Takdir Sakinah

Takdir Sakinah
episode 3


__ADS_3

Sakinah masuk kedalam rumah kardus mengambil obat merah dan kapas sekalian ganti baju sakinah berganti kaos tapi celana nya tetap sama seperti tadi. Sakinah kelaur dan duduk disamping vian.


"Om... Sini gue obati luka lo. Karena lo sudah menyelamatkan gue? " Ucap sakinah dan vian mengangguk lalu mendekat.


"Vian.. Nama ku vian? " Ucap vian dikala melihat sakinah mengobati lukanya.


"Sakinah om.. Nama gue sakinah... Bisanya orang sini manggil gue Inah. Ada juga yang manggil kinah. Terserah lo deh? " Ucap sakinah tersenyum dan masih mengobati luka di wajah tampan vian.


"Kamu sudah lama tinggal disini sakinah? " Tanya vian pelan. Dan sakinah mengangguk dan tersenyum.


"Dari umur gue. 10 tahun om.. Kedua orang tua gue meninggal saat gue masih bayi. Dan gue dititipin dipanti asuhan. Dan saat itu saat umur gue 10 tahun. Gue diusir dari panti karna gue gak sengaja membunuh teman sesama panti. Dan gue hidup dikolong jembatan ini.? " Ucap sakinah menerawang jauh mengingat kembali kejadian 7 tahun lalu saat masih di panti. Saat itu sakinah bermain bersama teman temannya di danau. Saat itu sakinah terpleset dan akan masuk kedalam danau tapi naas sakinah reflek menarik lengan teman nya. Hingga sang teman masuk kedalam danau dan kelelep hingga sang teman meninggal. Dan teman yang lainnya menyalahkan sakinah. Hingga sakinah diusir dari panti karena sudah bertindak menjadi pembunuh.


"Astaga maaf aku jadi curhat sama lo om? " Ucap sakinah terkekeh setelah sadar dari lamunan nya.


"Terus kedua anak itu siapa?? " Ucap vian menujuk Mutia dan hasan yang sedang menghitung uang receh didalam rumah kardus itu.


"Itu adik angkat aku om. Dia korban kecelakaan kedua orang tuanya meninggal. Aku menemukan dia disemak semak. Dan terluka. Aku membawa mereka kesini dan aku rawat sampai sekarang? " Ucap sakinah lagi. Dia terlalu jujur dengan vian entah kenapa padahal sebelum nya sakinah adalah gadis yang tertutup.


"Kamu kerja apa untuk membiayai hidup mereka kinah" Tanya vian sendu. Dia sangat kasihan melihat jalan hidup sakinah dan adik adiknya.


"Ngamen, mencuri dan nyopet." Ucap sakinah enteng membuat vian membelalakkan matanya.


"Itu sangat beresiko kinah.? " Ucap vian sendu.


"Itu pekerjaan lebih baik dari pada menjadi lo*te om. Soalnya yang tinggal sini banyak yang jadi lo*te? " Ucap sakinah terkekeh


"Terus kedua perman tadi ngapain nyeret nyeret kamu" Tanya vian lagi.


"Mau menjadikan gue lo*te om. Karena dia ketua di daerah sini. Banyak yang jadi lo*te karena mereka.? " Ucap sakinah sedih. Sebenarnya sakinah ingin sekali membawa kedua adik nya pergi jauh dari sini tapi dia bingung mau kemana. Tapi dia takut preman itu datang lagi karena gak hanya satu dua kali preman itu datang ingin menjual sakinah. Sakinah melirik kearah vian. Apa lebih baik sakinah meminta tolong dengan om om tua disamping nya Ini , tapi gengsi dong kan baru kenal. Tiba tiba vian juga melirik kearah sakinah. Hingga mata merasa berdua ketemu saling pandang hingga terkunci. Dan....


Deg

__ADS_1


Deg


Deg


Deg


Mereka masih saling diam hingga suara Mutia menyadarkan mereka. Bedua.


"Kak kinah? " Panggil Mutia membuat vian dan sakinah terkejut dan saling membuang muka.


"Ada apa Mutia? " Ucap sakinah tersenyum


"Kita hari ini hanya mendapat kan uang 20 ribu saja.? " Ucap Mutia.


"Dan aku hanya 15 ribu kak? " Ucap hasan mendekat


"Gak papa sedikit banyak disyukuri. Yang penting hari ini kita masih bisa makan sisa nya kita tabung nanti siang kaka akan nyari uang lagi. Dan kalian berdua istirahat dirumah? " Ucap sakinah.


"Kita pergi aja dari sini. Kak kita minta tolong sama om ini aja suruh membawa kita pergi dari sini? " Ucap hasan


"Eh... Hus kalian ini bicara apa.. Ayo kalian masuk dulu sana?? " Ucap sakinah tersenyum dan kedua anak itu hanya mengangguk patuh.


