
Sebelum kecerita utama kita intro dulu~
Hai semua! Nama gue ReIN dan terima kasih karena telah memberikan gue kesempatan untuk menemani malam jomblo loe! Jika kalian menyukai cerita ini maka berikan jempol ke atas dan jika tidak cukup vote lalu sebarkan cerita ini. Jangan lupa berikan komentar dan tips agar sang Author tetap semangat update ceritanya!
.
.
.
Aresya telah tumbuh menjadi seorang wanita cantik seperti Selina, sama halnya dengan Irina. Aresya dengan wajah manis nan jelita berambut abu panjang. Tubuhnya sangat menggoda sekali dengan dua buah dadanya yang sedikit lebih besar dari pada Selina.
Irina yang berambut merah muda berwajah muda dengan sifat periangnya dan juga sangat bertanggung jawab terhadap kedua lainnya. Ia sangat mirip seperti Fear jika dibandingkan dengan sifatnya itu.
Sedangkan Regin menjadi lelaki bijak yang ikut bertanggung jawab walau usianya terbilang paling muda di antara ke empat lainnya. Berambut putih pendek menggunakan topi seperti penyihir.
Dengan aksen bicara seperti orang luar planet yang handal dalam memainkan sandiwara. Ia sering kali membuat lelucon bersama Oz.
Menjadikan sekelompok orang ini sebagai kesatuan khusus yang sangat luar biasa kuat.
Sayangnya waktuku tidak lama, aku sangat ingin melihat mereka tumbuh dengan hebat di masa depan nanti. Tetapi, kondisiku tidak memberiku harapan apapun... karena tidak lama ini aku sering batuk darah.
Untungnya belum ada yang menyadarinya hingga saat ini, aku benar-benar tidak ingin membuat mereka khawatir dengan kondisiku. Setidaknya itulah apa yang kupikirkan belakangan ini.
Pertanda bahwa hidupku mungkin tidak akan lama lagi, berhubung tugas yang harus aku penuhi cukup berat. Sedangkan untuk mutiara keabadian itu, sebenarnya aku tidak menelannya sama sekali. Melainkan aku menyimpannya di bawah lidahku, tetapi sepertinya Fear menyadarinya.
Apakah itu hanya firasatku saja?
Dan waktu yang sungguh cepat mengarungi perjalanan kami semua, tepat sebelum hujan turun jantungku serasa di remas. Sepertinya perkataan Regalia benar, ia akan segera menampakkan diri. Tapi, aku tidak tahu kapan itu akan terjadi, sehingga aku memutuskan untuk pergi sendiri pada malam hari.
Dengan kemampuanku mengendap-ngendap, aku berhasil pergi tanpa diketahui oleh siapapun. Untuk kesekian kalinya aku berpikir ke belakang.
Apa saja yang aku lakukan beberapa tahun ke belakang, bagaimana aku bisa berada di titik ini, hingga seperti apa perjalanan terakhirku bersama mereka.
Sungguh menggelikan... ya, ini sangat menggelikan hingga membuatku ingin tertawa sambil menitikan air mata.
Untuk sampai pada titik ini aku mengorbankan keluargaku karena suatu bencana. Dikhianati sahabatku yang sudah aku anggap sebagai keluarga, bahkan menganggap takdir ini begitu tidak adil hingga mengutuknya berulang kali dalam hati.
“Benar... terkadang hidup itu tidak adil,” gumamku dan kembali melihat ke belakang, “kuharap kalian mendapatkan kebahagiaan dan kehidupan yang lebih pantas dari pada terjebak bersamaku.”
***
Akhirnya aku tiba di sebuah kota terbengkalai tanpa ada seorang pun yang ikut bersamaku. Tanpa mengucap selamat tinggal dan tanpa berpikir ulang untuk kembali pergi berpetualang dengan tawa, senyum, guyonan bersama mereka.
Suara gemuruh menimpa jalanan. Rumah-rumah yang tertelan umur lumut dalam sekejap menjadi kenangan yang abadi. Awan mulai menggelap, kota ini tampaknya akan menjadi kuburanku saat ini.
Dan entah sebuah keajaiban, tepat di tengah alun-alun kota ini sebuah cahaya gelap muncul dan langsung menembus langit dengan cepat. Angin yang berhembus mulai bergetar pertanda sesuatu yang buruk akan keluar.
Benar saja, sebuah makhluk mitologi yang mungkin seperti Burung Phenex keluar berwarna biru gelap. Dengan dua buah sayap gelapnya yang menutupi cahaya matahari untuk selamanya. Kondisi kota mulai memburuk karena tidak terkena asupan sinar cahaya matahari.
