
Mereka menundukkan kepalanya melihat kakinya.
"Katakanlah, lihatlah mereka semua berjuang untuk membasmi para monster demi perdamaian dunia, agar bisa berharap hidup seperti sedia kala, agar hidup manusia tidak menderita dan tidak hidup dalam ketakutan. Kalian malah bersekongkol dengan mereka dan ingin membuat dunia ini semakin hancur? Jika mereka yang menguasai dunai lalu kalian dapat apa? Mereka lebih kuat dari manusia jika mereka yang menguasainya. Kita sesama manusia saling lindung melindungi, tapi tidak dengan para monster jahat itu. Katakan alasannya, mungkin kami bisa membantu," ucap Albezro.
Mereka saling berpandangan. "Tidak ada alasan, bunuh saja kami!" teriak pemburu itu.
"Lihatlah, dia bahkan rela berkorban demi para monster itu. Tidak tahu apa yang membuat otak kalian konslet. Baiklah jika mereka tidak mau memberi alasan, aku yang akan membuat kalian berbicara," ucap Albezro. Ia pun berdiri dan mendekati kedua pria itu lalu memegang kepalanya mereka berdua.
[Gunakan poin untuk membuat mereka mengatakan alasannya]
Memuat…
Loading…
Mulai…
10%…
20%…
30%…
40%…
50%…
60%…
70%…
80%…
90%…
100%…
Selesai.
[Poin Anda di potong 100 poin]
[Sisa poin Anda 5000 poin]
Berbentuk seperti cahaya listrik masuk ke dalam kepala kedua pria itu dan membuat otak mereka kesetrum.
__ADS_1
Mereka terlihat tegang dan duduk dengan tubuh tegap.
"Kami melakukan itu karena mereka sudah berjanji untuk memberikan harta Karun yang ada di bagian barat. Setelah mendapatkannya maka kami akan pergi sejauh mungkin dan memulai hidup yang baru," ucap mereka.
"Ck! Apa kalian pikir mereka akan melepaskan kalian begitu saja, untuk apa harta pada akhirnya kalian mati juga," ucap pemburu yang lain merasa amat kesal.
"Jadi bagaimana?" tanya pemburu yang lain kepada kepala pemburu.
Kepala pemburu berbalik badan. "Bunuh saja, dia sudah banyak membunuh pemburu yang lain, pengkhianat tidak boleh di maafkan," ucap kepala pemburu.
"Baiklah kepala," ucap mereka.
"Tolong! Tolong jangan bunuh kami! Kami tidak akan melakukanya lagi! Kami akan menebus kesalahan kami!" teriak pemburu itu memberontak.
"Tebus saja dosa mu di neraka," ucap mereka menarik kedua pemburu itu dan di bawa ketengah kota.
Orang-orang berduyun-duyun mengikuti kedua pria itu dan mengaraknya di tengah jalan. Kedua matanya di tutup lalu mereka di seret di tengah jalan.
Setelah sampai di lapangan, mereka di ikat di sebuah besi yang tegak.
"Lihatlah semua! Mereka berdua adalah pengkhianat manusia dan bekerja sama dengan para monster untuk menguasai dunia, mereka ingin peradaban manusia hancur dan memerdekakan para monster, jadi mereka akan segera di hukum mati karena pengkhianat tidak boleh bersama kita. Ingat jika kalian melihat penghianat lain seperti mereka cepat laporkan. Dan juga untuk kalian, jika kalian berkhianat maka kalian akan merasakan akibatnya seperti ini," ucap pemburu itu.
Di sekeliling kedua pria itu di taruh kayu bakar lalu di siram dengan minyak, mereka akan di bakar hidup-hidup, karena pengkhianat jika langsung mati maka itu sangat gampang bagi mereka, biarkan mereka merasakan sakit luar biasa terlebih dahulu dan juga sebagai pengingat yang lain agar mereka juga tidak melakukan hal seperti ini lagi.
Kayu pun terbakar dan kedua pengkhianat itu sudah merasa kepanasan dan meronta-ronta.
"Aaaaaaaaaaaaa! Panas! Panas!" teriak mereka mencoba melepaskan tangannya tapi itu tidak bisa.