" Oh iya... Om pulang ya aku mau nyari duit? " Ucap sakinah berdiri mengikat rambut nya tinggi tinggi dan memakai topi.


"Kamu mau kerja apa siang siang gini.? " Ucap vian ikut berdiri.


"Nyopet kalau gak malak? " Ucap sakinah santai sambil memakai maskernya.


"Kinah jangan bekerja seperti itu lagi. Itu bahaya. Kamu butuh uang berapa biar aku memberikan kamu uang? " Ucap vian mengeluarkan dompet nya


"Gak mau. Gue bukan pengemis. Lagian kita baru kenal om. Jadi lo pulang aja jangan sok baik sama gue?? " Ucap sakinah mengusir vian. Sakinah masuk kedalam rumah kardus setelah itu kelaur lagi meninggalkan vian yang diam memandang kepergiannya, Vian mengikuti sakinah diam diam. Sampai dipinggir jalan. Sakinah melihat ibu ibu yang keluar dari alfamart. Penampilan ibu ibu itu sangat mencolok. Sakinah mendekat pelan pelan. Sambil membenarkan maskernya.

__ADS_1


"Kebetulan sekali keberuntungan memihak sama gue. Dompet tebal itu melambai lambai ke gue? " Ucap sakinah dalam hati sambil tersenyum jahat dibalik maskernya. Tangan sakinah sudah hampir sampai didompet tebal itu. Tiba tiba seseorang menarik tangan nya dan membawa sakinah pergi dari sna.


"Lepasin gue brengsek....? " Ucap sakinah menghempas kan tangan nya. Dan seorang itu menoleh membuat sakinah terkejut.


"Lo lagi lo lagi. Gue kan udah bilang mendingan lo pulang sana kenapa malah mengikuti gue sih hah. Mau lo apa sih om? " Ucap sakinah marah marah.


"Kamu tau tidak kerjaan kamu ini sangat beresiko. Kalau kamu ketahuan bagaimana. Bisa digebukin kamu kinah? " Ucap vian tak kalah berteriak. Seseorang yang tidak tau mungkin menganggap sakinah dan vian adalah pasangan kekasih yang bertengkar.


"Orang kaya tau apa hah... Tinggal rebahan makan datang sendiri. Sedangkan gue kalau gak kayak gini adil adik gue dan gue gak bakalan makan. Lo tau sendiri tadi adik adik gue sedih karena cuma dapat uang sedikit. Dan lo sudah gagalin rencan gue berengsek. Lo bukan siapa siapa gue. Jangan ikut campur. Pergi sana? " Ucap sakinah marah marah.


"Stop kinah.. Gue kayak gini karena gue perduli. Nih uang buat lo dan adik adik lo dan gue mohon jangan kerja kayak gini. Kalau lo mau lo boleh kerja sama gue? " Ucap vian tak kalah berteriak dan ikut memanggil lo gue. Sakinah menegang melihat uang digenggaman nya berwarna merah bertumpuk tumpuk. Dan uang itu berjumlah sekitar dua juta. Sakinah menelan salivanya de kasar. Baru kali ini dia memegang uang sebanyak ini selama nyopet aja uang paling banyak cuma 500 ribu.


"I.... Ini. Serius uang buat gue om? " Ucap sakinah terbata. Membuat vian terkekeh.


"Iya ini uang baut kamu. Aku juga bisa memberi kan uang lebih banyak lagi saknah , asal kamu mau berhenti bekerja seperti itu ikut lah bekerja sama aku kinah. Dan aku akan membawa kamu dan adik adik mu pergi dari kolong jembatan itu aku akan memberikan rumah yang layak untuk kamu dan adik adik mu ((dan lebih layak lagi kalau kamu mau jadi istri aku kinah)) lanjut dalam hati.


" O... Om... Serius... Om gak bohong kan mau membawa aku dan adik adik ku pergi dari kolong jembatan itu? " Ucap sakinah berbinar.


"Iya aku akan memberikan kamu tempat tinggal dan kerjaan untuk kamu?? " Ucap vian tersenyum misterius.


"Tapi kerja apa... Bahkan SD saja q tidak lulus? " Ucap sakinah sendu.


"Gampang tidak perlu ijasah? " Ucap vian lagi.


"Hah.. Kerja apa itu. Pembantu ya? " Ucap vian lagi.


"Aku sudah punya banyak pembantu " Ucap vian lagi


"Terus apa dong" Ucap sakinah frustasi


"Jadilah simpanan ku sakinah. Jadilah suggar baby ku? " Bisik vian ditelinga sakinah membuat sakinah merinding.

__ADS_1


"Hah.... APA....? "......


__ADS_2