Takdir Setelah Perpisahan

Takdir Setelah Perpisahan
Apa dia ngidam?


__ADS_3

"Apa aku salah jika aku bertanya alasan apa yang membuatmu mengkhianatiku?" Tanya Melody dengan wajah yang sudah berubah sendu. Walau sudah menebak jika Kevin tak akan menjawab pertanyaannya namun tetap saja ia mengharapkan Kevin berbaik hati untuk mengungkapkan kejadian yang sebenarnya kepadanya.


"Aku tidak pernah mengkhianatimu dan kau tahu itu." Balas Kevin.


Melody menghela nafas sesaat. "Kau tidak mengkhianatiku namun kau mengkhianati rencana pernikahan kita."


Kevin menatap Melody dengan datar tanpa ada rasa bersalah sedikit pun. "Sejak awal kau tahu aku tidak pernah sama sekali terlibat untuk mendukung dalam rencana pernikahan yang kedua orang tua kita rencanakan." Ucap Kevin penuh penekanan.


Melody terdiam. Dalam rencana pernikahan mereka Kevin memang tidak pernah terlibat selain menjadi pihak yang akan dinikahkan atau dijodohkan dengannya. Melody bahkan tahu jika selama ini Kevin hanya terpaksa menerima perjodohan mereka karena ia sangat menyayangi Maminya dan tak ingin membuat Maminya kecewa.


Melody mengusap sudut matanya yang tiba-tiba basah. "Apa kau mencintai wanita itu?" Tanya Melody.


Kevin menghembuskan nafas kasar di udara. "Jangan terlalu banyak berpikir. Aku rasa pertanyaanmu terlalu jauh." Balas Kevin tanpa menjawab pertanyaan Melody. Kevin bahkan tak memperdulikan kondisi Melody yang saat ini tengah menangis.


Melody menghela nafas panjang. "Aku hanya ingin tahu. Namun aku tidak bisa memaksa kau untuk menjawab segala rasa penasaranku." Balas Melody.


"Setiap pertanyaan tidak harus dibalas dengan sebuah jawaban." Tekan Kevin.


Melody mengangguk paham. "Sepertinya kedatanganku cukup mengganggu waktu kerjamu." Melody mendorong sedikit kursinya ke belakang.

__ADS_1


Kevin hanya diam sambil menatap Melody intens. Tidak ada yang bisa ia lakukan untuk membuat Melody tidak berpikir jauh tentangnya.


Melody menghembuskan nafas kasar di udara lalu bangkit dari duduknya. "Kalau begitu aku pamit." Ucapnya seraya tersenyum tipis.


Kevin mengangguk tanpa ekspresi sebagai jawaban. Setelah pintu ruangan kerjanya tertutup rapat dari luar, Kevin pun menyandarkan tuhuhnya di kursi kerjanya. "Aku tahu kau wanita yang baik. Namun kau terlalu memaksa hatimu untuk tetap bersama pria berengsek seperti diriku." Gumam Kevin lalu mengusap kasar wajahnya.


*


Kevin... sepertinya anak kita menginginkan martabak asin saat ini.


Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya sore itu membuat senyuman di wajah Kevin terbit seketika. "Apa dia sedang ngidam?" Gumam Kevin setelah membaca pesan dari Queen. Jemari Kevin pun bergerak membalas pesan dari Queen.


"Kenapa aku begitu senang hanya mendapatkan pesan jika bayi kami sedang menginginkan sesuatu?" Gumam Kevin setelah masuk ke dalam mobilnya.


Tak ingin membuat Queen terlalu lama menunggu, Kevin pun segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang untuk mencari martabak asin pesanan Queen yang sudah ia ketahui dimana tempatnya.


Sedangkan di ruang tamu apartemen, Queen terlihat tak henti mengelus perutnya seraya membayangkan nikmatnya martabak asin beserta kuahnya masuk ke dalam mulutnya.


"Rasanya aku sudah tidak sabar untuk memakannya." Gumam Queen sambil terus menatap ke arah pintu.

__ADS_1


Tiga puluh menit menunggu, akhirnya Kevin pun masuk ke dalam apartemen sambil membawa plastik berisikan martabak asin di tangannya.


"Kevin... kau sudah pulang." Sangking senangnya melihat apa yang dibawa Kevin, Queen pun tanpa sadar memeluk tubuh Kevin barang sejenak.


***


Lanjut?


Berikan dukungannya dulu yuk untuk mendukung semangat shy dalam menulis🤗


Like


Vote


Komen


Hadiah


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.

__ADS_1


__ADS_2