Takdir Cinta Azizah

Takdir Cinta Azizah
Part 35


__ADS_3

Disaat mereka tengah asik bercerita tiba-tiba aku menghampiri mereka dengan penampilan rapi siap untuk pergi.


"Kamu mau kemana nak? " tanya abi


"Keluar sebentar bi. " ucap ku dan melirik sekilas dengan kedua tamu abi


"Kemana nak? "Kini umi yang bertanya


"Ke rumah Dewi mi. " jawabku


"Jam segini kamu ingin keluar? Abi tidak beri izin. " jawab abi


"Hanya sebentar kok bi. " jawab ku


"Abi bilang tidak berarti tidak." ucap abi


"Abi kenapa sih, zizah hanya ingin keluar sebentar, sudah sukur zizah minta izin, tau begini zizah keluar aja tadi. " ucapku jengkel


"Nak, jangan berbicara seperti itu, kamu tidak malu, disini ada tamu sahabat abi." ucap umi


"Itu kan tamu abi mi, bukan tamu zizah. " ucapku melihat kedua orang yang sedang duduk dan menatapku dengan tatapan seolah kaget, mungkin meraka menilai aku anak yang tidak tau sopan santun, terlebih aku anak seorang kiai tetapi perangai ku seperti anak berandalan, tapi mau siapalah inilah sikapku.


"Zizah jaga ucapan mu! " ucap abi membentak


"Sudah Lan! Kami tidak masalah kok." ucap ustadz Arif


"Kalau kamu nekat tetap pergi, abi tidak izinkan kamu ikut fatih ke meser. " ancam abi


"Baik lah. " ucapku ingin melangkah menuju kamar


"Tunggu! " ucap umi mencegah


"Duduk dulu nak! Kenalan sama tamu abi. " ucap umi lembut


"Maaf mi, zizah malas. " ucapku ingin melangkah pergi. Namun belum sempat aku melangkah suara abi menghentikan langkahku


"Seperti ini kah cara kamu menyambut tamu dan bersikap kepada orang tua, ini yang guru kamu ajarkan? Kalau seperti itu mending kamu pindah dari sekolah yang tidak mengajarkan sopan santun itu. " ucap abi


"Selalu saja mengancam. " batinku.


Dengan terpaksa aku memutuskan untuk tetap di ruang tamu dan mendudukkan badanku di sebelah umi


"Rif, ini anak bungsu saya namanya Azizah." ucap abi


"MasyaAllah cantiknya anak mu Lan. "Puji ustadz Arif


"Zah ini ustadz Arif sahabat abi dan yang di sebelahnya adalah anaknya, namanya salwa. " ucap abi


"Salwa." ucap Salwa mengulurkan tangannya untuk berdebat tangan


"Azizah." ucapku menerima uluran tangan nya.


"Nak, Salwa ini akan tinggal dirumah kita loh, jadi nanti kamu punya teman dirumah. " ucap umi


"Terserah umi lah. " ucapku malas ingin beranjak pergi

__ADS_1


"Kok kamu seperti itu sih nak. " ucap umi


"Zizah mau kerjain tugas dulu mi," ucapku beranjak pergi


"Maaf ya Rif! "Pinta abi


"Tidak apa-apa. " ucap abi


"Kalau begitu kami juga ingin pamit ya. " ucap ustadz Arif


"Loh kok buru-buru? " tanya umi


"Takut kemalaman, ini juga masih ingin mengantarkan anak gadis ke toko buku. " ucap ustadz Arif


"Owalah, begitu toh," ucap abi


"Lain kali kesini lagi ya, ajak ustazah sifa juga. " ucap umi


"InsyaAllah." ucap ustadz Arif


"Iyah kami tunggu ya. " ucap umi


"Yasudah kalau begitu, Lan kami pamit ya. " ucap ustadz Arif kepada kiai Dahlan dan mereka saling berpelukan


"Iyah hati-hati ya! " ucap abi


"Ustazah! Salwa pulang dulu ya. " ucap Salwa menyalimi tangan umi


"Iyah nak, cepat datang kembali ya! " ucap umi


"Kami permisi ya, Assalamu'alaikum. " ucap abi


"Assalamu'alaikum." ucap Salwa


"Waalaikumsalam." ucap umi dan abi bersamaan


Setelah kepergian ustadz Arif dan Salwa, abi dan umi pun berbincang-bincang


"Mi! " panggil abi


"Iyah bi? " jawab umi


"Melihat tingkah zizah tadi, apakah ustadz Arif akan meneruskan niatnya? " tanya abi


"Umi juga tidak tau bi. " jawab umi


"Dosa apa yang abi telah perbuat dimasa lalu sehingga Allah membuat anak bungsu abi seperti ini mi. " ucap abi bersandar dibahu umi dengan raut wajah sedih


"Abi bicara apa sih? " ucap umi


"Abi sudah gagal mendidik anak perempuan abi, mi. "Ucap abi


"Bi! Anak adalah perhiasan, anak adalah anugrah terindah bagi orang tuanya namun kadang kala anak juga sebagai ujian bi," ucap umi


"Tapi mengapa berat mi? " ucap abi

__ADS_1


"Kenapa abi jadi orang yang putus asa, abi yang lebih tau akan semua ini. Mungkin Allah menguji kita melalui perangai zizah, tapi umi yakin seiring berjalannya waktu zizah akan lebih baik, percaya sama umi. " ucap umi


"Abi seharusnya berusaha memberi pemahaman kepada zizah bukan malah berputus asa seperti ini. " ucap umi lagi


"Abi salah mi. " ucap abi


"Udah ya, kok malah nangis dilihat Aisyah malu loh. " ucap umi


Bersamaan namanya disebut Aisyah dan fatih datang menghampiri mereka


"Nenek! Kakek kenapa nangis? " tanya Aisyah


"Siapa yang nangis? " ucap abi tersenyum


"Kakek lah, tadi nangis kan? " ucapnya lagi


"Mata kakek kemasukan sesuatu jadi berair deh. " ucap abi


"Ohh gitu ya kek. " ucapnya


"Iyah sayangnya kakek. " ucap abi memeluk cucunya


"Ica dari mana sama paman? " tanya umi


"Dari jalan-jalan. " ucap nya


"Iyah jalan-jalan ngabisin duit paman. " ucap kak fatih ketus


"Ihhh, paman gak ikhlas bangat sih, sekali kali juga kan. " ucapnya


"Iyah sekali kali, tapi langsung banyak. " ucap kak fatih


"Kamu ini kak, sama keponakan sendiri perhitungan bangat. " ucap umi


"Bukan perhitungan mi, dianya aja yang gak tau di baikin. " ucap fatih


"Udah fatih ikhlasin aja, sama keponakan sendiri juga. " ucap abi


"Belain aja terus tu cucu kesayangan. " ucap kak fatih melangkah pergi


"Paman benaran marah ya kek? " tanya Aisyah


"Paman hanya bercanda kok sayang. " ucap abi


"Ica tadi minta apa aja sama paman? " tanya umi


"Ica minta, dibeliin mainan, terus minta ice cream, terus minta dibawah ke tempat bermain. " ucapnya


"Pantasan." ucap umi geleng-geleng kepala


"Pantasan apa nek? " tanyanya


"Tidak apa apa, sekarang Ica mandi gih, sudah bau acam. " ucap umi menutup hidungnya


"Oke nenek. " ucapnya berlari menuju kamar yang biasa dia tempati saat menginap dirumah neneknya

__ADS_1


__ADS_2