
Setelah aku berhasil mengalahkan Sang Pelahap Pedang, aku pun segera pergi untuk memeriksa keadaan Hilda, mungkin ia telah sadarkan diri.
"Bagaimana? Apa kau sanggup berdiri, Hilda," tanyaku khawatir.
"Sepertinya saya masih belum bisa untuk berdiri," jawabnya dengan nada berat.
Luka yang ia dapatkan sangat fatal, meskipun aku menyembuhkannya belum tentu dapat memulihkannya seperti sedia kala, bahkan lengan kiriku yang patah saja bisa sembuh berkat Lionheart.
Ada beberapa hal yang masih menjadi misteri bagiku dan untuk itu aku harus mencari cara agar bisa mengingatnya.
"Kalau begitu, tampaknya kau memerlukan bantuan," ucapku lalu menggendongnya seperti tuan putri.
"Hyaaa ... K-Kuro, ini memalukan," celetuknya dengan nada yang imut.
Ternyata sosok sadis nan dingin yang sebelumnya aku temui ini bisa mengeluarkan suara seimut inijuga, ya.
"Kau memang pelayanku sekarang, maksudnya pelayan pribadi namun kau juga seorang perempuan. Jadi diamlah, kita akan segera keluar dari tempat ini," ucapku. “Aku lupa bagaimana caranya untuk kembali ke Lembah Mour”
"Tentang itu, biar saya yang melakukannya."
Hilda yang masih berada di dalam gendonganku, melafalkan beberapa rune. Kemudian ia menjentikkan jari. Dalam waktu yang sangat singkat itu, kami berdua pun berhasil keluar.
Kini aku berada di Reruntuhan Armhade biasa dan bukannya reruntuhan kastel langit. Tepat di sana aku bisa melihat Lembah Mour.
"Kalau begitu rangkul leherku erat-erat," ucapku lalu melompat tinggi dan segera berlari meninggalkan tempat ini.
Aku bisa merasakan rangkulannya semakin erat meskipun wajahnya tertunduk malu. Setelah kami berhasil melewati jembatan tipis. Reruntuhan itu tiba-tiba runtuh dan akhirnya jatuh ke dasar jurang.
Kini Lembah Mour benar-benar terpisah oleh jurang dalam yang gelap. Langit masih terlihat cerah walaupun berwarna oranye. Bukankah tadi malam? Sepertinya ada perbedaan waktu di antara kedua tempat ini.
Tanpa menunggu lagi aku pun segera berlari menuju rumahku berada.
***
Kerajaan Astarte, Akademi Swordia
Langit telah tertutup sepenuhnya oleh kegelapan. Bintang-bintang bersinar dengan ceria, di temani oleh sang rembulan malam yang tenang. Berbentuk bulan sabit kekuningan, tapi bersinar putih kentara.
Rambut merah bersinar di antara sinar rembulan itu. Ia sedang duduk di atas sebuah balkon, memandangi langit malam yang indah. Kemudian seorang perempuan berambut putih perak yang cantik datang menghampirinya.
"Fear, apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya.
"Aku sedang melihat bintang-bintang itu menari di atas sana, Velia," sahutnya sambil menunjuk langit dengan jari telunjuknya yang kecil.
"Ahh... kalau begitu bolehkah aku ikut duduk di sampingmu?"
"Tentu saja, silahkan."
Velia pun akhirnya duduk di samping Fear yang sedang memandangi langit, "Tidak seperti biasanya kau seperti ini... apakah ada yang mengganggumu, Fear?"
"Jika aku bilang mengganggu atau tidak, sepertinya tidak keduanya. Hanya saja aku penasaran dengan beberapa cahaya yang sedari tadi mengelilingi bulan di atas sana”
"Cahaya? Mengelilingi?"
Velia pun langsung melihat ke arah bulan, tetapi ia tidak bisa melihat apa yang dilihat oleh Fear.
"Seperti itulah, aku penasaran makanya aku duduk di atas balkon ini lalu melihatnya dengan rasa penasaran"
"Fear, aku tidak bisa melihatnya!"
"Sungguh? Padahal cahaya itu cukup banyak dan cahaya itu berwarna-warni, ada yang merah, putih, biru, hijau, hitam, ungu dan banyak lagi," sahutnya sambil menggoyang-goyangkan kedua kaki mungilnya secara bersamaan.
