
"Ada apa?" Tanya Queen melihat wajah Kevin yang nampak berubah setelah menerima panggilan telefonnya.
"Aku harus segera kembali ke perusahaan. Ada suatu hal yang harus aku selesaikan dalam rapat saat ini." Ucap Kevin.
"Pergilah. Aku sudah tak apa." Balas Queen.
"Tapi bagaimana dengan Zeline?" Kevin mengarahkan pandangannya pada Zeline yang kini menatapnya dengan bingung.
Queen tersenyum. "Pergilah... aku pastikan Zeline aman bersamaku. Aku tidak mungkin menyakitinya." Ucap Queen meyakinkan.
Kevin menatap dalam kedua mata Queen dan mencari kebohongan di sana. Namun yang terlihat hanyalah ketulusan saat Queen mengatakannya. Bukannya tidak percaya, namun Kevin hanya takut Queen terbawa rasa sakitnya ditinggalkan Daniel saat melihat Zeline dan melakukan hal di luar kendalinya.
"Aku percaya padamu. Aku hanya pergi sebentar dan akan segera kembali." Ucap Kevin.
Queen tersenyum seraya mengangguk. "Percayalah padaku." Balasnya kemudian.
Kevin mengangguk mengiyakan. "Zeline... Om pamit sebentar untuk kembali ke perusahaan. Om janji tidak akan lama meninggalkan Zel di sini." Tutur Kevin dengan lembut.
"Lama juga nda apa, Om. Zel sama Anty saja ini." Balas Zeline dengan entengnya.
Senyuman di wajah Kevin terkembang. Setelah merasa semuanya aman, Kevin pun berpamitan untuk kembali ke perusahaannya dan meninggalkan Zeline pada Queen. Hati dan pemikirannya percaya jika Queen tidak akan melakukan hal di luar pemikirannya saat ini.
__ADS_1
"Ayo masuk." Ucap Queen dengan lembut pada Zeline yang nampak menatap punggung Kevin.
"Ayo, Nty." Balas Zeline.
Queen tersenyum lalu masuk lebih dulu ke dalam apartemennya diikuti Zeline di belakangnya. Queen pun menuntun Zeline berjalan ke arah sofa lalu mendudukkan tubuh Zeline di atas sofa.
"Zel tapek ini, Nty." Adu Zeline sambil menguap.
"Zel capek dan mengantuk?" Tanya Queen.
Kepala mungil Zeline mengangguk. "Tapek juga, ngantuk juga ini." Jelasnya.
Zeline dengan cepat mengangguk. "Ayo bobo, Nty." Ajak Zeline.
Queen tersenyum lebar. Entah mengapa rasa sakitnya mengingat masa lalunya hilang begitu saja saat melihat senyuman tulus dari Zeline. "Ayo ikut Aunty ke kamar." Ajak Queen.
"Ndong, Nty? Zel tapek ini." Pinta Zeline dengan mata berkedip-kedip.
"Tapi..." Queen meragu mengingat saat ini ia tengah berbadan dua dan takut berbahaya jika ia menggendong tubuh Zeline.
"Nda mahu ya, Nty?" Tanya Zeline.
__ADS_1
Merasa tak tega melihat wajah penuh harap Zeline, akhirnya Queen pun mengangkat tubuh Zeline yang ternyata tidak seberat yang ada dalam pemikirannya. "Siapa bilang? Ayo kita ke kamar." Ajak Queen lalu melangkah ke arah kamarnya.
Dengan hati-hati Queen menurunkan tubuh Zeline di atas ranjang lalu membuka satu persatu sepatu yang masih melekat di kaki Zeline. "Apa Zel minum lebih dulu?" Tanya Queen.
Zeline menggeleng. "Puk-puk Nty." Ucapnya sambil menepuk bokongnya sendiri.
Kening Queen mengkerut merasa bingung dengan permintaan Zeline.
"Puk-puk ini." Ucap Zeline kembali menepuk bokongnya.
"Oh..." setelah paham apa yang diminta Zeline yang hampir sama dengan permintaannya dulu sewaktu kecil pada Mamanya, Queen pun turut berbaring di atas ranjang lalu merapatkan tubuhnya pada Zeline.
"Puk-puk ya, Nty." Pinta Zeline lagi.
Queen mengangguk lalu melakukan apa yang Zeline minta. Ada perasaan hangat yang mulai masuk ke relung hatinya saat melihat wajah polos Zeline yang mulai terlelap saat ia menidurkannya.
Sekarang aku paham kenapa Daniel lebih memilih Naina dibandingkan aku.
***
Lanjut? Vote yang banyak dulu ayuk🖤
__ADS_1