
"Kau berada di sini karena tadi kau pingsan di perusahaan, sayang." Ucap Daniel.
"Pingsan?" Naina pun mengingat kembali saat terakhir kali ia sadar. "Aku pingsan di depan kamar mandi?" Tanya Naina.
Daniel menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Tangannya pun terulur mengelus rambut Naina. "Sudah aku katakan agar kau tidak perlu bekerja hari ini namun kau tidak mendengarkannya." Ucap Daniel dengan lembut.
"Maafkan aku. Aku pasti merepotkanmu dan teman-temanku." Sesal Naina.
"Kau tidak merepotkan siapa pun. Tapi kau membuat semua orang khawatir." Terang Daniel.
Naina tertunduk dengan wajah bersalah. Sikap keras kepalanya yang tidak pernah hilang membuatnya merepotkan banyak orang.
"Mamah..." mendengar suara Zeline memanggilnya membuat perhatian Naina teralihkan ke sumber suara. "Zeline..." ucap Naina seraya tersenyum.
"Mamah... hua..." Zeline menangis dengan kencang saat sudah berada di samping ranjang.
"Zeline... jangan menangis. Kau membuat kepala Mama Nai bertambah sakit." Tegur Amara sambil mengelus rambut Zeline.
"Mamah... Zel inda mahu itu punya adik." Ucap Zeline yang semakin menangis kencang.
"Punya adik?" Tanya Naina.
"Zel nda mahu punya adik... hua..." Tangisan Zeline pun semakin kencang.
__ADS_1
Mendengar ucapan putrinya membuat wajah Daniel menjadi tegang sekaligus takut. Buru-buru Daniel mengambil alih tubuh Zeline dari gendongan Amara untuk menenangkannya. "Sayang... tenanglah. Mamah sudah sadar ini." Ucap Daniel seraya mengelus punggung putrinya.
"Mamah sadal tapi ada adik Pah... Zel nda mahu punya adik." Raung Zeline.
"Oh astaga..." Wajah tampan Daniel berubah pucat mendengar ucapan putrinya.
"Punya adik? Apa maksdunya ini Daniel?" Dengan susah payah Naina pun bangkit dari pembaringannya.
"Ada adik dalam pelut Mamah itu." Tunjuk Zeline ke arah perut Naina sambil menangis.
Naina mengikuti arah pandangan putrinya dengan wajah tertunduk. "Ada adik di perut Mamah?" Tanya Naina dan Zeline menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Daniel..." Naina menatap pada Daniel seolah meminta jawaban. Namun bukannya menjawab, Daniel justru mengalihkan pandangannya pada Marvel yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
"Me-mengandung?" Naina terbata.
"Iya. Saat ini Kakak tengah mengandung adik Zeline." Ucap Amara dengan senyum merekah di bibirnya. "Sebentar lagi aku akan memiliki dua ponakan. Aku sungguh tidak sabar menantikan keponakan keduaku lahir ke dunia." Amara mengatupkan kedua tangannya di dada seraya membayangkan wajah keponakan keduanya nantinya.
Naina tak lagi mendengarkan ucapan Amara karena saat ini ia benar-benar terkejut atas informasi yang baru saja diketahuinya.
"Aku hamil?" Lirih Naina seraya mengusap perutnya yang masih rata. Pandangannya pun tertuju pada Daniel yang kini menatapnya dengan tersenyum kaku. Sedangkan Zeline sudah sedikit tenang namun isakannya masih terdengar.
"Zel mau sama Mamah, Pah!" Zeline memberontak dalam pelukan Daniel. Kedua tangan mungilnya terulur ke arah Naina.
__ADS_1
"Kemarikan putriku." Ucap Naina dengan pelan.
Daniel menurutinya lalu mendudukkan tubuh Zeline di ranjang yang masih kosong.
"Mamah... Zel inda mahu punya adik..." Zeline kembali menangis di dalam pelukan Naina.
"Sayang... anak Mama kenapa berbicara seperti itu?" Tanya Naina dengan lembut. Walau saat ini ia masih terkejut dengan fakta yang baru diketahuinya namun Naina tidak ingin Zeline menolak kehadiran adiknya.
"Nanti Mamah dan Papah inda sayang Zel lagi. Sayang adik aja itu nanti sepelti di film Nenek." Ucap Zeline mengingat film yang baru saja ditontonnya bersama Ibu sebelum berangkat ke perusahaan Daniel.
***
Berikan dukungannya dulu yuk untuk mendukung semangat shy dalam menulis🤗
Like
Vote
Komen
Hadiah
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui jadwal update.
__ADS_1