Pada akhirnya sebuah miasma keluar dari dalam tanah. Tetapi, miasma itu tidak berpengaruh terhadapku.
Aku pun langsung berlari dan mengeluarkan Pedang Lionheartku dari tangan kanan. Berwarna perak transparan yang mengilat dengan guratan Rune rumitnya yang tercetak tepat pada bagian pipihnya.
Aku melompat-lompat di atap-atap rumah yang telah hancur, makhluk itu layaknya seperti burung pada umumnya namun memiliki hawa penghancur yang sangat luar biasa. Apakah itu Omega?
[Bukan, itu bukanlah Omega ...]
[Itu baru sepertiga dari bentuk aslinya ...]
Tiba-tiba saja Regalia memberitahuku melalui telepati tepat ke kepalaku. Aku pun mulai meragukan kapasitas diriku sendiri. Apakah dengan kekuatanku saat ini bisa mengalahkan wujud tidak sempurnanya itu?
Tanpa basa-basi lagi aku langsung melesat ke arahnya. Baku hantam dan serangan cepat tidak terelakan, bahkan serangan dahsyat pun keluar membabi buta tanpa pandang terlebih dahulu.
Kota seakan-akan telah menjadi tempat uji coba senjata berbahaya, lubang besar dimana-mana, retakan, bahkan lava pun keluar dari dalam tanah. Kondisiku tidak terlalu menguntungkan kali ini, dengan bahu kiriku yang terkilir
__ADS_1
membuatku sulit untuk mengalahkannya.
Waktu bergulir dengan cepat dan sekarang tubuhku penuh dengan luka dan darah yang mengalir dari kepalaku. Rasa sakit dan pedih ini sangat menyebalkan, aku hanya bisa merobek sayap kiri dan menghancurkan kaki kanannya.
Tetapi sedangkan diriku telah menerima luka fatal di sekujur tubuhku dan sekarang kau mulai merasa aku bukan berada di dimensi biasa lagi. Sepertinya ia memisahkanku dengan dimensi normal sebelumnya.
***
Suara deraan gerobak begitu cepat melintasi jalan setapak yang hancur. Mereka akhirnya tiba di sebuah kota yang hancur. Darah terlihat dimana-mana dan membuat mereka waspada.
Namun suara raungan yang cukup luar biasa membuat mereka langsung menatap kehadiran sebuah mahluk yang dapat terbang tepat di tengah-tengah kota. Tetapi sebuah ledakan yang besar membuat mereka dalam keadaan siaga.
Mereka adalah Fear, Selina, Oz, Aresya, Irina, dan Regin. Tetapi, betapa kagetnya ketika ledakan itu mementalkan sesuatu ke arah mereka.
Sebuah teriakan kesakitan dan mereka tampaknya mengenal suara itu, suara yang telah lama mereka cari-cari dan tepat di hadapan mereka kini berdiri seorang lelaki berambut cokelat tua yang sepenuhnya berlumuran darah. Lengan kirinya tampak patah dan luka menghiasi hampir di seluruh tubuhnya.
Ia berdiri dengan penuh kebanggaan sambil di topang oleh sebuah pedang perak yang begitu indah. Fear dan Selina tertunduk lemas melihatnya, dia adalah suami mereka berdua.
Namun anehnya dia tidak menyadari kehadiran mereka yang kini tepat berada di belakangnya. Fear dan Selina langsung berlari kearah lelaki itu dengan tergesa-gesa, membukakan kedua tangan mereka untuk memeluk lelaki itu.
Namun hasil yang di dapat adalah—
"Huh?!"
Mereka tidak bisa memeluk lelaki itu, ketika mereka ingin melakukannya tubuhnya seperti transparan dan langsung menembus tubuh Reiss. Sedangkan Oz dan ketiga orang lainnya tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Mengapa lelaki yang mereka rindukan sama sekali tidak bisa mereka panggil walaupun mereka sudah berteriak sekeras mungkin.
"TUAN MUDA!!! INI AKU OZ, APA KAU MENGENALIKU?!"
Namun hasil yang di dapat nihil, ia sama sekali tidak memalingkan wajahnya untuk melirik sumber suara tersebut.
Mereka kembali tertunduk namun saat Reiss berteriak dengan keras, entah mengapa hati mereka serasa di tikam oleh pisau tak terlihat.
***
"DASAR MAKHLUK TAK BERGUNA, APA KAU SENGAJA MEMISAHKAN DIMENSI NORMAL DENGAN DIMENSI LAIN?!" teriakku dengan lantang.
