
Setelah mereka berbincang sebentar, Edi meminta Nisa untuk
segera masuk kedalam kelasnya sebelum itu Edi meminta maaf terlebih dahulu
kepada Nisa karena sudah meninggalkannya dan mengabaikannya berjalan sendirian.
“Sudah sana Nis kamu masuk kedalam kelas dan istirahat, aku
minta maaf ya kalau tadi aku nggak lihat kamu ada dibelakang aku dan Riska,
lagian kamunya juga nggak negur”.
“Haha iya tidak apa-apa mungkin aku yang salah”.
“Riska kamu masuk kedalam kelas duluan ya, aku mau antar
Mbak Nisa masuk kedalam kelasnya dulu supaya aku bisa pastikan dia baik-baik
saja”.
“Iya deh Ed,,, aku duluan ya Mbak Nisa, cepat sehat supaya
nanti bisa saling curhat-curhatan lagi”. Kata Riska
“Iya udah,,, aku masuk kelas dulu ya”.
Riska sedikit cemburu melihat Edi memapang Nisa sampai
kedalam kelas, Riska yang tidak kuat menahan rasa cemburunya dia segera pergi
dari tempat itu.
Di saat Riska melihat momen seperti ini, dia merasa bahwa
dia memang harus benar-benar membuang rasa cintanya kepada Edi dan benar-benar
pergi meninggalkan Edi. Dia saat itu benar-benar tersadar bahwa cinta tidak
harus memiliki karena mengikhlaskan orang yang kita sayang Bersama dengan orang
lain bahkan Bahagia dengan orang lain maka kita harus ikhlas, kalau tidak
ikhlas nantinya akan menyiksa batin diri sendiri juga karena sering memikirkan
itu.
Waktu itu Edi sudah selesai mengantarkan Nisa kedalam kelas
lalu dia meninggalkan Nisa karena harus masuk ke dalam kelas juga. Jam
istirahatpun tiba, Saat itu suasana menjadi berubah drastis, karena Edi dan Riska
sudah berubah sifatnya, yang tadinya dia tersenyum dan masih ramah dan haha hihi
seketika cemberut dan tidak saling menyapa, entah itu karena mereka merasa
menghargai satu sama lain atau malah karena mereka saling cemburu.
Saat jam istirahat Riska terlihat turun tangga dan melewati
Nisa dengan lantangnya, dia tidak menyapa Nisa yang berada di taman kecil depan
kelas, Nisa juga tidak memanggil Riska yang sedang lewat, dia hanya diam saja.
Pada saat Riska sudah lewat, tidak lama Edi turun dari tangga karena juga ingin
membeli makan, tapi lagi-lagi sama sikapnya dengan Riska. Edi juga melewati Nisa
__ADS_1
dengan lantang tanpa melihatnya yang sedang duduk didepan Taman kecil itu,
padahal tadinya Edi sangat ingin menjadi milik Nisa. Ada apakah dengan mereka?.
Pada saat itu ternyata Riska dan Edi di dalam warung yang
sama, dan tidak lama kemudian di susul Nisa dan teman-temannya, saat itu mereka
saling membelakangi tanpa bicara apapun. Ambar dan Aisyah saat itu ada di tempat
juga karena menemani Nisa yang ingin istirahat makan, seperti biasanya Ambar
menggoda Edi yang sedang makan dan menyindir Riska.
“Hay Edi,,, makan disini juga ternyata”.
“Hay Mbak,,, iya ini aku lapar jadi makan disini”.
“Kamu tumben Ris kok makan disini, biasanya kan kamu di tempat
bu joko”.
“Ya suka-suka aku dong Mbak masa aku mau makan disini nggak
boleh”.
“Boleh kok,,, ya Cuma heran aja gitu, atau memang sengaja kali
ya”.
“Sengaja gimana maksud kamu?”.
“Kok kamu nggak sopan sih sama yang lebih tua”.
“Aku udah sopan ya sama Mbak, tapi Mbak malah tidak
“Nuduh gimana sih, orang aku Cuma tanya”.
“Tanya tu nggak kayak gitu Mbak, itu Namanya Mbak nyindir
saya”.
“Oh kamu merasa tersindir?”.
“Iyalah kan Mbak bilang gitu”.
“Ya bagus deh kalau kamu merasa tersindir berarti kamu sadar
kalau kamu salah, harusnya kamu itu sebagai manusia harus bisa berkaca, jangan berlaku
seperti itu sama orang lain”.
“Yaelah Mbak kalau memang Mbak nggak tahu kebenarannya gimana
harusnya nanya dulu nggak main menyimpulkan seperti itu”.
“Ya kan memang saya tahu kalau kamu mulutnya sadir, suka
nyakitin hati orang lain. Kamu aja memaki Nisa seperti itu di depan umum kan
nggak sopan ya kalau kayak gitu”.
