System Pemburu Monster

System Pemburu Monster
BAB 34


__ADS_3

Ting! Tong!


Ting! Tong!


Bel kamar Albezro masih berbunyi. Mila sangat penasaran apa Albezro masih di kamarnya atau tidak.


Dengan mata yang masih terpejam, Albezro pun bangun. Dengan tertatih-tatih dan meraba-raba dinding, Albezro berusaha untuk bangun dan membuka pintu.


"Albezro, kamu …."


Albezro langsung terduduk di pinggir pintu.


"Ya ampun Albezro, kamu pasti kelelahan ya," ucap Mila. Mila berusaha mengangkat tubuh Albezro kembali ke kasurnya dan membaringkan Albezro.


"Bahkan ada kantung mata karena tidak tidur semalaman," ucap Mila mengambil selimut dan menyelimutinya.


Mila melihat sekeliling kamar Albezro yang sangat berantakan.


"Perasaan kamar Albezro rapi saat awal aku masuk pertama kali, tapi kenapa malah berantakan seperti ini? Seperti ada perkelahian di dalam kamarnya. Jangan bilang habis pulang di bertengkar dengan seseorang lagi? Ya ampun Albezro, kamu kenapa kayak gini, kasihan banget kamu," ucap Mila penuh prihatin.


Mila pun berdiri lalu mengambil semua barang yang berserak lalu menyusunnya dengan rapi di rak.


Baju-baju Albezro juga di lipati oleh Mila lalu di masukkan ke dalam lemari dan mengambil sampah yang berserakan di kamar Albezro.


Mila juga menyapu hingga kamar Albezro menjadi bersih.


"Albezro masih tertidur pulas, jika begitu aku main ponsel aja dulu," ucap Mila mengambil ponsel dari saku celananya.


Satu jam kemudian.


"Eh Mila." redup-redup Albezro melihat wajah Mila yang tadinya asik dengan ponselnya kini pandangan teralihkan ke arah Albezro.


"Albezro, kamu sudah bangun? Bagaimana perasaan kamu?" tanya Mila mendekat.


"Aku baik-baik saja, tapi masih sedikit mengantuk sih," ucap Albezro menguap.


"Ya sudah kalau begitu, lanjutkan tidur mu," ucap Mila tersenyum.


"Aku tidak jadi mengantuk setelah melihat wajah mu," ucap Albezro.


"Kamu ya, sangat nakal!" Mila mencubit lengan Albezro.


"Ughhhh! Sakit juga cubitan wanita ya," ucap Albezro mengelus lengannya.


"Kalau udah nggak ngantuk lagi kamu sana mandi," perintah Mila berdiri sambil bercekak pinggang.

__ADS_1


"Iya kanjeng ratu," ucap Albezro berdiri, empuk kasur itu membuat pergelangan kaki Albezro tertekuk dan ia terjatuh, dengan reflek ia menarik bahu Mila dan mereka jatuh bersama di kasur.


Mengheningkan cipta di mulai. Mereka saling berpandangan dan dalam mode bingung.


Seketika tersadarkan, Mila bangun terlebih dahulu.


"Katamu ingin mandi, sana mandi," ucap Mila membalikkan tubuhnya karena wajahnya memerah.


"Eh iya, maaf sudah membuat mu ikut terjatuh," ucap Albezro merasa serba salah.


"Jangan katakan itu! Sana cepat mandi, kamu sudah terlambat!" teriak Mila.


"Iya iya, aku mandi," ucap Albezro mengambil handuk dan ia pun masuk ke dalam kamar mandi.


Mila keluar dari kamar Albezro dan berdiri menyandarkan tubuhnya ke tembok lalu menjedutkan kepalanya di tembok.


"Memalukan! Memalukan! Astaga Mila ala yang sudah kamu lakukan di kamar pria! Mila kau sungguh memalukan!" teriak Mila pelan. Ia menepuk-nepuk kepalanya lalu menarik rambutnya saking memalukan dirinya.


Setelah selesai mandi, Albezro pun mengganti pakaiannya.


"Eh, di mana Mila? Apa dia sudah pergi?" tanya Albezro.


Albezro pun keluar dari kamarnya dan ia menaikkan alisnya saat melihat Mila yang sedang menjedutkan kepalanya terus menerus di tembok. Albezro pun menahan kepala Mila agar ia tidak melakukannya lagi.


