
"Limbah beracun? Bukan kah limbah beracun itu hanya di gunakan oleh para monster? Kenapa ada pada tubuh Kino? Aku harus memberi tahu pak Hendra agar ia menyelidiki tubuh Kino," ucap Albezro meraih ponselnya dan menelpon pak Hendra.
Tuuut! Tuuut!
Tuuut! Tuuut!
"Halo," jawab pak Hendra.
"Pak, aku menemukan jika di tubuh Kino adanya limbah beracun yang seharusnya itu di gunakan oleh para monster. Limbah beracun ini memperkuat tubuhnya, akan tetapi tidak berlangsung lama, limbah beracun itu bisa membuah di pengguna akan mati secara perlahan-lahan. Itu adalah informasi yang aku dapatkan, jadi coba Bapak periksa Kino, kenapa limbah beracun itu masuk ke dalam tubuhnya? Seharusnya manusia biasa tidak bisa menggunakannya, tapi Kino bisa menggunakan hingga meningkatkan kekuatannya. Aku curiga ini pasti ada kaitan dengan para monster itu," ucap Albezro.
"Baiklah, Bapak akan periksa, dan kamu istirahatlah," ucap pak Hendra.
"Baik Pak, terima kasih," ucap Albezro memutuskan panggilannya. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil melihat langit-langit kamarnya.
"Jangan bilang jika Kino bersekongkol dengan para monster itu? Demi mendapatkan kekuatan ia rela menyakiti diri sendiri, pantas saja dia tidak peduli saat aku menyadarkan dia. Jika seperti ini maka para monster akan menggunakan cara ini untuk membunuh manusia, di tambah mereka semakin kuat, entah berapa banyak pengkhianat yang sudah bekerja untuk mereka. Kalau terus begini maka manusia cepat atau lambat akan terhapus dan para monsterlah berkuasa. Pokoknya aku harus cari tahu secepatnya siapa saja yang menjadi pengkhianat itu," ucap Albezro bertekat.
"Ya sudah, aku tidur dulu, besok aku akan lihat keadaan Kino, apa benar dia bekerja sama dengan para monster itu," ucap Albezro. Ia memejamkan matanya.
***
Ting tong!
__ADS_1
Ting tong!
Suara bel kar Albezro berbunyi. Ya, seperti biasa adalah Mila.
"Ini pasti Mila," ucap Albezro berusaha membuka matanya dan ia berjalan menuju pintu.
Cklek!
"Sudah ku duga, pasti kamu yang datang," ucap Albezro bersender di konsen pintu.
"Iya, emang nggak boleh?" tanya Mila memajukan wajahnya.
"Bukan nggak boleh, hanya saja sudah hafal dengan kerjaan mu," ucap Albezro tersenyum.
"Bangunin aku," ucap Albezro tertawa.
Mila seketika manyun. "Ya udah sana mandi, nanti telat," ucap Mila mendorong tubuh Albezro masuk ke dalam kamarnya kembali.
"Iya iya cerewet," ucap Albezro masuk ke dalam kamar mandi. Ia pun segera mandi.
Byur!
__ADS_1
Byur!
Byur!
"Weleh, aku lupa bawa handuk," ucap Albezro menyadari biasa tempat ia menjemur handuk tidak ada.
Albezro menongolkan kepalanya dan melihat ke dalam kamarnya.
"Ehm … Mila, bisa kau ambilkan handukku?" pinta Albezro.
"Yang mana?" tanya Mila melihat sekeliling.
"Yang di gantung warna coklat itu," ucap Albezro menunjuk sebuah handuk yang nyangkut di dinding.
"Itu handuk kamu? Aku pikir kain lap," ucap Mila mengambilnya.
"Enak aja kamu bilang, kalau gitu kamu carilah untuk ku handuk baru biar nggk terlihat seperti lap, lagian handuk emang untuk lap, lap tubuh," ucap Albezro mengambil handuk dari tangan Mila.
"He-he-he, ya itu maksud ku," ucap Mila tersenyum.
Albezro kembali masuk ke dalam kamar mandi dan segera menglap tubuhnya. Albezro keluar dari kamar mandi. Mila terkejut melihat Albezro telanj*ng dada.
__ADS_1
"Aaaaaaaa! Cepat pakai baju mu!" teriak Mila menutup wajahnya yang memerah.