"Hmm... sepertinya hanya dirimu saja yang bisa melihatnya."
Setelah itu mereka saling bertatap muka dan akhirnya tertawa bersama-sama di bawah hamparan bintang-bintang. Fear yang terkadang membuat pose menggelikan, membuat Velia tertawa kecil bahkan hingga terbahak-bahak.
Waktu begitu cepat berlalu dengan hilangnya sang pahlawan, tetapi Fear tahu bahwa dirinya masih hidup di suatu tempat. Surat yang baru saja ia terima merupakan ciri khas dari sang pahlawan itu.
Karena hanya dialah yang tahu makanan kesukaannya, ia juga sangat tahu betul tentang rasa dan bentuknya. Di dalam suasana hangat itu Fear merasakan bahwa waktunya pun telah dekat.
Velia yang masih tertawa kecil dengan wajahnya yang cantik tidak menyadari raut wajah Fear yang sesungguhnya. Lalu, walau hanya sesaat kedua tangan mungilnya menjadi transparan, dan kembali seperti semua.
“Kuro...,” lirihnya pelan.
***
Setelah tiba di rumah, aku pun langsung masuk ke dalam kamarku. Di situ aku menurunkan Hilda dan segera pergi ke kamar mandi untuk mengambil satu ember air. Aku juga tak lupa untuk mengambil lap yang bersih untuk membersihkan luka darah di tubuhnya.
Menyalakan tungku api lalu menghangatkan air di dalam panci yang terlebih dahulu aku isi. Setelah cukup hangat lalu aku membawa ember berisi air dingin beserta lap bersih tambahan.
Segera setelah itu selesai, aku pun dengan cepat kembali ke kamarku. Lalu membersihkan tubuh Hilda. Tapi, aku tidak menyuruhnya untuk membuka baju, aku hanya memintanya untuk merentangkan tubuhnya.
Darah-darah itu masih belum berhenti keluar, dari mulai bagian kiri tubuhnya, luka sayatan yang sangat panjang dan juga dalam bisa kulihat begitu jelas. Aku membersihkan semua itu dengan hati-hati dan setelah selesai, aku
juga memintanya untuk melepaskan baju.
Aku meninggalkan sepanci air hangat dan juga lap bersih tambahan agar ia bisa membersihkan tubuhnya sendiri.
Tiba-tiba saja suaranya yang cukup dalam dan halus memanggilku, "Apakah Anda masih ada di sana, Kuro?"
"Seperti yang kau tebak, aku masih berada di sini. Apakah ada sesuatu yang kau inginkan?"
__ADS_1
"A-ah ... tidak, hanya saja saya merasa tidak enak jika di perlakukan seperti ini oleh tuan saya sendiri," ucapnya gugup.
"Tenang saja, aku tak mempermasalahkannya kok. Dengan kau selamat saja itu sudah lebih dari cukup, karena kau adalah satu-satunya keluarga yang aku miliki sekarang."
Aku pun pergi duduk di sofa lalu mengambil segelas air kemudian meneguknya sampai habis. Ada keheningan untuk beberapa saat, lalu tidak di sangka-sangka Hilda keluar dengan tubuh telanjang yang tertutup oleh selimut cokelatku.
"Bhussttt!! ... a-a-apa yang kau lakukan? Kau benar-benar membuatku kaget!"
"M-maaf kan saya, Kuro-sama," sahutnya lalu ia pun mendekat dan duduk di sampingku. " Hanya saja saya tidak mempunyai pakaian lain selain yang saya gunakan tadi"
"K-kalau begitu tunggu sebentar," ucapku panik.
Aku pun segera lari berhamburan ke kamarku untuk menemukan pakaian yang cocok untuknya tetapi sayangnya semua pakaianku adalah untuk laki-laki.
Jadi aku hanya mengambil kemeja putih berlengan pendek yang cukup longgar untuknya. Setelah itu kembali ke sana untuk memberikannya kepada Hilda.
"Pakailah ini, aku tidak mempunyai pakaian lain selain pakaian laki-laki”
"Terima kasih, Kuro. Padahal saya sebagai pelayan tetapi saya yang malah merepotkan," ucapnya lalu mengambil kemeja yang aku berikan.
