Sword Anthem

Sword Anthem
Chapter 35 - Sebuah Perasaan


__ADS_3

Sebelum kecerita utama kita intro dulu~


Hai semua! Nama gue ReIN dan terima kasih karena telah memberikan gue kesempatan untuk menemani malam jomblo loe! Jika kalian menyukai cerita ini maka berikan jempol ke atas dan jika tidak cukup vote lalu sebarkan cerita ini. Jangan lupa berikan komentar dan tips agar sang Author tetap semangat update ceritanya!


 


.


.


.


 


Reiss ...


Kini Fear memeluk Kuro dengan sangat erat seperti tidak ingin melepaskannya dengan mudah, tetapi tempat itu mulai bergemuruh cukup hebat. Bebatuan berjatuhan dari langit seakan ada sesuatu yang akan terjadi.


Lalu sang Minotaur kembali muncul sambil mendengus. Tatapannya memerah dengan tubuh yang terluka parah—banyak sekali goresan darah pada sekujur tubuhnya. Kembali berteriak, sang Minotaur berlari sambil mengambil ancang-ancang akanmengayunkan kampaknya.


Melihat semua itu, Fear pun melepaskan pelukannya, “Biar aku yang akan menyelesaikannya, Reiss.”


Setelah itu ia menoleh, menatap kosong sang Minotaur. Melangkah pelan dengan raut wajah yang kosong, ketika makhluk raksasa itu mulai mengayunkannya ke arah Fear. Serangan itu kembali terpental akibat sentilan pelan dari Fear.


“Enyahlah,” ucapnya sambil melepaskan energi merah kehitaman yang meledak hebat dari tangannya.


Minotaur itu pun menjerit kesakitan dengan muntahan darah yang keluar dari mulutnya. Kini ia memiliki sebuah lubang tepat di tengah perutnya. Tapi, Fear kembali melesatkan serangan terakhir dengan menampar tubuh besar sang Minotaur.


Alhasil makhluk besar itu terlempar jauh hingga menciptakan lubang di langit-langit gua.


Setelah itu ia membawa lelaki yang sedang tidak sadarkan itu menuju permukaan tanah. Sebuah sayap muncul dari punggung kecilnya, dalam pelukannya Kuro masih tidak sadarkan diri hingga saat ini.


Tidak lama kemudian ia pun sampai di atas dan meletakan tubuh Kuro yang berlumuran darah sambil meminta maaf berulang kali.


Permintaan maaf itu ia sampaikan karena tidak bisa berada di samping Kuro ketika lelaki itu sangat membutuhkannya, tetapi Fear sama sekali tidak berada di sana.


Kini sosoknya tidak seperti dulu—penuh cahaya kehangatan dan kasih sayang. Saat ini sosoknya lebih menyerupai sesosok roh gadis kecil terkutuk yang dipenuhi oleh darah dan aura kebencian.


"Hikss... Kuro, maafkan aku, aku tidak bisa melindungimu seperti dulu lagi," tuturnya dengan gemetar.


Tubuh kecilnya itu ini berada di dalam pangkuan Kuro yang sedang tak sadarkan diri.


"Pedang itu tidak membiarkanku bebas, tubuh dan juga jiwaku terpisah karena pedang itu juga... j-j-jadi tolong jangan lupakan aku."


Langit telah menjadi gelap seutuhnya. Satu-satunya cahaya penerangan hanyalah cahaya bulan, di saat malam sunyi itu penuh atmosfer ketenangan, sesosok gadis kecil tengah menangis tersedu-sedu sambil menggenggam tangan seorang lelaki.


Tidak mengenal waktu ataupun tempat, perasaan atau kekhawatiran. Ketika Fear membawa tubuh Kuro menuju sebuah padang rumput luas nan penuh dedaunan bergoyang. Sekumpulan aura hitam menggumpal muncul begitu saja tanpa pemberitahuan.


Gumpalan aura hitam itu mengeluarkan suara yang melengking hingga udara di sekitarnya bergetar hebat. Tidak lama setelah itu beberapa makhluk hitam bangkit dari dalam tanah.


