kini menjadi normal. Sihir ini adalah salah satu sihir kuno yang sangat efektif melawan entitas kegelapan dan akan memulihkan setiap kehidupan yang berpegang pada
cahaya.
Tidak lama setelah hujan bintang itu menghantam semua tempat di kerajaan, uap-uap hitam muncul lalu menghilang dalam sekejap.
Setelah semua selesai Kuro pun langsung jatuh berlutut, berbeda dengan Regin yang langsung terkapar. Melihat itu Selina langsung memulihkan Kuro sedangkan Irina memulihkan Regin.
Jauh di luar Kerajaan Astarte, Meist hanya menyeringai dengan tatapan penuh kebencian.
“Lagi-lagi kau melakukannya, Reiss!”
__ADS_1