Aku pun berbalik agar tidak melihatnya telanjang selagi memakai kemeja putih itu.
"Apakah sudah selesai?" tanyaku.
"Ya, saya sudah selesai."
Aku pun berbalik dan melihat seorang perempuan cantik berambut putih pendek yang sedang menggunakan kemeja putih milikku.
Walaupun longgar tetap saja dadanya itu sedikit menonjol. Mungkin ia akan bisa menyaingi Aresya jika aku bandingkan dengannya.
Setelah itu aku langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan dua cangkir teh. Beberapa saat kemudian aku kembali ke ruang tengah sambil membawakannya secangkir teh
hangat.
"Minumlah selagi hangat, bagaimana dengan lukamu?"
"A-ah ... sekali lagi terima kasih, Kuro-sama," sahutnya dengan sedikit gugup. Bibir merah mudanya bergerak namun seperti tertahan. "Saya sudah cukup baik, walaupun luka ini masih belum sembuh total"
"Hmm... baiklah," gumamku lalu menyesap secangkir teh yang berada di tangan kananku. " Aku hanya akan berkata jika kau tinggal di sini, perlakukanlah seperti rumah sendiri. Aku tahu ini tidak semegah seperti di
kerajaan dulu, tetapi berkat rumah ini aku berhasil selamat"
Hilda sedikit kebingungan kepalanya memiring. "Maksud Anda?"
"Aku hanya merasa waktu seperti ini tidak akan bertahan lama, hanya itu saja. Jadi gunakanlah waktu itu dengan sebaik-baiknya selagi kedamaian ini tetap berlangsung," jelasku.
"Tentu saja, saya tidak keberatan jika harus tinggal di rumah ini. Karena rumah ini adalah rumah dari tuanku sendiri," ucapnya dengan senyum mengembang.
Aku hanya tersenyum tipis mendengarnya, "Kalau begitu aku akan keluar dulu untuk menyelesaikan misi yang telah aku ambil,” ucapku lalu segera mengambil jubah hitam.
"Hilda, tolong jaga rumah untukku, ok," ucapku lalu segera berlalu keluar pintu.
"Seperti yang Anda minta, Kuro," sahutnya. "Lalu setelah ini apa yang akan aku lakukan dengan kondisi tubuhku seperti ini? Ahh .. aku tahu mencuci piring."
Akhirnya Hilda pun segera bangkit dan berjalan pelan menuju tempat cuci piring. Namun siapa sangka bahwa saat ia telah sampai di sana, ia disambut oleh tempat yang bersih dan wangi.
"Sepertinya aku beristirahat saja ... Kuro, Anda terlalu rajin."
Itulah yang aku lihat dan dengar sebelum benar-benar keluar rumah.
Tidak lama setelah itu aku hanya tinggal setengah perjalanan lagi agar sampai di rumah Tuan Hughes. Lalu menyerahkan Buku Entia ini. Mendiang ayahku sepertinya sangat mempercayainya karena menyerahkan buku ini kepadanya.
Kerajaan Astarte mulai terlihat di depan sana. Aku hanya perlu masuk dengan cara biasa, menyapa para penjaga seperti biasanya, dan mereka akan mengizinkanku lewat. Benar saja mereka mengizinkanku untuk lewat namun dengan satu syarat.
'Jangan lupakan kami jika anda mendapatkan buruan yang banyak' itulah kata mereka. Aku pun tersenyum geli mendengarnya lalu mengangkat jempol kananku kepada mereka.
Seperti biasa orang-orang berlalu lalang di malam hari ini. Karena persiapan Astarte Festa sepertinya sudah selesai dan terlebih lagi perayaan ini akan dilaksanakan dalam beberapa hari lagi.
Pantas saja orang-orang sekarang memenuhi jalanan sambil mendekorasi jalanan dengan penuh antusias dan wajah berseri, meskipun ini sudah malam tetapi semangat mereka masih berkobar.
Di tengah-tengah semua itu dua orang yang sangat berbeda saling berjalan bersamaan. Satu adalah laki-laki dan yang satu adalah perempuan. Sepertinya aku mengenali mereka... ahh, ya... tentu saja aku mengenali mereka.
Aku pun berjalan pelan sambil menyembunyikan wajahku di dalam gelapnya malam. Lalu mengambil jalan tengah di antara mereka. Perempuan itu berjalan lebih cepat di bandingkan laki-laki yang menemaninya.