Bentuknya menyerupai semburan air atau lebih tepatnya lumpur yang menggunduk. Perlahan-lahan gundukan itu membentuk tubuh dan akhirnya menjadi sosok makhluk buas yang mulai berteriak tak jelas.


Merekalah yang di sebut dalam dongeng kuno sebagai Vaste alias makhluk yang tercipta dari aura negatif. Tetapi, setelah menidurkan tubuh Kuro di tempat yang aman, sosok mungil itu berdiri tegak menghadap mereka sendirian.


Walaupun ia sebelumnya adalah sesosok yang luar biasa, tapi saat ini ia hanyalah roh gadis kecil. Memiliki kesadaran dan kehendak, keinginan dan permintaan, itulah yang membuat eksistensinya bertahan selama ini.


Dengan wajah sembab dan air mata mengalir dari mata menuju pipi lembut putihnya, ia seakan-akan tidak peduli dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.


***


Aku merasa tidak berguna dan karena itulah perasaan hampa ini selalu menghantuiku.


“A-a-arghh—a-apa yang terjadi?”


Ketika kesadaranku perlahan mulai kembali, aku merasa sekujur tubuhku hancur. Rasa sakit yang menyengat, perih, dan juga kesal bercampur menjadi satu.


Aku berusaha melihat apa yang terjadi di sekitarku, “Malam? B-bagaimana aku bisa berada di padang rumput ini?”


Namun apa yang membuatku kaget dan tidak percaya adalah sesosok gadis kecil yang kini berdiri berlinang air mata dengan beraninya menghadapi sekumpulan makhluk aneh. Saat itulah aku merasa mengenali sosoknya, walaupun berbeda, tapi perasaan ini tidak asing.


Fe... ar?


Nama yang tidak asing bagiku, tapi entah mengapa aku sama sekali tidak bisa mengingat siapa, dan apa hubungannya denganku.


"K-Kuro?" Ia melihat tepat ke arahku dengan menyebutkan namakusecara rintih.


Ia berusaha menghapus air matanya sambil berlari ke arahku. ya... aku bisa melihatnya dengan sangat jelas. Begitu ia melompat, aku pun menangkapnya dalam sebuah pelukan.


Suara isaknya terdengar seperti memintaku mengingat sesuatu, aku pun mengelus rambutnya. Walaupun indra perasaku masih sedikit kaku, tapi setidaknya aku masih bisa merasakan sensasi rambutnya yang sedikit kasar.


Wangi ini... wangi yang membuatku bernostalgia.


Namun tiba-tiba saja sepasang sayap muncul dari punggungnya, begitu lebar, dan putih. Seperti awan yang mengambang di siang hari dan seindah langit di pagi hari. Mulutnya bergerak mengucap sesuatu yang entah apa itu hingga akhirnya aku tahu maksud dari semua perkataannya—

__ADS_1


[Våre hjerter vil aldri visne, våre hjerter vil alltid være ett]


[Til tross for at dette minnet skiller oss, tvilsomt pakket rundt oss]


[Jeg vil alltid være sammen med deg, til døden deler oss begge ]


[Fordi jeg elsker deg og alltid vil være sånn][Jeg vil beskytte deg med hele min sjel]


—Ini adalah sumpah cinta, hidup, dan mati. Lalu ia pun menciumku tanpa


mengenal situasi terlebih dahulu. Sensasi ini sangat kurindukan


Tubuhnya pun hancur menjadi kepingan cahaya yang merasuki tubuhku. Setelah itu cahaya bulan seperti menyinari lenganku dengan lembutnya.


Kini di tanganku terdapat sebuah serbuk putih yang mengambang begitu pelannya. Berputar dan berputar hingga sebuah Rune muncul dan menciptakan garis-garis penghubung, menyatu menciptakan sebuah pedang transparan hitam-kemerahan.


Begitu aku menggenggam bilahnya, semua rasa sakitku menghilang dalam sekejap. Saat itu aku hanya terkesima dengan apa yang baru saja terjadi. Terdiam dalam kekaguman yang mendalam dengan mata yang melebar.


Jauh di dalam lubuk hatiku, ada sebuah perasaan yang sangat nyaman. Perasaan ini membuatku seakan-akan berada di rumah. Ya... rumah. Mungkin ini terdengar aneh, tapi sensasi ini tidak salah lagi adalah atmosfer yang hanya dapat kurasakan ketika berada di rumah.


