
"Kau benar. Kali ini biarkan saya yang membawakan makan siang untuk Kevin." Balas Queen.
"Menurut saya itu bagus. Apa Nona akan berangkat sekarang? Tapi ini terlalu cepat." Ucap Riri setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Ya. Saya akan berangkat sekarang. Tidak terlalu cepat karena saya ingin membeli makanan lebih dulu dan cukup memakan waktu lama." Ucap Queen.
Riri mengangguk paham. "Bagaimana jika tuan Adam tiba-tiba mencari anda?" Tanya Riri mengingat saat ini masih jam kerja.
Queen menghela nafasnya sesaat. "Itu tidak mungkin. Papa tidak mungkin mencariku jika pekerjaan yang aku kerjakan tidak terlalu berpengaruh pada perusahaan." Balas Queen tersenyum kecut.
Riri menggigit bibir bawahnya. Merasa salah telah berbicara yang membuat suasana hati Queen seketika memburuk. "Maafkan saya, Nona." Sesalnya.
Queen bangkit lalu menepuk pundak Riri. "Tak apa. Kalau begitu saya pamit dulu." Ucap Queen.
Riri mengangguk. "Hati-hati di jalan, Nona." Ucap Riri dan Queen mengangguk sebagai jawaban.
Riri pun berjalan mengikuti langkah Queen dari belakang. Tangannya terangkat memukul bibirnya karena merasa salah telah sembarangan berbicara. "Lain kali berbicaralah dengan benar." Gumamnya merasa salah.
*
__ADS_1
Kedatangan Queen untuk pertama kalinya ke perusahaan Kevin siang itu disambut dengan senyum ramah oleh sekretaris Kevin yang memang mengetahui pernikahan dadakan Queen dan Kevin.
"Selamat datang Nona Queen." Sapanya ramah.
Queen mengangguk seraya tersenyum manis yang membuat siapa saja senang saat melihat senyumannya. "Apa Tuan Kevin ada di dalam?" Tanya Queen.
"Tuan Kevin masih berada di ruang rapat dan akan keluar setengah jam lagi, Nona." Balasnya.
"Agh, sayang sekali. Padahal saya telah membawakan makan siang yang masih hangat untuknya." Ucap Queen.
"Sebentar, Nona." Ucapnya lalu melakukan panggilan pada seseorang di seberang sana. "Silahkan menunggu di dalam ruangan saja, Nona." Ucapnya setelah mematikan sambungan telefon.
"Tidak masalah, Nona. Nona adalah istri Tuan Kevin dan saya juga sudah meminta izin membukakan pintu untuk Nona." Balasnya seraya tersenyum.
"Agh, baiklah kalau begitu. Terimakasih Nona—" Queen membaca tanda pengenal yang terpasang di baju sekretaris Kevin. "Nona Dina." Lanjutnya kemudian.
Dina tersenyum lalu bangkit dari duduknya. Setelahnya ia pun membukakan pintu ruangan Kevin dan mempersilahkan Queen untuk masuk ke dalamnya.
*
__ADS_1
Kevin berjalan tergesa-gesa setelah keluar dari ruangan rapat menuju ruangan kerjanya. Setelah mendapatkan informasi dari asistennya tentang kedatangan Queen membuatnya tidak tenang dan berpikir ada hal apa yang membawa istri cantiknya itu datang menemuinya siang ini.
"Apa istri saya masih ada di dalam?" Tanya Kevin menyempatkan bertanya pada sekretarisnya sebelum masuk ke dalam ruangan.
Dina mengangguk. "Nona Queen masih menunggu di dalam ruangan, Tuan." Balasnya.
Kevin mengangguk lalu segera masuk ke dalam ruangan kerjanya.
Ceklek
Baru saja pintu terbuka dari luar Kevin sudah dibuat tertegun melihat Queen yang kini tertidur sambil duduk di atas sofa ruangan kerjanya.
"Oh astaga..." gumamnya lalu berjalan mendekat ke arah sofa. Sejenak Kevin memperhatikan banyaknya makanan yang sudah terhidang di atas meja sofa. "Dia membawakan makan siang untukku?" Gumamnya merasa tak percaya. Ada perasaan aneh yang kini ia rasakan saat merasa jantungnya berdetak tak seperti biasanya. Pandangan Kevin pun kembali beralih pada Queen yang begitu lelap dalam tidurnya.
***
Lanjut? Berikan vote, komen, like dan hadiahnya dulu yukđź–¤
Sambil menunggu TSP update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Bukan Sekedar Menikahiđź–¤
__ADS_1
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.