
Papa Mila memeriksa tempat itu dan ia pun menghidupkan mesin itu.
Mesin itu kembali norman dan mesin itu juga bekerja melebihi dari mesin yang awal di buat oleh ayah Albezro.
"Kamu bahkan lebih hebat dari ayah kamu Albezro," puji Song.
"Tidak Om, ayah tetap adalah yang terhebat, aku seperti ini juga karenanya. Ya sudah Om, kami akan pulang dulu, ini nomor ponselku, jika ada apa-apa beri tahu aku," ucap Albezro.
"Baiklah jika begitu, Om masih mau meneliti mesin ini dulu," ucap Song mengangguk.
"Kami permisi dulu Om," ucap Albezro berpamitan.
"Aku juga Papa, pergi dulu," ucap Mila.
Song menarik bahu Mila dan berbisik. "Kamu jangan sekali-kali melepaskan dia, kalau tidak kita rugi besar, dia itu harta dunia ini," ucap Song.
"Iya, aku tahu Pa, lagian dia sudah menyelamatkan ku, aku juga merasa dia adalah pria yang berbeda yang aku temui," ucap Mila tersenyum melihat punggung Albezro yang sudah menjauh.
"Ya sudah, kamu pulanglah ke asrama," ucap Song. Mila pun berlari menghampiri Albezro.
"He-he-he, kalau dia jadi menantu ku … itu pasti akan sangat bagus, aku sangat beruntung punya anak perempuan," ucap Song tersenyum menyengir. Ia pun kembali sibuk dengan mesin yang di perbaiki Albezro tadi.
Mereka pun kembali naik di atas motor terbang dan kembali ke asrama.
Sesampainya di asrama.
Mereka duduk di kursi santai yang ada di depan asrama, bukan hanya mereka, tapi masih ada murid-murid yang lain bersantai di sana.
"Malam ini indah banget ya, penuh bi yang bertaburan," ucap Mila memandang ke langit.
"Lihat itu ada bintang jatuh!" teriak para murid-murid itu. Mereka pun mengatup kedua tangannya dan meminta sesuatu dalam hati.
Albezro tidak melakukannya, mereka tahu itu hanya mitos, tapi mereka tetap saja melakukannya.
Albezro melihat cahaya kecil yang menurut mereka bintang jatuh itu, tapi rasanya sangat janggal.
Albezro melihat mereka masih saja sibuk berdoa dengan memejamkan mata. Kembali ia melihat cahaya kecil itu menuju di ruang bawah tanah tempat biasa mereka latihan dan tempat pangkalan pemburu.
"Hm? Memang bintang bisa cari tempat untuk mendarat ya?" tanya Albezro binggung. Karena dari yang ia lihat cahaya itu seharusnya jatuh lurus ke bawah, tapi yang ini jatuhnya malah berbelok, ini sangat aneh.
"Mila, ayo kita periksa," ajak Albezro menarik tangan Mila menuju motor terbang milik Mila.
"Eh, kita mau ke mana?" tanya Mila duduk di belakang Albezro.
"Ke tempat ruang bawah tanah," jawab Albezro melajukan motor terbangnya di udara.
"Memangnya ada apa?" tanya Mila penasaran.
"Bintang yang kalian lihat tadi aku merasa ada yang janggal, cahaya itu seharusnya jatuh ke bawah seharusnya menukik ke bawah, ini malah berbelok dan menuju ruang bawah tanah, apa itu tidak merasa aneh?" Albezro balik bertanya.
"Masa sih, aku nggak lihat tadi," jawab Mila.
"Ya iya, kamu mah sibuk membuat permintaan, tidak tahu kau minta apa," ucap Albezro.
Mila tersenyum. Di dalam hatinya ia berharap ia punya seseorang di dalam hatinya, dan itu ia sudah menetapkan hatinya pada orang itu.
"Ada deh, kalau aku katakan maka permintaan itu tidak terjadi," ucap Mila tersipu malu.
"Ya sudahlah."
__ADS_1
Akhirnya mereka pun sampai di ruang bawah tanah itu, mereka pun turun dari motor terbang.
Mereka pun masuk ke ruang bawah tanah tanpa membawa lampu senter.
Biasanya penjaga yang biasanya ada di pintu ruang bawah tanah kali ini tidak ada.
"Sangat aneh, di mana penjaga di sini?" tanya Albezro.
"Hm? Entahlah," jawab Mila mengangkat bahunya.
Di sana terlihat beberapa jendra monster puluhan prajurit monster.
Albezro langsung menarik tangan Mila dan bersembunyi di balik gundukkan tanah.
Albezro mendekatkan wajahnya ke telinga Mila. "Tetap di sini dan jangan kemana-mana," bisik Albezro. Seketika wajah Mila memerah.
