
Albezro langsung menarik kedua pria itu menjauh dari gerbang tersebut. Albezro menarik mereka di sebuah gundukkan tanah yang sangat besar lalu melempar mereka ke gundukkan itu dengan keras.
Tak lupa Albezro mengaktifkan perekam suara dan kamera dari jam tangannya yang super canggih itu.
"Kalian berdua! Gara-gara kalian hari ini banyak dari pemburu gugur di Medan perang, gara-gara kalian hari ini sudah terjadi kekacauan yang sangat besar! Gara-gara kalian yang sudah berkhianat! Tidak tahu apa tujuan kalian melakukan ini dan malah membunuh para saudara pemburu dan membela para monster! Apa yang ada di kepala kalian! Jawab!" bentar Albezro keras, Albezro benar-benar emosi di buatnya.
"Kau … siapa kau! Apa maksudmu mengatakan ini semua! Kami … kami tidak ada seperti itu," ucap mereka sedikit terbata-bata.
"Oh, begitu kah? Aku pikir mata ku buta! Kalian pikir aku tidak melihat dan mendengar percakapan kalian tadi yang sudah membuat rencana jika kalian pura-pura membunuh para monster tapi sebenarnya yang kalian bunuh itu adalah para pemburu, itu guna mengalihkan perhatian agar kalian membunuh para pemburu tidak di deteksi oleh radar dari pemilik pemburu lain, benarkan!" hardik Albezro.
"Kau … kau sebenarnya siapa!" teriak pria itu.
"Kalian tidak perlu tahu siapa aku, memangnya pengkhianat seperti kalian pantas tahu siapa aku? Di saat aku di buli dan di hina oleh para pemburu lain aku tetap bertahan untuk menjadi pemburu. Lalu kalian yang malah bersekongkol untuk membunuh para pemburu, katakan! Keuntungan apa yang kalian dapatkan!" bentak Albezro geram.
"Ah itu bukan urusan mu! Ayo bunuh dia," ajak temannya. Kedua pemburu level SSS itu pun mengambil senjata mereka dan menembakkan ke arah Albezro.
Karena Albezro punya kekebalan tubuh, senjata mereka tidak berguna, Albezro menarik kerah baju kedua pemburu level SSS itu dengan cepat lalu melemparnya.
Kedua pemburu level SSS itu pun berdiri dan mereka pun menghajar Albezro. Mereka menghantam Albezro, menendangnya lalu memukulnya.
Albezro mendorong mereka berdua.
"Sudah puas menghajarnya?" tanya Albezro menyeka darah di sudut bibirnya. "Kalau begitu gantian aku yang menghajar kalian," ucap Albezro.
Ia pun berlari menarik kedua pemburu itu lalu melemparnya.
[Aktifkan kekuatan penuh]
Albezro pun melompat lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas tubuh pemburu itu lalu menghentakkan sikunya ke dada pemburu itu dengan kuat lalu meninju kepala pemburu itu terus menerus hingga babak belur.
Teman pemburu yang satunya pun bangun, ia melingkarkan tangannya di leher Albezro yang sedang asik memukul pemburu tersebut.
Temannya itu menarik leher Albezro dengan kuat membuat Albezro terlepas dari pemburu yang satunya. Albezro menarik kepala pria itu dari belakang lalu membungkukkan tubuhnya ke depan lalu menarik kepala pria itu dengan kuat membuat pria itu terjatuh. Albezro pun langsung menendangnya.
Pria itu menangkap kaki Albezro membuat Albezro terjatuh, pria itu pun langsung mencekik leher Albezro.
Dengan kuat Albezro menahan tangan pria itu. Kesempatan datang, Albezro pun menendang pria itu membuat pria itu terjatuh ke belakang.
Albezro pun mengambil kesempatan ini, Albezro pun menghantam pria itu dengan menginjak perut pria itu dengan kuat membuat prai itu menjadi sesak.
Albezro pun memukul kepala bagian belakang membuat pria itu pingsan.
__ADS_1
Albezro pun langsung terduduk karena kecapean.
