
"Katakan apa mau kak jangan berbelit belit!" ucapku
"Aku mau kamu jadi kekasihku!" serunya.
"Tapi aku tidak mau, lagi pula kak punya pacar mau dikemanakan kak natali itu?" ucapku
"Aku sudah tidak ada hubungan dengan Natali. Kami sudah putus sebulan yang lalu."
"Aku tetap tidak mau." ucapku
"Mau atau tidak kamu harus mau! " ucapnya
"Lah! Kok kak maksa." ucapku
"Semua pilihan ditangan kamu, menolak vidio serta foto-foto di cafe tadi tersebar. Kalau di Terima mulai saat ini kita pacaran. Aku kasi kamu kesempatan berpikir selama tiga hari." ucapnya
"Gak bisa gitu dong kak. Aku yang rugi kalau gitu." ucapku
"Kak tidak peduli semua pilihan ditangan kamu." ucap kak Nando memutuskan panggilannya
Tuttt... Tuttt... Tuttt....
"Ihhh menyebalkan." ucapku membanting HP
"Aku harus apa? Nama baik abi dan pesantren ada di tanganku." ucapku bingung
"Ada ya orang kaya dia itu, pemaksa. " ucapku membanting sesuatu yang ada di depanku
Tiba-tiba pintu terketuk
"Tok... Tok... Tok.... "Suara pintu di ketuk
__ADS_1
"Nak buka pintunya! Ini umi." ucap umi di balik pintu
"Aduh ada umi lagi." ucapku sambil memungut barang yang tadi tergantung dan juga hpku
"Nak! " ucap umi kembali
"Iyah mi, tunggu sebentar! "Ucapku sambil berjalan membuka pintu. Saat pintu terbuka umi langsung masuk dan mengamati kamarku
"Umi kenapa? " tanyaku bingung
"Tadi umi dengar sesuatu tergantung dari dalam kamarmu." ucap umi
"Ohhh. Itu bunyi barang yang terbanting di TV mi." ucapku bohong
"Kamu tidak lagi bohongin umi kan dek? "Selidik umi
"Adek benaran umi." ucapku
"Tadi siang adek kemana? " tanya umi kembali duduk di tepi tempat tidurku
"Toko buku." ucapku santai
"Jam berapa ade di toko buku?
"Tanya umi
"Kenapa umi tanya sampai jam berapa sih." gumamku
"Jam pulang sekolah lah mi. " ucapku
"Toko buku mana? " tanya umi lagi
__ADS_1
"Toko buku langganan kita mi." ucapku
"Kamu tidak lagi berbohong
sama umi kan? " ucap umi memandangku
"Ti... Tidak kok. " ucapku masih kekeh untuk berbohong
"Ade mau jujur sama umi atau umi yang langsung bicara sama abi? " ucap umi
"Jujur apa sih mi? Ade kan tidak bohong. " ucapku
"Ohh tidak mau mengaku. Baik lah mungkin jika sama abi ade langsung bicara jujur. Okelah umi ke abi dulu." ucap umi beranjak berdiri untuk keluar kamarku
"Umi tunggu! " ucapku menahan tangan umi dan membawa umi kembali pada posisi semula
"Mau jujur sama umi atau sama abi? " ucap umi lagi
"Iyah, Iyah ade ngaku, adek tidak pergi ke toko buku." ucapku
"Lalu ade kemana? Kenapa pak Budi disuru pulang saat menjemput ade? " tanya umi
"Ade ke cafe nongkrong sama sahabat ade. Mita dan Dewi." ucapku
"Lalu kenapa ade harus bohong? "Tanya umi lagi
"Kalau tidak bohong ya tidak akan bisa pergi." ucapku
"Nak! Kamu tau kami itu sangat menyayangimu. Terlebih abi mu sangat sayang kepadamu sehingga dari dulu setiap adek berbuat kesalahan selalu di maafkan dan alhasil kamu jadi seperti ini. Cara abi bersikap kepada kamu dan kak fatih dan kak aisyah itu sangat berbeda. Apakah kamu tidak ingin membuat kami bahagia nak." ucap umi dengan raut wajah sedih
"Adek minta maaf umi." ucapku lirih. Ku tau kalau keluargaku amat sangat menyayangiku tetapi aku masih ingin bebas, aku tidak ingin dikurung dalam rumah apalagi pesantren dengan balutan busana yang menurutku seperti ibu-ibu
__ADS_1