
Albezro mengambil 6 buah bom simpanannya lalu melemparkan ke arah jendral monster tersebut.
Duaaaarrrrrrrrr!
Duaaaarrrrrrrrr!
Duaaaarrrrrrrrr!
Kedua jendral itu pun mati seketika hancur menjadi limbah beracun.
Mereka sangat ternganga terkejut, karena sangat mudah bagi seorang Albezro membunuh jendral monster.
"Aku sudah menolong kalian, jadi mana batu permatanya?" pinta Albezro.
Mereka manyun dan memberikan batu permata merah itu kepada Albezro.
"Wah, kalian sangat murah hati, terima kasih banyak ya," ucap Albezro menerima dengan suka cita.
Ia pun pergi meninggalkan ruangan bawah tanah tersebut.
[Ding Ding]
[Misi selesai]
[Selamat Anda membunuh jendral monster]
[Selamat Anda mendapatkan 800 poin]
[Level pertumbuhan\=27]
[Kekuatan\=40]
[Kecepatan\=40]
__ADS_1
[Kelincahan\=40]
[Kecerdasan\=40]
[Kemampuan\=40]
[Keberanian\=40]
[Poin \=8.800]
Albezro pun keluar dari gerbang utama ruang bawah tanah tersebut.
"Ayo anak-anak, bagi kalian yang sudah menjalan kan latihannya segera pulang," ucap pak Firgon.
Anak-anak pun naik motor terbangnya. Albezro juga naik motor terbang miliknya.
Akan tetapi motor miliknya tidak bergerak sama sekali, padahal ia sudah menghidupkan mesinnya.
Terpaksa ia turun lagi dan memeriksa motor terbang miliknya.
"Ada apa Albezro?" tanya pak Firgon mendekati Albezro.
"Tidak tahu, tiba-tiba saja tidak bisa terbang," jawab Albezro.
"Biar Bapak bantu periksa," ucap pak Firgon berjongkok dan melihat apa yang rusak.
Pak Firgon menyambungkan salah satu komponen motor terbang itu dengan ponselnya, ia pun mengecek apa yang rusak di antaranya.
"Hm … tempat pengisi daya motor mu rusak, sepertinya ini sengaja di rusakkan karena bapak menemukan magnetik perusak listrik," ucap pak Firgon. Ia pun mencari penyebabnya di motor Albezro dan menarik magnetik tersebut.
"Inilah penyebabnya." pak Firgon mengambilnya lalu menyimpannya.
"Eh, untuk apa di simpan Pak?" tanya Albezro.
__ADS_1
"Tentu saja untuk mencari pelakunya. Kau sekarang sudah terkenal pasti banyak orang yang ingin menjatuhkan mu, yang penting jaga saja keselamatan mu," ucap pak Firgon.
"Baik Pak, terima kasih banyak," ucap Albezro.
"Ya sudah, sana kamu pakai motor Bapak saja, motor kamu ini biar Bapak yang bawa pulang," ucap pak Firgon memberikan kuncinya.
"Tapi Pak bagaimana Bapak membawa pulangnya nanti?" tanya Albezro ragu-ragu.
"Sudah, kamu jangan pikirkan bagaimana bapak akan membawanya, ini cepat ambil kuncinya dan pulang istirahatlah," ucap pak Firgon.
"Baik pak, terima kasih," ucap Albezro menerima kunci tersebut dan ia pun menaiki motor terbang milik pak Firgon.
Motor itu pun melaju di udara. Tak lama kemudian, Albezro pun sampai di asramanya.
"Albezro! Tunggu!" panggil beberapa orang wanita dan mendekatinya.
"Kalian? Ada apa?" tanya Albezro berhenti.
"Kamu sudah makan siang belum? Kalia belum makan bareng yuk," ajak mereka.
"Makan siang? Hm … Maaf ya lain kali saja, aku capek banget karena latihan di ruang bawah tanah tadi, jadi aku memilih untuk istirahat saja," ucap Albezro menolaknya.
"Tunggu dulu, sebelum kamu pergi minta tanda tangan mu donk," pinta mereka.
"Oke! Tidak masalah," ucap Albezro menerima pena dari mereka lalu menandatangani buku tersebut.
"Ini sudah selesai," ucap Albezro memberi kembali buku mereka.
"Wah, terima kasih banyak," ucap mereka senang.
"Kapan-kapan kita makan bersama ya Albezro," ucap mereka.
"Eh … Iya." angguk Albezro terpaksa. Mereka pun pergi meninggal Albezro.
__ADS_1