
"Hm … Coba lakukan, lagian pengkhianat juga tidak di biarkan hidup juga," ucap pak Hendra.
"Iya." angguk pak Firgon.
"Tunggu sebentar," ucap Albezro berbalik badan dan memastikan jika kedua gurunya tidak melihatnya.
Albezro pun mengambil beberapa bom di systemnya.
"Ini bomnya, langsung aku masukkan ya," ucap Albezro.
"Iya, masukkan saja," jawab pak Firgon. Albezro pun melemparkan ke dalam lubang tersebut.
Setelah di masukkan, ledakkan bom itu tidak terdengar. Hanya merasakan sedikit getaran di permukaan bumi.
"Ini pasti terlalu dalam sehingga kita tidak bisa mendengarnya," ucap pak Hendra.
"Apa masih ada bomnya?" tanya pak Hendra lagi.
"Ada," jawab Albezro mengangguk. Ia memasukkan lagi beberapa bom.
"Apa kurang?" tanya pak Hendra.
"Aku akan telpon pemburu yang lain untuk bawakan bom dan beberapa peralatan lain," ucap pak Firgon. Pak Firgon pun langsung menelpon pemburu yang masih di markas.
"Pak, aku mau kebelakang dulu," ucap Albezro.
"Perlu Bapak temani nggak?" tanya pak Hendra.
"Ah, nggak usah, aku nggak pergi jauh kok," ucap Albezro.
Albezro pun kebelakang, (maksud kebelakang itu adalah ia ingin buang air kecil). Tapi sebenarnya Albezro kebelakang bukan untuk buang air kecil, persediaan bomnya sudah habis, jadi ia harus membelinya lagi.
[Gunakan poin untuk membeli bom]
__ADS_1
[Gunakan 1.500 poin untuk membeli bom]
[Ding Ding]
[Poin Anda di kurang 1.500 poin]
[Sisa poin Anda 7.000 poin]
Albezro pun membawa bomnya, ia memasukkan 1000 bom ke dalamnya.
Terjadilah getaran hebat yang luar biasa sekitarnya. Tiba-tiba saja sekitar 30 meter dari mereka tanahnya runtun ambruk ku bawah.
Albezro, pak Hendra dan pak Firgon berlari ke arah sana untuk melihat kejadian tersebut.
Mereka sangat terkejut karena tanahnya runtuh. Sayangnya karena gelap tidak terlihat ada di dalamnya. Senter di jam tangan mereka tidak menjangkaunya.
"Di mana mereka ya?" tanya pak Firgon yang sangat menunggu kedatangan para pemburu.
Tak lama kemudian, sebuah pesawat datang dan beberapa motor terbang mendekat.
"Ada apa ini?" tanya mereka.
"Kami menemukan sebuah lubang yang berpikir itu adalah lubang yang di masuki oleh para monster. Jadi Albezro memasukkan banyak bom ke dalam lubang di sana, tapi tanahnya runtuh di sini, jadi siapa yang ingin turun melihat ke adaan di dalam? Tapi yang pastinya harus mengunakan lampu besar," ucap pak Firgon.
"Ya udah, aku masuk ke dalam," ucap pemburu level SSS.
"Aku juga," jawab pemburu level SS.
Akhirnya mereka sepakat, ada 5 orang yang masuk ke dalam, mereka masuk dengan menggunakan motor terbangnya karena runtuhan tanah itu sangat besar dengan membawa lampu yang sangat terang.
"Ayo, kita juga masuk pak," ajak Albezro.
"Iya, kira harus masuk ke dalam untuk memastikan keadaan." angguk pak Hendra.
__ADS_1
"Kalian saja yang pergi, aku berjaga-jaga di atas, takutnya ada serangan lain," jawab pak Firgon.
Beberapa orang berjaga di atas, Albezro dan pak Hendra memakai motor terbang milik pemburu lain dan mereka ikut turun ke dalam lobang tersebut.
Runtuhan tanah tersebut cukup dalam ke bawah, rasanya hingga puluhan meter.
Akhirnya mereka pun sampai di permukaan, di dalam cukup banyak monster mati, akan tetapi sebagian melarikan diri dari lubang rahasia.
Terlihat beberapa orang Manusi yang tergeletak pingsan.
"Kino," ucap pak Hendra berlari ke arah Kino yang pingsan.
Saat mendekati Kino, Pak Hendra sangat terkejut karena di sampingnya ada orang yang ia kenali.
"Yesin." pak Hendra ingin memegangnya tapi ia ragu-ragu. Yesin adalah teman lamanya dan teman baik pak Firgon.
"Yesin … kenapa kau juga ada di sini?" tanya pak Hendra dengan mata berkaca-kaca.
Albezro berdiri dan melihat pak Hendra yang sedang meratapi Yesin.
"Yesin, kita sudah lama tidak bertemu, setelah bertemu kita malah bertemu di sini, apa yang kau pikirkan hingga kau berada di sini," ucap pak Hendra berderai air matanya.
"Pak, ayo kita bawa mereka ke atas," ajak Albezro.
Pak Hendra menarik nafasnya. "Hm … Iya." angguk nya sambil menyeka air matanya.
Ia memeluk Yesin dan mengangkat ke atas motor terbangnya. Dengan perasaan yang sedih, perlahan-lahan motor terbangnya naik ke atas.
Albezro juga mengangkat 2 orang di tangannya, yang satunya Kino dan satunya ia tidak kenal.
"Bagaimana?" tanya pak Firgon datang mendekat.
Dengan wajah lesu, pak Hendra meletakan tubuh Yesin di tanah.
__ADS_1
"Yesin." ucap pak Firgon sangat terkejut.
"Kau terkejut kan? Aku juga sangat terkejut saat menemukan tubuhnya," ucap pak Hendra duduk di tanah dengan lesu.