[Gunakan poin untuk untuk melindungi Mila]
[Perlindungan di aktifkan]
[Perlindungan selama 1 jam karena di gunakan orang luar]
Memuat…
Loading…
Mulia…
10%…
20%…
40%…
50%…
60%…
70%…
80%…
90%…
100%…
Selesai.
[Poin Anda di potong 100 poin]
[Sisa poin Anda 600 poin]
Sebuah pelindung tak terlihat secara otomatis melindungi Mila.
'Dengan begini aku tenang membawanya,' batin Albezro.
"Kamu tetap di sini, kamu aman sekarang selagi kamu tidak kemana-mana, pelindung ini membuat kamu tak terlihat," ucap Albezro.
"Kamu mau kemana?" tanya Mila khawatir.
__ADS_1
"Aku akan melihat apa yang mereka lakukan," ucap Albezro.
"Kamu tetap harus hati-hati," pesan Mila. Albezro mengangguk.
Albezro pun menyusuri di dinding ruangan bawah tanah itu, ia berusaha mendekat ke arah di mana para prajurit dan jendral monster itu berkumpul.
Albezro berjalan perlahan-lahan dan bersembunyi di dekat gundukkan tanah.
Sangat mengejutkan, pemburu level SSS bersama mereka dan mereka adalah penjaga gerbang ruang bawah tanah.
'Ternyata banyak sekali manusia yang bersekolah dengan monster, apa yang mereka pikirkan? Apa tujuan mereka dan apa yang sudah di janjikan oleh para monster itu sehingga mereka bersekutu?' batin Albezro.
"Bagaimana? Tidak ketahuan kan?" tanya jendral monster.
"Malam seperti tidak ada yang datang ke sini, lagian pemburu yang lain sedang di pangkalan," ucap Pemburu level SSS tersebut.
"Jadi bagaimana rencananya?" tanya jendral monster itu.
"Pertama-tama tentu saja kalian harus menyerang para pemburu yang lain, nanti aku berpura-pura menyerang kalian dan dengan bantuan kalian yang mengalihkan pandangan mereka maka aku bisa membunuh mereka tanpa di rekam oleh kamera mereka," ucap pemburu.
"Baiklah jika begitu, begitu saja rencananya," ucap jendral monster itu setuju. Penjaga itu berjalan kembali ke pintu gerbang ruang bawah tanah.
Sedangkan prajurit dan jendral monster itu masuk ke ruang bawah tanah terdalam.
Albezro pun mengikuti mereka menuju ke ruang bawah tanah yang terdalam.
"Bagaimana aku menghubungi pak Ferzo ya, apa bila aku mengaktifkan ponsel ku maka itu akan berpengaruh juga gelombang radiasi elektromagnetik yang membuat diri ku ketahuan," ucap Albezro.
"Ada manusia!" teriak prajurit monster itu melihat Albezro.
"Cepat habisi dia!" perintah jendral monster itu.
10 prajurit monster itu mengejar Albezro, tanpa pikir panjang lagi Albezro mengambil bom dari Systemnya lalu melempar ke arah mereka.
Duaaaarrrrrrrrr!
Duaaaarrrrrrrrr!
Duaaaarrrrrrrrr!
Bom itu membunuh para prajurit monster itu menjadi hancur seperti cairan limbah.
"Kurang ajar! Manusia itu punya senjata terkuat yang entah dari mana ia dapatkan, jika dia punya senjata itu dan mengembangkannya maka popularitas kita jadi berkurang karena senjata itu sangat efektif," ucap jendral monster itu geram, ada 4 jendral monster mengejar Albezro dan Albezro pun berlari.
"Satu jendral monster itu butuh 3 bom api, untuk 4 jendral monster aku butuh 12 bom api, jika begini bom ku bisa berkurang nih, mana mereka banyak banget lagi," ucap Albezro.
Albezro pun melempar bom ke arah para jendral monster itu dan mereka pun ada yang terluka dan hancur.
Tiba-tiba saja dari belakang ada satu jendral monster yang menarik kaki Albezro mengangkatnya tinggi-tinggi lalu menghempaskan ke tanah.
"Jika kau hidup dengan membawa senjata efektif ini maka kami bisa hancur, kau lebih baik ku telan saja agar memastikan kau tidak akan hidup lagi," ucap monster itu menarik kaki Albezro lalu memasukkan ke dalam mulutnya, Albezro di telan hidup-hidup.
"Sial!" gerutu Albezro.
Sayangnya di dalam perut monster itu Albezro tidak mati, hanya saja di dalam perut monster itu sempit.
"Kau pikir aku akan mati begitu saja, kau yang akan mati," ucap Albezro mengambil senjata lasernya dari system dan ia perlahan-lahan membelah perut monster itu.
"Eh, kenapa ini dengan tubuh ku?" tanya monster itu meliuk-liukkan tubuhnya karena merasa ada yang sakit.
__ADS_1