"Eh … Albezro," ucap Mila mengangkat alisnya terkejut saat Albezro menahan kepalanya.


'Ikhhh!' batin Mila yang ingin menokok Albezro dari belakang.


Sesampainya di sekolah, para murid baru saja akan masuk ke tempat latihan jam pelajaran kedua.


Mila juga berlari menuju kelasnya, karena kelas Mila dan Albezro berbeda.


"Albezro kamu baru bangun?" tanya pak Firgon.


"Iya Pak, aku sangat kelelahan," ucap Albezro mengangguk.


"Ya sudah, masuk barisan," ucap pak Firgon.


"Kenapa Albezro tidak di marahi? Kita yang terlambat sedikit saja dimarahi," gerutu Yoga.


"Apa kalau bukan menjadi anak kesayangan si Firgon tua bangka itu," sahut Olga manyun sambil melipat tangannya.


"Hey kalian! Apa kalian pikir aku tidak mendengar ucapan kalian!" omel pak Firgon.


Seketika mereka pun terdiam.

__ADS_1


Triring! Triring!


Triring! Triring!


Ponsel milik pak Firgon pun berbunyi dan ia segera mengangkatnya.


"Halo Buk Mei, ada apa?" tanya pak Firgon.


"Bisakah Bapak panggilkan murid bapak yang bernama Albezro untuk datang ke ruang tahanan pemburu?" tanya buk Mei.


"Oh, masalah semalam ya? Baiklah kalau begitu," ucap pak Firgon.


"Minta dia untuk segera langsung ke lokasi," pinta buk Mei.


"Baik Buk," ucap pak Firgon memutuskan panggilannya.


"Albezro, kamu di minta untuk pergi menuju ruang tahanan pemburu," ucap pak Firgon.


"Baik Pak." angguk Albezro. Ia pun langsung keluar dari barisan dan keluar dari ruang latihan tersebut.


Mereka semua terkejut karena Albezro di minta untuk ke ruang tahanan pemburu. Jarak antara sekolah dan ruang tahan pemburu tidaklah begitu jauh, hanya berjarak 500 meter saja.


"Ada apa dengan Albezro di minta untuk ke ruang tahanan? Apa jangan-jangan dia sudah melakukan kesalahan?" tebak mereka.


"Bagus juga jika dia masuk tahanan pemburu, setidaknya mataku sudah tak sakit lagi melihatnya," ucap Yun tersenyum senang.


Bagi mereka yang tidak menyukai Albezro, ini adalah kabar baik bagi mereka.


"Sukur-sukur jika dia di tahan untuk selama-lamanya," seru Indra tersenyum sinis.


Albezro pun naik motor terbang milik pak Hendra yang belum juga ia pulangi dan menuju ruang tahanan.


"Albezro, ayo masuk ke dalam," ucap buk Mei.


Albezro pun masuk ke dalam, terlihat dua pria yang ia hajar hingga babak belur itu sudah sadar dan mereka sedang duduk di kursi yang sudah apa pengikat magnetik.


Mereka melihat sinis ke arah Albezro, gara-gara Albezro mereka ada di ruang tahanan.


"Hay," sapa Albezro tersenyum ramah. Mereka terus menatapnya geram.


"Albezro, ayo kamu bantu interogasi mereka, karena merek sudah ketahuan bersalah tapi tidak ingin mengatakan apa tujuannya bekerja sama dengan para monster itu," ucap pak Herman.


"Apa sudah gunakan pendeteksi kebohongan?" tanya Albezro.


"Itu tidak berguna karena itu hanya bertanya bohong atau tidak saja, tapi untuk alasannya kami tidak menemukannya," ucap pak Herman lagi.

__ADS_1


"Begitu ya, kalau begitu aku akan bantu," ucap Albezro duduk di kursi di depan para pemburu pengkhianatan tersebut.


"Aku tidak tahu iming-iming apa yang di berikan oleh pemburu itu kepada kalian sehingga kalian berkhianat? Mungkinkah jika para monster itu menguasai dunia maka kalian akan di angkat menjadi menteri mereka? Atau jika mereka menguasai dunia maka kalian menjadi raja mereka?" tanya Albezro menatap mata kedua pemburu itu mendalam.


__ADS_2