Sebuah bulu putih mengambang dan mendarat tepat di atas hidungku. Pada saat itulah aku kembali pada kenyataan. Layaknya sayap burung di langit, kini aku juga memilikinya sama seperti mereka.


Sayap yang melambangkan kebebasan. Berwarna putih transparan dengan garis-garis Rune yang saling terhubung layaknya sebuah tulang penyangga.


Setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi karena semuanya berlalu begitu cepat. Kakiku melangkah begitu ringan, jangkauan penglihatanku pun ikut meluas, bahkan baik tubuh maupun keinginanku bergerak cepat, ringan seakan ada sesuatu yang memelukku dari belakang.


Sosok itu berbisik di telinga kananku, “Ayo, kau pasti bisa. Seperti halnya dulu, kini aku bersamamu.”


Tanpa keraguan dan rasa takut, aku pun langsung menerjang ke arah mereka yang bukan main banyaknya. Menerjang mereka bagai burung elang di langit dan menari bagai kupu-kupu indah dalam rindangnya dan indahnya taman bunga.


Setiap serangan aku lancarkan dengan akurat dan presisi yang tinggi. Kembali dalam irama yang nyata, aku melompat tinggi, dan terbang mengarungi pasukan makhluk hitam ini sambil melayangkan serangan cepat dari langit.


Satu-persatu tubuh mereka meledak menjadi serbuk abu yang kemudian menghilang tertiup angit. Walaupun terkadang menyipratkan darah keunguan, tapi lebih dari setiap makhluk yang aku kalahkan hancur menjadi serbuk abu.


Walaupun mereka menyerangku dari berbagai arah dan berbagai jarak. Semua itu terlihat aneh dimataku, karena apa yang kulihat pada saat itu adalah sekelompok anak kecil yang sedang bermain bola.


Meskipun bola api, tapi tetap saja bagiku adalah permainan anak kecil.


Makhluk yang besar kubelah menjadi dua bagian, mereka yang terbang jatuh berguguran, dan sisa yang melihatku tanpa bisa berbuat apapun lenyap tertiup oleh hempasan.


Lagi dan lagi, terus dan terus, aku menyerang mereka. Malam itu seperti ada sesuatu yang menarik lengan dan mengajakku bermain. Entah siapa mereka dan apa tujuannya, tapi karena itulah aku terus bergerak maju.


Kenangan pahit selama aku berada di rumah itu, hinaan ketika aku terus gagal dalam mencoba, dan cacian di saat aku berusaha bangkit... semua itu lenyap oleh hembusan angin lembut.


Saat itulah semua yang kupendam selama ini keluar dalam bentuk kekuatan dahsyat.


“Synchr Anima!”


Aku pun melemparkan pedangku layaknya sebuah tombak. Melesat cepat bagai suara halilintar, bergema, dan


akhirnya meledak dengan diikuti oleh beratus-ratus pilar petir putih yang muncul dari dalam tanah.


Ledakan demi ledakan bermunculan dan langit yang sebelumnya diselimuti oleh awan gelap kembali seperti sedia


kala, di mana sang rembulan bersinar terang di atas sana.


Ketika serangkaian gelombang ledakan itu akan berakhir, aku pun meluncur cepat untuk mencabut pedangku di bawah sana.


Setelah berhasil mengamankannya, kugenggam bilahnya dengan dua tangan. Mengumpulkan kekuatan dalam satu titik dan menjadikannya pedang cahaya yang sangat besar, lalu mengayunkannya secara horizontal.


Pada saat itulah aku melihat lempengan es yang menyerbak bagai bunga lili di malam hari. Merambat dengan cepat dan sangat luas, bahkan semua makhluk itu lenyap tak tersisa meninggalkan sesosok raksasa yang kini menatapku dari balik awan gelap di sekitar tubuhnya.


Hitam... itulah impresiku ketika melihatnya. Dengan bentuk yang abstrak, tubuhnya seperti dihuni oleh berjuta-juta makhluk kecil. Terlihat ada beberapa yang menggeliat dan bahkan keluar menjulur seperti lidah.