"Seperitnya kalian sehat, Oz. Tolong titipkan salamku untuk Selina," ucapku pelan di samping telinga laki-laki berambut putih yang melewatiku.
Kemudian aku terus berjalan, sedangkan laki-laki itu terhenti."Oz, ada apa? Mengapa kau berhenti," ucap perempuan berambut pirang yang cantik.
"Apakah Anda tuan muda?" ucap Oz dengan nada yang cukup mencurigakan.
"A-apa yang kau maksud—“
"Siapa yang tahu? Mungkin orang yang kau sebut tuan muda itu telah tiada," potongku tiba-tiba.
"Aku tak pernah salah jika itu mengenali Anda, Tuan muda," Lalu ia pun terdiam beberapa saat.
Selina yang sedari tadi kebingungan akhirnya mendekati Oz. "Oz, apa yang kau katakan. sayangku telah tiada, mana mungkin dia bisa hidup kembali"
"Hmm... sayang? Apakah itu suami Anda nona cantik?" ucapku menggoda.
"Kyaaa ... membayangkannya saja sudah membuatku ketagihan. Tentu saja ia suamiku... lalu tuan baik hati siapakah Anda?"
__ADS_1
Malam itu, malam yang penuh dengan orang-orang. Mereka saling berjalan ke sana kemari dengan tawa dan senyuman yang melekat di wajah mereka. Awan gelap bergerak pelan meninggalkan sang rembulan malam hari.
Cahayanya yang sangat indah mulai turun kembali ke bumi dan akhirnya menyinari seisinya. Bayang-bayang mulai menghilang di hadapannya. Kemudian merambat dan merambat hingga akhirnya ke tempat yang sangat mustahil.
Berkat itu kini cahayanya menerangiku dengan lembut. Aku hanya tersenyum usil sambil menatap mereka seperti sedang melihat kawan lama.
"Aku hanya seorang petualang, kalau begitu semoga kita bisa bertemu kembali di lain waktu ... Oz, Selina," ucapku lalu menghilang dalam malam.
Aku hanya bisa melihat ekspresi mereka yang terkejut, bahkan makanan di tangan Selina terjatuh sebelum aku pergi meninggalkan mereka.
Kini aku telah sampai di rumah Tuan Hughes A.K.A Lucifer. Aku pun mengetuk pintu rumahnya. Suara langkah kaki kembali terdengar di dalam rumah eksentrik itu.
Lalu sesosok lelaki berambut putih yang sangat sopan muncul dari balik pintu, "Ahh... rupanya tuan Raid, silahkan masuk."
Aku pun mengangguk lalu masuk ke dalam rumah milik Tuan Hughes. Berjalan melewati lorong yang cukup panjang. Sekali lagi aku disambut oleh patung-patung dan beberapa lukisan abstrak.
Tidak lama kemudian aku pun sampai di ruang tengahnya lalu duduk di sofa eksentrik miliknya. Seperti biasa Tuan Hughes membawakan dua cangkir teh dan satu piring kecil dengan beberapa kue kering.
"Jadi bagaimana tentang misi investigasinya, Tuan Raid,” ucapnya mulai membuka topik pembicaraan, tapi sepertinya kali ini akulah yang akan memberikan kejutan untuknya.
"Tentu saja selesai, tetapi ada sebuah kendala, Paman Lucifer," balasku dengan tersenyum mengejek.
"Hohoho ... jadi pangeran kecil kita sudah mengingat pamannya sendiri."
Ia pun tertawa kegirangan dengan wajah yang cukup konyol, "Jadi bagaimana dengan bukunya?"
"Sepertinya paman langsung menuju intinya, ya? Tentu saja aku membawanya, ini." Aku pun menyerahkan buku itu kepada paman Lucifer.
"Rupanya aku tidak harus mengkhawatirkan dirimu lagi, kau sudah tumbuh besar, Reiss," ucapnya lalu mengambil buku itu.
"Sekarang namaku Kuro, jadi tolong panggil aku dengan nama itu, paman," sahutku. "Baiklah mengenai hadiah itu bisakah aku segera mendapatkannya?"
"Kau ini terburu-buru sekali, baiklah kalau begitu ikut denganku sebentar,Kuro."
