System Pemburu Monster

System Pemburu Monster
BAB 69


__ADS_3

Albezro pun masuk ke dalam lubang tersebut. Lubang itu cukup gelap. Albezro pun menghidupkan lampu dari jamnya dan menerangi lubang tersebut.


Lubang itu mengarah ke bawah terus, beberapa meter kemudian naik ke atas. Dari belakang di ikuti oleh pak Hendra dan pak Firgon, sedangkan kepala sekolah masih menunggu di atas untuk berjaga-jaga.


Saat itu mereka tembus di sebuah tempat.


"Di sini tempat terakhir mereka, mungkin monster itu membawa terbang ke udara karena tidak ada jejaknya di tanah," ucap pak Hendra.


"Jadi bagaimana? Sepertinya kita tidak bisa mengejarnya," ucap pak Firgon.


"Aku akan coba melacaknya," ucap Albezro.


"Memangnya kau bisa melacaknya?" tanya pak Hendra.


"Aku tidak tahu, tapi aku usahakan untuk mencarinya," jawab Albezro memejamkan matanya.


[Gunakan poin untuk melacak Kino]


[Pelacak di aktifkan]


Memuat…


Loading…


Mulai…


10%…


20%…


30%…


40%…


50%…


60%…


80%…


90%…


100%…

__ADS_1


Selesai.


[Poin Anda di potong 300 poin]


[Sisa poin Anda 8.500 poin]


[Sedang melacak]


Memproses…


Loading…


Mulai


10%…


20%…


30%…


40%…


50%…


60%…


80%…


90%…


100%…


Selesai.


Albezro melihat sebuah titi merah di layar system hologramnya.


"Ayo ikut aku," ajak Albezro.


"Albezro, kamu tau di mana dia?" tanya pak Hendra.


"Aku tau tempatnya," jawab Albezro menyakinkan.


"Ayo, aku sendiri, Pak Hendra bersama Albezro," ucap pak Firgon.

__ADS_1


"Baik." angguk mereka cepat.


Mereka pun berlari ke arah kediaman pak Hendra, untung saja antara lorong dan rumah pak Hendra tidak jauh, hanya membutuhkan waktu 10 menit jika berlari.


"Jadi bagaimana?" tanya pak Yusen.


"Pak, kami harus buru-buru, Albezro sudah melacak tempatnya dan kami harus kesana sekarang," ucap pak Firgon.


"Baiklah jika begitu, aku akan memanggil pemburu yang lain untuk berjaga-jaga di sini," jawab pak Yusen.


"Baik Pak, kami pergi dulu," ucap mereka naik motor terbangnya dan melaju secepat kilat.


Kali ini Albezro yang mengendarai motor terbangnya. Di depan layar hologramnya ia melihat titik merah itu semakin menjauh dan ia terus mengikutinya.


Motor terus melaju, sesekali hampir saja Albezro menabrak pesawat yang sedang patroli di udara.


"Albezro hati-hati donk," ucap pak Hendra khawatir.


"Aman kok, paling jatuh juga ke bawah," jawab Albezro menyengir.


Tak lama kemudian, Albezro memberhentikan motor terbangnya dan turun secara perlahan-lahan.


"Apa sudah sampai?" tanya pak Hendra.


"Ya, titik merahnya berhenti di sini," jawab Albezro.


Albezro pun turun dan motor terbangnya dan mereka menemukan sebuah lubang yang cukup besar.


"Lubang apa ini?" tanya pak Firgon.


"Jangan bilang Kino di bawa masuk ke dalam lubang ini?" tebak Alfazro.


Pak Hendra memasukkan kepalanya ke dalam lubang tersebut dan menyenter lubang tersebut dengan jamnya.


"Halooooo!" teriak pak Hendra. Suaranya terdengar menggema menandakan tempat itu sangat luas.


"Jadi bagaimana? Apa kita masuk ke dalam juga?" tanya Albezro.


"Di dalam tidak ada udara, kita tidak bisa bernafas, kita harus panggil beberapa pemburu yang lain untuk membawa peralatan lengkap dan pastinya yang masuk ke dalam tidak boleh satu atau dua orang, tapi harus banyak, takutnya di dalam adalah tempat tinggal para monster itu berkembang biak," saran pak Firgon.


"Setuju," jawab pak Hendra.


"Kenapa tidak jatuhkan bom aja ke dalam, dengan begitu para monster mati semua di dalam," saran Albezro.

__ADS_1


__ADS_2