Albezro meraih ponselnya dari dalam saku celakanya lalu menelpon pak Firgon.
Tuuut! Tuuut!
Tuuut! Tuuut!
"Halo," jawab pak Firgon.
"Halo, pak Firgon," ucap Albezro dengan nada suara yang sedikit melemah.
"Kamu kenapa?" tanya pak Firgon khawatir.
"Aku … aku baik-baik saja, tapi aku menemukan orang yang sudah berkhianat yang bekerja sama dengan para monster, mereka … mereka sekarang bersama ku," ucap Albezro kelelahan.
"Baik Bapak akan ke sana, kamu di mana sekarang?" tanya pak Firgon antusias.
"Aku sekarang ada di tempat gerbang ruang bawah tanah," jawab Albezro.
"Baiklah, kamu tunggu di sana," ucap pak Firgon memutuskan panggilannya dan ia mengambil jaket pelindung lalu naik di motor terbang lalu terbang ke udara.
Tak lama kemudian, pak Firgon pun turun dari motor terbangnya.
Pak Firgon melihat di samping dan melihat di sana ada cahaya ponsel.
"Itu dia." pak Firgon pun berlari menuju arah cahaya ponsel itu dan melihat Albezro yang sedang terbaring sambil bermain ponsel.
"Albezro." pak Firgon mendekatinya.
"Pak Firgon, mereka yang sudah berkhianat itu," ucap Albezro menunjuk ke arah dua pria yang terbaring pingsan tersebut.
"Apa kau punya bukti?" tanya pak Firgon.
"Aku punya rekaman saat mengintrogasi mereka, tapi mereka tidak mau mengakuinya, tapi coba Bapak lihat apa ini bisa di jadikan bukti?" tanya Albezro mengirimkan rekaman dari jam tangannya ke ponsel pak Firgon.
Tit! Tit!
[Pesan masuk]
Pak Firgon pun melihat isi rekaman tersebut secara saksama.
__ADS_1
"Meskipun mereka menyangkalnya, tapi secara tak sengaja mereka mengakuinya, ini bisa di jadikan barang bukti. Tapi … kamu sangat hebat bisa mengetahui ini, bapak akan ajukan nama mu ke kepala sekolah agar kamu dapat penghargaan," ucap pak Firgon.
Pak Firgon pun menelpon kepada pemburu yang lain untuk meminta bantuan.
Tak lama bantuan itu datang dan membawa kedua orang tersebut.
"Ya sudah, kamu ayo pulang dengan Bapak," ajak pak Firgon.
"Tidak Pak, saya menggunakan motor terbang sendiri," ucap Albezro.
"Baiklah jika begitu, tapi kita tetap barengan, kamu terlihat kelelahan," ucap pak Firgon.
"Baik Pak." angguk Albezro.
Mereka pun bersama-sama pulang ke asrama.
Sesampainya di asrama, pak Firgon menepuk pundak Albezro.
"Kamu kalau ada apa-apa cepat beri tahu Bapak, apa lagi masalah ini sangat serius, nanti kamu terluka," ucap pak Firgon.
"Eh iya Pak." angguk Albezro.
"Ya sudah, kalau begitu kamu cepat sana pergi istirahat," ucap pak Firgon.
"Iya Pak, saya permisi dulu," ucap Albezro berbalik badan dan menuju kamarnya.
Saat pintu kamarnya di buka, Albezro terkejut karen seluruh barang-barang di dalam kamarnya berantakan.
"Siapa yang melakukan ini?" tanya Albezro mengambil satu barang yang ada di depan pintu.
"Siapa pun itu lihat saja nanti," ucap Albezro geram. Tubuhnya sangat lelah, ia juga harus membereskan semua barangnya yang berantakan itu.
Karena kecapean, Albezro hanya menepikan saja dulu barangnya, ia pun membuka bajunya dan baring di atas kasur dan memejamkan matanya.
***
Ting! Tong!
Ting! Tong!
Albezro masih tertidur pulas karena ia sangat kelelahan.
__ADS_1
"Di mana Albezro ya? Apa dia tidak ada di dalam kamarnya?" tanya Mila berpikir.