Takdir Setelah Perpisahan

Takdir Setelah Perpisahan
Kembalikan dia padaku


__ADS_3

Baru satu langkah kaki Kevin masuk ke dalam ruangannya setelah rapat siang itu, ia sudah dikejutkan dengan keberadaan seseorang yang kini tengah duduk di atas sofa ruangan kerjanya sambil bersedekap dada.


"Papa?" Ucap Kevin memasang wajah tenang melihat Papa mertuanya sedang duduk di ruangan kerjanya.


"Kau baru kembali?" Tanya Papa Adam tanpa membalas sapaan Kevin.


Kevin mengangguk lalu mendekat pada Papa Adam. "Apa Papa sudah lama?" Tanya Kevin sekedar basa-basi. Setidaknya ia harus bersikap sopan pada mertuanya bukan?


"Cukup lama." Balas Papa Adam singkat.


Kevin mengangguk paham lalu duduk di sofa yang berhadapan dengan Papa Adam. "Ada apa Papa datang kemari?" Tanya Kevin.


Papa Adam tak langsung menjawab pertanyaan Kevin dan lebih memilih menatap wajah Kevin lama. "Apa putri saya aman bersamamu?" Tanya Papa Adam kemudian.


Kevin mengangguk. "Sampai saat ini Queen beserta anak kami aman dan baik-baik saja bersama saya." Balas Kevin tenang.


Hembusan nafas Papa Adam terdengar lega. "Saya tahu kau adalah pria yang bertanggung jawab." Ucap Papa Adam.


"Saya hanya melakukan hal apa saja yang menjadi tanggung jawab saya. Saat ini putri Papa adalah tanggung jawab saya dan saya berjanji akan menjaganya dengan baik." Ucap Kevin seolah paham arti pembicaraan mertuanya.


Papa Adam mengangguk. "Walau pun Queen telah melakukan sebuah kesalahan besar namun dia tetap putri saya. Anak kandung saya." Ucap Papa Adam penuh maksud.


Kevin turut mengangguk. "Saya paham. Tidak akan saya sia-siakan apa yang menjadi milik saya saat ini." Balasnya yakin.

__ADS_1


Papa Adam kembali mengamati wajah Kevin. Mencari kejujuran dan keyakinan dari wajah pria yang kini berstatus menjadi menantunya. Setelahnya Papa Adam pun bangkit dari duduknya setelah mendapatkan apa yang ia mau. "Kembalikan putriku jika kau sudah tidak bisa menjaganya dengan baik." Ucap Papa Adam.


Kevin terdiam. Entah mengapa ia merasa jika Papa Adam kini mengetahui sesuatu tentang rumah tangganya.


"Saya pulang dulu." Pamit Papa Adam.


Kevin menganggukkan kepalanya sebagai jawaban lalu mengantarkan Papa Adam keluar dari dalam ruangan kerjanya tanpa bertanya lebih lanjut apa maksud ucapan Papa Adam baru saja.


*


Di tengah lamunan Kevin siang itu tentang maksud dan tujuan Papa Adam datang menemuinya, Kevin dikejutkan dengan suara gadis kecil yang tiba-tiba sudah berada dekat dengannya.


"Om danteng?"


"Zeline?" Kedua mata Kevin membola melihat Zeline yang berada di sebelah kursi kerjanya.


"Zel? Kau di sini?" Kevin mendorong kursi kerjanya ke belakang lalu mengangkat tubuh Zeline.


Kepala mungil Zeline mengangguk hingga rambutnya yang dikepang ikut bergoyang.


"Main sini sama Om danteng dua itu." Balas Zeline malu-malu karena kini wajahnya berada dekat dengan wajah Kevin.


"Maksudnya Om Marvel dan Om Dio?" Tanya Kevin:

__ADS_1


Zeline pun kembali mengangguk. "Ada di lual itu. Goda anty tantik." Adu Zeline.


Kevin mengarahkan pandangannya pada pintu ruangannya yang sudah terbuka sebagian. Terlalu larut dalam lamunannya membuatnya tidak sadar jika pintu ruang kerjanya dibuka bahkan Zeline sudah berada di dekatnya.


"Ayo kita keluar." Ajak Kevin berniat menghampiri kedua sahabatnya yang ia yakini tengah menggoda sekretarisnya saat ini.


"Ya, Om." Balas Zeline lalu menjatuhkan wajahnya di bahu Kevin.


Saat sudah berada di luar ruang kerjanya Kevin dibuat menghela nafas kasar melihat Dio dan Marvel yang kini tengah tebar pesona secara bergantian pada dua orang sekretarisnya.


"Dio... Marvel..." tegur Kevin dengan suara cukup keras hingga membuat godaan Marvel dan Dio terhenti.


***


Lanjut?


Berikan dukungannya dulu yuk untuk mendukung semangat shy dalam menulis🤗


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Hadiah


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.


__ADS_2