Huh! Sepertinya makhluk ini benar-benar ingin membunuhku, ya? Ahkksss—sial, tubuhku tidak mampu untuk meneruskan pertarungan ini lagi.
[Korbankan lah darahmu untuk memanggil pedang kedua!!!]
Aku mengangguk pelan dan ku angkat tanganku selagi ku tancabkan pedang Lionhearku di tanah.
I Called The Crying An
Unstoppable—
At The Expense Of The Blood To Be
Its Strength—
And To Destroy All Incoming Non
Deceivingly—
Come To Me....
THE SWORD OF DRAGONTEARS!!!
Langit terbelah seiring teriakanku bergema di sepanjang kota. Kondisi tubuhku yang penuh dengan darah berubah menjadi sedia kala. Lengan kiri yang patah serta bahunya yang terkilir pulih dan tidak meninggalkan rasa sakit.
Sebuah lubang putih keluar dari dadaku, kugapai lubang itu dengan lengan kiri, dan sebuah benda solid berhasil kugenggam. Setelah itu menariknya dengan sekuat tenaga, di mana sekumpulan listrik-listrik hitam menjerit di sekitarnya dengan hebat.
Melengkingkan langit yang kala itu hening membuatnya kembali mengamuk. Lalu sebuah pedang hitam kini berada dalam genggaman tangan kiriku, di waktu yang sama aku juga mencabut pedang Lionheartku dari tanah.
Dan kini dua pasang pedang takdir telah berada dalam genggamanku. Makhluk itu mulai mengeluarkan sebuah bola energi yang sangat besar. Mengambang di langit yang sedang mengamuk itu, awan-awan kelabu penghantar kilat mulai terlihat tidak bersahabat.
Sambaran petir demi petir keluar menghunjam kota tempatku berdiri. Aura yang semakin luar biasa ini begitu intens sekali dahsyatnya. Udara memanas dan seperti menguap, tubuhku menjadi ringan dan berat di dalam waktu yang sama.
Semburat stamina dan luapan Mana terkumpul di dalam tubuhku ini dan saat itu juga Sang Makhluk luar biasa ini melesatkan bola energi yang sangat besar ke arahku. Aku berlari ke arah luapan bola energi itu sambil mengangkangkan kedua buah tanganku yang telah memegang dua buah pedang luar biasa.
__ADS_1
Aku pun berteriak sekencang mungkin dalam serangan abstrak yang sama sekali tidak menentu.
“HAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”
Gelombang seranganku saling bertubrukan dengan bola energi itu dan meledak satu sama lain. Ledakan yang sangat luar biasa itu hampir membuat kota mati ini hancur sepenuhnya. Ketika makhluk itu mencari keberadaan sasarannya, ia tidak bisa menemukannya dimana-mana.
Selama ledakan itu berlangsung, aku memanfaatkan silaunya cahaya, dan langsung terbang ke langit secepat, setinggi, dan sekuat mungkin lalu kembali menukik melancarkan serangan hebat dengan kedua pedang ini.
Sebuah serangan cepat namun mengorbankan segalanya itu menghancurkan seluruh keyakinan yang telah ia bangun selama ini.
Maafkan aku, kakak. Sepertinya aku tidak bisa menepati janjiku pada hari itu....
Namun tiga buah sosok cahaya membantuku dengan tiba-tiba mereka menopang diriku dan memberikan kekuatan mereka untukku. Ketiga cahaya itu kemudian menampakkan wujudnya, dan betapa kagetnya saat aku melihat itu semua.
Mereka adalah—
"B-b-bagaimana kalian bisa berada di sini?! Ayah! Ibu! K-Kakak! ..."
Tangisanku tidak terbendung dan membuatku ingin sekali memeluk mereka. Dengan suara lembutnya mereka bertiga seraya berkata.
"Jangan pernah menyerah, kehidupanmu masih panjang dan kebahagiaan suatu saat akan memeluk dirimu, Reiss."
Mereka pun tersenyum kecil dan setelah itu menghilang secara bersamaan.
Wajahku yang kusut kini penuh dengan tekad walaupun perkataan mereka bertiga sepertinya tidak akan menjadi sebuah kenyataan. Sebuah hamparan api berkobar menyelimutiku dan dalam satu buah serangan yang cepat itu.
Aku berhasil membinasakan makhluk itu, tapi tiba-tiba saja penglihatanku kabur dan staminaku terkuras habis. Tubuhku terbanting ke tanah keras sekali, rasa sakit yang luar biasa ini menyengat tubuhku tanpa ampun.