Ia pun berjalan melewati diriku lalu menyentuh cerobong asap warna-warnimiliknya. Sebuah suara gemuruh tiba-tiba terdengar di segala penjuru rumah.
"Ehhh ... apa yang terjadi?"
Sontak aku pun kaget dan segera bertanya-tanya, aku kira ada sebuah bencana atau penyerangan tetapi ketika melihat wajah Paman Lucifer yang tersenyum lebar. Sepertinya dugaanku salah.
Sebuah portal tiba-tiba keluar dari balik cerobong asap itu. Berbentuk seperti pintu kotak, namun aku tidak bisa melihatnya karena terlalu silau, "Kalau begitu kemari, ikut bersama paman. Paman akan memberikannya di ruangan ini."
"Baiklah," sahutku lalu mengikutinya sambil menutup wajahku dengan telapak tangan milikku.
Aku pun akhirnya berjalan menuju pintu itu. Saat aku telah mencapai pintu itu, ratusan bulu-bulu putih menghempaskanku dengan lembut. Lalu akhirnya aku bisa melihat ruangan ini dengan jelas.
Sebuah perpustakaan raksasa, dengan rak-rak buku yang melayang di langit-langit. Berwarna merah tua. Ada sebuah tonggak yang sangat panjang ditengah-tengah ruangan itu. Aku dapat melihat dengan jelas bintang-bintang
dari bawah sini.
Lalu Paman Lucifer membangunkanku dari kekagumanku itu, "Hohoho... cepat kemarilah, Kuro."
Dengan cepat aku segera berlari ke arahnya. Ia sekarang berada di lantai dua, ada sebuah tangga di dekat koridor sana lalu aku pun segera menaikinya. Tetapi,tiba-tiba saja tubuhku melayang seperti di tarik oleh sebuah kekuatan
supranatural.
Dan entah mengapa aku tiba-tiba sudah duduk di sebuah kursi yang sangat nyaman. Kulihat paman sedang menengadah sebuah laci di pinggirku. Lalu ia pun berbalik setelah berhasil menemukan barang yang ia cari.
"Kuro, inilah hadiahnya," ucapnya lalu memberikanku sesuatu yang kecil dan berwarna perak ke abu-abuan.
"Sebuah kunci?"
"Ya, itu adalah hadiahmu ... kau bisa langsung menggunakannya"
"Tetapi, di mana—“
"Di sini," potongnya lalu menunjuk dahiku.
"Paman, berhentilah bermain-main. Mana mungkin kunci ini di gunakan di dahiku, lagi pula harus ada lubang kunci yang pas untuk memasukkan ini."
Aku kira bahwa ini adalah sebuah lelucon, tetapi perkataan selanjutnya yang terlontar dari pamanku membuatku mematung.
"Kunci Kenangan ... kunci yang dapat mengakses seluruh ingatan masa lalu. Apakah kau tidak menginginkannya... jika orang lain yang mengambil misi itu sudah pasti akan terbunuh," ucapnya lembut, “tetapi, saat aku lihat orang yang mengambil misi itu adalah dirimu, Kuro. Paman yakin kau pasti membutuhkan ini kan? Untuk mengetahui kenapa kau di takdirkan seperti ini"
"Sepertinya paman bisa membaca pikiran orang lain, huh? Bisa mengetahui isi pikiranku... kalau begitu baiklah, aku akan menggunakannya," ucapku kemudian mengarahkan kunci kecil itu ke arah dahiku.
Aku tidak tahu apa yang terjadi, hanya saja aku merasa jika dahiku merasa tersentak, dan kunci itu pun masuk ke dalamnya.
"Kalau begitu selamat tidur, Kuro. Semoga kau mengalami mimpi indah."
Dan itulah hal yang terakhir aku dengar dari paman Lucifer sebelum kunci itu berputar pelan sendiri... Cleck.
***
__ADS_1
Author Note:
Hai semua! Nama gue ReIN dan terima kasih karena telah memberikan gue kesempatan untuk menemani malam jomblo loe! Jika kalian menyukai cerita ini maka berikan jempol ke atas dan jika tidak cukup vote lalu sebarkan cerita ini, karena setelah ini kita akan memasuki Arc baru yang penuh dengan tragedi dan juga masa lalu sang MC.