
"Ada apa dengan wajahmu, Sayang?" Tanya Daniel saat ia dan Naina tengah menikmati makan siang di kantin perusahaan.
"Kenapa memangnya dengan wajahku?" Tanya Naina kembali.
Daniel menghela nafas. "Kau terlihat sedang memikirkan sesuatu." Jelasnya.
Naina menatap wajah Daniel dengan intens. "Ya. Aku sedang memikirkan sesuatu." Jawabnya jujur.
"Apa yang sedang mengganggu pemikirinmu, hem?" Daniel meraih sebelah tangan Naina lalu menggenggamnya.
"Zeline. Aku sedang memikirkan Zeline." Balas Naina.
Kening Daniel mengkerut. "Kenapa kau memikirkan Zeline? Ada apa dengan putri kita?" Tanya Daniel yang belum memahami maksud ucapan istrinya.
"Aku berpikir jika akhir-akhir ini Zel sudah merasa kesepian tanpa ada diriku disisinya." Ucap Naina.
Daniel semakin mempererat pegangan tangannya. "Apa kau sudah berniat untuk resign?" Tanya Daniel.
Hembusan nafas Naina terdengar kasar. "Entahlah... namun sepertinya sudah saatnya. Zel mulai merasa kesepian hingga dia selalu meminta cara agar dapat keluar dari rasa kesepiannya."
"Termasuk meminta dijaga oleh ketiga sahabatku?" Pungkas Daniel.
Naina pun mengangguk membenarkan.
__ADS_1
"Jika kau sudah siap kau bisa mengajukan resign mulai besok. Lagi pula aku sangat khawatir dengan kondisimu yang sedang hamil namun tetap bekerja seperti ini." Tutur Daniel.
"Aku akan memikirkannya matang-matang. Untuk saat ini biarkan dulu seperti ini sampai aku benar-benar yakin pada keputusanku." Ucap Naina.
"Terserah kau saja. Aku yakin kau sudah bisa mengambil keputusan dengan bijak." Balas Daniel tak ingin memaksa.
*
Queen membuka kedua kelopak matanya saat merasakan sebuah tangan memegang tangannya. "Kevin?" Ucapnya merasa terkejut melihat Kevin yang kini sudah berada tepat di depan meja kerjanya.
Sebelah alis tebal Kevin tertarik ke atas. "Kau tidur?" Tanya Kevin dengan nada tak bersahabat.
"Agh, ya. Aku tertidur." Balas Queen lalu menegakkan tubuhnya kembali.
Queen menghembuskan nafas sesaat. "Aku akan melakukannya besok." Balasnya tak ingin membela diri. "Ada apa kau datang ke sini?" Tanya Queen merasa bingung.
"Aku ingin mengajakmu makan siang bersama." Balas Kevin.
"Makan siang bersama?" Queen mengalihkan pandangan pada jam dinding. "Sudah jam dua belas ternyata." Gumamnya pelan.
"Ayo makan." Ajak Kevin lalu bangkit dari duduknya.
"Kau ingin kemana?" Tanya Queen melihat Kevin berjalan bukan ke arah pintu keluar.
__ADS_1
Kevin pun mengarahkan pandangannya pada sofa tamu yang ada di dalam ruangan Queen.
"Kau membawa makan siang untukku?" Tanya Queen melihat apa yang ada di atas meja sofa.
"Ya. Aku sudah memesan makanan untuk makan siang kita untuk dimakan di ruanganmu." balas Kevin.
Queen pun bangkit dari duduknya. Berjalan ke arah Kevin dengan tatapan tak lepas dari bungkusan makanan yang kini sedang Kevin buka.
"Kenapa tidak makan di luar saja?" Tanya Queen setelah berada di samping Kevin.
"Untuk hari ini aku memesan makanan yang sudah terjamin kualitas gizinya baik untuk Ibu hamil sepertimu." Jawab Kevin.
Queen menatap makanan di depannya yang memang sudah dapat dipastikan kualitasnya baik untuk dirinya.
"Duduklah. Biar aku menyiapkan untukmu." Titah Kevin.
Queen menurut lalu duduk di kursi kosong di sebelah Kevin.
"Lain kali tidak perlu repot-repot begini. Aku yakin kau memiliki pekerjaan yang kau tinggalkan hanya untuk membawakan makan siang untukku." Ucap Queen merasa sungkan.
***
Lanjut? Like, vote dan komennya dulu ya😉
__ADS_1