Saat pembakaran para pengkhianat itu, Albezro melihat seorang pria yang menurutnya mencurigakan.
Pria itu sekilas melihat ke arah Albezro lalu pergi meninggalkan tempat tersebut. Albezro pun langsung pergi meninggalkan tempat tersebut.
Albezro pun lari mengejar pria itu, akan tetapi tidak ia temukan karena di sana sangat ramai.
"Kemana dia pergi? Aku yakin di malam itu pasti dia," ucap Albezro mengingat-ingat.
Albezro terus berputar menembus di keramaian, akan tetapi tetap tidak di temukan.
Tapi saat terlihat, hanya motor terbang yang sudah menjauh di puncak langit yang jauh. Mana mungkin Albezro bisa mengejarnya. Dan juga jika Albezro berteriak jika mereka juga pengkhianat mana mungkin mereka percaya karena tidak ada buktinya.
Karena mereka sudah terlanjur pergi, Albezro kembali melihat pembakaran itu, tubuh mereka sebagai sudah terbakar dan mereka terus menjerit kesakitan. Albezro langsung merinding.
Karena tak tahan melihatnya, Albezro pun pergi dari tempat tersebut.
__ADS_1
Albezro membawa motor terbang dan kembali menuju sekolahnya.
Sesampainya di sekolah, para murid baru saja selesai berlatih, para murid yang latihan di lapangan ruang bawah tanah juga sudah kembali.
Terlihat Leon yang di wajah dan tangannya memakai perban. Yun, Ferdi dan Sino juga terlihat memakai perban.
Mereka baru keluar dari rumah sakit sekolah, kemungkinan mereka di rawat di sana.
Albezro berlari lalu mendekati mereka.
"Wah, sepertinya kalian berubah gaya baru sekarang ya, sudah bosan gaya yang sudah-sudah?" ledek Albezro.
"Kurang ajar! Ini semua gara-gara kamu! Lihat saja nanti! Kami akan membalasnya!" ucap mereka ketus dan penuh kekesalan.
"Wah, aku sangat takut dengan ancaman kalian. Tapi … jika kau membalas ku satu kali lipat, maka aku akan membalasnya 100x lipat, jadi jangan coba-coba untuk mengusik ku jika tidak ingin terima akibatnya," ancam Albezro.
"Heh! Siapa yang peduli! Kami tetap akan membalasnya!" ucap mereka menatap tajam ke arah Albezro.
"Di saat sakit seperti ini kalian sungguh berani ya mengusik orang," ucap Albezro memegang tangan Leon yang sakit itu dengan kuat.
"Aaaaaaaaaaaaa! Sakit! Sakit!" teriak Leon kesakitan.
"Ha-ha-ha, dalam keadaan sakit begini kamu beraninya mengancam orang, kalau begitu ku tunggu pembalasan kalian, tapi aku nggak jamin kalau kalian bisa keluar rumah sakit seperti ini," ucap Albezro terkekeh.
"Ya udah ayo kita pergi," ajak Leon. Yun dan yang lain mengikuti Albezro dan meninggalkan Albezro.
"Kita harus buat rencana baru," bisik mereka.
Albezro pun kembali ke asrama untuk mengambil ponselnya yang tertinggal.
Sesampainya di kamarnya, Albezro pun membuka pintu dan terlihat Kino dan dua orang temannya sedang memberantakan kamarnya.
"Oh jadi kalian yang melakukan ini," ucap Albezro bercekak pinggang.
"Kenapa! Kamu ngga suka!" tantang Kino.
"Hey! Orang bodoh aja kali yang suka kamarnya di berantakan!" balas Albezro.
"Kamu itu memang bodoh! Pecundang!" maki Kino.
"Oh, aku orang bodoh ya? Pecundang ya? Mari sini, kita selesaikan di sini," tantang Albezro.
"Ha-ha-ha ini yang sangat ku nantikan," ucap Kino menyengir.
__ADS_1
Mereka pun melancarkan aksinya. Mereka bertiga menangkap Albezro, tapi Albezro malah menarik tangan mereka baik.