
"bagaimana caranya aku untuk bisa melupakan Edi Jo, jujur saja sebenarnya aku masih di hubungi Edi dan aku sudah berkali-kali menolaknya bahkan aku berusaha untuk tidak mengangkat telphon darinya tapi dia datang menemuiku lalu membuat emosiku kembali seperti dulu lagi Jo. Aku merasa capek kalau dia terus menggangguku, aku jadi tidak bisa mengendalikan emosiku jika terus ada dia".
"Aku tidak pernah melarangmu dekat dengan siapapun termasuk Edi, dan aku juga tidak pernah membatasi berapa lama kamu ingin bertemu dengan seseorang. Kamu sudah dewasa, aku rasa kamu bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak, aku tidak mau menjadi laki-laki yang cerewet hanya karena cemburu pada laki-laki lain".
"Iya Jo,,, maafkan aku kalau memang aku salah dan membuat kamu kecewa, aku nggak akan mengulanginya lagi".
"Aku tidak berniat untuk mengekangmu karena kamu juga sudah dewasa, aku rasa kamu tahu mana yang baik dan tidak".
"Iya Jo, aku sebenarnya juga mau cerita tentang masalahku sebelumnya".
"Masalah apa Ris?"
"Masalahku dengan salah satu kakak kelasku namanya Nisa".
"Bukannya dia wanita pendiam dan juga baik, kenapa kamu bisa punya masalah sama dia?".
"Masalahnya panjang, intinya aku pernah menuduh dia merebut Edi dariku sampai aku menyindir dan mempermalukan dia di depan umum. Mungkin saat itu dia merasa sangat malu karena aku tiba-tiba datang dan mempermalukannya".
"Mempermalukan gimana maksud kamu?".
"Saat dia berada di kantin, ada kedua sahabatnya dan adek kelas serta kakak kelas yang berkumpul jadi satu disana. Aku berteriak menyindirnya karena dia telah merebut Edi dariku, dengan kata-kata "Di sini ada wanita pelakor ya ternyata, suka ganjen sama laki orang, padahal dia itu anak baik, pendiam dan juga suka membantu orang lain tapi aku tidak menyangka kalau dia ternyata seburuk itu dan setega itu" tapi dia diam saja tanpa membalasku bahkan tanpa membrontak sedikitpun kata-kataku, aku jadi merasa bersalah karena dia orang baik bahkan aku jahati juga dia diam saja tanpa membalasnya".
"Kamu sudah minta maaf belum sama dia?".
"Sempat ingin meminta maaf tapi aku merasa gengsi dan malu karena aku sudah membuatnya malu dua kali bahkan aku membuatnya malu di depan satu sekolah. Aku juga menamparnya saat itu, jujur aku merasa sangat menyesal, tapi aku mau minta maaf takut dia gantian mempermalukan aku gitu Jo".
"Dia anak baik kok, kalau kamu memang berniat untuk meminta maaf pasti dia akan memaafkan kamu, jadi kalau memang kamu ada niat baik ya lakukan".
"Tapi aku masih malu dan takut Jo, iya sih dia memang anak baik tapi kalau misalkan tiba-tiba dia jahat gimana dong Jo, kan namanya orang nggak tau kalo udh di jahatin dia gimana".
"Ini nih susahnya kamu, selalu saja berfikir negatif. Coba deh Ris ubah pola pikir kamu jadi oh dia baik, tidak apa-apa dia baik kok sama aku gitu, jadi kalau berprasangka yang baik-baik supaya nanti hasilnya atau imbal baliknya buat kita itu juga baik jangan negatif terus kalau negatif nanti malah jatuhnya jadi negatif terus".
"Ya namanya orang takut kan, masa iya orang takut di suruh berpikir positif ya nggak bisa".
"nggak bisanya gimana coba, kan kalau misalkan kamu berpikir positif juga bakal imbasnya baik juga ke kamu".
__ADS_1
"Ya coba deh besok aku mau ketemu dia, kalau dia mau juga sih ketemu aku".
"Pasti mau kok, kamu masih punya nomernya nggak? kalau masih mendingan di hubungi dulu supaya bisa ketemu".
"Masih kok, tapi nggak tahu juga dia masih nyimpan nomerku atau enggak soalnya udah lama banget aku nggak hubungi dia dan dia juga nggak hubungi aku jadi ya aku nggak tau masih aktif atau tidak".
"Dia pernah buat status atau tidak? kalau iya mendingan kalau iya berarti dia masih nyimpan nomor kamu".
"Oke deh aku WA dia supaya aku bisa bertemu dan minta maaf langsung, kamu anterin dan temenin aku ya besok kalau ketemu dia".
"Kan aku nggak tahu masalahnya masa iya aku harus ikut".
"Ya kan cuma nemenin aja nggak ikut ngomong".
"Yaudah deh iya yang penting kamu hubungi dia dulu supaya dia juga bisa menyempatkan waktu buat kamu".
"Iya ih".
Kemudian Riska mencoba menghubungi Nisa karena Riska berniat untuk meminta maaf kepadanya atas kesalahan yang dia perbuat.
****
"Iya Riska,,, ada apa?".
Respon Nisa begitu cepat karena dia memang sedang pegang HP nya.
"Mbak Nisa besok sibuk nggak sih?".
"Kayaknya sih enggak Ris, memangnya ada apa?".
"Aku pengen ketemu sama kamu Mbak".
"Kangen ya haha, mentang-mentang sekarang sudah punya calon suami jadi lupa sama aku".
"Nggak kok Mbak aku tuh nggak lupa, cuma ya aku malu buat hubungi kamu Mbak".
__ADS_1
"Kayak sama siapa aja sih kamu itu pake malu-malu".
"Kan aku pernah ada salah sama kamu Mbak jadi aku malu mau hubungin kamu".
"Nggak usah malu, lagian yang udah ya udah nggak usah di bahas lagi nanti jadinya malah berlanjut terus".
"Iya sih tapi aku masih merasa nggak enak aja gitu Mbak sama kamu".
"Sudah lupakan saja masalah yang kemarin-kemarin, jangan di ulangi lagi".
"Iya Mbak, jadi besok kita ketemu ya Mbak".
"Iya deh, besok kita mau ketemu dimana?".
"Di kantin saja gimana Mbak sambil minum atau makan gitu".
"Wah bau-baunya kamu mau traktir ya".
"Iya Mbak tenang saja".
"Emm iya deh aku tunggu besok istirahat ke dua ya Ris".
"Iya Mbak siap, ya sudah ya mbak sampai jumpa besok".
"Iya Riska".
Setelah Riska menghubungi Nisa, Jo mendengar juga percakapannya...
"Gimana, dia baik kan masih mau ngomong sama kamu. Dia itu bisa maafkan siapa aja yang jahat sama dia, tapi ya jangan langsung meremehkan".
"Iya Jo benar apa katamu".
"Yaudah tinggal besok aja kamu ketemu dia biar enak ngobrolnya".
"Iya Jo, kita pulang yuk".
__ADS_1
"Hayuklah hehe".
Lanjut nggak sih?