
"Entahlah... jika dia tidak menjawab pun tak apa. Aku hanya ingin melepas rindu padanya walau hanya sekedar melihat wajahnya saja." Ucap Melody dengan wajah berubah sendu.
"Jangan memaksa hati anda jika berujung luka, Nona."
Melody mengangkat kepalanya. Menatap asisten pribadinya dengan intens. "Kau tahu jelas bagaimana perasaanku padanya, Jeni." Balas Melody.
Jeni terdiam lalu mengangguk. "Pergilah jika Nona ingin." Ucap Jeni.
Melody mengangguk lalu bangkit dari kursi kebesarannya. "Aku pergi dulu. Jika ada yang ingin menemuiku katakan saja aku akan kembali siang nanti." Ucap Melody.
"Baik, Nona." Balas Jeni patuh.
Melody pun segera keluar dari dalam ruangan kerjanya dengan langkah anggun. Senyuman di wajahnya pun terbit saat membayangkan sebentar lagi ia akan bertemu dengan pujaan hatinya yang kemarin sudah membuatnya menangis seharian.
"Jika cinta ini menyakitkan, maka aku akan tetap memilih untuk tetap mencintaimu dari pada harus kehilanganmu." Gumam Melody saat sudah masuk ke dalam lift.
*
Di ruang kerjanya, Kevin terlihat tidak begitu fokus pada layar komputer di depannya. Sejak lima belas menit yang lalu tidak ada satu pun yang ia lakukan selain termenung mengingat istri barunya yang sedang sendirian di apartemen.
"Apa dia baik-baik saja selama aku tinggal? Bagaimana jika nanti ia kembali muntah-muntah seperti beberapa hari yang lalu sebelum menikah denganku?" Pertanyaan itu terus bersarang di benak Kevin.
Tok
Tok
Tok
__ADS_1
Suara ketukan pintu yang terdengar cukup keras dari luar menghentikan lamunan Kevin tentang istrinya.
"Masuk." Titah Kevin sambil menatap pada pintu yang masih tertutup rapat.
Ceklek
Pintu ruangan pun terbuka dan menampilkan sosok Melody di sana. "Melody?" Ucap Kevin dengan wajah terkejut.
"Hai, Kevin." Balas Melody sambil terus berjalan dengan anggun ke arah meja Kevin. "Apa kau sedang sibuk?" Tanya Melody.
"Duduklah." Ucap Kevin tanpa membalas ucapan Melody.
Melody tersenyum lalu mendaratkan bokongnya di kursi yang berhadapan dengan Kevin.
"Jadi... apa kau sedang sibuk saat ini?" Tanya Melody kembali.
Melody mengangguk paham.
"Ada apa kau datang menemuiku?" Tanya Kevin.
Melody melebarkan senyumannya. "Aku datang karena merindukanmu." Balasnya jujur.
Kevin menghembuskan nafas kasar di udara. "Bisakah kau memberi alasan yang lebih masuk akal?" Tanya Kevin kembali.
"Selain merindukanmu aku datang karena satu tujuan." suara Melody berubah serius.
"Katakan." Titah Kevin.
__ADS_1
"Apa benar jika wanita yang mengandung anakmu adalah mantan tunangan Daniel?" Tanya Melody tak ingin lagi basa-basi.
Kevin mengangguk mantap. "Kau pasti sudah mendapatkan foto pernikahan kami kemarin. Aku rasa kau sudah mendapatkan jawaban yang pasti dari sana." Ucap Kevin tanpa rasa bersalah.
Melody menghela nafasnya yang kian memberat. Hatinya cukup sakit melihat Kevin yang seperti acuh akan perasaannya saat ini. Apa pria itu tidak sadar jika kini ia tengah hancur karena posisinya harus direbut sementara oleh wanita yang tengah mengandung anaknya? Pikir Melody.
"Kenapa Queen?" Tanya Melody setelah beberapa saat terdiam.
"Kejadian itu terjadi begitu saja." Balas Kevin singkat.
"Kenapa harus Queen? Bukankah wanita itu adalah mantan tunangan Daniel? Aku rasa kau bukan pria seberengsek itu mau melakukannya pada mantan tunangan sahabatmu." Melody mencoba memancing Kevin.
Kevin menatap Melody dengan datar seolah tahu jika kini dirinya tengah dipancing. "Aku rasa kau tidak perlu bertanya sejauh ini." Tekan Kevin.
***
Lanjut?
Berikan dukungannya dulu yuk untuk mendukung semangat shy dalam menulis🤗
Like
Vote
Komen
Hadiah
__ADS_1
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.