Terdapat sembilan mata di kepalanya dan mereka semua menatapku. Pupil besar merah bundar, tanpa mulut, tapi memiliki empat buah lengan yang besar.


"Ini sangat melegakan," gumamku pelan.


Bibirku menyungging, tersenyum kecil tapi rentetan gigiku terlihat jelas di antara celah bibir atas dan bawah. Perasaan ini... perasaan tegang ini adalah rasa menyenangkan yang sebelumnya pernah aku rasakan.


Begitu aku kembali dalam kuda-kuda, partikel dalam pedang putihku berpencar menjadi dua bagian. Dua bagian itu kembali membentuk sebuah pedang sehingga kini aku menggenggam dua buah pedang di tanganku.


Makhluk besar—Titan itu mengentak tanah beku dan menghancurkannya berkeping-keping. Pada saat itulah aku menggunakan momentum itu untuk melakukan tarian pedang.


“Gremnyr Vhaldiust!!!”


Ketika tangan itu telah berhasil meratakan tempatku berdiri, aku melompat tinggi dan langsung berlari cepat di atas punggung lengannya. Dengan liukkan dari pedangku yang menciptakan garis spiral dan vertikal dengan cepat.


Garis-garis putih itu terbentuk dalam sekejap mata dan seketika itu lengannya terbelah menjadi beberapa bagian yang merata. Sang makhluk raksasa berteriak kesakitan, aku pun kembali melompat dengan menggunakan bahunya sebagai tumpuan.


Bersalto di langit malam yang sepi akan bintang, pedangku kini bersinar indah kembali di telapak tanganku. Memantulkan sinar cahaya bulan purnama yang menyilaukan dan berhasil membuatnya silau beberapa saat, aku pun kembali meluncur di lengan satunya lagi.


Ketika ia ingin menepisku dengan lengannya yang tersisa, pada saat itulah pedang ini memainkan perannya. Menyayat setiap bagian dengan lembut layaknya membelah adonan kue.

__ADS_1


Lengan bagian atas terpotong menjadi potongan-potongan dadu besar dan lenyap begitu saja. Aku kembali berlari secepat mungkin sambil menghindari serangan-serangan selanjutnya.


Di saat ia memfokuskan tatapannya padaku, aku merasa ada sesuatu yang muncul, dan benar saja sebuah plasma besar keluar dari matanya. Dengan refleksku yang cepat, aku pun melompat tinggi dan berhasil menghindarinya tepat waktu.


Mengeluarkan sayapku kembali, kini aku menukik tajam sambil menyiapkan tebasan terakhir yang akan menanggalkan kepalanya dan... BHUASS!!


Aku berhasil memenggal kepalanya dengan cepat... dan saat itulah tubuhnya hancur berkeping-keping.


Malam yang panjang, tapi begitu pendek. Stamina yang selama ini menggebu dengan hebat akhirnya redup dan aku pun jatuh bersamaan rasa kantuk yang sangat berat.


***


Aku merasakan sesuatu yang berat berada di atas tubuhku. Sinar hangat mulai merambat dan aku bisa merasakannya.


Kesadaranku pun perlahan pulih dan begitu aku membuka mata, tepat di atas tubuhku terdapat seorang gadis kecil dengan gaun musim panas sedang tertidur pulas.


"E-Eh?...."


Ia pun terbangun, kedua mata lebarnya terbuka dengan perlahan namun tetesan air liurnya itu tidak berhenti. Apakah ia sejenis mesin air apa?


"Hoamm... Ouuu, Kuro... perkenalkan aku adalah Fear, roh kontraktormu," ucapnya sambil membusungkan dada ratanya. Tak berisi seperti nampan makanan.


Tangannya mengangkat seperti kelaparan dan wajahnya mengalirkan aura positif.


"Hmm? Dari mana kau mengetahui namaku?"


"Aku tidak begitu mengingatnya, yang aku ingat hanya ketika membuat kontrak denganmu saja," jawabnya dengan tersenyum usil.


"Jadi seperti itu," gumamku pelan. "Apa maksud dari senyummu itu, huh?" tanyaku sambil mencubit kedua pipinya kemudian kutarik seperti karet.