Darah mulai keluar dari kepalaku menetes melewati pipi hingga menetes. Kuseret tubuh ini menuju sebuah pilar batu yang cukup tinggi. Makhluk itu terus berteriak dengan bahasa yang aneh.
Suara bergemuruh sekali lagi terdengar di sepanjang kota ini dengan hebat. Tempat sekitarku mulai terpecah belas, tampaknya kau telah kembali ke dimensi normal.
Aku bisa melihatnya meski samar, begitu kabur, dan dipenuhi oleh warna merah. Lagi-lagi tatapan itu tidak bisa membuatku bersalah.
Fear dan Selina menangis di pangkuanku, Oz tampak gelisah dengan situasi kali ini. Sedangkan Irina dan Aresya membantu mengobati lukaku, sedangkan Regin berjaga-jaga dengan raut panik.
Lalu aku menyuruh Selina dan Fear untuk membuat lingkaran sihir dengan lembut. Mereka pada awalnya tidak ingin melepaskan tubuhku dan aku telah berusaha untuk melepaskan mereka berdua.
Dan sebuah keajaiban muncul, Oz membantuku untuk meyakinkan mereka. Mereka pun akhirnya dengan cepat membaca Rune singkat di bantu oleh Irina dan juga Aresya. Sebuah lingkaran sihir tercipta di atas tanah mati ini berwarna kuning keemasan.
Oz dan Fear membantuku untuk berdiri, sedangkan Selina, Regin, Irina dan Aresya telah berada di dalam lingkaran itu. Namun saat terakhir itu aku bergumam pada diriku sendiri.
"Dasar bodoh, mana mungkin aku dapat selamat setelah menggunakan kekuatan seperti ini."
Senyuman kecil membekas di wajahku lalu aku memukul perut Oz yang berusaha membantuku untuk berdiri. Bersamaan dengan Fear, aku juga melepaskan rangkulannya lalu mendorong mereka berdua tepat ke arah lingkaran itu.
Oz berhasil masuk walaupun wajahnya tidak percaya dengan apa yang aku lakukan. Raut wajahnya mengatakah itu semua dengan jelas.
Aku hanya dapat memberikan senyuman ini kepadanya dengan tulus. Tapi, sepertinya Fear dapat menahan doronganku itu dan ia tidak masuk ke dalam lingkaran sihir itu dan dalam sekejap di pinggir lingkaran muncul sebuah dinding yang tak kasat mata, bersinar terang. Mereka semua berusaha untuk membatalkan sihir itu,
tetapi sayangnya mereka telat dan akhirnya mereka berhasil selamat.
Sebelum itu Selina berteriak ke arahku dengan nada penyesalan, "REISS, DASAR KAU PEMBOHONGGGG!!!"
Aku hanya tertawa kecil ketika mendengarnya dan kini adalah Fear yang dalam diam terus saja memukul dadaku dengan keras.
"Reiss, mengapa kau melakukan ini semua? Apa yang kau mau? Kau jahat sekali ingin meninggalkan aku sendiri lagi," rutuknya dengan isak tangis yang di luar dugaanku.
Kurangkul kepalanya lalu sambil memendamnya ke dadaku, "D-d-dengar ini, Fear. Waktu hidupku tidak akan lama lagi," tuturku lembut di telinganya.
"Apa yang kau maksud? Bukankah kau memakan mutiara keabadian itu bersama yang lainnya juga?!"
"Tidak, itu tidak benar. Aku hanya menyembunyikannya di bawah lidahku ini."
Setelah itu aku memberitahukan alasan kenapa aku melakukan semua itu.
Sementara aku memberitahunya ia terus saja menangis tak henti-henti, "Semoga kau bahagia, selamat tinggal istriku tersayang....”
Aku bisa merasakan kedua tanganku menjadi lemas, kesadaranku juga perlahan menggelap, dan tatapan begitu kabur. Ahhh... inikah yang dinamakan kematian? Aku tidak tahu itu, tapi mungkin inilah rasanya mengalami kematian.
Begitu dingin dan mengerikan. Sendirian dalam kehampaan dan rasa gelisah yang tiada hentinya terus menggerogoti hatiku.
__ADS_1
Namun sebelum kesadaranku benar-benar menghilang, aku bisa mendengar kalimat terakhir darinya dengan nada yang hangat, dan sensasi basah pada pipiku....
"K-kita akan selalu bersama untuk selamanya. Baik itu sekarang ataupun saat kematian menghampiri kita, Reiss...."