
"Eh, bukan gitu, hanya saja rasanya sangat aneh jika wanita yang mengajak temanan duluan," ucap Albezro merasa sedikit canggung. Mila langsung manyun.
"Tapi ayah kamu kerena banget bisa menciptakan sesuatu yang tidak ada, tapi kenapa kamu terkenal dengan kebodohan mu itu?" tanya Albezro.
"Ayolah, aku tidak selemah itu lagi sekarang," ucap Albezro memutar bola matanya.
Tak lama mereka pun sampai di asrama. Mereka pun pun turun dari motor terbang.
"Kalian dari mana saja?" tanya pak Amir saat berpapasan dengan mereka.
"Kami dari rumah ku pak," jawab Mila.
"Kalian jangan berkeliaran kalau sudah tengah malam ya, tetap di kamar kalian," ucap Pak Amir mengingatkan.
"Baik Pak," ucap mereka mengangguk.
Albezro dan Mila pun berjalan masuk koridor untuk menuju kamar mereka masing-masing.
"Sejak kapan kalian jadi akrab begini?" tiba-tiba saja seorang pria yang sedang bersender di tembok.
Mila dan Albezro pun melihat kebelakang.
__ADS_1
"Memangnya ada apa?" tanya Mila menekuk alisnya.
"Aku sudah lama menyatakan cinta kepada mu, tapi sekali jangan pun kau menerima ku, tapi kau malah mengabaikan ku. Tapi sangat mengejutkan jika kau malah menyukai manusia sampah sepertinya, lalu apa kekurangan ku hingga mau menolak ku?" tanya Leon menatap Mila dalam.
"Jika aku bilang aku tidak menyukai mu ya tidak menyukai mu, tidak ada alasan," ucap Mila dengan mimik wajah tidak suka.
"Lalu kau menyukai dia juga tanpa alasan?" tanya Leon menunjuk ke arah Albezro.
"Aku menyukai siapa pun itu bukan urusan mu! Kamu jangan ganggu aku lagi!" denggus Mila kesal. Ia menarik tangan Albezro untuk segera pergi.
Sedikit setelah menjauh, Mila melepaskan tangan Albezro.
"Haishhhh … kau seperti ini malah menambah musuh ku," ucap Albezro manyun.
"Sudahlah, kau pergilah tidur, aku juga sudah mengantuk," ucap Albezro melihat ke arah beberapa pria dari beberapa kamar yang sedang melihat mereka berdua.
"Ya udah, sampai ketemu besok," ucap Mila melambaikan tangannya.
Albezro masuk ke dalam kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Oke, mari kita lihat senjata apa saja yang bisa kita beli," ucap Albezro membuka systemnya.
__ADS_1
[Klik di sini untuk membuka]
[Klik]
Albezro melihat peralatan di dalam systemnya.
Di sana ada bom api, apa bila mengenai monster itu, maka monster tersebut akan hancur dan mati. Api bisa membakar racun karena para monster itu tercipta dari limbah beracun.
"Astaga, jadi aku harus beli satu buah 10 poin, tapi jika satu monster mati maka aku mendapatkan 100 poin. Wah ini luar biasa juga. Jadi aku beli 50 buah bom beracun, untuk sementara aku simpan dulu di system', aku akan mengambilnya saat di butuhkan," ucap Albezro.
[Pembelian bom api]
[Pembelian 50 buah]
[Ding Ding]
[Poin Anda di potong 500 poin]
[Sisa poin Anda 511 poin]
"Oke! Selesai. Saatnya tidur ganteng," ucap Albezro mengambil bantal guling dan memeluknya lalu memejamkan matanya dan ia pun tidur.
__ADS_1
Malam itu ia bermimpi, seorang pria yang wajahnya tidak jelas datang ke mimpinya.
"Anakku … kau adalah harapan satu-satunya, kau yang suatu saat nanti menjadi pemburu terkuat. Kau yang akan mendamaikan dunia, jadi gunakan apa yang sudah ayah titipkan pada mu."