"Akuu luapaaarrrr," sahutnya dengan wajah berbinar walau sekarang pipinya kutarik seperti karet.


"Dasar. Kalau begitu ayo kita cari makan," ajakku kemudian mengangkat Fear, kubiarkan ia duduk di atas kedua bahuku.


Wajahnya sangat polos sekali dengan rambut merahnya yang terurai rapi ke bawah. Matanya memancarkan aura kehidupan yang luar biasa dan ia tampak senang sekali.


"Kalau begitu, ayoo."


Aku pun langsung berlari dengan cepat ke arah padang rumput hijau kemerahan itu. Berlari tanpa tahu bahwa kami sebenarnya memiliki hubungan yang lebih dalam dibandingkan dengan Master dan Roh Kontraktor.


***


Di ruangan itu, rak-rak bunga melayang dengan lambat. Cuaca malam terlihat di atap-atapnya yang transparan. Beberapa buku ada yang melayang dan terbuka sendiri.


Dan di antara semua itu ada seorang lelaki berambut putih yang tampaknya telah berusia lanjut dan seorang laki-laki berambut hitam gelap yang tengah duduk di sebuah kursi dekat meja resepsionis.


Lelaki itu menitikan air mata ketika melihat ingatannya telah sepenuhnya kembali. Sekarang ia tahu kebenarannya dan ia yakin suatu hari ia akan mengalami masa-masa seperti itu kembali.


Perlahan matanya terbuka dengan pasti dan kucuran air mata tidak berhenti keluar dari kedua matanya.


"Hohohohoh ... Reiss, mengapa kau menangis? Bagaimana perjalananmu di sana?"


Suara yang begitu ramah dan sangat aku kenali sekali.


Aku mencoba untuk tetap kuat menerima semua ingatan itu dalam sekali perjalanan. Lalu kutengok orang yang memanggil nama lamaku.


"Aku baik-baik saja, Paman Lucifer," sahutku gemetaran.


"Reiss, terkadang menangis itu di perlukan. Bukan hanya saja penenang di dalam kesulitan atau penguat di saat ketakutan, tetapi dengan menangis berarti hatimu masih mau menerimanya," ucapnya lalu tersenyum. “Lalu


bagaimana? Kau menemukan seseorang yang sangat kau cintai di sana?" tanyanya lagi.


Aku hanya mengangguk pelan.


"Ya dan itu telah lama bersamaku sejak awal, tapi aku tidak menyadarinya sama sekali. Sungguh kejam, bukan?"


"Tidak, tidak. Jangan menyalahkan dirimu sendiri, itu tidak baik," tuturnya ringan. "Jika kau memang mengambil jalan ini yang berarti telah kau pilih, maka kau harus melanjutkannya hingga terakhir, Reiss," lanjutnya sambil membuka beberapa halaman buku.


"Aku tahu itu, Paman."


Kali ini kubersihkan wajahku dari air mata menyedihkan itu dengan benar. Raut wajahku kukembalikan seperti semula, menjadi seorang yang periang dan juga selalu ingin bercanda.


"Tetapi apakah aku sanggup, diriku yang dulu saja mati bersama dengannya tepat setelah mengalahkan apa yang mereka katakan sebagai sang pengatur."


Jika di pikir-pikir sudah berama lama aku tertidur di dalam benang ingatanku? Aku lupa belum menanyakannya kepada Paman Lucifer.


"Bicara tentang waktu, sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?" tanyaku dengan cepat.


"Hanya satu hari dan tampaknya sekarang sudah pagi hari," sahutnya ringan.


"Kalau begitu terima kasih atas bantuannya, Paman," ucapku sambil berterima kasih. "Tentang itu dulu paman rupanya tampan, aku hampir saja lupa memberitahukan ini."


Setelah itu aku langsung beranjak dari kursi lalu berlari pergi meninggalkan perpustakaan magi itu. Walau samar aku mendengar Paman Lucifer tertawa lepas. Sepertinya guyonanku berhasil.

__ADS_1


Setelah yakin aku telah keluar dari rumahnya. Aku pun langsung berlari tergesa-gesa ke rumah, semoga Hilda tidak mengkhawatirkan diriku.


__ADS_2