
Setelah mereka menutup telponnya masing-masing, Riska mulai berbicara dengan ibunya kalau dirinya sebenarnya sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Edi, Riska meminta ibunya untuk tidak mencampuri masalahnya karena nanti akan membuat semuanya menjadi lebih rumit.
"Ma,,, aku mau ngomong sama Mama".
"Iya Sayang,,,, mau ngomong apa sama Mama".
"Tapi Riska minta tolong banget sama Mama, apapun yang Riska katakan tidak membuat Mama sakit hati".
"Iya Nak,,, apa sayang?".
"Sebenarnya aku sama Edi sudah tidak berstatus apa-apa lagi Ma, Riska dan Edi sudah putus dadi beberapa hari yang lalu".
"Kurang ajar ya memang itu anak mutusin kamu kayak gitu sampai membuat kamu seperti ini".
"Ini semua bukan kesalahan Edi kok ma, ini kesalah Riska sendiri".
"Kamu itu jangan menutupi kesalahan dia Riska, dia itu sudah salah karena berani memutuskan hubungannya sama kamu. Tidak ada sejarahnya anak Mama di putusin orang".
"Ma,,, sudahlah, memang ini semua kesalahan Riska. Mungkin karena Riska terlalu cemburu dengan Edi jadi Edi merasa risih karena sikap Riska Ma, bukan cuma itu, karena kecemburuanku, aku selalu saja gelap mata di saat Edi dekat dengan perempuan".
"Gelap mata bagaimana maksud kamu".
"Aku tidak pernah melihat situasi apakah itu ramai atau tidak, aku selalu saja menegurnya, memarahinya di depan umum Ma, itu membuat dia malu karena perlakuanku".
"Kenapa kamu bisa seperti itu".
"Iya,, mangkannya Edi benci sama aku dan memutuskan hubungannya denganku Ma, jadi ini semua bukan salah Edi tapi salahku karena aku tidak bisa menghargai Edi sebagai laki-laki".
"Tapi tidak seharusnya dia seperti itu, harusnya dia paham kamu cemburu".
"Dia paham kok ma kalau aku cemburu, mangkannya dia selalu menjaga perasaanku, tapi aku yang keterlaluan Ma, aku tidak bisa memahami dia karena kecemburuanku. Dia adalah ketua Osis di sekolah, dan dia memang sangat terkenal di sekolah. Walaupun banyak wanita yang mendekati tetapi dia tidak pernah berhianat di belakangku, saat dia ngobrol dengan teman satu organisasi atau dengan adik kelas yang meminta bantuannya, aku selalu cemburu Ma dan aku melabraknya begitu saja tanpa memikirkan situasi yang akan membuat dia malu banget ma".
"Tapi seharusnya dia bisa dong memahami kamu, dia seharusnya juga paham kalau kamu itu melakukan semuanya karena kamu sayang dan kamu cemburu sama dia kan jadi wajar saja gitu kalau menurut mama".
"Iya ma, tapi dia tidak suka aku seperti itu".
"Ya kamu berusaha dong meyakinkan dia kalau kamu itu bisa berubah menjadi lebih baik sesuai maunya dia".
__ADS_1
"Sudah Ma,, tapi yasudahlah biarkan saja ma, semakin lama rasaku hilang karena kelakuan dia yang seperti itu terus ke aku. Rasanya capek harus mengemis cinta kepada seseorang yang sudah tidak mencintaiku lagi, mau sekuat apapun aku mempertahankan, mau sekuat apapun aku berusaha kembali sama dia kalau memang dia di takdirkan untuk aku ya dia nggak akan pernah bisa kembali lagi sama aku Ma. Aku sudah ikhlas melepas dia kalau memang dia mau pergi dari kehidupanku Ma, aku sudah ikhlas kalau dia mau bersama wanita lain, aku tidak akan pernah memaksa dia lagi Ma karena dia memiliki kehidupan sendiri dan dia juga bisa menentukan jalannya sendiri Ma, anggap saja apa yang pernah aku lakukan sudah berakhir Ma, cukup sakit hatiku Ma tapi aku ikhlaskan kalau dia ingin bersama wanita lain.
"Ya nggak bisa gitu dong Ris, nggak bisa kamu jadi perempuan main ikhlas-ikhlas aja kalau sudah di putusin orang".
