Takdir Setelah Perpisahan

Takdir Setelah Perpisahan
Aku akan mengingatnya


__ADS_3

Queen sontak memejamkan kedua kelopak matanya saat wajah Kevin semakin dekat dengannya.


"Apa kau tidak ingin membersihkan tubuhmu?" Bisik Kevin di telinga Queen. Setelahnya Kevin pun menjauhkan tubuhnya dari Queen.


"Ka-kau menyuruhku untuk mandi?" Tanya Queen sedikit tergagap setelah membuka kedua kelopak matanya.


Kevin mengangguk tanpa ekspresi. "Memangnya kau tidak ingin membersihkan tubuhmu setelah seharian berada di luar?" Tanya Kevin.


"Te-tentu saja aku ingin membersihkan tubuhku." Balas Queen.


"Kalau kau ingin maka segera bersihkan tubuhmu. Akan tidak nyaman jika kau ingin melanjutkan tidurmu sebelum membersihkan tubuhmu." Ucap Kevin.


"Baik, a-aku akan segera mandi." Ucap Queen.


Kevin tersenyum tipis lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah lemari. Queen pun segera turun dari ranjang dan berjalan sedikit cepat menuju kamar mandi.


"Apa yang tadi kau pikirkan Queen?" Queen menepuk kepalanya mengingat apa yang tadi ia pikirkan saat Kevin mendekatkan wajahnya.

__ADS_1


"Dia hanya berbisik bukan ingin menciummu!" Cecarnya pada diri sendiri. Setelahnya Queen pun menepuk mulutnya saat menyadari sudah sembarangan berbicara.


*


Dua bulan kemudian


"Hari ini aku melarangmu untuk pergi bekerja." Ucap Kevin dengan tegas pada Queen.


"Tidak bisa, Kev. Hari ini ada rapat penting yang harus aku hadiri. Papa akan marah jika aku tidak hadir." Tolak Queen tak menyetujui perintah Kevin.


"Aku akan mengabari Papa untuk mengabari keadaanmu saat ini." Ucap Kevin lalu merogoh ponselnya yang ada dalam saku celananya tanpa memperdulikan ucapan Queen selanjutnya.


Setelah cukup lama terlibat perbincangan dengan Papa Adam di seberang telefon, Kevin pun kembali mendekat pada Queen. "Tetap di apartemen dan jangan pergi kemana-mana. Aku sudah mengabari Papa tentang kondisimu saat ini." Ucap Kevin.


"Apa Papa keberatan aku tidak bisa hadir hari ini?" Tanya Queen.


Kevin menggeleng. "Tidak perlu memikirkannya lagi. Untuk hari ini aku melarangmu dengan keras untuk melakukan pekerjaan apa pun itu. Cukup berada di aprtemen dan istirahat. Untuk memasak, biarkan Bibi yang melakukannya." Ucap Kevin.

__ADS_1


"Apa Papa perduli dengan keadaanku saat ini?" Tanya Queen dengan lirih.


Kevin menghela nafasnya. Tangannya pun terulur mengelus pundak Queen. "Tidak perlu banyak berpikir. Papa Adam tetaplah seorang ayah pada umumnya." Ucap Kevin.


Queen tersenyum kecut mendengarkan ucapan Kevin. Karena apa yang dirasakannya selama beberapa bulan belakangan ini berbanding terbalik dengan kalimat yang sering Kevin ucapkan untuk menenangkannya. Sudah beberapa bulan ini Papa Adam masih bersikap dingin kepadanya dan tidak sedikit pun menunjukkan rasa kerinduan padanya begitu pun dengan Mamanya yang seperti sudah melupakan keberadaannya.


"Jangan memikirkan hal yang akan membuatmu semakin terluka." Titah Kevin yang paham apa yang sedang dipikirkan istrinya itu saat ini.


"Tidak. Aku tidak memikirkan itu." Bohong Queen.


Kevin menghela nafasnya lalu semakin mendekat pada Queen. "Ingatlah ada anak kita yang harus kau pikirkan keadaannya." Ucap Kevin seraya mengelus perut Queen yang sudah nampak membuncit.


Queen menundukkan pandangannya menatap tangan Kevin yang sedang mengelus perutnya. "Aku selalu mengingatnya. Dia-lah yang menjadi prioritasku saat ini. Karena hanya dia yang akan menjadi pelipur laraku di saat semua orang meninggalkanku nantinya termasuk dirimu." Ucap Queen dengan lirih.


***


Berikan vote dan komennya dulu yuk untuk lanjut ke bab berikutnyašŸ¤—

__ADS_1


Sambil menunggu TSP update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Bukan Sekedar MenikahišŸ–¤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.


__ADS_2