“Lah orang Mbak Nisa nya aja baik kok,,, aku sama dia juga
sudah saling memaafkan”. (Riska)
“Dih emangnya Nisa mau maafin kamu, orang dia aja masih diam
__ADS_1
gitu kok sama kamu”. (Ambar )
“Nggak kok coba lihat”.(Riska)
“Iya memang Nis,, kamu itu sudah maafkan Riska?”. Tanya Ambar yang penasaran dengan hal yang mungkin bo*oh yang di lakukan Nisa
“Sudah kok tidak apa-apa, sudah jangan di bahaslah”.
"Ya nggak bisa gitu dong, aku sebagai sahabat kamu nggak trima kalau kamu memaafkan dia. Ingat Nis dia itu sudah menyakiti hati kamu".
"Terus aku harus apa Mbar kalau dia nyakitin hati aku? apa aku harus membalasa perbuatannya dengan yang nggak baik juga? kalau memang iya kamu nyuruh aku gitu terus apa bedanya aku sama dia".
"Ya setidaknya dia itu dikasih pelajaran supaya jera akan perbuatannya".
"Mau dia di hukum seperti apapun, mau dia di balas model gimanapun, dia tidak akan pernah bisa berubah menjadi baik kalau bukan dirinya sendiri yang merubahnya".
"Ya setidaknya dia sudah diberi pelajaran atau peringatan, mau dia berubah atau tidak ya urusan dia yang penting kamu nggak tersakiti lagi".
"Kenapa sih kalian itu, kan aku yang di permalukan, aku yang di hina tapi malah kalian yang heboh".
"Ya kan kita tidak terima kamu di perlakukan seperti itu Nis, kita ini sahabat kamu. Kita yang akan maju ketika kamu di hina, mana ada sahabat yang diam saja melihat sahabatnya di hina orang lain?, mana ada sahabat yang diam saja ketika sahabatnya di rendahkan oleh orang lain apa lagi itu di depan umum?".
"Iya aku tahu, aku berterimakasih karena kalian selalu ada di garda depan melindungi aku, tapi untuk masalah seperti ini aku mohon sama kalian jangan di bahas lagi ya, kan kita tadinya juga baik-baik saja, berteman dengan bahagia. Aku tidak mau semua saling membenci".
"Nisa, kamu itu jangan terlalu baik nanti kamu di manfaatkan".
"Bukannya memang kita harus baik ya sama orang".
"Ya tapi di lihat juga dong Nisa mereka itu gimana, baik juga sama kamu atau memang cuma memanfaatkan kamu".
"Iya Ambar aku juga tahu itu".
"Kalau kamu tahu kenapa kamu masih terlalu baik sama orang yang memang sudah jahat sama kamu".
"Sudahlah Mbar tidak usah di bahas lagi, lagian kita juga sudah baik-baik saja kan".
"Tuh dengerin nenek lampir, mangkannya jangan sok jadi jagoan disini, orang udah di bilangin kalau Mbak Nisa itu sudah memaafkan aku dan kita juga baik-baik saja kok masih ngeyel aja mau labrak-labrak aku". Sahuut Riska ke Ambar karena kesal dirinya di sudutkan
"Aku nggak terima ya sahabat aku kamu maki-maki kemarin".
"Ya terus kamu mau apa kalau kamu nggak terima?".
"Awas aja aku bakal kasih perhitungan sama kamu".
"Ya silahkan, aku tunggu seberapa besar nyalimu untuk melawan aku".
"Nantangin ya ini anak".
"Heh sudah-sudah,,,, Kamu Riska, sudah jangan menjawab dan melawan terus apa yang di bicarakan orang yang lebih tua. dan kamu Ambar, sudahlah aku baik-baik saja kok, aku tidak mau ada keributan lagi, ayo kalian saling maaf-maafan". Tegas Nisa
"Males banget Mbak". (Riska)
"Dih aku juga males kalau harus berjabat tangan sama kamu".(Ambar)
"Sudahlah, ayo kalian berjabat tangan lalu kalian saling memaafkan, jangan sampai setan mempengaruhi hati kalian lebih lama".
"Iya deh, aku minta maaf ya Mbak Ambar kalau perkataanku tadi menyinggung kamu".
"Hmm iya tidak apa-apa, jangan pernah kamu ulangi itu lagi karena bisa merugikan diri kamu sendiri".
"Iya Mbak aku tidak akan mengulanginya lagi".
Jangan lupa Like nya ya teman-teman semua, author akan lebih semangat kalau kalian Like banyak-banyak. Oh iya tulis pendapat kalian di kolom komentar ya jika setelah membaca, beri tanggapan cerita supaya author lebih merasa dekat dengan kalian. Terimakasih
__ADS_1