"Ya terus aku harus gimana ma, aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain pasrah dan ikhlas menerima semuanya, anggap saja aku sudah kalah dari perjuanganku".
"Tapi Riska".
"Mama,,, kan Mama sendiri yang bilang sama Riska kalau kita tidak boleh mundur dari peperangan selagi kita masih bisa mempertahankan apa yang kita miliki ya maju terus tapi kalau kita kalah ya kita harus menerimanya yang penting kita sudah berusaha sekuat tenaga untuk menjaga dan mempertahankan apa yang kita miliki".
"Iya,,, tapi nggak dengan seperti ini, namanya kamu mengalah kalau seperti ini".
"Sudahlah ma,,, laki-laki kan nggak cuma Edi aja, masih banyak laki-laki yang suka sama aku tanpa aku sadari karena mempertahankan hal bodoh ma".
"Yasudah Ris,,, apapun keputusan kamu akan mama hargai, tapi mama minta sama kamu kalau kamu memang sudah ikhlas dengan semuanya, kamu janji sama mama jangan membuat mama sedih lagi, jangan buat mama khawatir lagi dengan keadan kamu ya,,, kamu makan, keluar kamar, jangan di kamar terus ya".
"Iya mama siap deh,,".
Akhirnya orang tua Riska ikut ikhlas dan bahagia melihat anaknya tersenyum kembali. Malampun terlewatkan dengan keadaan yang baik-baik saja, cuaca begitu dingin yang membuat suasana rumah semakin hangat karena keluarga yang harmonis dan damai.
***
Brum,,, brum,,, brum,,, (Suara motor Edi menghampiri Riska)
"Hai Riska,,,". Sapa Edi ke Riska pagi itu
"Hai Edi,,, Baru datang?". Tanya Riska basa basi
"Iya nih baru saja datang,,, kamu sudah sehat?". Tanya Edi memastikan
"Sudah kok,,,".
"Ya syukur kalau sudah sehat,,, tadi kamu berangkat sama siapa kok jalan dari gerbang".
"Aku di antar Mama,,,"
"Terus sekarang mama dimana?".
__ADS_1
"Mama sudah pulang, mau ada perlu?".
"Nggak kok, yasudah kalau sudah pulang,,,, Eh iya yuk bareng aku sini naik motor biar nggak capek jalannya".
"Nggak usah Edi, Terimakasih atas tawarannya. Aku sedang diet jadi sekalian olahraga aja jalan kaki".
"Ih,,, nggak usah diet-diet nanti kamu sakit lagi".
"Nggak kok Insya Allah".
"Udah ayo bareng aja sama aku ke kelas".
"Nggak Ed terimakasih".
"Yasudah kalau begitu aku temenin kamu jalan"
"Nggak usah Ed kamu duluan aja, nggak enak nanti di lihat anak-anak yang lain kan, nggak enak juga sama Mbak Nisa kalau lihat aku jalan sama kamu nanti dia nggak jadi suka sama kamu lagi".
"Apaan sih Ris,, Mbak Nisa juga tahu kok kalau aku sama kamu nggak ada apa-apa dan dia slow aja".
"Ya kan aku jaga-jaga aja gitu biar nggak jadi salah paham antara aku dengan Mbak Nisa, aku juga merasa bersalah karena kemarin aku sempat bentak dia padahal dia sudah baik banget sama aku".
"Iya tapi dia baik-baik aja kok, dia juga nggak cemburu kalau kamu jalan sama aku, lagian aku juga belum jadian sama dia jadi ya santai ajalah".
"Bukannya kamu ya yang bilang kalau kita harus biasa aja, bahkan kalau bisa kita jaga jarak".
"Ya nggak jaga jarak juga kan aku bilangnya kalau aku nggak mau punya kontak mantan tapi bukan berarti aku melarang kamu buat berteman sama aku kan, lagian juga kan aku kemarin bilang sama kamu kalau di sekolah biasa saja dan jangan bahas masa lalu karena aku menghargai pasanganku nantinya".
"Iya aku tahu kok, yasudah Ok deh...".
"Aku temani kamu jalan ya sampai kelas".
"Tapi kan kamu harus ke parkiran dulu".
"Ya mangkannya aku bonceng aja yuk sampai parkiran nanti jalan ke kelasnya barengan".
"Yasudah ayookkk".
__ADS_1